Sejarah Negara

Website History

Menu

10 unsur kebudayaan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan

Januari 3, 2016 | Catatan

10 unsur kebudayaan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan atau sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha adalah sebagai berikut :

1. Sistem kepercayaan

Sistem kepercayaan dalam masyarakat Indonesia diperkirakan mulai tumbuh pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Hal ini dibuktikan dengan penemuan lukisan-lukisan pada dinding-dinding di Sulawesi Selatan.

Lukisan tersebut berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan, yang diartikan sebagai sumber kekuatan atau simbol perlindungan untuk mencegah roh jahat. Ada juga lukisan tangan dengan jari tidak lengkap yang merupakan tanda berkabung dan penghormatan terhadap roh nenek moyang.

Adanya corak kepercayaan seperti ini diperkuat oleh penemuan lukisan kadal di Pulau Seram dan Papua. Di tempat yang sama juga ditemukan lukisan perahu yang menggambarkan kendaraan nenek moyang ke alam baka.

Kepercayaan terhadap roh nenek moyang ini terus berkembang pada masa bercocok tanam hingga masa perundagian. Selain penghormatan terhadap roh nenek moyang, ada juga kepercayaan terhadap kekuatan alam. Kepercayaan ini kiranya turut ditentukan oleh pengalaman dan ketergantungan mereka terhadap alam.

Lebih jauh mengenai masa bercocok tanam silahkan baca di artikel :

Kehidupan masa bercocok tanam dan hidup menetap

Bagan 10 unsur kebudayaan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan

2. Sistem kemasyarakatan

Ketika manusia hidup bercocok tanam dan jumlahnya bertambah besar, sistem kemasyarakatan mulai tumbuh. Gotong-royong dirasakan sebagai kewajiban yang mendasar dalam menjalani kegiatan hidup, seperti menebang hutan, menangkap ikan, menebar benih, dan lain-lain.

Demi menjaga hidup bersama yang harmonis, manusia menyadari perlunya aturan-aturan yang perlu disepakati bersama. Agar aturan ini ditaati, ditentukan seorang pemimpin yang bertugas menjamin terlaksananya kepentingan bersama.

Sistem kemasyarakatan terus berkembang khususnya pada masa perundagian. Pada masa ini sistem kemasyarakatan menjadi lebih kompleks. Masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan bidang keahliannya. Uniknya, tugas yang ditangani membuat masing-masing kelompok memiliki aturan sendiri. Meskipun demikian, tetap ada aturan umum yang menjamin keharmonisan hubungan masing-masing kelompok.

3. Pertanian

Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia sejak zaman neolitikum, yakni sejak manusia menetap secara permanen (sedenter). Perkiraan ini sangat logis mengingat proses bersawah yang cukup lama mengharuskan manusia menetap di suatu tempat dengan waktu relatif lama. Kehidupan gotong-royong teraktualisasikan dalam sistem persawahan ini.

Semangat gotong-royong dalam sistem persawahan terlihat dalam tata pengaturan air dan tanggul. Pada masa perundagian, kemampuan bersawah semakin berkembang mengingat sudah adanya spesialisasi pekerjaan dalam masyarakat.

4. Kemampuan berlayar

Kemampuan berlayar sudah dimiliki cukup lama oleh bangsa Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh cara kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari daratan Asia. Mereka harus menggunakan perahu untuk sampai ke Indonesia.

Kemampuan berlayar ini terus berkembang di tanah yang baru, mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau. Kondisi seperti ini mengharuskan orang menggunakan perahu untuk mencapai pulau lain.

Perahu bercadik merupakan model yang paling dikenal pada zaman pengaruh Hindu-Buddha. Perahu bercadik dibuat dari sebuah batang pohon besar yang ditebang bersama, kemudian dikupas kulitnya. Kemudian kayu tersebut dibuat rongga dengan cara pembakaran sedikit sedikit, lalu rongga dan tepian perahu dihaluskan dengan beliung dan akhirnya diberi cadik di satu atau kedua sisinya.

Kemampuan berlayar ini selanjutnya menjadi dasar dari kemampuan berdagang. Itulah sebabnya sejak awal Masehi bangsa Indonesia sudah mulai berkiprah dalam jalur perdagangan internasional.

Selengkapnya silahkan baca di artikel sejarah :

Nenek moyang bangsa Indonesia pelaut tangguh

5. Sistem bahasa

Daerah Indonesia membentang sepertujuh dari lingkaran ekuator dan terbagi oleh lautan dengan beribu pulau, juga terdapat beribu lembah dan daratan. Keadaan seperti ini menyebabkan sejak semula mereka memiliki sejumlah bahasa dan dialek. Bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia itu termasuk dalam satu rumpun bahasa, yaitu rumpun bahasa Melayu Austronesia atau bahasa Melayu kepulauan Selatan.

Perkembangan bahasa Melayu terlihat dengan jelas pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Setelah mendapat pengaruh dari bahasa Sansekerta, bahasa Melayu menjadi bahasa resmi atau bahasa prasasti Kerajaan Sriwijaya. Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Melayu berhasil menjadi bahasa pergaulan dalam perdagangan atau menjadi bahasa perantara di seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Oleh karena itu, bahasa Melayu menjadi lingua franca di Nusantara atau sebagian wilayah Asia Tenggara.

Lebih jauh mengenai rumpun bahasa ini silahkan baca di artikel :

Sejarah rumpun bahasa Austronesia

6. Ilmu pengetahuan

Sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk, masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat telah memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Juga mengenal ilmu astronomi (ilmu perbintangan) sebagai petunjuk arah dalam pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian. Oleh karena itu, mereka telah mengetahui secara teratur waktu bercocok tanam, panen, atau masa yang tepat untuk berlayar dan menangkap ikan.

Baca mengenai perkembangan perdagangan pada masa ini d artikel :

Perdagangan dan pelayaran di Indonesia sekitar tahun 1500 Masehi

7. Organisasi sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa kelompok masyarakatnya. Kelompok masyarakat itu lebih dikenal dengan sebutan suku. Hubungan masyarakat dalam suatu kelompok sukunya sangat erat. Pola kerjasama dalam hidup bergotong-royong dalam suatu kelompok suku sudah terjalin dengan baik.

8. Teknologi

Sejak masa prasejarah, masyarakat Indonesia telah mengenal teknik pengecoran logam. Berbagai peralatan rumah tangga, peralatan untuk mengerjakan sawah atau berladang, peralatan berburu dan lain-lain dikerjakan dengan pengecoran logam.

Masyarakat juga telah mengenal teknik pembuatan perahu bercadik seperti telah disinggung di atas. Pembuatan perahu bercadik ini sesuai dengan kondisi alam Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau besar dan kecil yang dihubungkan oleh lautan. Perahu bercadik itu dapat digunakan sebagai sarana transportasi dan sarana perdagangan.

Lebih jauh mengenai teknik pengecoran logam silahkan baca di artikel :

Teknik cetakan Bivalve dan A Cire Perdue

9. Sistem ekonomi

Masyarakat pada setiap daerah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Untuk itu, mereka menjalin hubungan perdagangan dengan daerah-daerah lainnya. Hubungan perdagangan yang mereka kenal pada saat itu adalah sistem barter, yaitu pertukaran barang dengan barang.

10. Kesenian

Masyarakat prasejarah telah mengenal kesenian sebagai hiburan untuk mengisi waktu senggang. Karena sejak masyarakat hidup dari hasil bercocok tanam, mereka memiliki waktu senggang yang cukup lama, yaitu dari sejak menanam hingga panen tiba.

Waktu senggang itulah yang mereka pergunakan untuk mewujudkan dan menyalurkan jiwa seni mereka seperti seni membuat batik, seni membuat gamelan, seni wayang kulit dan lain sebagainya. Namun, seni wayang kulit biasanya dipertunjukkan setelah panen dengan lakon cerita tentang kehidupan alam sekitar mereka.

Demikian 10 unsur kebudayaan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan, semoga menjadi catatan Sejarah Negara Indonesia khususnya.

Related For 10 unsur kebudayaan masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan

Recent Post

Negara Antigua dan Barbuda adalah…
Tabel medali olimpiade Rio 2016…
Negara Angola adalah sebuah negara…
Tentang negara Andorra – Andorra…

Kategori