Oct 31, 2015

Perkembangan Hindu Buddha di Kerajaan Tarumanegara

Prasasti mengenai Kerajaan Tarumanegara
1. Prasasti Ciaruteun, ditemukan di pinggir sungai Ciaruteun, anak sungai Cisadane di daerah Ciampea, Bogor, Jawa Barat.

Prasasti tersebut ditulis pada sebuah batu besar, mempergunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Yang menarik perhatian para ilmuwan ialah lukisan dan tapak kaki yang dipahatkan di atas hurufnya,

Isi prasasti tersebut dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
"Ini (bekas) dua kaki yang seperti kaki Dewa Wishnu, ialah kaki yang mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia".

Prasasti Ciaruteun Kerajaan Tarumanegara
Prasasti Ciaruteun Kerajaan Tarumanegara
2. Prasasti Pasir Koleangkak, terletak di daerah perkebunan jambu kira-kira 30 km sebelah barat Bogor, Jawa Barat.

Bunyi terjemahan dalam prasasti tersebut sebagai berikut :
"Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya yang termasyhur Sri Purnawarman yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan yang baju zirahnya yang terkenal (warman) tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya".

Prasasti Pasir Koleangkak Kerajaan Tarumanegara


3. Prasasti Kebon Kopi, terletak di kampung Muara Hilir, Cibungbulang. Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya dua tapak kaki gajah. Adapun bunyi terjemahan dalam prasasti Kebon Kopi adalah sebagai berikut :
"Di sini nampak sepasang tapak kaki ... yang seperti Airwata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam ... dan (?) kejayaan".

Prasasti Kebon Kopi Kerajaan Tarumanegara
Prasasti Kebon Kopi Kerajaan Tarumanegara
4. Prasasti Tugu, ditemukan di Tugu, Jakarta, merupakan prasasti terpanjang dari semua peninggaan raja Purnawarman.
Terjemahan prasasti Tugu adalah sebagai berikut 

"Dulu kali (yang bernama) - Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempunyai lengan kencang dan kuat, buat mengalirkannya ke laut, setelah (kali ini) sampai di istana kerajaan yang termasyhur. Di dalam tahun keduapuluh dua dari tahta yang mulia raja Purnawarman yang berkilau-kilau karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja (maka sekarang) beliau menitahkan menggali kali yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, setelah sungai itu mengalir di tengah-tengah tanah kediaman yang mulia Sang Pendeta nenek-da (Sang Purnawarman). Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal 9 paro petang bulan Phalguna dan disudahi pada hari tanggal 13 paro - tiang bulan Caltra, jadi hanya 21 hari saja, sedang galian itu panjangnya 6.122 tumbak. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1.000 ekor sapi yang dihadiahkan".

Prasasti Tugu Kerajaan Tarumanegara
Prasasti Tugu Kerajaan Tarumanegara

5. Prasasti Cidanghiang, ditemukan di kampung Lebak, di pinggir sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat.

Bunyi terjemahan Prasasti Cidanghiang adalah sebagai berikut :
"Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan dan keberanian yang sesungguh-sungguhnya dari raja dunia, yang mulai Purnawarman, yang menjadi panji sekalian raja".

Prasasti Cidanghiyang Kerajaan Tarumanegara
Prasasti Cidanghiyang Kerajaan Tarumanegara

Kekuasaan Kerajaan Tarumanegara

Menurut analisa Prof. Poerbatjaraka, pusat istana Kerajaan Tarumanegara terletak di daerah Bekasi. Hal tersebut didasarkan pada prasasti Tugu yang menyebutkan sungai Candrabhaga yang digali di Tarumanegara.

Candrabhaga menurut hukum M-D (Menerangkan-Diterangkan), berarti Candra menerangkan bhaga, seperti pada kata Perdana Menteri bukan Menteri Perdana.

Kata Candrabhaga berdasarkan hukum MD harus ditulis bhaga terlebih dahulu, yakni bhagacandra (candra = sasih). Kata bhagacandra dapat berubah menjadi bhagasasih. Kata Bhagasasih lambat laun berubah bunyinya menjadi Bhagast, yang kemudian menjadi Bekasi.

Dengan ditemukannya prasasti-prasasti Tugu dan Lebak di daerah Jakarta, maka dapat diperkirakan wilayah kerajaan Tarumanegara meliputi daerah Bogor, Jakarta, dan Banten.

Pada prasasti-prasasti, raja Purnawarman diagung-agungkan sebagai raja yang gagah perkasa melebihi kegagahan raja-raja lainnya, sehingga disebut sebagai panji raja-raja.

Menurut prasasti Tugu, ayah Purnawarman berkedudukan sebagai rajadhiraja, yang telah menggali terusan Candrabhaga, sedangkan Purnawarman sendiri menggali terusan Gomati.

Pada prasasti Jambu, Purnawarman disamakan dengan Dewa Indra, yang selain dikenal sebagai Dewa Perang, memiliki sifat-sifat Dewa Matahari. Disebutkan pula bahwa perlengkapan Purnawarman berupa baju zirah (warman). Menurut cerita India, dewa yang mengenakan baju zirah hanyalah Dewa Surya.

Masyarakat dan agama di Kerajaan Tarumanegara

Menurut catatan seorang Bhiksu Buddha bangsa Cina, Fa-hien, di Tarumanegara pada abad ke-5 Masehi sedikit sekali dijumpai orang yang beragama Buddha, tetapi banyak dijumpai orang-orang Brahmana dan mereka yang agamanya buruk.

Mengenai agama buruk yang disebut Fa-hien, ditafsirkan oleh para ilmuwan sebagai agama rakyat Tarumanegara. Oleh karena agama itu mempuyai upacara-upacara yang berbeda dengan kedua agama yang dikenal oleh Fa-hien, yakni agama Hindu dan Buddha, makadisebabkan ketidak tahuan Fa-hien, ia menyebutnya dengan agama buruk.

Agama itu adalah agama asli masyarakat Indonesia, yang masih dianut oleh sebagian besar penduduk Tarumanegara.

Ada dua golongan masyarakat di kerajaan Tarumanegara, yakni golongan masyarakat yang berbudaya Hindu dan golongan masyarakat yang berbudaya asli. Mengingat pada masa itu pengaruh agama Hindu baru pada taraf permulaan penyebarannya, dapatlah dikatakan bahwa golongan pertama itu hanya terbatas pada lingkungan istana raja-raja, sedangkan kedua meliputi bagian terbesar penduduk Tarumanegara. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kedua golongan itu tidak bertentangan, bahkan dalam beberapa hal mereka menjalin kerjasama.

Sebagian kecil dari golongan pertama adalah kaum Brahmana, yang menguasai upacara-upacara keagamaan Hindu. Mereka pun menguasai bahasa Sansekerta yang merupakan bahasa agama, sedangkan golongan yang bukan Brahmana mempergunakan bahasa lain yang oleh orang Cina disebut bahasa kun-lun. Bahasa itu adalah dasar bahasa Melayu (Indonesia) yang tercampur dengan bahasa Sansekerta dan digunakan baik di Jawa maupun di Sumatra.

Kehidupan masyarakat Kerajaan Tarumanegara

Menurut berita Cina, para pedagang Tarumanegara memperdagangkan kulit penyu, cula badak, gading gajah, emas, dan perak. Kalau berita itu benar, maka dapat dikemukakan bahwa usaha masyarakat Tarumanegara terdiri atas beberapa kegiatan, seperti : perburuan, pertambangan, perikanan, dan pertanian.

Dengan adanya berita terdapat perdagangan cula badak dan gading gajah dapat disimpulkan bahwa barang-barang dagangan tersebut adalah hasil perburuan. Sementara kita tahu bahwa badak dan gajah adalah binatang liar dan ganas, maka pemburu Tarumanegara tentu merupakan pemburu-pemburu yang terampil dan berani.

Usaha perikanan dapat disimpulkan dari berita adanya perdagangan kulit penyu, yang banyak diminta oleh saudagar-saudagar Cina. Adanya pertambangan dihubungkan dengan adanya perdagangan emas dan perak. Mengenai pertanian, merupakan simpulan dari sisi prasasti Tugu yang menceritakan tentang penggalian saluran Candrabhaga dan Gomati yang diselesaikan antara bulan Phalguna sampai bulan Caltra, yang bertepatan dengan bulan Pebruari dan April.

Di Jawa Barat terutama daerah Bogor, bulan Januari dan Pebruari adalah waktu musim hujan turun dengan lebatnya. Jadi dapat diduga penggalian dua saluran tersebut untuk mengatasi banjir yang melanda daerah pertanian.

Dari berita Cina dikatakan bahwa orang-orang Tarumanegara makan dengan mempergunakan tangan saja, tidak mempergunakan sumpit. Hal itu dapat disimpulkan bahwa orang-orang Tarumanegara makan nasi. Maka kegiatan pertanian pun adalah kegiatan bersawah, yaitu menanam padi.

Hubungan Tarumanegara dengan Cina

Berita Cina mengatakan, bahwa pada tahun 528 dan tahun 535 Masehi datang utusan dari To-lo-mo yang terletak di selatan ke istana Cina. Demikian pula terjadi hal yang sama pada tahun 666 dan tahun 669 Masehi. Dari berita tersebut dapat dinyatakan bahwa Tarumanegara masih berdiri pada abad ke-7 dan masih aktif dalam kegiatan perniagaan dan berhubungan dengan kerajaan Cina.

Tetapi sejak abad ke-7, utusan-utusan itu tidak ada lagi. Hal itu mungkin disebabkan daerah pantai Tarumanegara diserang dan dikuasai oleh Sriwijaya. Kemudian pusat kerajaan Tarumanegara pindah ke daerah pedalaman dan tidak lagi mengadakan hubungan dengan luar negeri.



Demikian Perkembangan Hindu Buddha di Kerajaan Tarumanegara, terima kasih atas kunjungan anda para pecinta sejarah.

Related Posts

Perkembangan Hindu Buddha di Kerajaan Tarumanegara
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *