5 Raja Dinasti Kounbang di Burma 1752-1782

5 Raja Dinasti Kounbang di Burma 1752-1782 - Dinasti Kounbang muncul setelah runtuhnya dinasti Toungoo setelah terjadinya pemberontakan dari orang-orang Mon yang dipimpin oleh Hanthawaddy dan penangkapan raja terakhir dari dinasti Toungoo yakni raja Ava pada tahun 1752, hingga akhirnya memunculkan dinasti baru yang berasal dari daerah shweboo yang menetang otoritas dari Hanthawaddy yang dipimpin oleh Alaungpaya, konon diceritakan bahwa Alaungpaya merupakan keturunan Monyinthado yang merupakan pemimpin pada masa dinasti Byinnaung yang tumbuh di Burma pada abad ke 16.

1. Alaungpaya (1755 – 1760)
Selama kurun waktu tiga tahun Alaungpaya mencoba mengambil daerah yang dikuasai orang-orang Mon yang telah merampas kekuasaan raja Ava. Pertikaian antara Alaungpaya dan orang-orang Mon juga didukung oleh beberapa pendukung yang ada dibelakangnya, orang-orang Mon yang dipimpin oleh Hanthawaddy mendapat bantuan dari orang-orang barat seperti Perancis dengan latar belakang untuk mendapatkan pulau Negrais yang ada dibawah kekuasaan Inggris, sedangkan Alaungpaya sempat mendapatkan bantuan dari orang-orang Inggris melalui EIC melalui perjanjian surat kerajaan diatas lembaran emas, meskipun sebenarnya disisi lain EIC juga memberikan bantuan terhadap orang-orang Mon.

Perang antara pasukan Mon dengan Alaungpaya terjadi di Dagon (1755), dalam perang ini pasukan Mon berhasil dihabisi oleh pasukan Alaungpaya, dan berhasil merebut kota Dagon dari kekuasaan Mon. Dagon dijadikan lambang kemenangan bagi pasukan Alaungpaya yakni dengan mengadakan pesta di pagoda Shwe Dagon dan mendirikan ibukota baru di Dagon, yakni merubah nama kota Dagon menjadi Rangoon yang berarti “akhir pertikaian”.

Hal ini menjadikan pendirian dinasti baru di Tanah Burma yakni dinasti Kounbang oleh Alaungpaya, dimana Alaungpaya mendapatkan wilayah yang telah diduduki oleh orang-orang Mon, wilayah kekuasaannya meliputi Burma dan Manipur.

Setelah menaklukan seluruh wilayah Burma, Alaungpaya mengirim perintah untuk pemimpin pulau Negrais menghadap kepadanya, saat itu pulau Negrais berada di bawah kekuasaan EIC yang dipimpin oleh Kapten Thommas Newton, namun ia enggan menemui sang raja Burma sehingga diwakili oleh Ensign Thomas Lester. Dalam catatan Lester dikatakan bahwa alaungpaya agak tersinggung mengenai ketidakhadiran Thomas Newton dan George II yang tak menjawab balasan surat yang telah dikirimnya.

Konflik Inggris-Perancis yang berlangsung di India ternyata juga berdampak pada Konbaung, namun Alaungpaya tak menanggapi hal tersebut sehingga Inggris menyatakan bahwa Burma telah melakukan suatu pengkhianatan hingga munculnya pemberontakan yang didukung oleh Negrias, yang membantai orang-orang Burma di berbagai wilayah, hal ini sempat mengejutkan Alaungpaya sehingga menarik mundur pasukannya ke Henzada.

Inggris menganggap bahwa orang-orang Burma mengganggu stabilitas di kawasan Basein dan Inggris juga mengatakan bahwa Alaungpaya akan mendepak Inggris keluar dari Negrais. Dimana Inggris beranggapan bahwa Alaungpaya telah melakukan kerjasama dengan Perancis.

Alaungpaya melakukan serangan balasan ke Manipur, dan berhasil menduduki daerah tersebut. Tindakan yang diambil selanjutnya oleh Alaungpaya yakni memperluas wilayahnya hingga ke daerah Muangthai dimana orang-orang Mon melarikan diri kesana. Daerah sasaran yang utama yakni menguasai Chiang Mai yang telah dilakukan oleh leluhurnya kala itu. Dalam usahanya menaklukan Ayyuthiya beliau gagal dan gugur.

2. Naungdawgyi (1760 – 1763)
Ia menggantikan tahta ayahnya, pemerintahannya berlangsung pendek dan terjadi berbagai keributan dan pemberontakan, namun dibawah pemerintahannya berhasil merebut wilayah Ava di bawah pimpinan jenderal ayahnya Miknaung Nawratha. Ia juga membebaskan berbagai tawanan Inggris yang diminta oleh EIC, dan menjalin hubungan lagi dengan serikat dagang tersebut. Hal ini lah yang memunculkan berbagai polemik selama raja ini berkuasa.

3. Hsinbyusin (1763 – 1776)
Merupakan saudara dari Naungdawgyi, ia memindahkan ibukota ke wilayah Ava, karena Rangoon dan Pegu dianggap tidak layak sebagai ibukota. Keributan yang terjadi sebelumnya memberikannya suatu pelajaran bahwa penting bagi rakyat Burma pedalaman untuk dekat dengan distrik Kyaukse yang vital. Ia juga meneruskan cita-cita ayahnya untuk menguasai Muangtahai dan Laos.

Tahun 1764 Hsinbyusin berhasil menguasai daerah Chiang Mai dan Vien Chang (Vientiane) melalui jalan darat Ayyuthiya dan mengalahkan raja Hanthawaddy, meskipun tidak semua wilayah Muangthai dikuasai. Hal ini dikarenakan Burma harus menghadapi Cina dibawah pemerintahan Dinasti Manchu, dimana Burma menyerang laos hingga ke perbatasan Yunnan. Konflik berkepanjangan antara Burma – Cina inilah yang dimanfaatkan oleh Muangthai untuk menyusun kekuatan.

Cina beranggapan bahwa orang-orang Burma lah sebagai pengganggu dan biang keributan di wilayah perbatasan wilayahnya. Selain itu selama berabad-abad wilayah negeri Laos berada dibawah lindungan Cina, dimana negeri ini setipa tahunnya membayarkan upeti terhadap Cina.

Tahun 1766 raja Yunan menyerang Kengtung, daerah yang diduduki Burma di Laos, dengan bantuan negara Shan yakni negeri bawahan Burma yang dibantu pula oleh pusat berhasil memukul mumdur Cina, raja Yunnan sangat malu akan kekalahannya sehingga ia melakukan bunuh diri. Hal ini membuat kaisar Manchu yang ada di Peking marah dan mengganti raja Yunan yakni Yang Ying-chu, ia memimpin penyerangan terhadap Burma namun hasilnya juga gagal. Bahkan pasukan Burma berhasil memasuki kawasan teritorial Cina.

Di tahun 1769, Cina melakukan serangan lagi terhadap Burma yang diakhiri dengan adanya perjanjian Kaungtong pada tahun 1770, dimana Cina dan Burma melakukan perjanjian damai dengan berbagai syarat-syarat, dimana Cina akan keluar dari Burma dan akan dilakukan penukaran tahanan. Namun penukaran tahanan tersebut tidak di indahkan oleh raja Hsinbyusin hingga beliau pun marah. Namun untuk meredakan hal tersebut Cina mengajak Burma untuk menggempur Manipur yang dikuasai oleh Benggala yang merupakan boneka Inggris.

Manipur berhasil dikuasai oleh Birma, dan membawa Burma dan cina kepada hubungan yang lebih harmonis. Namun selama Burma mengalami konflik dengan Cina, Muangthai secara teratur menyusun kekuatan dibawah Paya Taksin sebagai pemimpin kerajaan. Ditahun 1768, Muangthai berhasil merebut Ayyuthiya kembali ke pangkuan Muangthai, bahkan ditahun 1773, Paya berhasil menyatukan seluruh Muangthai.

Hsinbyusin meninggal pada tahun 1776, dengan kematian Hsinbyusin membawa Burma untuk menghentikan pertikaiannya dengan Muangthai. Namun komandan utama Burma sempat melakukan penyerangan terhadap muangthai ditahun yang sama, dan kalah.

4. Singu (1776 – 1782)
Merupakan putra dari Hsinbyusin, dibawah pemerintahannya memutuskan mengakhiri perangnya dengan Muangthai. Selama menjalani kehidupannya ia lebih fokus melakukan hal-hal yang berkaitan dengan keburuhan rohani, oleh karena itu ia lebih memilih untuk melakukan ziarah ke pagoda-pagoda. Namun setelah pemerintahan raja Singu, Burma mengadakan perang kembali dengan Muangthai.

5. Bodaway
Merupakan adik dari Hsinbyusin yang menggulingkan posisi Singu karena dianggap kurang tegas dalam mengampu pemerintahan, ia terlibat dalam perang melawan Muangthai dimasa berikutnya dan juga perang Anglo-Burma, yang merupakan perang Inggris dan Burma hingga masa pemerintahan cucunya yakni Raja Min Don Min.
Demikian 5 Raja Dinasti Kounbang di Burma 1752-1782, semoga menjadi catatan sejarah negara di dunia.
Advertisement
5 Raja Dinasti Kounbang di Burma 1752-1782