Sejarah Negara

Website History

Menu

Akulturasi Islam dan tradisi lokal di Lampung

April 26, 2016 | Budaya

Akulturasi Islam dan tradisi lokal di Lampung-Selain situs berupa masjid dan makam para penyebar agama Islam, jejak Islam di Lampung bisa ditelusuri lewat budaya. Hampir tidak ada peristiwa adat di Lampung yang tidak berbau Islam. Mulai dari perkawinan, kelahiran, hingga kematian, nafas-nafas Islami selalu mewarnai peristiwa ini.

Di Lampung, Islam yang masuk lewat tradisi lokal juga mampu mempengaruhi kesenian tradisional daerah. Di daerah Lampung pesisir misalnya, nafas-nafas keislaman sangat terasa dalam seni tradisional musik butabuh atau hadrah.

Syair lagu hadrah adalah dari kitab Barzanji, berisi pujian kepada rasul dan dzikir-dzikir mengagungkan kebesaran Allah SWT. Syair lagu ini diiringi dengan alat musik berupa terbangan seperti rebana yang biasa dipakai pada lagu khasidah dan kerenceng.

Hadrah dan dzikir ini sering kita jumpai saat pesta adat atau nayuh yang dilantunkan malam hari menjelang pelaksanaan pesta atau begawi.

Dalam adat perkawinan di Lampung juga dikenal dengan istilah ngarak maju, yaitu arak-arakan pengantin yang dilakukan di tempat pengantin pria sebagai pertanda si pria telah resmi menikahi si wanita.

Dalam tradisi ngarak, unsur yang terpengaruh Islam adalah penggunaan alat musik rebana sebagai alat musik pengiring dan pelantunan salawat nabi serta syair-syair Arab yang dikenal dengan zikir lama dan zikir baru, yang isinya syair-syair Barzanji.

Adapula peraturan bujang gadis yang dikela dengan istilah cempala khua belas yang mengatur tentang pergaulan bujang gadis, siapa saja yang melanggar aturan adat tersebut akan dikenakan sanksi.

Dalam tata cara pergaulan bujang gadis ini juga terasa benar pengaruh hukum Islam, seperti hubungan pria dan wanita yang belum muhrim, aturan kesopanan dan kesusilaan dan cara-cara hidup bermasyarakat lainnya.

Pengaruh Islam lainnya dalam kesenian tradisional Lampung adalah acara betamat. Ytiu membaca ayat-ayat suci Al-Quran di acara khitanan dan perkawinan. Biasanya dibaca malam hari. Dalam acara ini juga ada peristiwa mengarak anak yang dikhitan dari tempat guru ngaji.

Ketika terjadi musibah, seperti ada kerabat atau tetangga dan saudara meninggal dunia, pengaruh Islam cukup dominan. Acara khatam Alquran, yaitu membaca ayat-ayat Alquran selama tujuh hari selain acara tahlilan akan terdengar di tempat ini.

Demikian Akulturasi Islam dan tradisi lokal di Lampung, semoga memberikan manfaat bagi pembaca pecinta nusantara.

Related For Akulturasi Islam dan tradisi lokal di Lampung