Sejarah Negara

Website History

Menu

Amartya Sen seorang ekonom kaum papa

Oktober 27, 2014 | Biografi

Amartya Sen seorang ekonom kaum papa – Nama Sen dalam dunia ekonomi melambung pada tahun 1981 dengan karyanya Poverty and Famine; An Essay on Entitlement and Deprivation. Karya tersebut mendeskripsikan bahwa kemiskinan tidak hanya diakibatkan oleh bencana alam, melainkan juga oleh sesuatu yang bersifat bencana ekonomi dan politik yang sebenarnya dapat dicegah.

Karya ini juga memprovokasi pemerintah negara-negara di dunia untuk mengubah fokus mereka kepada upaya pencegahan dan penanganan bencana kelaparan. Karyanya itu terbukti dengan terbentuknya Program Pembangunan PBB dan memunculkan Human Development Index yang juga disebut Sen Index.

Karya-karya Amartya Sen merupakan kajiannya mengenai bencana kelaparan yang menimpa dunia pada tahun 1970-an di sejumlah negara yang ternyata memiliki hubungan sangat erat dengan perkembangan demokrasi. Penelitiannya tersebut didukung oleh data dari hasil serangkaian penelitian besar di berbagai negara Dunia Ketiga, antara lain bencana kelaparan besar di Bengali tahun 1974, Ethiopia tahun 1973 dan 1974, Bangladesh tahun 1974, dan negara-negara Sahara tahun 1968-1973.

Menurut Amartya Sen, bencana kelaparan lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor sosial dan ekonomi, semisal sistem administrasi dan pengelolaan distribusi pangan, ketimbang faktor kelangkaan persediaan pangan atau kegagalan panen.

Kelaparan terjadi di negara yang tidak menganut sistem kebebasan pers. Kelaparan tidak akan pernah terjadi di negara yang menganut sistem demokrasi, di mana ada pihak oposisi untuk menyuarakan kritik dan yang mengijinkan surat kabar untuk membuat laporan secara terbuka dan mempertanyakan kebijakan pemerintah.

Pendapat Amartya Sen menemukan titik pencerahannya ketika negara komunis dan totaliter seperti Korea Utara dilanda kelaparan. Hal ini berlaku bagi Indonesia yang juga pernah mengalami bencana kelaparan. Indikator-indikator kemiskinan, ketidakmerataan distribusi ekonomi, dan kelaparan dalam pengamatan Sen erat kaitannya dengan elemen moral dalam sistem pengambilan keputusan ekonomi di tingkat atas.

Ada nilai-nilai demokrasi universal yang ingin disampaikan oleh Sen dalam konteks pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia. Menurutnya, penyebab dari langgengnya kemiskinan, ketidakberdayaan, maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas atas kebebasan politik, kesempatan ekonomi, kesempatan sosial (pendidikan, kesehatan, dan lain-lain), transparansi, serta adanya jaring pengaman sosial.

Pemikiran ekonomi Amartya Sen telah menyiratkan nilai etika. Ia seolah hadir sebagai ilmuwan pemelihara hati nurani (conscience keeper) dari umat manusia. Ia memberikan terobosan penting dalam ekonomi pembangunan dan ekonomi kesejahteraan.

Pemikirannya tentang kemiskinan dan kelaparan tidak pernah lepas dari kehidupan masa kecilnya di India yang sangat dekat dengan kemiskinan. Pemikirannya telah memberikan gambaran tentang dimensi moral dan etika yang kuat bagi manusia.

Sen berpendapat bahwa hidup dan martabat manusia terlalu berharga hanya untuk dijadikan tumbal persoalan ekonomi semata. Di mata Sen, sudah sewajarnya jika nilai kebebasan individual tidak dipinggirkan dalam setiap debat ekonomi.

Bagi Sen, pengingkaran terhadap hak asasi akan menjadi kendala bagi pembangunan manusia karena jaminan akan hak asasi manusia dapat mengurangi resiko bencana sosial ekonomi.

Pada tahun 1989, Sen menerbitkan karyanya Hunger and Public Action, yang berisi tentang tindakan publik mengentaskan kemiskinan. Menurutnya, tindakan tersebut bersumber pada dua gejala, yaitu kelaparan itu sendiri dan perampasan hak secara terus-menerus (endemic deprovation).

Ia menekankan adanya peranan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Sistem pemerintahan harus turut andil dalam proses pengentasan kemiskinan dan kelaparan demi kesejahteraan masyarakat.

Ia menginginkan agar rakyat diberikan kebebasan untuk meningkatkan kualitas hidup. Keberhasilan pembangunan tidak dilihat dari besarnya pendapatan per kapita masyarakat, tetapi berdasarkan parameter kesejahteraan. Tingkat kesejahteraan masyarakat menentukan bagaimana kualitas masyarakatnya.

Atas jasa Amartya Sen dalam menghadirkan terobosan baru di dunia ekonomi, Sen menerima hadiah Nobel. Penghargaan tersebut diberikan kepada Sen sebagai bentuk kritik agar orang-orang tidak selalu mendewakan perekonomian pasar bebas yang terbukti gagal meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan negara berkembang.

Ingin tahu lebih jauh siapa ekonom dunia ini? baca di artikel Biografi singkat Amartya Sen, semoga menambah catatan ilmuwan penerima Nobel ilmu pengetahuan di dunia.

Related For Amartya Sen seorang ekonom kaum papa