Sejarah Negara

Website History

Menu

Hubungan Indonesia dengan pusat agama Buddha di Asia

Oktober 28, 2015 | Kerajaan

Pusat agama Buddha-India dan Cina merupakan negara-negara besar yang memiliki peradaban tinggi. Sejak awal tarikh Masehi, di antara kedua negara tersebut telah terjadi hubungan kerjasama ekonomi yang dilakukan melalui jalur darat maupun laut.

Ketika mereka melakukan hubungan dagang melalui jalur laut, wilayah nusantara terlewati oleh kedua bangsa itu. Oleh sebab letaknya yang sangat strategis itu, masyarakat Nusantara menjadi terlibat dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional.

Dari sekian banyak negara yang berhubungan dengan Nusantara, India merupakan negara pertama yang banyak mempengaruhi corak kehiduypan masyarakat dengan pengaruh Hindu dan Buddha.

Orang-orang India telah datang ke Indonesis (Nusantara) dalam jumlah besar. Kemudian mereka berhasil membangun pemukiman-pemukiman. Selain para pedagang, kaum pendeta pun ikut pula berdatangan ke Nusantara.

Para pendeta yang beragama Hindu maupun Buddha ternyata aktif menyebarkan agamanya di wilayah Nusantara. Setelah berhasil menyebarkan agamanya, ada beberapa kerajaan di Nusantara yang dengan sengaja mengundang para pendeta tersebut untuk menjalankan upacara-upacara resmi kerajaan.

Hubungan Indonesia dengan pusat agama Buddha di Asia

Hubungan Nusantara dengan India

Hubungan antara dengan India diketahui pula melalui keterangan dalam kitab Jataka dan Ramayana. Di dalam kitab Jataka tersurat kisah-kisah kehidupan Sang Buddha yang menyebut Suwarnabhumi sebagai sebuah negara yang sulit untuk dicapainya. Suwarnabhumi artinya negeri emas, Sumatra pun terkenal dengan pulau emas. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa orang-orang India telah mengenal dan berhubungan dengan Sumatra di Indonesia.

Demikian pula dalam kitab Ramayana yang menyebut adanya Jawadwipa. Dikisahkan bahwa tentara kera yang bertugas mencari Shinta di negeri-negeri sebelah timur telah memeriksa Jawadwipa yang dihiasi oleh tujuh kerajaan. Pulau tersebut adalah pulau emas dan perak. Kitab ini menyebut pulau Suwarnadwipa atau pulau emas. Adanya penjelasan itu memberi petunjuk bahwa telah terjadi hubungan dan pengaruh India di Nusantara, khususnya Pulau Jawa dan Sumatra.

Dalam perkembangan selanjutnya, ternyata banyak orang Nusantara yang berminat memperdalam ilmu keagamaan di India. Pada umumnya, mereka tertarik untuk mempelajari sastra suci dan seni keagamaan. Para musafir Nusantara (terutama para pemuda) itu diantaranya giat mempelajari seni bangunan dan seni arca. Pengetahuan yang memuat teknik pembuatan bangunan suci dan seni arca tertuang dalam kitab Silpa Sastra.

Para Musafir Nusantara yang menuntut ilmu keagamaan di India semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Keadaan ini menyebabkan dua orang raja Sriwijaya berusaha membuat asrama bagi kepentingan para pelajar Nusantara di negeri India.

Raja-raja Sriwijaya kemudian meminta pertolongan kepada raja-raja di India untuk membangun Wihara. Oleh karena itu, berdirilah Wihara para pelajar Nusantara di Nalanda (850 M) dan di Nagapatma (1030 M).

Adanya sarana keagamaan tersebut membawa dampak positif. Para pelajar Nusantara menjadi semakin rajin, giat, dan tekun untuk menuntut ilmu di India. Tidak mengherankan jika kepulangan mereka kembali ke Nusantara membawa bekal ilmu keagamaan yang mendalam. Di Nusantara, kebudayaan India diolah sedemikian rupa hingga memunculkan perpaduan dua unsur kebudayaan, yaitu kebudayaan Nusantara dan India.

Hubungan Nusantara dengan Cina

Kontak hubungan Nusantara dengan Cina diperkirakan telah berkembang pada abad ke-5 dan 6. Bukti-bukti yang memperkuat hubungan tersebut diantaranya perjalanan dua orang pendeta Buddha, yaitu Fa Hien dan Gunawarman.Sekitar tahun 413 Masehi, Fa Hien melakukan perjalanan dari Srilanka ke Ye-po-ti (Pulau Jawa) dan kembali ke Cina melalui jalur laut.

Dalam tahun yang sama, Gunawarman bertolak dari She-po (pulau Jawa) ke Cina. Dalam pelayaranya tersebut mulanya nahkoda merencanakan untuk singgah di sebuah kerajaan kecil. Namun, berhubung keadaan angin sedang baik maka diputuskan untuk berlayar langsung ke Cina.

Bukti lain menceritakan bahwa tahun 449 Masehi Kaisar Wen Ti dari Cina mengirim utusan ke She-Po (PUlau Jawa), selain itu juga Kaisar Wen Ti berniat mengirimkan kapal untuk menjemput Gunawarman di She-po. Berdasarkan bukti-bukti tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada masa itu telah lazim dilakukan pelayaran langsung dari Nusantara ke Cina dan sebaliknya.

Hubungan laut ke Cina ternyata tidak sekedar pelayaran, melainkan hubungan perdagangan maritim yang bersifat internasional. Berita dari Dinsati Chi (479-502 M) telah menerangkan adanya perdagangan sutera antara negerinya dengan pedagang-pedagang yang datang menumpang kapal. (Kunlun merupakan sebutan bagi bangsa-bangsa yang berasal dari lautan selatan).

Terdapat pula berita yang menerangkan bahwa pada tahun 490 Masehi telah datang utusan dari Ho-lo-tan di She-po yang membawa kain India dan Ghandara. Utusan Ho-lo-tan tersebut membawa sepucuk surat yang berisi permintaan agar kaisar Cina memberi perlindungan terhadap Ho-lo-tan dari ancaman negara-negara tetangganya.

Selanjutnya, diminta pula agar para pembesar di Cina memperlakukan kapal-kapal Ho-lo-tan dengan baik, tidak merampok atau merusaknya. Permohonan raja Ho-lo-tan ini mengisyaratkan bahwa hubungan pelayaran di antara kedua negara telah berjalan dengan baik pada zaman itu.

Baca dalam versi Inggrisnya : Relationship between Indonesia and centers of Hinduism Buddhism in Asia

Artikel selanjutnya : Peta jalur masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu Buddha

Demikian Hubungan Indonesia dengan pusat agama Buddha di Asia, terima kasih atas kunjungan anda para pecinta sejarah.

Related For Hubungan Indonesia dengan pusat agama Buddha di Asia