Sejarah Negara

Website History

Menu

Pengertian sejarah subyektif dan obyektif menurut Sartono Kartodirdjo

Maret 9, 2015 | Catatan

Pengertian sejarah subyektif dan obyektif menurut Sartono Kartodirdjo – Seorang sejarawan Indonesia bernama Sartono Kartodirdjo dalam bukunya berjudul ‘Pendekatan Ilmu dalam Metodologi Sejarah’ menyebutkan bahwa pengertian sejarah dibagi menjadi dua, yaitu pengertian subjektif dan objektif. Prof Dr. Aloysius Sartono Kartodirdjo adalah sejarawan dari Indonesia. Beliau merupakan pelopor dalam penulisan sejarah dengan cara pandang Indonesia. (Wikipedia). Selengkapnya sebagai berikut :

1. Sejarah dalam arti Subyektif

Adalah suatu konstruk, yaitu bangunan yang disusun penulis sebagai suatu uraian atau cerita. Uraian atau cerita. Uraian atau cerita tersebut merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk menggambarkan suatu gejala sejarah, baik proses maupun struktur.

Kesatuan tersebut menunjukkan koherenri, artinya berbagai unsur bertalian antara satu dengan yang lain dan merupakan satu kesatuan. Fungsi unsur-unsur saling menopang dan saling bergantung satu sama lain.

Disebut subjektif karena sejarah memuat unsur-unsur dan isi subjek (pengarang, penulis). Karena pengetahuan maupun gambaran sejarah adalah hasil penggambaran atau rekonstruksi dari pengarang, otomatis memuat sifat-sifat, gaya bahasa, struktur pemikiran, pandangan, dan sebagainya.

Pengertian-sejarah-subyektif-dan-obyektif-menurut-Sartono-Kartodirdjo

Prof. Dr. Aloysius Sartono Kartodidrjo

2. Sejarah dalam arti Objektif

Adalah menunjuk kejadian atau peristiwa itu sendiri, yaitu proses sejarah dalam aktualitasnya. Kejadian tersebut sekali terjadi dan tidak dapat diulang atau terulang lagi. Orang yang memiliki kesempatan mengalami suatu kejadian pun sebenarnya hanya dapat mengamati sebagian dari totalitas kejadian tersebut.

Oleh karena itu, tidaklah salah jika ada yang mengatakan bahwa sejarah berulang, masuk pada pengertian subjektif. Adapun kita perlu sejarah termasuk pengertian subjektif. Secara skematis, pengertian sejarah tersebut adalah sebagai berikut :

Dalam kaitan seperti ini, Ibu Khaldun seorang pemikir besar sosial-Islam mengingatkan kepada setiap sejarawan bahwa untuk melihat kembali secara objektif, seorang sejarawan harus bisa mengenal dengan jelas berbagai struktur kebudayaan dan sosial manusia yang akan ditelitinya, termasuk berbagai pemahaman metodologi ke arah ini.

Tanpa mengenal dan mengerti dari dekat objek yang akan dikaji berikut metodologinya, mustahil seseorang bisa menjelaskan fenomena sejarah secara objektif. Begitu pun, tanpa metodologi yang jelas, alur penjelasan secara rasional atau dalam bahasa sekarang rekonstruksi, sistematika kronologi dan analisisnya akan sulit dimengerti.

Ajid Thohir dan Ading Kusdiana menuliskan bahwa pemikiran Khaldun mengarah pada studi sejarah kritis, yaitu sejarawan tidak lagi memihak pada pendapat madzab-madzab atau interpretasi tertentu, dengan terlalu percaya kepada para pendahulunya, serta untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan ideologi tertentu.

Sejarawan harus bisa bebas tidak terikat untuk menjelaskan secara rasional hubungan antara penyebab munculnya berbagai perilaku manusia dan perilaku itu sendiri. Di sinilah, hubungan antara sosiologi dan antropologi, serta ilmu sosial lainnya yang merupakan metodologi pelajaran tentang “keadaan kini” untuk bisa menjelaskan fenomena sejarah secara rasional dan objektif, dengan sejarah yang merupakan pelajaran masa lalu yang bisa memberikan berbagai informasi atau bahan-bahan masa lalu tentang manusia masa kini.

Baca juga :

Akar-akar apa yang mengarahkan mereka berperilaku demikian? Potensi apa yang menyebabkan corak mereka berbeda? Semua pertanyaan metodologis ini akan terjawab dengan sendirinya jika sejarawan memahami dua persoalan besar dalam studinya; yaitu fakta dan bagaimana cara memahami serta mengolahnya dengan benar dalam bentuk laporannya.

Related For Pengertian sejarah subyektif dan obyektif menurut Sartono Kartodirdjo