Sejarah Negara

Website History

Menu

Perkembangan agama dan kebudayaan Hindu Buddha di Asia Selatan

Oktober 25, 2015 | Kerajaan

Perkembangan agama dan kebudayaan Hindu Buddha di Asia Selatan – Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia sudah ada sejak sebelum berdirinya kerajaan Hindu-Buddha pertama di Indonesia, seperti Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur atau Kerajaan Ho-ling di Jawa Tengah.

Referensi, silahkan baca :

Perkembangan pemerintahan pada zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara juga tidak lepas dari pengaruh Hindu-Buddha, namun kerajaan-kerajaan atau para penguasa lokal telah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha datang ke Indonesia (Nusantara).

Mengapa para penguasa lokal di Nusantara menjadi terpengaruh oleh agama Hindu-Buddha? Siapa saja yang berperan dalam penyebaran pengaruh Hindu-Buddha di Nusantara? Jawabannya, bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah ada dan berkuasa di wilayah tertentu di Nusantara.

Sedangkan orang-orang beragama Hindu-Buddha merupakan salah satu kelompok yang memiliki peranan penting dalam kehidupan internasional seperti perdagangan, ilmu pengetahuan, pergaulan hidup, dan kebudayaan.

Untuk lebih memahami pengetahuan tentang pengaruh dan peranan Hindu-Buddha dalam masyarakat di Nusantara, berikut uraian tentang perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada masa tersebut.

Perkembangan agama dan kebudayaan Hindu Buddha di Asia Selatan

 

Awal perkembangan agama Hindu

Agama Hindu berasal dari negara India. Oleh karena itu, untuk mengetahui sejarah perkembangannya harus juga dipelajari sejarah perkembangan  India yang meliputi aspek perkembangan penduduk maupun kebudayaannya dari zaman ke zaman.

Berdasarkan penelitian terhadap usia kitab-kitab Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan berkembang sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi. Sebagai agama tertua, agama Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara.

Penduduk India

Penduduk asli yang mendiami India adalah bangsa Dravida. Mereka bermukim di dataran tinggi Dekkan dan mendiami daerah sepanjang sungai Sindhu yang subur. Kehidupannya masih sangat sederhana.

Sekitar tahun 1500 SM, bangsa Arya tiba di India. Bangsa Arya berasal dari daerah sekitar Asia Tengah yang menyebar memasuki daerah-daerah Iran (Persia), Mesopotamia, dan juga masuk ke daerah Eropa.

Bangsa Arya yang masuk ke India adalah emreka yang pernah masuk ke Iran. Mereka masuk ke India dalam dua tahap dan di dua tempat yang berbeda. Pertama mereka masuk ke daerah Punjab, yaitu daerah yang memiliki lima aliran anak sungai.

Kedatangan mereka disambut dengan peperangan oleh bangsa Dravida yang sudah lebih dahulu bermukim di India. Karena bangsa Arya lebih maju dan lebih kuat, bangsa Dravida dapat dikalahkan.

Tahap kedua, bangsa Arya masuk ke India melalui daerah dua aliran sungai yaitu lembah Sungai Gangga dan lembah sungai Yamuna yang dkenal dengan nama daerah Doab. Kedatangan mereka tidak disambut peperangan, bahkan kemudian terjadi percampuran melalui perkawinan. Bangsa-bangsa inilah yang menjadi nenek moyang bangsa India sekarang ini.

Di kedua daerah tersebut, bangsa Arya mengembangkan peradabannya. Dikatakan bahwa orang-orang Aryalah yang menerima wahyu Weda. Wahyu-wahyu dalam Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja.

Penerima wahyu disebut Maha Resi. Wahyu-wahyu itu diterima melalui pendengaran, oleh sebab itu wahyu Weda disebut Sruti (sru artinya pendengaran). Kurun waktu turunnya wahyu-wahyu Weda itulah yang disebut zaman Weda. Ajaran Weda ini kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia.

Referensi silahkan baca : Zaman weda kuno

Kitab-kitab Weda membentangkan puji-pujian terhadap para dewa. Munculnya kepercayaan terhadap dewa (panteon) diperoleh dengan jalan semadi terhadap gejala alam. Berkenaan dengan hal itu, muncullah kepecayaan terhadap Dewa Agni (api), Dewa Bayu (angin), Dewa Surya (matahari), Dewa Candra (bulan), Dewa Maruta (angin kencang), Dewa Baruna (angkasa), Dewa Parjana (hujan), Dewa Indra (perang), Dewa Usa (fajar), dan lain sebagainya.

Di antara dewa-dewa yang dipuji tersebut tidak ada yang dianggap paling tinggi. Hanya pada waktu-waktu tertentu salah satu dewa lebih sering dipuja daripada yang lain, misalnya terhadap Dewa Agni. Dewa Agni diberi kedudukan istimewa karena api di dalam setiap rumah selalu ada dan sangat diperlukan. Lagi pula dalam setiap upacara-upacara pemujaan kepada para dewa, api saji sudah menjadi syarat utama yang harus ada disamping saji-sajian yang lain.

Sistem kepercayaan yang menyembah banyak dewa (politeisme) dipimpin oleh kelompok tertentu dalam masyarakat yang memiliki ketrampilan melaksanakan upacara-upacara keagamaan. Golongan ini adalah para pendeta atau brahmana.

Mereka diyakini bangsa Arya sebagai kelompok yang dapat mencegah kemurkaan para dewa dan mampu mendatangkan keberkahan bagi pengikutnya. Keyakinan terhadap golongan brahmana ini dikenal dengan brahmanaisme yang merupakan awal lahirnya agama Hindu.

Kehidupan masyarakat

Untuk mempertahankan kekuasaan (otoritas) di tengah kehidupan masyarakat, bangsa Arya berupaya menjaga kemurnian ras. Artinya mereka melarang perkawinan campur dengan bangsa Dravida. Untuk tujuan itu, bangsa Arya menerapkan sistem kasta dalam masyarakat.

Dalam sistem kasta, masyarakat dibagi menjadi beberapa tingkatan, dari yang tertinggi sampai yang terendah. Tinggi rendahnya suatu kasta sangat menentukan kedudukan, hak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat.

Pada mulanya, masyarakat terbagi menjadi tiga kasta, yaitu :

  1. Brahmana (Rohaniawan dan ilmuwan).
  2. Ksatria (pemerintah, pejabat, dan prajurit).
  3. Waisya (petani dan pedagang).

Kemudian dimunculkan kasta keempat, yaitu Sudra (tukang, pengrajin, dan pelayan)

Awalnya sistem kasta itu tidak bersifat kaku. Orang masih dapat berpindah kasta apabila ia beralih profesi. Akan tetapi, perkembangan masyarakat yang semakin majemuk membuat sistem kasta menjadi semakin kaku dan tegas. Perpindahan antarkasta menjadi tidak mungkin

Dalam keadaan seperti inilah dimunculkan kasta kelima, yakni Pariya atau Panchama yang berarti kaum terbuang. Kasta ini mencakup kalangan yang melakukan pekerjaan kotor sehingga dianggap hina dan sama sekali tidak memiliki hak dalam masyarakat.

Jadi, kasta masyarakat Hindu di India pada zaman itu akhirnya terbagi lima, yaitu : Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan Pariya (Panchama).

Inti ajaran Agama Hindu

Agama Hindu mengajarkan bahwa hidup di dunia ini sengsara (samsara) akibat perbuatan yang kurang baik pada masa sebelumnya (karma). Selanjutnya manusia dilahirkan kembali (reinkarnasi) dan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga dalam kelahirannya kembali manusia dapat dilahirkan pada kasta yang lebih rendah atau dilahirkan menjadi binatang.

Namun, seseorang yang telah sempurna hidupnya dapat mencapai moksha, yang artinya lepas dari samsara (sengsara). Mereka yang berhasil mencapai moksha tidak dilahirkan kembali, tetapi tinggal abadi di nirwana (surga). Ajaran Hindu bersifat pesimis, karena hidup berarti menderita, bukan menikmati kesenangan di dunia.

Baca dalam versi Inggris : Development of Hindhu Buddhist religion and culture in South Asia

Artikel sejarah selanjutnya : Awal perkembangan Agama Buddha

Demikian mengenai sejarah Perkembangan agama dan kebudayaan Hindu Buddha di Asia Selatan.

Related For Perkembangan agama dan kebudayaan Hindu Buddha di Asia Selatan