Sejarah Negara

Website History

Menu

Revolusi Hijau di negara berkembang

September 26, 2014 | Teknologi

Revolusi Hijau di negara berkembang – Negara-negara berkembang seperti India dan Filipina merupakan contoh negara yang mendapat pengaruh besar dari adanya revolusi hijau. Terbukti dengan berhasilnya kedua negara tersebut dalam meningkatkan hasil produksi pangannya. Hal tersebut menimbulkan optimisme bahwa pengembangan revolusi hijau dapat menghasilkan persediaan pangan bagi penduduk di dunia.

Para petani di negara-negara berkembang menyambut baik berbagai metode yang diharapkan dalam revolusi hijau. Hal ini dikarenakan metode-metode tersebut telah terbukti dapat meningkatkan hasil pertanian yang menakjubkan dalam kurun waktu tahun 1967-1970.

Revolusi Hijau di negara berkembangLembaga penelitian seperti IRRI (International Rice Research Institute) atau institut Penelitian Padi Internasional di Filipina telah berhasil mengembangkan bibit baru yang sangat produktif yang dikenal dengan nama IR-8. Varietas baru tersebut merupakan hasil persilangan genetik antara varietas padi kerdil dari Taiwan yang bernama Dee- Geowoogen dan varietas padi jangkung dari Indonesia yang bernama Peta.

IR-8 atau 8-288-3 di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan pada PB-8. Dengan ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, bibit baru tersebut dapat meningkatkan hasil produksi pertanian di kawasan Asia Tenggara.

Setelah penemuan pada PB-8, disusul dengan penemuan varietas-varietas baru. Jenis-jenis bibit unggul dari IRRI ini di Indonesia disebut Padi Unggul Baru. (PUB). Pada tahun 1966 IR-8 mulai disebarkan di Asia dan diikuti dengan persebaran IR-5 pada tahun 1967.

Pada tahun 1968 di India, Pakistan, Sri Lanka, Filipina, Malaysia, Taiwan, Vietnam, dan Indonesia telah dilaksanakan penanaman padi jenis IR atau PUB secara luas di masyarakat. Areal sawah di Asia ditanami PUB dan pada tahun 1976 sudah mencapai 24 juta hektar.

IRRI merupakan organisasi nonpemerintah internasional yang berpusat di Los Banos, Filipina. IRRI didirikan pada tahun 1960 dan memulai kegiatannya pada tahun 1962. Institut ini memiliki kantor perwakilan di sepuluh negara.

Tujuan utama IRRI adalah untuk mencari cara meningkatkan kesejahteraan petani, konsumen, serta lingkungannya. IRRI merupakan salah satu dari lima belas pusat penelitian di seluruh dunia dan merupakan bagian dari CGIAR (Consultative Group on International Agricultural Research).

Disamping usaha untuk menemukan varietas-varietas unggul yang sesuai dengan daerah tempat produksi hasil pertanian, penelitian juga diikuti dengan upaya pemulihan kondisi tanah. Jenis tanaman unggul ini mempunyai ciri berumur pendek, memberikan hasil produksi berlipat ganda dan mudah beradaptasi dalam lingkungan apapun, asal terpenuhi syarat-syarat seperti tersedia cukup air, pemupukannya teratur, tersedia bahan kimia pemberantasan hama dan penyakit, serta tersedia bahan kimia pemberantas rerumputan pengganggu.

Baca juga :

Related For Revolusi Hijau di negara berkembang