Sejarah Negara

Website History

Menu

Sejarah cara berdakwah Nabi Muhammad

Oktober 11, 2016 | Islam

Sejarah cara berdakwah Nabi Muhammad – Nabi Muhammad mulai melakukan dakwah dan menyiarkan tugas yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya setelah mendapatkan wahyu yang kedua. Mengenai wahyu yang diterima Rasulullah silahkan baca Materi dakwah Nabi Muhammad.

Syiarnya mula-mula ditujukan kepada keluarganya dan kaum kerabatnya dengan cara sembunyi-sembunyi. Beliau mengajak mereka agar meninggalkan berhala-berhala yang selama ini menjadi pemujaan mereka dan tempat mereka menyembahkan diri. Sebagai penggantinya Nabi Muhammad mengajak mereka untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Dakwah dengan cara ini ternyata memberikan hasil. Orang yang pertama kali beriman dari keluarganya adalah isteri beliau sendiri yaitu Khadijah. Disusul oleh putra pamannya yang mengasuh beliau semenjak kematian kakeknya, yaitu Ali putra Abu Thalib.

Ali adalah orang termuda di antara keluarga Muhammad yang masuk agama Islam. Setelah itu disusul oleh budak beliau yang bernama Zaid ibn Haritsah yang selanjutnya diangkat sebagai anak sendiri oleh beliau.

Dari kaum kerabatnya, Abu Bakar Shiddiq menjadi orang pertama masuk Islam. Abu Bakar adalah sahabat karib beliau yang telah bergaul dengannya cukup lama. Sejarah Islam mencatat mengenai Abu Bakar, antara lain silahkan baca link di bawah ini

Dengan perantara Abu Bakar, kemudian banyak kerabat lain yang mengikuti jejaknya, beriman dan memeluk agama Islam, antara lain sebagai berikut:

  1. Utsman ibn Affan
  2. Zubair ibn Awwam
  3. Sa’ad ibn Abi Waqqash
  4. Arqam ibn Abil Arqam
  5. Abdurrahman ibn Auf
  6. Thalhah ibn Ubaidillah
  7. Abu Ubaidillah ibn Jarrah
  8. Fatimah binti Khattab (adik Umar ibn Khattab)
  9. Said ibn Zaid Al Adawi (suami Fatimah binti Khattab(, dan beberapa orang penduduk Mekkah lainnya dari suku Quraisy.

Kepada mereka samua tersebut di atas diberi gelar “As Saabiquunal awwaluun”. Artinya: orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama memeluk agama Islam.

Dakwah seperti tersebut di atas dinamakan dakwah afrad atau pun dakwah “sirr”. Sebab, pada masa itu Nabi Muhammad melakukan dakwahnya dengan cara diam-diam dan mendatangi rumah keluarga dan kerabatnya satu-persatu.

Dakwah sir atau afrad ini dilakukan Nabi selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Para sahabat yang telah memeluk agama Islam mendapat gemblengan langsung dari Nabi dengan belajar di suatu tempat yang tersembunyi, yaitu di rumah sahabat Arqam ibn Abil Arqam. Kadangkala beliau mendatangi rumah mereka satu-persatu ketika diminta untuk memberikan pelajaran ataupun petunjuk keimanan.

Nabi Muhammad berdakwah secara terang-terangan

Setelah tiga tahun lamanya, beliau berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi, maka turunlah Firman Allah yang tersirat dalam Surat Al-Hajir ayat 94, yang berbunyi sebagai berikut:

Surat Al-Hajir ayat 94

Artinya:

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik (Al-Hajir: 94)

Firman Allah ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyiarkan agama Islam dengan jalan terang-terangan dan meninggalkan cara sembunyi-sembunyi. Firman Allah ini juga memberikan dorongan mental dan kekuatan batin bagi beliau untuk menyeru kaumnya secara terang-terangan di tempat-tempat terbuka serta ajakan menyembah Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sesuatupun yang dapat disamakan dengan-Nya.

Seperti halnya ketika beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi, pada dakwah terang-terangan inipun pertama kali yang diajak adalah para keluarga dan kerabatnya, baru kemudian kepada seluruh penduduk Mekkah pada umumnya yang terdiri dari bermacam-macam lapisan dan golongan masyarakat, baik golongan bangsawan, hartawan ataupun hamba sahaya. Disamping itu, kemudian dakwah meluas ke seluruh suku dan kabilah Arab yang akan pergi atau pulang menunaikan haji di Mekkah.

Dengan dakwah yang bersifat terang-terangan ini, menjadikan Nabi Muhammad sebagai pusat perhatian dan pembicaraan yang tadinya hanya di Mekkah kemudian meluas sampai ke daerah-daerah Yastrib (Madinah) dan lain-lain.

Pada mulanya semua orang menduga bahwa Muhammad membawa gerakan dan faham baru yang pasti akan mereda dengan sendirinya karena gerakan dan faham tersebut dianggap tidak mempunyai dasar dan tujuan yang jelas yang sifatnya sementara.

Anggapan seperti ini menyebabkan mereka acuh tak acuh terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Nabi dan bahkan ada yang menganggap bahwa Muhammad telah gila, karena ingkar terhadap Tuhan nenek moyangnya dan Tuhan nenek moyang mereka. Penghinaan Muhammad terhadap berhala-berhala yang menjadi Tuhan mereka dan Tuhan bangsa Quraisy secara keseluruhan telah membuatnya hilang ingatan.

Satu sisi yang menguntungkan Rasulullah dari sikap mereka adalah bebasnya beliau berdakwah di setiap tempat, karena memang tak ada orang yang mengambil pusing dengan dakwah beliau.

Ketika dakwahnya mulai meluas ke wilayah lainnya, apalagi setelah Nabi Muhammad begitu terus terang menghinakan tuhan-tuhan berhala mereka barulah kemudian muncul reaksi dari para pimpinan suku Quraisy. Sikap Nabi Muhammad selanjutnya membangkitkan kemarahan mereka dan mulailah mereka melancarkan permusuhan terhadap Nabi Muhammad dan para pengikutnya.

Pengikut Nabi banyak yang disiksa di luar batas kemanusiaan, tetapi kepada Nabi mereka tidak berani bersikap kasar dan menyakiti fisiknya, karena Nabi adalah dari keturunan suku terkemuka bangsa Quraisy, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib, apalagi ketika itu pamannya Abi Thalib adalah orang yang sangat berpengaruh dan disegani oleh seluruh pimpinan suku-suku Quraisy yang masih hidup dan membelanya.

Meskipun demikian, dakwah Nabi ini mulai telah menimbulkan reaksi yang sangat keras di kalangan suku Quraisy khususnya dan penduduk kota Mekkah pada umumnya. Setelah kematian pamannya Abu Thalib, tak ada lagi orang yang membelanya seperti yang telah dilakukan oleh pamannya, bahkan seluruh suku yang ada di kota Mekkah dengan terus terang memboikot segala bentuk aktifitas kemasyarakatan dan ekonomi terhadap keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Ketika itulah Nabi Muhammad kemudian dipanggil untuk melakukan Isra’ Mi’raj menghadap kepada Allah SWT. Panggilan ini tidak lain adalah untuk memberi kekuatan kepada Nabi Muhammad bahwa apa yang telah dilakukan olehnya adalah kebenaran dan diridhai oleh Allah SWT.

Kekuatan moral yang telah pulih kembali, membangkitkan kembali gairah dakwahnya meskipun sebelumnya ia mengalami 2 peristiwa yang menyedihkan karena meninggalnya Khadijah istrinya dan pamannya Abu Thalib.

Kesimpulan

Dengan uraian di atas maka dapatlah dikatakan bahwa dalam dakwahnya Nabi Muhammad telah menempuh dua macam cara, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi dan dakwah secara terang-terangan. Adapun secara politik, hijrahnya Nabi dan para sahabatnya juga membawa keuntungan tersendiri bagi pengembangan agama Islam di luar kota Mekkah, meskipun maksud utamanya adalah menghindari kekejaman yang dilakukan oleh penduduk Mekkah terhadap para pengikut Nabi.

Di samping itu, dakwah Nabi juga mengikuti cara-cara yang bijaksana seperti yang disebutkan Allah dalam firman-Nya yang tersirat dalam Surat an-Nahl ayat 125, yang berbunyi sebagai berikut:

Surat an-Nahl ayat 125

Artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (an-Nahl : 125)

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai Sejarah cara berdakwah Nabi Muhammad, semoga menjadi catatan sejarah Islam di seluruh dunia.

Related For Sejarah cara berdakwah Nabi Muhammad