Sejarah Negara

Website History

Menu

Sumbangan Islam terhadap ilmu pengetahuan dunia barat

Juni 20, 2014 | Islam

Sumbangan Islam terhadap ilmu pengetahuan dunia barat – Dalam Islam antara agama dan ilmu tidak bertentangan. Banyak sekali ayat-ayat dan hadist yang memerintahkan kaum muslimin dan muslimat menuntut ilmu. Dan tidak pernah ada sarjana-sarjana muslim yang dibunuh atau dipenjarakan seperti yang dialami oleh Copernicus, Guardano Bruno dan galileo, Galilei.

Pengaruh ilmu pengetahuan Islam terhadap Eropa telah berlangsung sejak abad ke- XII. Sejak abad ke-XIV timbul gerakan kebangkitan kembali (renaisance), pusaka Yunani yang diselamatkan, dipelihara dan dikenal berkat terjemahan-terjemahan Arabnya.

Dari bahasa Arablah terjemahan-terjemahan itu diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Latin. Tapi sebagaimana disebutkan dalam abad ke-VII, pengaruh kebudayaan Islam terutama meluas meluas atas Eropa melalui masyarakat ISlam Spanyol tahun 711 sampai 1492 Masehi dan Sisilia tahun 825 sampai 189 Masehi. Meskipun tidak terlalu besar, namun ada pengaruh Islam masuk melalui Perang Salib.

Akibat dari kontak hubungan ini telah menimbulkan perubahan-perubahan dalam susunan masyarakat dan kebudayaan Eropa. Di antara perubahan-perubahan itu adalah perkembangan kota dan munculnya golongan borjuis yang menguasai ekonomi kota.

Pengaruh Islam telah memperluas akhlak dan adat istiadat mereka. Tertanam dalam sejarah bagaimana ketinggian budi dan keluhuran akhlak Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Keluhuran akhlak beliau ini diceritakan oleh tawanan-tawanan Kristen yang dibebaskan oleh Sultan Salahuddin.

Demikian pula kedudukan wanita dalam kebudayaan Eropa sebelum berkenalan dengan Islam dianggap tak punya pribadi. Hukum Islam mengakui hak kaum wanita untuk mempunyai hak milik atas benda-benda bergerak dan tidak bergerak (tanah dan rumah) serta menguasainya.

Kaum wanita dalam Islam juga punya hak untuk menolak perkawinan dan untuk bercerai jika seorang suami menelantarkannya. Perlakuan yang lebih adil dan halus kepada kaum wanita di Eropa sekarang terjadi karena pengaruh Islam.

Kebudayaan Islam mempengaruhi pula kemajuan Eropa di bidang filsafat. Penguasaan kaum muslimin terhadap filsafat di mulai dengan menterjemahkan filsafat-filsafat Yunani. Walaupun filsafat Yunani bertitik tolak dari pandangan hidup yang bertentangan, tetapi kaum muslimin menterjemahkan, mempelajari dan mengulas karya-karya filsafat Yunani tersebut.

Suatu ciri yang menonjol dari filsafat kaum muslimin adalah mereka tetap teguh pada iman yang mereka yakini. Di antara filusuf muslim yang terkenal adalah Al-Kindi, yang membahas tentang teori ilmu pengetahuan. Al-Farabi memberikan sumbangan penting dengan menulis buku Ihsha Al-Ulum. Dengan buku itu ia mendaftarkan berbagai ilmu, metodologi dan pokok-pokok persoalannya.

Sedangkan Ibn Sina memberikan uraian terperinci tentang berbagai daya tenaga jiwa dan taraf-taraf yang mesti dilaluinya, termasuk pemurnian akhlak.

Filusuf Islam yang terbaru adalah Abu’l Hamid Muhammad Al-Ghazali yang dibarat dikenal dengan Algasel. Pada pokoknya ia membahas bidang metafisika dan hal-hal mengenai kejiwaan manusia. Filusuf terpenting lainnya adalah Abul Walid Al-Qadi ahmad Ibn Rusyd tinggal di Spanyol tahun 1120-1198 Masehi. Namanya sangat termasyhur sebagai dokter.

Semua filusuf muslim tersebut besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat Eropa. Misalnya pengaruh Ibn Rusyd jelas terlihat pada Thomas Aquinas tahun 1125-1274 Masehi, seorang bapak teologi Katholik. Benedecter Spinoza tahun 1632-1677 Masehi, tokoh Hummanisme Eropa. Buku-buku Ibn Rusyd dan filusuf-filusuf lainnya diterjemahkan dan diterbutkan di Eropa.

Di bidang kedokteran sampai seluruh pengetahuan kedokteran Eropa pada masa Renaissance berasal dari kaum muslimin. Kemajuan yang paling menonjol yang mereka capai dalam ilmu kedokteran adalah di dalam pembedahan, pelukisan penyakit-penyakit, bahan-bahan obat dan farmasi.

Mereka menemukan sejumlah cara kerja yang banyak seperti penggunaan air dingin pada typhus. Pada zaman modern muncul kembali setelah berabad-abad dilupakan. Bahan-bahan obt berhutang budi kepada mereka dengan obt-obtn, seperti buah asam, kamper, alkhl, amami dan lain-lain. Merekalah pencipta farmasi yang sebenarnya.

Perkembangan ilmu bedah berhutang budi kepada orang-orang Arab. Karya mereka dipergunakan sebagai dasar bagi pengajaran pada fakultas-fakultas kedokteran sampai belum lama berselang. Pmbiusan yang penemuannya dianggap berasal dari zaman modern, telah mereka ketahui.

Kaum muslimin menyumbangkan pula Aljabar, ilmu ukur sudut, dan ilmu bintang. Merekalah yang menemukan lonceng gantung. Di bidang kimia, Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan memberikan sumbangannya dengan telah banyak melakukan percobaan tentang sublimasi, pemerasan, pembasian, pengasaman dan penyulingan.

Dengan demikian Abu Musalah perintis empirisme sebagai metodologi ilmiah. Ia penemu asam tersebut, dan menyumbangkan teori penguapan dan persenyawaan, pembutiran, pelelehan dan sublimasi.

Kaum muslimin juga telah mendirikan universitas-universitas beberapa abad sebelum Eropa memilikinya. Universitas-universitas di Bagdad, Al Qahirah (Kairo) dan Kordoba sangat termasyhur. Perpustakaan-perpustakaan besar dibangun, beberapa buah di antaranya berisi ratusan jilid buku yang semuanya terdaftar dan tersusun rapi.

Banyak orang Kristen yang belajar pada Universitas Kordoba membawa ilmu dan kebudayaan ke negeri-negeri asal mereka. Salah seorang mahasiswa Kristen yang paling terkenal pada Universitas Kordoba adalah Gerbert. Kemudian dia menjadi Paus Sylvester II yang berbuat banyak memperkenalkan ilmu pasti ke Eropa.

Di bidang ilmu pengetahuan sosial, kaum muslimin banyak memberikan perhatian pada ilmu bumi sosial. Ahlinya yang paling terkemuka adalah Yaqut ibn Abdullah Al-Hamawi tahun 1179-1229 Masehi, pengarang Mu’jam al Buldan, sebuah kamus ilmu bumi.

Tetapi pengarang ilmu bumi yang terkenal adalah Syamsuddin Abu Abdullah Ibn Abdillah Ibn Yusuf Al-Sawati Al-Tasyi Ibn Bathuthah tahun 1304-1377 Masehi. Ia banyak mengembara untuk melakukan penelitian tentang ilmu bumi sosial dan Ethnografi. Ia pernah bermukim di Aceh dan kepulauan Maladewa (Indonesia).

Di bidang sejarah dan sosiologi, yang paling terkenal adalah Ibnu Khaldun yang berasal dari Tunisia. Dia menulis buku yang berjudul Kitab Al-lbar (buku sejarah, sebanyak 7 jilid. Di dalam pengantar (mukadimmah) buku tersebut ia membentangkan kaidah-kaidah yang dipakainya dalam meneliti sejarah. Ibn Khaldun diakui sebagai ahli sosiologi pertama, dan filsafat sejarah yang terbesar di dunia hingga saat ini.

Islam adalah agama besar terakhir yang lahir di dalam tahun sejarah, tak terselubung oleh kabut dongeng dan khayal. Surat Nabi Muhammad SAW kepada Raja Mesir pada zamannya masih tersimpan hingga kini.

Dengan demikian mudahlah kita menguji kebenaran sejarah sekitar muncul dan berkembangnya Islam serta pembuktian, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi modern lahir dari kandungan Islam. Islamlah yang menemukan metode ilmiah, yakni metode empirik induktif dan percobaan yang menjadi kunci pembuka rahasia-rahasia alam semesta yang menjadi perintis modernisasi Eropa dan Amerika.

Wahyu Allah kepada Muhammad yang pertama-tama dimulai dengan kata : Bacalah! (Lima ayat pertama surat Al’ Alaq). Sudah sejak awal wahyu itu diwajibkan direkam berupa tulisan. Selanjutnya ayat-ayat Al-Quran banyak berisi pertanyaan : “Apakah engkau tak berfikir?” (afala tatafakkarun?). “Apakah engkau tak berakal?” (afala ta’qilun), serta sejumlah ayat yang manganjurkan, bahkan diwajibkan belajar dan mengajarkan ilmu.

Dr. Ahmad Amin, Guru Besar sastra pada Universitas Al Qahirah di dalam telaahnya Fajru’l-Islam (terjemahan Islam oleh Zaini Dahlan M.A.), mengemukakan bahwa pada awal timbulnya Islam hanyalah 17 orang dari suku bangsa Quraisy yang pandai baca tulis.

Muhammad SAW menganjurkan pengikut-pengikutnya belajar membaca dan menulis. Aisyah isterinya pun belajar menulis dan membaca, anak angkatnya Zaid bin Haritsah disuruhnya pula belajar tulisan/bahasa Ibrani dan Suryani. Budak-budak belian dibebaskan apabila mereka telah mengajar sepuluh orang muslimin membaca dan menulis.

Demikianlah untuk keperluan menyebarkan agama Islam berkembanglah gerakan membuat melek huruf seperti belum pernah ada taranya hingga masa itu. Kepandaian baca tulis tak lagi menjadi monopoli kaum atasan. Inilah langkah pertama gerakan ilmu secara besar-besaran.

Jika pada mulanya gerakan ilmu itu hanya tertuju kepada telaahan masalah agama, maka kemudian berkembanglah ia menjadi lingkup yang lebih luas.

Pada zaman khalifah-khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah perkembangan ilmu menjadi sistematik. Pada mulanya yang dipelajari adalah tafsir Ql Qur’an, Hadist, Ushuluddin, Fiqh, Tarikh dan Ilmu Bahasa (Nahwu, Sharaf, Balaghah, peribahasa dan amtsal), yang sekalian ada hubungannya dengan agama Islam.

Tetapi, pada masa khalifah-khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiqi dan Umar bin Khathab serta khalifah-khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah terjadilah perluasan daerah. Berturut-turut jatuh ke tangan Islam adalah Damsyik pada tahun ke-IV hijriyah atau 629 Masehi, seluruh Syam dan Iraq pada tahun XX Hijriyah atau 645 Masehi, Parsi pada tahun 21 Hijriyah atau 646 Masehi, Samarkand pada tahun 56 Hijriyah atau 680 Masehi dan seluruh Andalusia pada tahun 96 Hijriyah atau 719 Masehi.

Pada tahun 109 Hijriyah atau 732 Masehi, Islam tertahan di Poitier di dalam usahanya meluaskan pengaruh ke Perancis. Di dalam waktu seabad setelah hijrah, negara Islam telah membentang dari Teluk Biskaya di sebelah barat hingga ke Turkistan (Tiongkok) dan ke India melebihi imperium Romawi pada puncak kejayaannya.

Negara Islam itu mencakup berbagai suku bangsa, ras dan bahasa dengan penduduknya, disamping yang telah masuk Islam, masih menganut agama-agama Yahudi, Kristen, Kafir, Yunani dan Romawi, Zoroaster, Manes dan HIndu, serta kebudayaan Yunani, Romawi, Mesir (Koptik dan Qibthi dan Nubia), Turki dan Parsi.

Karena itu berbagai bahasa, sistem tata negara, kebudayaan dan sejarahnya mesti dipelajari untuk dapat menjalankan nastiti (policy) atau kebijakan ketatanegaraan, hukum dan penyebaran agama Islam secara jitu dan tepat guna.

Di dalam perjumpaan dan saling cakap dengan agama-agama dan kepercayaan lain untuk membela Islam terhadap sisa-sisa agama dan kepercayaan lain itu kaum muslimin mulailah mempelajari dan mempergunakan filsafat Yunani, tetapi dengan membersihkannya dari kekafiran.

Untuk itu mereka menterjemahkan karya-karya filsafat dan pengetahuan Yunani melalui bahasa Suryani, karena aslinya telah musnah terbakar di perpustakaan-perpustakaan Iskandariyah ketika penyerbuan Yulius Caesar pada tahun 48 sebelum Masehi, kemudian dibakar oleh Kaisar Lucius Domitius Aurelianus pada tahun 272 Masehi, dan terakhir oleh Jenderal Theodosius (belakangan Kaisar Theodosius Magnus) pada tahun 371 Masehi.

Ketika itu bahasa Suryani merupakan bahasa ilmu dan kesusastraan yang kaya serta banyak mempunyai terjemahan karya filsafat dan pengetahuan dari bahasa Yunani. Keuntungan bagi para penterjemah ialah bahwa bahasa Suryani ini masih serumpun dengan bahasa Arab dan banyak kaum muslimin yang pandai bahasa tersebut.

Kemudian apa yang telah dirintis oleh Daulah Umayyah di Damsyik tahun 660-750 Masehi dilanjutkan Daulah Abbasiyah tahun 750-1258 Masehi, di Bagdad.

Khalifah Abu Ja’far Abdullah Al-Mansur memerintah tahun 753-775 Msehi, telah memperkerjakan para penterjemah yang menterjemahkan buku-buku kedokteran, ilmu pasti dan filsafat dari bahasa Yunani, Parsi dan Sanskrit. Di antaranya terdapat Bakhtaisyu bin Jurijs.

Bakhtaisyu wafat pada tahun 830 Masehi. ia mendirikan Darul-Hikmah atau Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia, terdiri dari perpustakaan, pusat penterjemahan, observatorium bintang dan Universitas (daru’l Ulum). Bahkan fakultas kedokteran telah didirikan sejak tahun 765 Masehi oleh Ibn Maubakhat.

Al-Ma’mum mengirimkan serombongan penterjemah ke Konstantinopel, Roma dan lain-lain yang antara lain terdiri dari Abu Yahya ibn Al-Batriq tahun 815 Masehi, Muhammad bin Sallam tahun 777-833 Masehi, dan Hunayah ibn Ishaq tahun 809-874 Masehi.

Di sana mereka memilih buku-buku pengetahuan yang belum dipunyai umat Islam serta mereka bawa ke Bagdad untuk diterjemahkan, diteliti dan dibahas. Setelah itu lahirlah ilmu pengetahuan dari kalangan Islam sendiri, baik yang bersifat memperkaya karya-karya asing yang telah ada, maupun yang sama sekali baru.

Sumbangan-sumbangan kaum muslimin terhadap ilmu pasti, fisika, kimia, farmasi, kedokteran, ilmu hayat, ilmu bintang dan ilmu bumi menjadi sedemikian besarnya hingga mutlak diperlukan sebagai tangga bagi peningkatan ilmu pengetahuan seterusnya.

Selain Hunayah ibn Ishaq penterjemah penting lainnya adalah abaknya yang bernama Ishaq ibn Hunayah bin Ishaq yang wafat pada tahun 910 Masehi.

Akhirnya kebangunan ilmiah Islam ini disempurnakan oleh kekuasaan Islam di Andalusia, Spanyol dari tahun 719 Masehi sampai Granada pada tahun 1492 Masehi.

Related For Sumbangan Islam terhadap ilmu pengetahuan dunia barat