Sejarah Negara

Website History

Menu

Wolter Monginsidi ternyata seorang penyair

Mei 30, 2016 | Catatan

Wolter Monginsidi ternyata seorang penyair – Robert Wolter Monginsidi yang gugur di depan regu tembak Belnda di Makassar pada tanggal 5 September 1949, selama ini lebih dikenal sebagai Pejuang Kemerdekaan. Namun, ia ternyata juga berbakat menulis puisi, gemar melahap buku dan rajin menulis surat.

Waktu masih sekolah di masa pendudukan Jepang, ia pernah memenangkan juara kedua lomba menulis puisi. Bakat ini justru makin berkembang selama ia meringkuk di penjara. Ini terbukti lewat kertas-kertas catatan dan buku-buku peningggalannya.

Memang sangat disayangkan berkas-berkas tersebut sudah tidak lengkap lagi. Banyak yang sudah hilang atau hancur dimakan rayap. Namun, dari yang berhasil diselamatkan serta dari surat-surat yang masih disimpan para penerima, terdapat beberapa puisi dan pemikirannya tentang berbagai masalah.

Dari peninggalannya itu ternyata pula bahwa seorang yang bernama lengkap Robert Wolter Monginsidi ini menulis dalam bahasa Belanda, Inggris, dan di kertas apa saja, seperti bekas bungkus barang maupun potongan kertas.

Haus belajar

Kemampuan Wolter menulis mungkin juga berkat pendidikan yang diperolehnya. Pemuda yang lahir 14 Pebruari 1925 di Malalayang, Menado ini adalah putra ketiga dari sebelas anak pasangan Petrus Mangisidi dan Lina Suawa. Sebagai petani kelapa, keluarga Monginsidi tidak tergolong berada, tetapi Petrus menginginkan anak-anaknya mendapat pendidikan yang layak. Untuk itu ia harus bekerja keras dan berhemat.

Sejak kecil Wolter sudah haus akan ilmu pengetahuan. Mula-mula ia disekolahkan ke HIS (Hollandsch Inlandshe School), sekolah dasar berbahasa Belanda. Sekolah ini memang berbahasa Indonesia, tetapi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih mudah.

Tamat dari HIS Wolter meneruskan ke MULO Frater. Namun, ketika masih di kelas dua tahun 1941, Perang Pasifik pecah dan Jepang masuk. Selengkapnya mengenai perang ini silahkan baca : Cerita Perang Pasifik

Di masa pendudukan Jepang, Wolter masuk sekolah guru bahasa Jepang, Kanri. Sesudah lulus ia diangkat menjadi guru di Liwutung, Ratahan. lalu dipindahkan ke Luwuk. Ia dijuluki komodo sensei, yang artinya guru yang masih anak-anak, waktu itu usianya baru menginjak 17 tahun.

Waktu itu banyak buku-buku sejarah dan kesusasteraan berbahasa Inggris dan Belanda yang disita Jepang. Kebetulan banyak muridnya anggota polisi, sehingga dengan mudah Wolter dapat meminjam buku-buku tersebut yang tersimpan di kantor polisi.

Didorong keinginan untuk maju dan menambah pengetahuan, Wolter meninggalkan Luwuk, pergi ke Makassar. Di kota tersebut ia mencoba belajar di Cu Gakko, sekolah lanjutan pertama. Namun karena tidak puas dengan pelajaran yang diberikan, ia meninggalkan sekolah itu dan bekerja di sebuah perusahaan swasta Jepang di Rantepao, Tana Toraja.

Kemudian ia ikut ujian penerimaan di sekolah Pegawai dan lulus. Waktu Jepang menyerah pada Sekutu Wolter masih menjadi siswa sekolah itu.

Baca : Runtuhnya kekuasaan Jepang di Indonesia

Di masa revolusi fisik, September 1945, tentara Australia yang ditugaskan Sekutu mendarat di Makassar untuk menerima penyerahan Jepang. Wolter senang bergaul dengan tentara Australia ini karena ingin memperlancar bahasa Inggris.

Namun ternyata tentara Australia ini diboncengi NICA Belanda, yang ingin kembali menjajah Indonesia. Rakyat jelas tidak menerima aksi Belanda  ini dan mulai mengadakan perlawanan. Tak ketinggalan Wolter, samkpai kemudian ia ditangkap Belanda.

Menulis di penjara

Mula-mula Wolter ditahan di penjara Hogepad, Makassar. Untuk mengisi waktunya ia banyak membaca dan menulis. Rupanya ia banyak menerima kiriman buku-buku bacaan dari keluarga dan sahabat-sahabat. Salah seorang sahabat Wolter adalah Milly Ratulangi, putri Dr. Ratulangi. Lewat putrinya ini, Dr. Ratulangi pun banyak mengirimkan buku bacaan untuk Wolter.

Nampaknya Wolter mulai giat menulis sejak ditahan di Kis-kampement. Ia dipindahkan ke penjara ini gara-gara sempat kabur dari Hogepad selama sembilan hari. Di penjara Kis ini penjagaan baginya semakin diperketat hingga meskipun ia masih ingin kabur lagi, namun nampaknya sudah mustahil.

Ia mulai membuat catatan tentang buku-buku yang dibacanya. Bahkan sering menulis hal-hal penting di sela-sela halaman buku yang kosong.

Selama itupun telah berlangsung surat-menyurat antara Wolter dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Wolter sering minta dikirimi kertas dan alat tulis.

Dari catatan Wolter yang bisa diselamatkan, agak sulit untuk menetapkan apa sebenarnya yang menjadi dasar pemikiran Wolter. Atau mungkin juga disebabkan sensor yang ketat, maka tulisannya yang menyangkut pandangan politiknya tidak sampai keluar dari penjara.

Ia banyak mengutip kalimat-kalimat dari para pemikir dunia seperti Leo Tolstoy dan ketahuan juga ia membaca tulisan-tulisan Bung Karno. Hal ini bisa menjelaskan bacaan macam apa yang dibacanya. Lewat surat-suratnya itu bisa diketahui pandangan dan pikirannya terhadap berbagai masalah yang menjadi perhatiannya, mulai dari nasib bangsanya sampai pendapatnya tentang puisi.

Konflik batin

Puisi-puisi Wolter terasa membayangkan suatu konflik jiwa yang dialaminya. Ini bisa dipahami mengingat dirinya sebagai orang yang mengetahui akan hari kematiannya. Misalnya atas permintaan Otje, setelah dijatuhi vonis hukuman mati.

Puisi Kesan Renungan merupakan hasil renungannya bahwa di tengah kegelisahan hendaknya rohani dan jasmani tetap seimbang.

“Namun begitu … mungkin kah/Jiwa tercipta di luar raga?/Mustahil! Sebab itulah/Adil seimbang jiwa dan raga/Bila kedua saling membela/Bagi hakekat diri tercipta.”

Puisi kedua yang diberi judul Subuh, menggambarkan dirinya sebagai orang tahanan yang biasanya menjadi sinis dan mencari sandaran kekuatan batin dengan jalan bersembahyang.

“Tersentak bangun/Kupandang keliling/Di mana aku?/Jeriji terindera/Terlintas segera/”Penjara”/Kalbu meneriak!/Aku berdoa!/Tenanglah segera.

Sedangkan puisi yang ketiga berjudul Aku, adalah usahanya dalam mempertahankan kesucian batinnya.

“Batin meluntur!/Aku/Ikut haluan muara/Batin resi/Akupun Terliput resi – Wilis/Akalku/Mengindera teman.

Dalam puisi Golgota, tersirat keyakinan Wolter kepada Tuhan

“Golgota! Peruntuh kuasa neraka/Korban Almasih Mahkota KasihNya/Bapa Semawi pada manusia/Lenyap belenggu kutuknya dosa!.

Puisi ini dibuatnya menjelang hari Kenaikan Isa Almasih, atas anjuran keluarganya.

Demikian sekilas Wolter Monginsidi ternyata seorang penyair, semoga menjadi catatan sejarah. Lalu bagaimana perjuangan dan vonis mati Robert Wolter Monginsidi? Hal ini akan dibahas pada artikel sejarah selanjutnya.

Related For Wolter Monginsidi ternyata seorang penyair