Republik Dominika negara terbesar di Karibia

Republik Dominika adalah negara terbesar di kawasan Karibia sesudah Kuba. Sebagai negara yang bersama Haiti menempati Pulau Hispanyola, Republik Dominika menempati kira-kira dua pertiga bagian timur wilayah pulau itu. Hispanyola merupakan pulau yang sangat indah dengan pegunungannya yang tidak rata dan lembah-lembahnya yang subur.

Penduduk Republik Dominika dan penduduk Haiti hanya sedikit kesamaannya, kecuali dalam hal pulau yang mereka tempati bersama itu. Bahasa mereka berbeda (Republik Dominika berbahasa Spanyol, sedangkan Haiti berbahasa Prancis dan Kreol), kebudayaan mereka pun sangat berlainan; dan berkali-kali mereka berbaku tembak di sepanjang perbatasan bersama mereka. Warisan rasial kedua bangsa itu pun berbeda.

Sebagian besar penduduk Haiti berkulit hitam dengan kesadaran ras yang mendalam serta sejarah yang dilanda tindak kekerasan rasial. Republik Dominika adalah negeri orang mulatto. Persentasenya yang tepat tidak diketahui, tetapi mungkin sekitar 60%-70% penduduknya berdarah campuran kulit hitam dan kulit putih.

Rakyat Republik Dominika tidak banyak mengalami benturan rasial. Namun, sejarah Republik Dominika penuh dengan kemelut yang berupa serbuan bersenjata yang berulang kali dari mancanegara serta kemiskinan, kediktatoran, dan perpecahan di dalam negerinya sendiri.

Peta politik Republik Dominika

Kunjungi di google map

Penduduk Republik Dominika

Christopher Columbus menemukan pulau Hispanyola atas nama Spanyol pada tanggal 5 Desember 1492. Columbus mula-mula mendarat di bagian pulau yang sekarang termasuk wilayah Haiti, tetapi permukiman tetap pertamanya didirikan di bagian pulau yang kala itu dihuni oleh penduduk pribumi Indian Quisqueya dan yang kini menjadi wilayah Republik Dominika. Lirik pada baris pertama lagu kebangsaan Republik Dominika berbunyi Quisqueyanos valientes (”bangsa Dominika yang gagah berani”).

Meskipun masih banyak tempat di negeri ini yang menggunakan nama dari bahasa Indian, hanya sedikit pengaruh orang Indian terhadap sejarah Dominika.

Setelah penemuan Hispanyola, orang Spanyol bergegas mendirikan permukiman di bagian timur pulau itu. Permukiman itu antara lain adalah Santo Domingo, yang didirikan pada tahun 1496 dan menjadi pusat pemerintahan kolonial Spanyol di Dunia Baru. Orang Spanyol tidak menyia-nyiakan peluang untuk merampas emas dari tangan penduduk pribumi Indian, yang kebanyakan dimiliki oleh suku Taino yang bersahabat itu.

Namun, orang Spanyol membalas persahabatan orang Taino itu dengan membantainya dan menjadikannya budak belian. Menjelang tahun 1550 seluruh penduduk Indian telah lenyap dari pulau itu. Lama sebelumnya orang Spanyol sudah mulai menggantikan para pekerja Indian dengan buruh budak dari Afrika. Penduduk Dominika adalah keturunan orang Spanyol dan budak Afrika.

Kebudayaan Mulato

Yang membedakan Republik Dominika dengan berbagai negara lainnya di benua Amerika adalah kenyataan bahwa sebagian besar penduduk negeri ini terdiri atas orang mulato. Dilihat dari segi kebudayaan ataupun rasnya, penduduk Dominika merupakan penduduk campuran karena mereka diperkaya dengan warisan Spanyol dan Afrikanya dalam kadar yang berimbang.

Bahasa Spanyol merupakan bahasa pengantar di negeri itu dan agama Katolik Roma merupakan agama resmi yang dipeluk oleh sebagian besar penduduknya. Namun, unsur musik dan tari-tarian yang berasal dari Afrika acap kali dibaurkan ke dalam berbagai upacara keagamaan. Pada kenyataannya, pengaruh Afrika jelas terlihat dalam kebanyakan musik Dominika.

Kebudayaan dan adat istiadat Spanyol lama masih banyak yang dilestarikan di republik itu, terutama di daerah pertanian besar tengah di negeri itu, yaitu di Cibao. Cibao merupakan daerah yang paling mencolok suasana Spanyolnya di Republik Dominika dan menjadi tempat tinggal para keluarga yang paling tua dan paling berkuasa di negara itu.

Beberapa kata dan frase peninggalan Abad Pertengahan dan Zaman Renaisans yang sudah lama hilang dari perbendaharaan bahasa Spanyol modern, masih menjadi kosakata sehari-hari di kalangan penduduk Cibao. Membawakan sajak Zaman Renaisans Spanyol dan menarikan tarian tradisional Spanyol masih merupakan perintang waktu yang digemari di sana.

Penduduk Dominika rata rata tinggal di rumah atau pondok yang sederhana, serlngkall dibuat dari kayu dan beratap ilalang. Perabot yang banyak digemari adalah kursi goyang. Keluarga yang miskin pun mempunyai beberapa kursi goyang untuk anggota keluarga dan para tamunya. Mereka menggunakan kursi itu di dalam rumah atau di serambi depan sambil bersantai menikmati angin pasat.

Hidangan yang paling banyak digemari oleh kebanyakan orang Dominika adalah sancocho. Sancocho adalah tumis berbumbu yang biasanya terdiri atas kentang, yucca, pisang raja, dan sebarang daging yang tersedia. Daging yang biasa mereka sertakan adalah daging kambing, tetapi daging babi, daging sapi, ayam, daging merpati dan, pada kesempatan istimewa, bahkan daging burung nuri atau egret juga disertakan. Makanan itu dimasak selama beberapa jam di dalam panci besi yang besar.

Meskipun banyak terdapat unsur pengaruh Spanyol dan Afrika dalam kehidupan di Dominika, tidak ayal lagi Amerika Serikat pun berpengaruh pula. Olahraga kegemaran penduduk negeri itu adalah baseball dan banyak keluarga Dominika yang kaya raya menyekolahkan anak mereka ke berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Amerika.

Penduduk yang Berkulit Cerah dan yang Berkulit Gelap

Dibandingkan dengan negara tetangganya Haiti, Republik Dominika tidak begitu banyak pengalaman dalam hal perbudakan di zaman kolonial. Haiti (atau SaintDomingue, sebutannya semasa masih berada di bawah kekuasaan Prancis) diserahkan kepada Prancis oleh Spanyol pada tahun 1697.

Di bawah kekuasaan Prancis negeri itu berkembang menjadi koloni Eropa yang paling kaya di Dunia Baru. Akan tetapi, ekonomi Saint-Domingue (Haiti) adalah ekonomi perkebunan yang bertumpu kepada pemerasan yang paling keji terhadap ratusan ribu budak Afrika. Di bagian Hispanyola yang dikuasai Spanyol (sekarang Republik Dominika) ekonomi bertumpu kepada peternakan untuk di ekspor ke Saint-Domingue yang lebih kaya dan lebih padat penduduknya.

Pada hakikatnya, industri peternakan ikut berjasa dalam mewujudkan hubungan yang lebih serasi di antara kedua ras itu. Sang tuan Spanyol dan si budak Afrika akan bahu-membahu mengawasi gembalaan mereka dan kedua-duanya harus bersenjata. Hal itu membentuk suatu hubungan yang diwarnai dengan rasa saling percaya dan saling bersahabat yang kuat.

Undang-undang Spanyol memberi peluang yang cukup besar bagi budak untuk menebus kebebasannya dan banyak yang telah melakukannya. Bertolak belakang dengan Haiti, sepanjang sejarahnya Republik Dominika tidak sampai merasakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh benturan rasial.

Lepas dari kenyataan itu, memang benar bahwa golongan penduduk yang kaya raya sekarang ini biasanya berkulit putih, sedangkan penduduk kulit hitam Dominika biasanya miskin. Kemiskinan yang berlanjutan di kalangan penduduk kulit hitam itu sebagian disebabkan semata-mata oleh tidak adanya peluang ekonomi.

Namun, purbasangka rasial juga ikut bicara dalam kaitan ini. Penduduk Dominika yang berkulit hitam besar kemungkinannya lebih sulit memperoleh pekerjaan yang layak daripada mereka yang berkulit putih, meskipun kualifikasi mereka sama. Semacam rasa tinggi hati terlihat di kalangan penduduk Dominika yang sangat miskin sekali pun, yang pada umumnya enggan bekerja di perkebunan tebu dengan dalih bahwa pekerjaan menebang tebu itu merupakan pekerjaan yang hina.

Republik Dominika merupakan sebuah negara yang salah satu di antara problem utamanya adalah pengangguran. Akan tetapi, ribuan tenaga kerja harus didatangkan dari seberang perbatasan di Haiti untuk menebang tanaman tebu Dominika.

Sejarah Republik Dominika

Pada tahun 1795, setelah didesak oleh balatentara Prancis di Eropa, Spanyol terpaksa menyerahkan koloninya di Hispanyola, yakni Santo Domingo, serta wilayah koloninya yang lain ke tangan Prancis. Pada saat itu penduduk koloni Spanyol di Hispanyola adalah antara 100.000 sampai 150.000 jiwa dan paling sedikit separuhnya terdiri atas orang kulit putih dan orang bebas yang berdarah campuran. Tetangganya Saint-Domingue (Haiti) berpenduduk 50.000 sampai 60.000 orang kulit putih dan bukan kulit putih yang merdeka serta sekitar 500.000 budak kulit hitam.

Pada tahun 1791 orang Negro di Saint-Domingue (Haiti) telah bangkit memberontak melawan tuannya. Semua orang Prancis pada akhirnya diusir keluar dan pada tahun 1804 Haiti menjadi negara merdeka. Santo Domingo masih tetap berada dalam cengkeraman Prancis sampai tahun 1809, ketika kota itu kembali menjadi koloni Spanyol.

Para ahli sejarah Dominika menyebut kurun waktu kekuasaan Spanyol yang kedua itu sebagai masa pemerintahan Espana boba (”Spanyol yang sinting”), karena merajalelanya ketidakbecusan yang mencolok. Pada tahun 1821 rakyat Dominika mengusir gubernur kolonialnya ke Spanyol dan memproklamasikan kemerdekaannya.

Akan tetapi, dalam waktu hanya beberapa minggu saja balatentara negara tetangganya Haiti menerobos perbatasan dan memasukkan seluruh wilayah pulau itu ke dalam kekuasaan Haiti. Begitulah seterusnya sampai selama 22 tahun, suatu masa yang penuh dengan kekejaman dan penindasan yang sampai sekarang masih meninggalkan bekas luka di hati rakyat Dominika.

Pada tahun 1844 kekuasaan Haiti digulingkan dan diproklamasikanlah berdirinya Republik Dominika. Sayangnya, negara baru itu ditimpa oleh kemelut di dalam negeri dan korupsi yang telah menjadi ciri khas dalam percaturan politik di Republik Dominika sepanjang sebagian besar sejarahnya.

Republik itu sebenarnya memiliki banyak pemimpin yang jujur dan berhaluan liberal. Namun, karena tidak adanya tradisi demokrasi yang kuat untuk mengerahkan rakyat guna mendukung para pemimpin itu, percaturan politik di Dominika menjadi sarat dengan korupsi dan pengkhianatan, jegal-menjegal, kudeta dan pembunuhan. Para politisi Dominika yang tidak arif terus-menerus berupaya menjual negeri mereka demi keuntungan pribadi.

Kekhawatiran terhadap kembalinya pendudukan Haiti membuat Pemerintah Dominika mengusahakan kembalinya kekuasaan Spanyol pada tahun 1861. Kemerdekaan berhasil direbut kembali pada tahun 1865. Pada tahun 1869 seluruh wilayah Republik Dominika ditawarkan kepada Amerika Serikat melalui sebuah perjanjian. Perjanjian tersebut tidak pernah disahkan oleh Senat Amerika Serikat; seandainya disahkan, Republik Dominika mungkin telah menjadi bagian dari Amerika Serikat sekarang ini.

Menjelang akhir abad ke-20 para pemimpin yang tak bertanggung jawab telah menyeret Republik Dominika ke jurang hutang kepada para penanam modal Eropa dan Amerika. Pada tahun 1905 Amerika Serikat mengambil-alih pemungutan bea cukai Dominika untuk menjamin pembayaran hutang negara tersebut.

Dari sini, Amerika Serikat mulai memainkan peranan yang semakin aktif dalam berbagai masalah yang dihadapi Dominika sampai akhirnya, yakni pada tahun 1916, Korps Marinir Amerika Serikat menduduki negeri itu dan dibentuklah pemerintahan militer oleh Amerika Serikat.

Pengambilalihan oleh Amerika itu sebagian disebabkan oleh keprihatinan Amerika Serikat atas jalannya Perang Dunia I serta kekhawatiran atas kemungkinan menyusupnya pengaruh Jerman ke Hispanyola. Pendudukan militer Amerika itu berlanjut sampai tahun 1924. Dalam kurun waktu pasca pendudukan itu, selama 6 tahun negeri itu menikmati demokrasi relatif di bawah pemerintahan presiden Horacio Vasques.

Pada tahun 1930 diktator yang paling kuat di negara itu, yaitu Rafael Leonidas Trujillo Molina, menjadi presiden di sana. Zaman Trujillo. Rafael Trujillo adalah putra seorang pengusaha kecil yang berasal dari San Cristobal, yaitu sebuah kota di pedalaman yang terletak kira-kira 24 km dari Santo Domingo.

Pada tahun 1920-an karir Trujillo di bidang kepolisian terus menanjak. Pada tahun 1928 angkatan kepolisian menjadi tentara nasional dan dia diangkat sebagai kepala stafnya. Pada tahun 1930 dia mendalangi penggulingan pemerintah vasques dan mengangkat dirinya sendiri menjadi presiden melalui suatu pemilihan umum yang terang-terangan diwarnai dengan kecurangan.

Sejak saat itu Trujillo terus memerintah Republik Dominika selama 31 tahun, baik sebagai presiden ataupun dengan mendudukkan presiden boneka yang ditunjuknya sendiri melalui pemilihan umum. Dia tidak hanya sekadar memerintah negeri itu melainkan juga menguasai segala aspek kehidupan negara itu. Dia mengubah nama ibu kota Santo Domingo menjadi Ciudad Trujillo, atau ”Kota Trujillo”. (Setelah Trujillo terbunuh pada tahun 1961, kota itu disebut Santo Domingo lagi).

Patung dan gambar Trujillo tersebar di mana-mana dan begitu pula spanduk yang berbunyi Dios y Trujillo (”Tuhan dan Trujillo”). Sementara itu, pada kenyataannya Trujillo telah menyulap negeri itu menjadi lahan milik pribadinya.

Memang, selama pemerintahan Trujillo yang lama itu telah dicapai beberapa kemajuan. Kewajiban menyalurkan bea cukai Dominika ke Amerika Serikat akhirnya dihentikan; kebersihan berhasil ditingkatkan; sedangkan produksi gula, pisang, kopi, dan cokelat meningkat pula.

Trujillo juga melancarkan kegiatan pembangunan kembali ibu kota setelah sebagian besar kota itu diporakporandakan oleh hantaman topan pada tahun 1930. Alhasil, Santo Domingo menjadi salah satu di antara kota yang paling modern di kawasan Karibia. Namun, hanya sedikit keuntungan yang diraih di bawah kepemimpinan Trujillo itu yang menyentuh sebagian besar rakyat Dominika.

Geografi dan Ekonomi Republik Dominika

Pada akhir zaman Trujillo pada tahun 1961, Republik Dominika masih merupakan negara yang sangat miskin. Sampai sekarang pun negara itu masih tetap demikian. Untungnya, negeri ini kaya dengan potensi ekonomi.

Tanahnya subur dan pegunungannya sarat dengan pohon pinus, mahoni, dan berbagai pohon penghasil kayu yang bermutu tinggi lainnya. Dengan garis pantainya yang panjangnya kurang dari 1.600 km itu, hanya sedikit sekali potensi yang tersedia bagi Industri Perikanan yang cukup besar.

Bagi para wisatawan di sana tersedia pantai yang molek, pegunungan yang indah, serta berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Namun, karena tidak stabilnya pemerintah dan tidak adanya fasilitas kepariwisataan di sana, sekarang negeri itu boleh dikatakan sama sekali tidak berhasil menarik wisatawan.

Republik Dominika, dengan wilayah seluas 48.734 km2 itu, pada umumnya mempunyai medan yang bergunung-gunung dan merupakan negara tropis dengan suhu yang hangat sepanjang tahun. Suhu tahunan rata-rata berkisar antara 24°-30°C. Dilihat dari segi geografis ataupun politis, negeri ini merupakan lahan yang terpecah-belah.

Banyak penduduk Dominika yang sama sekali acuh tak acuh terhadap berbagai daerah di negeri itu selain daerah mereka sendiri. Jajaran pegunungan yang paling luas, yaitu Pegunungan Kordilera Tengah, pada kenyataannya membelah negeri itu menjadi dua bagian, yang membentang dari perbatasan Haiti ke arah ”barat mencakup hampir seluruh panjang pulau tersebut. Perpanjangan jajaran pegunungan tersebut di sebelah-timur disebut Pegunungan Kordilera Timur.

Di sebelah utara terdapat sebuah jajaran yang lebih kecil, yaitu Kordilera Setentrional, yang membentang sejajar dengan Kordilera Tengah dan berakhir di sebelah timur Teluk Samaria. Kedua jajaran itu memagari La Vega Real (”lembah raja”), yaitu sebuah lembah yang kaya dan subur; La Vega Real merupakan bagian sebelah timur Cibao, yaitu tanah datar lebar yang membentang ke arah timur dari Monte Cristi.

Cibao merupakan bagian yang paling makmur di Republik Dominika karena lahan pertaniannya yang subur dan kotanya yang ramai seperti Santiago dan La Vega. Padi, jagung, dan buncis yang ditanam untuk konsumsi dalam negeri diproduksi di Cibao sehingga daerah ini disebut lumbung pangan negeri itu. Sebagian besar dari cokelat, tembakau, dan kopi-yaitu tanaman budidaya yang ditanam terutama untuk komoditi ekspor-juga diproduksi di Cibao.

Tanaman perdagangan paling penting di Republik Dominika adalah tebu, yang sebagian besar ditanam di lahan perkebunan besar di bagian selatan dan tenggara negeri itu. Dataran pantai yang mencakup daerah itu juga sesuai untuk usaha peternakan. Bagian barat dan baratdaya negeri itu umumnya kering dengan bentangan padang pasir yang luas.

Sebagian besar penduduk Dominika hidup dari kegiatan bertani. Industri yang ada di Republik Dominika sebagian besar terkait dengan pemrosesan makanan. Produk pertanian mencakup kira-kira 85% dari nilai ekspor negara itu, sedangkan gula saia mencakup lebih dari 50%. Sebagian besar produk untuk komoditi ekspor berasal dari lahan pertanian yang relatif sedikit jumlahnya itu.

Namun, petani khas Dominika memiliki lahan pertanian yang sangat kecil dan mengusahakannya sekedar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Banyak penduduk Dominika yang tidak memiliki lahan sama sekali sehingga terpaksa harus mencari nafkah dengan bekerja pada para tuan tanah.

Kota Besar Republik Dominika

Tanpa adanya program pembagian lahan, banyak penduduk Dominika yang miskin dan tidak mempunyai lahan pindah ke Santo Domingo dan ber. bagai kota lainnya untuk mengadu untung.

Santo Domingo, ibu kota negara itu, sampai saat ini masih merupakan kota yang terbesar di republik itu dengan penduduk sebanyak 800 000 jiwa. Kota ini merupakan pelabuhan utama serta pusat perdagangan di negeri itu. Kota ini pun merupakan kota yang tertua di belahan bumi sebelah barat.

Berbagai bangunan peninggalan paruh pertama abad ke16, yaitu semasa Santo Domingo menjadi pusat kehidupan orang Spanyol di Dunia Baru, masih berdiri tegak sampai sekarang. Bangunan itu antara lain adalah Katedral Santa Maria yang kecil, yang di dalamnya terdapat sebuah makam yang oleh beberapa ahli sejarah diperkirakan berisi kerangka Christopher Columbus. (Para ahli sejarah lainnya berpendapat bahwa Columbus dimakamkan di Seville).

Peninggalan abad ke-16 lainnya adalah Alcazarde Colon (“Puri Columbus”), yang dahulu merupakan tempat tinggal dan markas besar Diego Columbus, putra sang penjelajah itu, sewaktu dia menjabat sebagai gubernur Hispanyola. Di Santo Domingo juga terdapat kampus Universitas Santo Domingo, yaitu lembaga pendidikan tinggi yang terkemuka di negeri yang sebagian besar penduduknya masih tuna aksara ini.

Santiago de los Caballeros, atau Santiago, adalah kota terbesar kedua di republik itu. Dengan penduduk lebih dari 240.000 iiwa, kota ini adalah yang terbesar di daerah Cibao dan sekaligus merupakan pusat perdagangannya. Permukiman pertama didirikan di kota itu pada tahun 1504.

Pemerintahan Republik Dominika

Setelah Trujillo terbunuh, pemilihan umum yang demokratis, yang pertama dalam hampir 40 tahun, diselenggarakan pada tahun 1962 dan hasilnya adalah terpilihnya Juan Bosch untuk menduduki jabatan kepresidenan. Di satu pihak, Bosch mempunyai musuh di kalangan kaum komunis Dominika; di lain pihak, dia bermusuhan dengan para pemilik tanah, pengusaha dan golongan profesional; kubu musuhnya yang ketiga berada di lingkungan militer. Tujuh bulan setelah pelantikannya menjadi presiden, pemerintahan Bosch digulingkan suatu kup militer.

Pada bulan April 1965 pemerintahan tiga-orang yang menggantikan pemerintahan Bosch mendapat giliran digulingkan oleh pihak militer. Kemudian meletus bakutembak antara berbagai golongan dalam tubuh angkatan bersenjata. Sewaktu situasi menjadi semakin kacau, Amerika Serikat mengirimkan lebih dari 20.000 anggota Korps Marinirnya ke Santo Domingo dengan tujuan yang pasti, yaitu memulihkan perdamaian dan mencegah kemungkinan pengambilalihan kekuasaan atas negara itu oleh kaum komunis.

Selanjutnya, Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) mengirimkan pasukan penjaga perdamaiannya ke Santo Domingo, yang mencakup pula pasukan Amerika tersebut. Pada tahun 1966 dalam suatu pemilihan umum yang bebas yang diselenggarakan di bawah pengawasan OAS, Joaquin Balaguer mengalahkan Bosch untuk memangku jabatan kepresidenan. Balaguer berhasil memenangkan jabatan kepresidenan sebanyak tiga kali lagi, yang terakhir adalah pada tahun 1986.

Sekarang ini Republik Dominika diperintah berdasarkan pasaI-pasal yang termaktub dalam sebuah konstitusi yang diberlakukan pada tahun 1966. Kekuasaan eksekutif berada di tangan presiden dan wakil presiden, yang dipilih melalui pemungutan suara langsung untuk masa jabatan selama 4 tahun. Kekuasaan legislatif dijalankan oleh Kongres Nasional yang terdiri atas Senat dan Dewan Perwakilan.

MARCIO VELEZ MAGCIOLO, Universitas Santo Domingo, Republik Dominika
Editor: Sejarah Negara Com