Rahasia sejarah dibalik luasnya Amerika Selatan

Sejarah Negara Com – Pada tahun-tahun terakhir ini di antara bangsa-bangsa seputar kawasan Amerika Selatan telah timbul perhatian yang semakin besar terhadap kesejahteraan Belahan Bumi Barat bagian selatan ini. Masalah Amerika Tengah dan Amerika Selatan juga merupakan masalah Amerika Utara, karena kemantapan ekonomi dan stabilitas politik Amerika Selatan memegang peran yang tidak dapat diabaikan begitu saja terhadap keamanan dan keserasian seluruh benua ini.

Republik-republik di Amerika Tengah dan Amerika Selatan sering digoncang oleh perebutan kekuasaan pemerintahan sipil yang tidak stabil diambil alih oleh kelompok-kelompok militer; rezim yang berkuasa terancam oleh perang gerilya dan kelompok-kelompok radikal; negara-negara di sekitarnya terlibat dalam perang terbuka satu dengan yang lain. Gejolak-gejolak semacam ini menghambat pembangunan dan kemajuan.

Negara beragam yang berdiri sendiri

Banyak orang menganggap Amerika Tengah dan Amerika Selatan sebagai satu kesatuan dengan sebutan Amerika Latin yang memiliki persamaan besar dalam sifat dan ciri-cirinya. Namun, kenyataannya Amerika Tengah dan Amerika Selatan terdiri atas negara-negara yang berdiri sendiri dengan ragam perbedaan yang sangat tinggi.

Wilayah yang disebut Amerika Latin yang terbentang dari Rio Grande sampai Cape Horn bukanlah suatu kesatuan besar negara-negara dan budaya, tetapi merupakan kumpulan yang terdiri atas negara-negara dan rakyat yang terpisah dengan banyak perbedaan yang sangat nyata.

Misalnya Argentina, yang sebagian wilayahnya terletak di daerah beriklim sedang dengan penduduk yang sebagian besar terdiri atas orang kulit putih terdidik keturunan Eropa, menghasilkan daging sapi, gandum, dan wol. Dalam hal wilayah, Argentina merupakan negara terbesar kedelapan di dunia. Di sini terdapat gunung-gunung yang tertinggi di dunia, sebagian dari lahan datar yang terluas dan terbesar, dan kaya dengan warisan budaya Eropa.

Sebaliknya, perhatikan Republik Honduras di Amerika Tengah. Seperti halnya Argentina, bahasa resmi Republik Honduras adalah bahasa Spanyol. Namun, lebih dari itu tidak ada persamaan lain. Sejak awal masa penjajahan, di Honduras banyak terjadi perkawinan antar ras, yaitu antara orang-orang Indian, Negro, dan keturunan Spanyol sehingga lebih dari sembilan per sepuluh rakyatnya berdarah campuran.

Sebagian wilayahnya beriklim tropis dan basah, sedangkan sebagian besar lahannya adalah hutan. Perkembangan negara menuju penggunaan secara penuh teknologi abad ke-20 berjalan lamban. Honduras merupakan negara pertanian dengan pisang sebagai tanaman utama.

Tegucigalpa, sebagai ibu kotanya dengan jalan-jalan yang aneh, sempit, dan berkelok-kelok sulit disamakan dengan ibu kota Argentina, Buenos Aires, yang gemerlapan dan kosmopolitan serta merupakan salah satu kota terkemuka di dunia.

Ciri dan sifat setiap negara berbeda

Kenyataannya, terdapat banyak ciri dan sifat tertentu yang secara umum dimiliki oleh republik-republik di Amerika Selatan dan yang sampai batas-batas tertentu juga dimiliki oleh saudara sepupu mereka di Amerika Tengah dan Karibia.

Pertama, mereka memiliki latar belakang sejarah yang sama. Sebelum kedatangan orang Eropa, wilayah ini merupakan negara suku Indian (nama Indian diberikan oleh Columbus kepada penduduk asli wilayah itu karena beranggapan telah menemukan jalan baru menuju India).

Akan tetapi, pada pertengahan abad ke-16 orang Indian ditaklukkan oleh tentara Spanyol dan tanah mereka disita. Dalam beberapa dekade saja, Amerika Tengah dan Amerika Selatan jatuh di bawah kekuasaan Spanyol dan Portugal yang kemudian menjajahnya selama 300 tahun.

Kedua, para penakluk dari Spanyol dan Portugal serta pengikutnya menganut agama Katolik Roma. Mereka membawa kepercayaannya ke benua baru itu dan hingga kini agama Katolik Roma merupakan agama terbesar di sana.

Ketiga, Spanyol dan Portugal, sebagai negara asal para penakluk itu pada awalnya berbentuk kerajaan absolut. Mereka kemudian mengatur wilayah yang dikuasainya sesuai dengan sistem pemerintahan di tanah airnya. Para penguasa setempat ditunjuk oleh raja dari Spanyol dan Portugal.

Hampir tidak ada kesempatan bagi rakyat untuk belajar dan memahami kehidupan demokrasi melalui pengalaman. Selama masa penjajahan hampir tidak ada perhatian terhadap kebutuhan rakyat, terutama yang membanting tulang di bidang pertambangan dan pertanian. Yang dipentingkan biasanya hanyalah Gereja, kelas penguasa Spanyol, dan para bangsawan yang mewakili Raja. Kecil kemungkinannya bagi demokrasi untuk menemukan tempat berpijak di benua ini

Keempat, sebagian besar dari orang Spanyol dan Portugis yang mula-mula datang ke Benua Baru ini adalah para petualang, bukan penjajah. Mereka lebih mementingkan kemakmuran dan kekuasaan mereka serta raja-raja mereka sendiri daripada membangun benua itu.

Hanya sebagian kecil dari mereka yang berniat menetap. Berbeda dengan orang Inggris yang datang ke Dunia Baru untuk menemukan kebebasan beragama dan berekonomi, orang dari semenanjung Iberia justru bertujuan untuk menumpuk kekayaan dan pulang ke Eropa.

Tidak seperti pendatang di Amerika Utara, para pendatang awal di Amerika Selatan ini tidak mengajak serta istri-istri mereka. Di Brasilia, misalnya, banyak orang Eropa menikah dengan wanita-wanita penduduk asli tempatan dan, dari perkawinan campuran ini, muncullah kelompok ras baru campuran keturunan Eropa dan Indian.

Itulah sebabnya mengapa perkembangan Amerika Tengah dan Amerika Selatan berbeda arah dengan langkah yang dilakukan oleh para pendatang awal di Amerika Utara yang bermotif anti pemerintah penjajah. Jajahan Spanyol dan Portugis diperintah oleh negara induk selama lebih dari 300 tahun.

Selama 300 tahun itu sejumlah besar kekayaan dikuras dari daerah jajahan melalui pajak, perdagangan, dan hak Raja ”sebesar seperlima” dari seluruh hasil tambang berharga yang ditemukan dan digali. Sebagai akibat dari pemerintahan yang boros, tidak toleran, dan tidak efisien yang dilaksanakan dari seberang lautan, timbullah kebencian yang semakin lama semakin besar sehingga pada akhir abad ke-18 revolusi telah siap meledak.

Revolusi besar

Pada awal abad ke-19 suatu gerakan revolusi besar di bawah pimpinan tokoh-tokoh pejuang seperti Jenderal Simon Bolivar di Utara dan Jenderal Jose de San Martin di Selatan mulailah pecah dengan mengambil cara sendiri-sendiri menuju kemerdekaan dan kebebasan benua itu.

San Martin, yang dibantu oleh Jenderal Bernardo O’Higgins, menghancurkan tentara Spanyol di Chili pada tahun 1817 dan kemudian melanjutkan gerakannya lebih ke utara lagi untuk membebaskan negara-negara yang dikuasai Spanyol.

Kemenangan para pejuang di bawah pimpinan Bolivar dan Antonio José de Sucre di Ayacucho pada tahun 1824 menandai berakhirnya peperangan sesungguhnya dalam rangka kemerdekaan Amerika jajahan Spanyol. Brasilia memproklamasikan kemerdekaannya dari Portugal pada tahun 1822 dan, sebelum menjadi republik pada tahun 1889, tetap berbentuk kerajaan konstitusional.

Hal yang demikian itu merupakan pola umum perkembangan Amerika Selatan yang kemudian mengakibatkan benua itu menjadi ruwet dan penuh tantangan seperti yang kita kenal sekarang ini. Amerika Selatan dengan jutaan rakyatnya menghadapi masalah yang sama dengan banyak wilayah di dunia ini, yaitu masalah kemiskinan dan kurangnya pembangunan.

Pada masa lalu, ekonomi dari sebagian besar negara Amerika Selatan bergantung pada satu jenis tanaman atau suatu produk seperti kopi di Kolombia dan tembaga di Chili. Manakala harga komoditi itu anjlog, maka malapetaka mengancam seluruh negeri. Pemerintah di negara-negara itu kini berusaha melakukan diversifikasi industri dan pertanian. Masalah lain ialah tidak adanya jalan kereta api dan jalan raya yang memadai meskipun telah ada kemajuan besar di bidang angkutan udara.

Masalah lain yang menjengkelkan ialah pembagian tanah dan kekayaan yang tidak merata. Di banyak republik Amerika Tengah dan Amerika Selatan pada masa lalu terdapat sekelompok kecil orang yang menguasai bagian terbesar kekayaan.

Sebagai contoh, pada suatu masa di Peru hampir tiga per empat dari tanah pertanian berada di bawah tuan-tuan tanah yang jumlahnya kurang dari 1% jumlah seluruh penduduk. Terdapat 250.000 keluarga pedesaan Peru yang tidak memiliki tanah sama sekali. Namun, pada tahun-tahun terakhir ini pemerintah dari sejumlah negara telah mengambil langkah menuju kepada pembagian tanah yang lebih merata. Kini kita dapat me nyaksikan bermunculannya kelas menengah yang semakin tangguh.

Tidak cukupnya jumlah sekolah dan guru juga merupakan masalah yang pelik. Di hampir setiap negara kecuali Argentina, Chili, Uruguay, Kosta Rika dan sebangsanya diperlukan tambahan fasilitas pendidikan yang lebih banyak lagi bila tingkat niraksara yang demikian tinggi hendak dikurangi.

Sedikit sekali universitas di Amerika Latin yang menyediakan pendidikan dan latihan teknologi yang memadai. Universitas-universitas itu memerlukan lebih banyak staf pengajar, yang secara teknis memenuhi syarat, dan fasilitas penelitian, serta laboratorium yang lebih banyak lagi.

Program kesehatan masyarakat yang lebih luas juga diperlukan. Lebih banyak dokter dan tenaga paramedis harus dilatih dan diperlukan tambahan rumah-rumah sakit. Program penelitian medis harus dibantu dan didorong. Untuk mencapai kemakmuran, setiap bangsa harus sehat.

Bidang yang masih memerlukan perhatian adalah perumahan dan pelayanan sosial. Banyak rakyat di seantero benua yang tidak memiliki perumahan yang layak dan kadang-kadang air pun sangat sulit. Karena masalah ini juga terjadi di kota-kota besar, beberapa ibu kota di Amerika Selatan mengalami kekurangan rumah murah-suatu keadaan yang menyebabkan timbulnya daerah-daerah kumuh.

Politik tidak stabil

Ketidakstabilan politik di negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan menimbulkan serentetan masalah karena ketidakstabilan itu sering mengambil klimaksnya berupa revolusi.

Banyak dari revolusi itu bukanlah revolusi yang sebenarnya yang melibatkan pertumpahan darah dan perang terbuka, tetapi lebih merupakan masalah bagaimana ”kalangan luar” menggantikan ”kalangan dalam” atau seorang prajurit atau politisi yang ambisius merebut kekuasaan dengan unjuk kekuatan secara minimal.

Kekacauan politik ini tidak menunjang kemajuan dan pembangunan bangsa, bahkan menghambat. Chili pernah mempunyai delapan presiden dalam 18 bulan. Venezuela memegang rekor revolusi selama 150 tahun, meskipun kini telah mencapai kemakmuran, stabil, dan diperintah dengan lancar berkat berlimpahnya kekayaan berupa minyak bumi. Paraguay dan Bolivia terkenal dengan seringnya terjadi pergantian kepala negara dan pemerintahan yang terjadi sepanjang sejarah mereka.

Di beberapa negara, demokrasi telah diperlemah atau dibuat tidak berdaya. Kurangnya stabilitas politik dan kritisnya masalah ekonomi sering merupakan penyebab munculnya penguasa otoriter. Banyak negara di Amerika Tengah dan Amerika Selatan pernah jatuh di bawah penguasa otoriter semacam itu, biasanya penguasa militer.

Salah satu sebab munculnya pemerintahan otoriter ialah karena banyak warga negara yang mempunyai hak pilih tidak memperoleh pendidikan dan latihan mengenai hak dan tanggung jawab dalam pemerintahan demokrasi.

Alasan lainnya barangkali ialah bahwa bagi para pemilih yang tidak terorganisasikan, dalam keadaan seperti sekarang ini banyak masalah pemerintahan dianggap tidak mungkin dipecahkan dengan menggunakan cara-cara demokrasi.

Harapan tokoh di masa depan

Bagaimanapun, haruslah ada keyakinan tentang masa depan yang lebih cerah. Banyak negara di Amerika Latin masih merupakan negara perintis dengan kemampuan besar untuk berkembang. Negara-negara itu kaya dengan berbagai sumber alam dan bahan-bahan tambang utama dalam jumlah besar yang belum diolah.

Rakyatnya ramah dan bergairah. Mereka menyukai pesta, keindahan dan belaian pegunungan mereka, serta lekat dengan beberapa unsur kekuatan alam. Mereka ingin hidup lebih baik, tetapi mereka tidak bersedia mengorbankan kesenangan hidup mereka demi harta benda. Pasar swalayan dan segala pengejawantahannya mendapatkan tempat dalam kehidupan mereka, tetapi hal itu tidak menggantikan segalanya.

Hubungan antara Amerika Serikat dengan negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan tidak serasi selama bertahun-tahun. Pernah ada masa hubungan yang baik dan serasi; ada juga saat hubungan Washington dan tetangganya di selatan itu menjadi buruk sekali.

Selama waktu yang cukup lama, banyak sekali penduduk Amerika Selatan takut kepada Amerika Serikat dan membencinya. Mereka marah terhadap pemerasan dagang terhadap Amerika Selatan oleh kepentingan para pengusaha Amerika Utara, mereka takut terhadap campur tangan politik dan bahkan pendudukan militer oleh Amerika Serikat. Kombinasi kedua perkembangan itulah yang menyebabkan orang-orang Amerika Latin memberi julukan imperialisme Yankee.

Dengan harapan untuk memperbaiki keadaan ini, pemerintahan Presiden Franklin D. Roosevelt memprakarsai politik bertetangga baik. Pada tahun 1961, di bawah pemerintahan Presiden John F. Kennedy, terjadi perkembangan baru yang disebut persekutuan untuk kemajuan.

Dalam persekutuan ini Amerika Serikat dan Amerika Latin bertekad menjadikan kerja sama mereka suatu program yang ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan dan memperbaiki taraf hidup di Amerika Latin.

Namun, persekutuan untuk kemajuan ini tidak berhasil mencapai tujuannya. Banyak sekali ketidakpuasan di kalangan pemerintah Amerika Latin terhadap pembatasan perdagangan dan tingkat bunga tinggi yang dikenakan oleh Amerika Serikat.

Bagaimanapun, harapan tetap tinggi bahwa negara-negara Amerika Latin pada suatu waktu dapat menciptakan prasyarat yang diperlukan bagi pemerintahan yang stabil, keadaan ekonomi yang berkembang, dan kemajuan sosial sehingga sumber-sumber perpecahan antara Amerika Serikat dengan Amerika Latin akan dapat diatasi dan dipecahkan dengan baik.

Sejarah terkait