Contoh cerita Hikayat singkat dan nilai yang terkandung

Diposting pada 7 views

Cerita Hikayat – Hikayat mungkin masih kurang familiar oleh masyarakat masa kini. Tidak heran karena hikayat termasuk salah satu jenis prosa lama yaitu cerita yang diturunkan secara turun-temurun. Berikut contoh-contoh cerita hikayat yang bisa diketahui.

Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa,terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, undang-undang, sejarah yang bersifat rekaan, kepahlawanan, keagamaan dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.

Ciri-Ciri Hikayat

Berikut ini terdapat beberapa ciri-ciri hikayat, terdiri atas:

  • Isinya menceritakan tentang kehidupan di istana atau kerajaan
  • Ceritanya selalu berakhir dengan kebahagiaan
  • Menggunakan bahasa Melayu yang sulit dipahami
  • Memulai kisahnya dengan kata-kata sebermula, arkian, syahdan, alkisah, hatta atau tersebutlah
  • Disusun dengan unsur instrinsik dan ekstrinsik
  • Diikutsertakan dengan pantun
  • Berbingkai-bingkai artinya berisi cerita-cerita yang diceritakan oleh seseorang setelah hal ihwal orangyang bercerita itu diceritakan

Unsur-Unsur Hikayat

Berikut ini terdapat beberapa unsur-unsur hikayat, terdiri atas:

1. Unsur Instrinsik Hikayat

  • Tema
  • Topik
  • Latar
  • Tokoh
  • Sudut Pandang
  • Amanat

2. Unsur Ekstrinsik Hikayat

Nilai Agama

Nilai agama yang dapat kita ambil dari kisah ini yaitu melarang kita untuk bersifat dendam. Kita dianjurkan untuk senantiasa mau memaafkan kesalahan orang lain dengan ikhlas, karena suatu saat Allah SWT pasti akan membalasnya dengan sesuatu yang setimpal baik di dunia maupun di akhirat.

Jenis-Jenis Hikayat

Berikut ini terdapat beberapa jenis-jenis hikayat, terdiri atas:

1. Berdasarkan historis (sejarah)

Berdasarkan nilai historis, hikayat dalam sastra Melayu terdiri dari tiga jenis, yaitu sebagai berikut.

  • Hikayat berunsur Hindu, yaitu hikayat yang berinduk pada dua hikayat utama, yaitu Hikayat Sri Rama dan Mahabharata. Dari dua kisah ini, kemudian berkembang kisah atau hikayat lain, seperti Hikayat Pandawa Lima dan Hikayat Sri Rama.
  • Hikayat berunsur Hindu-Islam, yaitu hikayat yang terpengaruh unsur Hindu dan Islam. Hikayat ini merupakan hikayat yang berasal dari tradisi Hindu, kemudian diubah sesuai dengan masuknya unsur-unsur Islam. Contohnya adalah Hikayat Jaya Lengkara, Hikayat Si Miskin, dan Hikayat Inderaputera.
  • Hikayat berunsur Islam, yaitu hikayat yang hanya berunsur Islam dan berasal dari tradisi sastra Arab-Persia. Contohnya adalah Hikayat 1001 Malam (Abunawas), Hikayat Qamar al-Zaman, dan sebagainya.

2. Berdasarkan isinya

Berdasarkan isinya, hikayat dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut.

  • Jenis rekaan, contohnya Hikayat Malim Dewa.
  • Jenis sejarah, contohnya Hikayat Hang Tuah, Hikayat Pattani, dan Hikayat Raja-Raja Pasai.
  • Jenis biografi, contohnya Hikayat Abdullah dan Hikayat Sultan Ibrahim bin Adam.

Contoh Hikayat

1. Cerita Hikayat Hang Tuah

Cerita Hikayat Hang Tuah

Cerita ini mengisahkan tentang seorang yang berani melawan kejahatan. Hikayat ini juga mengandung pesan moral yaitu hendaknya sebagai manusia janganlah suka iri dengan keberhasilan orang lain. Oleh karena sifat tersebut tidak hanya akan merugikan diri sendiri namun juga orang lain. Untuk selengkapnya, simak hikayat Hang Tuah berikut ini

Dikisahkan ada sepasang suami istri. Sang suami bernama Hang Mahmud, dan si istri berjuluk Dang Merdu. Keduanya dikaruniai seorang putra bernama Hang Tuah. Pasangan tersebut tinggal bersama anak mereka di sebuah desa bernama Sungai Duyung.

Sungai Duyung dipimpin oleh seorang raja Bintan yang terkenal bijak dan sangat disegani. Pada suatu malam, sang suami berkeluh pada si istri ingin merubah nasib ke Bintan. Malamnya, saat semua tertidur, Sang Suami Hang Mahmud bermimpi. Dalam mimpinya tersebut dirinya melihat bulan turun dari langit.

Bulan tersebut bersinar tepat di atas kepala anaknya Hang Tuah. Hang Mahmud pun terbangun, dan langsung menemui anaknya yang ternyata berbau wangi. Esok paginya, dirinya membuat pesta selamatan sebagai bentuk doa atas mimpinya malam kemarin.

Suatu hari Hang Tuah pergi bersama ayahnya untuk pergi membelah kayu sebagai bahan bakar. Namun tiba-tiba datanglah kawanan pemberontak. Semua orang sudah kabur, selain Hang Tuah. Para pemberontak mencoba membunuhnya namun, malah mereka yang mati terkena kapak Hang Tuah. Sejak saat itu Raja Bintan percaya padanya.

Namun, Para Tumenggung justru iri dan mencoba memfitnah Hang Tuah. Para Tumenggung menuduh Hang Tuah adalah pemberontak yang sebenarnya. Mereka menghasut raja Bintan untuk segera membunuh Hang Tuah. Tetapi Hang Tuah selalu dilindungi Allah SWT dan gagal terbunuh. Hang Tuah pun akhirnya lebih memilih mengasingkan diri.

2. Cerita Hikayat Malim Deman

Hikayat Malim Deman

Cerita ini punya nilai moral yang cukup kental dan bisa menjadi pelajaran. Salah satunya yaitu jangan pernah berbohong dengan pasangan saat memutuskan menjalin hubungan. Karena kebohongan sebaik apapun pasti akan terbongkar suatu saat nanti. Seperti cerita hikayat berikut ini:

Dikisahkan dahulu hiduplah seorang yatim piatu bernama Malim Demam. Demi bertahan hidup sehari-hari dirinya bekerja di ladang milik pamannya. Tidak jauh dari ladang milik pamannya tersebut, tinggallah seorang janda bernama Mandeh Rubiah. Mandeh sangat baik pada Malim dan menggapnya sebagai anak sendiri.

Setiap malam, Mandeh mengirim perbekalan untuk Malim saat menjaga ladang di malam hari. Suatu malam, Malih merasa haus dan ingin meminta seteguk air pada Mandeh. Namun saat di perjalanan, dirinya malah menemukan kolam yang letaknya ada di belakang rumah Mandeh. Pada kolam tersebut, Malim melihat ada 7 bidadari sedang mandi.

Malim pun menemukan 7 selendang milik ketujuh bidadari yang tergeletak tak jauh dari tempat ia berdiri. Diam-diam Malim sengaja mengambil salah satu selendang tersebut lalu menyimpannya. Ternyata selendang tersebut merupakan milik putri bungsu. Putri itu sedih karena tidak bisa pulang ke asal tempatnya.

Malim menghibur putri tersebut dan mengajaknya tinggal dengan Mandeh Rubiah sampai diangkat anak oleh janda tersebut. Malim pun menjadi sering berkunjung ke kediaman Mandeh Rubiah. Keseringan bertemu akhirnya keduanya jatuh cinta dan menikah. Dari pernikahan itupun keduanya mempunyai anak bernama Sutan Duano.

Namun, kehidupan pernikahan mereka tidak lama bahagia. Malim sering tidak pulang ke rumah dan gemar berjudi. Setiap malam, putri bungsu menangis dan sedih meratapi kelakuan suaminya. Suatu ketika dia menemukan selendangnya saat berbenah. Ia pun menyuruh seseorang untuk pergi mencari suaminya dengan membawa selendang tersebut.

Namun Malih tetap tak mau pulang. Putri bungsu pun nekat ke khayangan bersama putranya. Suatu hari Malim pulang dengan rasa sesal karena tidak menemukan anak istrinya di rumah.

3. Cerita Hikayat Abu Nawas

Hikayat Abu Nawas

Ada beberapa versi cerita hikayat Abu Nawas. Untuk cerita hikayat berkisah tentang ibu sejati. Ingin tahu, cerita hikayat tentang ibu sejati, simak uraian di bawah ini :

Di suatu tempat, terjadi kasus 2 perempuan yang keduanya mengaku sebagai ibu kandung seorang bayi. Hakim sudah terlalu sering menemukan kasus serupa entah sudah berapa kali. Hakim juga nampaknya sudah sangat bingung menentukan siapa sebenarnya ibu kandung bayi tersebut.

Karena takut kasus semakin besar dan berlarut-larut, hakim pun memutuskan menemui baginda raja untuk meminta bala bantuan. Akhirnya baginda raja ikut turun tangan. Beliau menggunakan taktik rayuan agar salah satu dari perempuan tersebut mau mengalah. Namun jalan yang ditempuh baginda raja juga tidak membuahkan hasil.

Keduanya tetap bersikukuh mengaku ibu bayi tersebut. Baginda raja juga mulai putus asa, dan segera memanggil Abu Nawas. Abu Nawas pun diundang untuk menggantikan hakim. Dirinya lebih memilih untuk menunda sidang sampai esok hari. Sebenarnya Abu Nawas masih memikirkan cara yang tepat agar permasalahan selesai.

Besoknya saat hari sidang, tak disangka-sangka Abu Nawas malah membawa seorang algojo. Algojo tersebut telah siap dengan membawa pedang di tangan. Selain itu, Abu Nawas juga menyuruh agar sang bayi ditempatkan di atas meja. Kedua perempuan itu pun nampak kaget dan menanyakan pada Abu Nawas apa arti tindakannya tersebut.

Abu Nawas berujar, jika keduanya tetap tidak mau mengalah maka terpaksa dia akan membelah bayi tersebut menjadi 2. Perempuan pertama setuju, namun perempuan kedua malah menangis histeris. Perempuan kedua malah ingin memberikan bayi tersebut pada perempuan pertama namun jangan sampai dibunuh.

Abu Nawas pun langsung memberikan bayi tersebut pada perempuan kedua. Ia yakin perempuan kedualah ibu kandung bayi tersebut. Karena tidak ada satupun ibu di dunia ini yang rela anaknya terluka.

4. Cerita Hikayat Bunga Kemuning

Hikayat Bunga Kemuning

Cerita hikayat ini cukup terkenal di kalangan masyarakat. Hikayat ini merupakan cerita yang mengkisahkan tentang asal muasal adanya bunga kemuning. Berikut seperti apa hikayat bunga kemuning yang cukup melegenda :

Dikisahkan, dahulu hidup seorang raja yang baik hati. Raja tersebut diketahui punya banyak putri. Tak tanggung tanggung, beliau punya 10 putri yang semua punya paras cantik jelita. Putri pertama diberi nama putri Jambon. Putri kedua dinamai putri Jingga, ketiga bernama Putri Nila, keempat bernama Putri Hijau.

Sementara putri kelima yaitu Putri ungu, keenam Putri kelabu dan ketujuh putri Biru. Putri kedelapan bernama putri Oranye, kesembilan bernama putri Merah Merona dan kesepuluh yaitu Putri Kuning. Namun sayang, ibu mereka yang juga istri raja sudah pergi ke surga setelah melahirkan putri kuning.

Putri pertama hingga kesembilan raja terkenal manja dan sangat nakal. Berbeda dengan Putri bungsu yaitu putri Kuning yang berperangai baik dan ramah. Suatu hari sang raja harus pergi ke suatu daerah untuk bertugas. Semua putrinya meminta oleh-oleh mewah namun tidak pada si bungsu. Putri Kuning hanya ingin ayahnya selamat pulang kembali.

Saat sang raja datang, Putri Kuning malah dibelikan oleh-oleh yang sangat mewah oleh ayahnya. Sebuah kalung dengan bandul batu hijau. Kesembilan putri malah iri dan puncaknya sampai membunuh saudara bungsu mereka. Tanpa sepengetahuan istana, kesembilan putri memukul kepala si Bungsu hingga tewas. Mereka menguburnya tanpa ada orang lain yang tahu.

Beberapa waktu berjalan, sang raja pun akhirnya sadar putrinya tak ada di istana. Segala cara beliau tempuh untuk mencari putrinya namun tidak membuahkan hasil. Suatu saat, raja menemukan tanaman yang tumbuh di atas makam Putri Kuning. Tanaman tersebut mirip Puteri Kuning sehingga raja menamainya tanaman puteri Kemuning.

5. Hikayat Si Miskin

Hikayat Si Miskin

Ada pula cerita hikayat tentang Si Miskin. Pada hikayat ini ada pesan moral yang bisa menjadi tauladan bagi masyarakat. Salah satunya yaitu janganlah terlalu percaya tentang ramalan yang belum tau kebenaran sebenarnya. Berikut hikayat tentang si miskin selengkapnya :

Diceritakan dulu ada sepasang suami dan istri. Pasangan tersebut disebut-sebut telah dikutuk menjadi miskin seumur hidup. Seiring berjalannya waktu, keduanya dikaruniai anak lelaki dan diberi nama Marakarma. Anehnya, setelah Marakarma lahir pasangan suami istri tersebut malah hidup makin berkecukupan.

Mereka pun cukup bahagia dan menikmati keseharian bersama. Sampai pada suatu hari datangnya seorang ahli nujum atau peramal. Ahli Nujum itu bilang jika anaknya, yaitu Marakarma pada saat nanti akan membawa sial pada seluruh keluarga tersebut. Sang kepala keluarga pun cukup ketakutan dan kepikiran dengan pendapat ahli nujum itu.

Akhirnya sang ayah dengan tega membuang Marakarma ke suatu tempat. Namun anehnya, kehidupan keluarga tersebut malah berbanding terbalik dengan pendapat sang Nujum. Sepasang suami istri tersebut malah semakin miskin dan menderita sejak membuang anaknya Marakarma.

Sementara itu, di tempat Marakarma dibuang ia malah belajar banyak hal. Namun, masih buruk kembali menimpanya. Ia justru dituduh melakukan pencurian sehingga harus dibuang lagi ke lautan oleh penduduk sekitar. Sampai pada akhirnya ia malah terdampar di pantai dan diselamatkan oleh Putri bernama putri Cahaya.

Sejak saat itu, Malakarma ingin sekali pulang ke rumah orang tuanya. Selama perjalanan pulang, ia terus ditempa cobaan. Namun juga kadang menemukan banyak keberuntungan.

Baca juga: Kumpulan Kata Kata Semangat bahasa Indonesia dan maknanya

6. Cerita Hikayat Si Bayan Yang Budiman

Hikayat Si Bayan Yang Budiman

Cerita Hikayat yang terakhir adalah cerita tentang Bayan yang budiman. Kisah ini berisi pesan moral untuk senantiasa berdoa pada maha kuasa saat menemukan kesulitan apapun. Berikut cerita selengkapnya :

Dahulu kala hiduplah saudagar kaya bernama Khojan Mubarok. Dia dan istrinya tidak memiliki anak, namun selalu berdoa kepada Allah agar diberikan anak suatu hari nanti. Penantiannya pun membuahkan hasil, Khojan dikaruniai anak lelaki bernama Khojan Maimun.

Saat Khojan Maimun beranjak dewasa, ia pun dinikahkan dengan anak saudagar kaya bernama Bibi Zainab. Suatu saat, Khojan Maimun pamit pada istrinya untuk berlayar. Sebelum berangkat, dirinya membeli burung bayan dan burung tiung untuk menemani istrinya ketika dirinya pergi.

Lama kelamaan Bibi Zainab pun kesepian, lalu datanglah seorang anak raja yang nampaknya menaruh hati padanya. Bibi Zainab pun akhirnya juga merasa jatuh pada pesona anak raja tersebut. Ketika akan pergi menemui anak raja, Bibi Zainab minta izin pada burung tiung, namun tidak diizinkan. Bibi marah dan membunuh burung tiung.

Namun ketika meminta izin pada burung bayan, burung itu mengizinkan. Setiap malam, ketika Bibi Zainab ingin pergi burung bayan selalu memberi nasihat. Hingga akhirnya pada hari ke 24 Bibi Zainab sadar, jika tindakannya salah dan berdosa.

Itulah beberapa cerita hikayat yang cukup terkenal di masyarakat. Hikayat tersebut memang masih tergolong hikayat singkat. Namun cerita hikayat tersebut bisa menjadi hiburan tersendiri saat sedang suntuk misalnya.