Alat Musik Tifa dari Papua: Sejarah, Tahap Pembuatan, dan Perbedaannya

  • Whatsapp

Alat Musik Tifa Papua adalah alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Papua. Pada alat tersebut terdapat ukiran-ukiran khas masyarakat Papua yang unik dan tidak terdapat di daerah lain. Dari situ dapat kita simpulkan bahwa meskipun penduduk Papua tampak primitif dan kasar, namun ternyata mereka juga memiliki jiwa seni dan budaya..

Sangking uniknya alat musik tifa, sudah menjadi ikon atau simbol provinsi Papua. Apa itu alat musik tifa? Bagaimana bentuk dan cara memainkannya? Berikut akan kami ulas secara detail namun jelas.

Apa itu alat musik Tifa?

Alat Musik Tifa

Seperti telah kita singgung di atas, alat musik tifa berasal dari Indonesia bagian timur, khususnya Maluku dan Papua. Tifa merupakan alat musik yang cara memainkannya dipukul seperti gendang. Hanya saja bunyi tifa terdengar lebih ringan.

Tifa berbentuk tabung yang terbuat dari kayu, biasanya digunakan untuk mengiringi upacara adat, pertunjukan tradisional maupun tari-tarian adat lainnya. Dari segi bentuk alat musik ini sederhana, dihiasi dengan ukiran-ukiran yang mencerminkan seni dan budaya masyarakat setempat.

Baca Juga: Alat Musik Melodis

Sejarah

Setiap alat musik pasti memiliki sejarah bagaimana bisa terbentuk, begitu pula dengan tifa. Konon katanya sejarah alat musik ini memiliki beberapa versi tergantung di mana daerah asalnya. Namun, sejarah yang paling terkenal adalah kisah 2 orang bersaudara yang berasal dari Biak.

Di ceritakan bahwa, pada zaman dahulu ada 2 orang bersaudara bernama Frainum dan Sarenbayer yang tinggal di sebuah wilayah di Biak. Kedua nama ini memiliki arti yang saling berhubungan membuat kedua orang bersaudara ini memiliki hubungan yang sangat dekat.

Baca juga: Alat Musik Sunda

Fraimun berarti sebuah senjata perang yang gagangnya dapat digunakan untuk membunuh musuh, sedangkan Saren memiliki arti busur dan Bayer berarti tali busur. Sehingga ketika digabungkan kedua nama ini memiliki arti anak panah yang terpasang pada busur. Karena desanya tenggelam kedua bersaudara ini pergi dan mendiami disebuah daerah bernama Wampember yang terletak di daerah bernama Biar Utara.

Pada suatu malam kedua bersaudara ini memutuskan untuk berburu. Dalam perjalanan perburuannya mereka menemukan pohon opsur yang artinya kayu yang bisa menghasilkan suara di tengah hutan. Entah karena apa keesokan harinya mereka kembali ke pohon tersebut lalu menebangnya

Setelah pohon tersebut tumbang, mereka melubangi bagian tengahnya sehingga berbentuk seperti pipa. Kemudian mereka menangkap soa-soa dengan memanggilnya menggunakan bahasa biar “Hei, napiri Bo.” Hingga soa-soa itu akhirnya mengerti dan menyerahkan diri. Frainum dan Sarenbayer menguliti soa-soa tersebut dan kulitnya dikeringkan lalu digunakan untuk menutupi ujung dari kayu tersebut. Alat ini kemudian dikenal sebagai alat musik tifa.

Tahap membuat Alat Musik Tifa

Untuk membuat tifa bisa dikatakan sangat mudah dan sederhana. Bahan baku utama yang digunakan adalah kayu lenggua dan kulit hewan. Namun yang menjadi unik karena ukiran-ukiran yang disematkan pada badan tifa yang bernilai tinggi, sehingga kemudian menjadi sebuah alat musik yang sangat istimewa. Berikut tahap pembuatan tifa:

1. Pemilihan jenis pohon

Terkait dengan sejarahnya, untuk membuat tifa dibutuhkan pohon lenggua yang berkualitas. Setelah ketemu lalu ditebang dan potong-potong sesuai ukuran yang diinginkan. Kayu lenggua kemudian dibuat menjadi serupa dengan bentuk gendang. Namun, ukuran dan ketinggiannya berbeda-beda sesuai dengan jenis dan asal daerah pembuatannya.

2. Pengosongan Isi Kayu

Setelah potongan kayu lenggua terbentuk sesuai dengan ketinggian dan ukurannya, kemudian dibuat seperti tabung dengan cara melubangi bagian tengah kayu. Tujuan melubangi kayu ini agar bisa menghasilkan bunyi yang nyaring pada saat dipukul pada kulit yang menutupnya. Proses melubangi kayu ini tidak lama karena menggunakan alat khusus untuk memudahkannya.

Baca juga: Alat Musik Jawa Barat

3. Pengeringan Kulit Hewan

Setelah kayu selesai dilubangi, tahap berikutnya yang perlu disiapkan adalah mengeringkan kulit hewan yang nantinya akan digunakan untuk menutup lubang pada bagian ujungnya. Kulit hewan yang digunakan biasanya menggunakan kulit rusa. Namun, ada juga yang menggunakan kulit soa-soa atau biawak.

Sebelum dipasang, kulit akan dijemur agar benar-benar kering, sehingga ketika dipasang tidak molor ketika ditarik kencang dari berbagai sisi lubang.

4. Pemasangan Penutup Tifa

Setelah kulit hewan kering, selanjutnya tahap penutupan kayu yang sudah dilubangi dengan kulit rusa yang sudah kering tadi. yang digunakan untuk menutupi alat musik ini. Menurut para pengrajin tifa, semakin kering kulit hewan yang digunakan sebagai penutup bunyinya akan semakin bagus. Saat dipukul akan menghasilkan suara yang nyaring dan kuat.

5. Pengukiran

Setelah kayu selesai ditutup dengan kulit yang telah dijemur, tahap selanjutnya adalah membubuhkan sentuhan seni dengan cara mengukir badan tifa. Motif ukiran yang dibubuhkan umumnya sesuai dengan adat budaya setempat di mana tifa dibuat. Ukiran pada tifa Papua dan Maluku memiliki perbedaan yang kontras dan sangat bervariasi.

Perbedaan Tifa Papua Dan Maluku

Secara geografis letak antara Maluku dan Papua bisa dikatakan jauh, namun sama-sama memiliki alat musik yang bernama tifa. Meskipun namanya sama, namun ternyata memiliki perbedaan yang cukup signifikan, baik dari bentuk maupun ukirannya. Jika dipadankan kita akan mampu membedakan mana tifa dari Papua dan mana tifa yang berasal dari Maluku. Meskipun demikian berikut perbedaan tifa Papua dan Maluku secara lebih mendetail:

1. Tifa Papua

Tifa Papua sangat identik dengan adat budaya masyarakat Papua sendiri, khususnya suku Asmat. Tifa ini sudah menjadi identitas suku-suku yang ada di Papua. Tifa Papua bagi masyarakat Malim dikenal dengan nama Kandara, di Biak dikenal dengan nama Sirep, di Setani dikenal dengan nama Wachu. Sementara bagi suku Asmat mereka menyebutnya dengan nama Eme.

Bagi masyarakat Papua, alat musik ini sangat kental dengan adat istiadat nenek moyang mereka. Alat musik tradisional ini biasanya digunakan dalam acara-acara ritual. Dengan suaranya yang sakral alat musik ini akan mendominasi ketika diadakan acara ritual, dengan tabuhan-tabuhan yang menjadikan ritual kian kushuk.

Baca Juga: Alat Musik Sasando

2. Tifa Maluku

Di Maluku Tifa memiliki bentuk seperti tabung biasa tetapi tanpa ada pegangan di sampingnya. Ukiran-ukiran yang di sematkan sekitar tabung bukan hanya ukiran biasa, melainkan merupakan cerminan kehidupan atau ungkapan rasa syukur dari pembuatnya.

Pada masyarakat Maluku biasanya memainkan tifa sebagai pengiring dalam upacara-upacara adat. Khususnya tarian Cakalele, yaitu sebuah tarian tradisional yang menggambarkan kondisi peperangan. Di beberapa daerah lain di Maluku tifa memiliki nama atau sebutan yang berbeda, misalnya di daerah Maluku tengah tifa dikenal dengan nama Tihal atau Tahito.

Jika di tifa Papua menggunakan kayu lenggua, tifa yang berasal dari Maluku berbahan dasar kayu pohon sukun atau pohon eh. Persamaannya adalah cara memainkannya dengan cara dipukul baik menggunakan telapak tangan atau dengan bantuan alat pemukul yang terbuat dari pelepah pohon kelapa. Alat pemukul tifa jenis ini panjangnya kira-kira 60-100 cm.

Tifa Maluku dibuat dengan berbagai ragam, baik ukuran, bentuk, maupun ukirannya. Jika diamati secara teliti, bentuk fisik alat musik ini sangat unik, ukiran seninya bukan ukiran biasa, sehingga tampak sekali kekhasannya.

Pos terkait