Skip to main content

Mata pencaharian, kekerabatan dan kepercayaan suku Nias

Mata pencaharian pokok bagi penduduk Nias yang berdiam di daerah pantai adalah dengan berkebun kelapa, sedangkan yang di daerah pedalaman bercocok tanam dalam bentuk peladangan. Cara pengolahan dan peralatannya masih sederhana, mereka belum mengenal bajak dan sistem irigasi.

Jenis tanamannya adalah padi, palawija, pisang dan sayuran. Ladang yang sudah tandus digunakan untuk memelihara babi, kambing, sapi dan kerbau. Mata pencaharian tambahan adalah berburu, menangkap ukan, beternak dan pertukangan. Hasil pertukangan suku Nias sudah mencapai taraf yang tinggi sejak zaman prehistori, antara lain ; membuat berbagai peralatan dan senjata dari besi, barang perhiasan dari emas, perabot rumah dari kayu, seni pahat batu, ukir dan sebagainya.

Sistem kekarabatan di Nias adalah patrilineal, dengan adat menetap setelah nikah yang virilokal, sehingga keluarga batih merupakan keluarga luas virilokal (extended familiy) yang disebut sangambato sebua. Gabungan dari sangambato sebua dari suatu leluhur disebut mado atau gana. Mado dapat kita samakan dengan marga bagi suku Batak, yakni klen besar yang patrilineal.

Fungsi mado adalah untuk mengurus pembatasan jodoh dalam perkawinan yang beradat exogami-mado. Dalam perkawinan pihak pria harus memberikan mas kawin, biasanya berupa 100 ekor babi. Bagi yang tidak mampu membayar mas kawin, calon suami harus mengabdi kepada calon mertuanya sampai beberapa bulan (kawin kerja). Di Nias juga berlaku adat perkawinan levirat (jika suami mati, si janda kawin dengan saudara suaminya).

Mengenai sistem kemasyarakatan, sebelum Belanda datang tahun 1669, orang Nias terpecah-pecah menjadi beberapa kesatuan setempat yang otonom yang disebut ori (negeri). Tiap-tiap ori merupakan gabungan dari beberapa banua (desa), dan tiap banua dihuni oleh bagian-bagian dari beberapa mado. Tiap ori dikepalai oleh seorang Tuhenori (kepala ori) dan tiap banua dikepalai oleh seorang salawa (kepala desa).

Pada zaman Belanda, semua ori di Nias dan sekitarnya dipersatukan menjadi Afdeeling Nias, yang dikepalai oleh seorang Assisten resident. Setelah merdeka, Afdeeling Nias dijadikan salah satu kabupaten dari propinsi Sumatera Utara.

Pada jaman dahulu masyarakat Suku Nias mengenal 4 lapisan, yaitu :
1. Siulu (bangsawan)
2. Ere (pemuka agama palebegu)
3. Ono mbanus (rakyat jelata)
4. Sawuyu (budak)

Lapisan Siulu dibedakan menjadi 2, yaitu balo ziulu (yang memerintah) dan siulu (bangsawan kebanyakan.

Ono mbanua juga dibagi menjadi 2, yaitu siila (cerdik pandai dan pemuka rakyat) dan sato (rakyat kebanyakan).

Sawuyu dibagi menjadi 3 bagian, yaitu binu (budak karena kalah perang/diculik), sondrara hare (budak karena tak dapat membayar hutang) dan holito (budak karena ditebus orang setelah dijatuhi hukuman mati).

Lapisan masyarakat itu bersifat exlusif, dan mobilitas hanya terjadi dalam lapisan antar golongan saja.

Dalam kebudayaan Nias asli juga mengenal pengerahan tenaga untuk kerja bakti yang disebut halowo sato. Hal ini dilaksanakan setelah diadakan musyawarah oleh wakil-wakil siulu dan siila. Untuk pengendalian sosial adalah hukum adat. Orang yang melanggar hukum adat pada umumnya dikenakan sangsi denda dan kutukan lekas mati. Denda itu biasanya berupa babi, emas atau uang.

Sistem religi : agama yang banyak dianut oleh penduduk dewasa ini adalah Kristen Protestan, yang lain juga ada misalnya ; Islam, Katolik, Buddha dan agama aslinya yang disebut Pelebegu (penyembah roh). Para penganut Pelebegu menyebut agama molehe adu. Sifat agama ini adalah menyembah adu (roh para leluhur). Adu adalah patung dari kayu yang menjadi tempat bersemayamnya roh-roh leluhurnya. Patung yang telah ditempati roh leluhur disebut adu satua dan harus dirawat dengan baik.

Selesaikan membaca artikel ini dan lanjutkan ke artikel : Keanekaragaman suku di Irian Jaya

Menurut kepercayaan Pelebegu, tubuh manusia itu terdiri dari tubuh kasar (boto) dan lumo-lumo (bayangan). Jika seseorang mati, botonya menjadi debu, nosonya kembali kepada Lowalangi (Tuhan), sedangkan lumo-lumonya berubah menjadi bekhu (roh). Selama belum dilakukan upacara kematian, bekhu tersebut akan tetap berada di sekitar tempat pemakamannya.

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …