Skip to main content

Sistem kekerabatan suku Sunda

Sistem kekerabatan suku Sunda sangat dipengaruhi oleh :
1. Adat yang diteruskan secara turun-temurun.
2. Agama Islam yang sudah lama dianut oleh sebagian besar orang Sunda.

Akibatnya, sangat sulit untuk memisahkan mana adat dan mana agama. Sebab kedua unsur itu terjalin erat menjadi kebudayaan orang Sunda. Dalam perkawinan misalnya, dilakukan secara adat dan secara agama Islam. Sistem pemilihan jodoh tidak terikat satu sama sistem tertentu, tetapi yang pasti perkawinan di dalam keluarga batih dilarang.

Dalam memilih menantu, mereka mempunyai prinsip "Lampu nyiarjodo kakupuna", artinya : kalau mencari jodoh harus kepada orang yang sesuai dalam segalanya : rupa, kekayaan dan keturunan. Oleh karena itu kedua belah pihak akan mengadakan penyelidikan-penyelidikan secara teliti terhadap calon menantu masing-masing. Pembicaraan kedua orang tua (calon besan) disebut neundeun omong.

3 hari sebelum pernikahan, calon mempelai laki-laki harus sudah diserahkan kepada pihak si gadis lewat upacara seserahan.

Dalam perkawinan adat Sunda ada upacara nyawer dan buka pintu yang sangat menarik. Semua orang gembira, dan mengikuti dengan penuh perhatian terhadap dialog yang dilakukan dengan bahasa puisi dan lagu.

Bentuk keluarga yang terpenting di tanah Sunda ialah keluarga batih (nuclear family) yang terdiri dari : suami, isteri dan anak-anak. Keluarga batih merupakan tempat yang paling aman bagi anggotanya di tengah-tengah hubungan kerabatnya yang lebih besar dan di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan keluarga batih di desa-desa masih relatif kompak. Pekerjaan di sawah sering dikerjakan secara gotong-royong.

Di luar keluarga batih, masih ada kerabat lain seperti : ipar, kemenakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya. Kelompok ini disebut golongan atau Kindred. Mereka sering diundang pada waktu punya hajad.

Di samping itu, ada pula kelompok yang disebut ambilenial, karena mencakup kerabat sekitar keluarga batih seorang Ego tetapi diorientasikan ke arah nenek moyang yang jauh ke masa lampau. Kelompok ini disebut bondoroyot.

Dilihat dari prinsip garis keturunan, sistem kekerabatan di Pasundan adalah bersifat bilateral (garis ayah dan ibu). Sistem istilah kekerabatannya menunjukkan ciri-ciri bilateral dan generasional. Dilihat dari Ego, orang Sunda mengenal istilah-istilah untuk tujuh generasi ke atas dan ke bawah, yaitu :
- Ke atas
1. Kolot
2. Embah
3. Buyut
4. bao
5. Janggawareng
6. Udeg-udeg
7. Gantung siwur

- Ke bawah
1. Anak
2. Incu
3. Buyut
4. Bao
5. Janggawareng
6. Udeg-udeg
7. Gantung siwur

Itulah sistem kekerabatan suku Sunda. Selanjutnya : Sistem religi suku Sunda

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …