Skip to main content

Suku Manggarai di Flores Barat

Penduduk Flores sebenarnya tidak terdiri dari satu suku bangsa dengan satu kebudayaan yang seragam. Di sana sedikitnya ada 8 sub suku bangsa, yaitu :
1. Orang Manggarai
2. Orang Riung
3. Orang Ngada
4. Orang Nage Keo
5. Orang Ende
6. Orang Lio
7. Orang Sikka
8. Orang Larantuka

Di antara mereka ada perbedaan-perbedaan baik ciri-ciri jasmani maupun logat bahasanya. Pada artikel ini hanya akan dibahas salah satu saja, yaitu orang Manggarai.

Orang-orang Manggarai lebih banyak menunjukkan ciri-ciri Mongoloid-Melayu. Desa-desa kuno di Manggarai biasanya merupakan suatu lingkaran dengan 3 bagian, yaitu :
1. bagian depan disebut pa'ang.
2. bagian tengah disebut beo, dan
3. bagian belakang disebut ngaung

Sistem kekarabatannya adalah virilokal, perkawinan idealnya disebut perkawinan tungku (cross causin assimetris), yakni dengan gadis anak saudara pria ibu.

Dahulu kerajaan Manggarai terdiri dari 39 daerah kecil yang disebut dalu. Tiap dalu terdiri dari sejumlah daerah khusus yang disebut glarang, dan setiap glarang terdiri dari sejumlah desa.

Tiap dalu biasanya dikuasai oleh satu klen atau wau tertentu dan warga dari klen dominan dalam dalu itu yang menganggap dirinya sebagai orang bangsawan itu terikat satu sama lain oleh sistem hubungan perkawinan tungku.

Serupa dengan dalu, setiap glarang biasanya juga dikuasai oleh suatu klen dominan yang menganggap dirinya bangsawan. Menurut sistem pemerintahan kerajaan, suatu glarang itu berada di bawah kekuasaan dari suatu dalu.

Tetapi dalam soal-soal tanah dan hak ulayat, glarang berdiri otonom dan tidak berada di bawah dalu. Klen bangsawan dalam glarang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan klen bangsawan dalam dalu.

Kepala dalu disebut kraeng atau kraeng adak, dan beberapa dari kepala dalu yang terpenting seperti dalu Todo dan Bayo disebut sangaji. Beberapa pejabat penting dalam kerajaan Manggarai adalah sebagai berikut :
1. Tu'a tana (tuan tanah), orang yang ahli adat mengenai tanah yang mengetahui sejarah dari tiap-tiap bidang tanah yang dikuasai oleh klen.
2. Raja bicara, yaitu orang yang menjadi pengantara antara klen raja dan lain-lain klen bangsawan, misalnya dalam hal perkawinan, penentuan mas kawin (paca  wina) dan sebagainya.
3. Pejabat-pejabat pembantu disebut perwis dan punggawa.

Baca juga: Suku apa saja yang ada di Indonesia

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …