Skip to main content

Biografi singkat Hans Albrecht Bethe the Doctor Honoris Causa

Bethe lahir di Strasbourg, Alsace-Lorraine, pada tanggal 2 Juli 1906. Ayahnya bernama Prof. Albrecht Bethe, seorang ahli psikologi universitas yang pernah kesal atas perlakuan Nazi saat Adolf Hitler menjadi Kanselir Jerman pada Januari 1933.

Saat remaja Bethe menyukai matematika dan fisika. Namun, saat masuk di perguruan tinggi, ia memilih fisika karena menurutnya persamaan matematika ditujukan untuk membuktikan hal-hal yang nyata. Ia belajar fisika di Frankfurt dan menamatkan pendidikannya di Universitt of Munich dengan gelar Ph.D. pada tahun 1928.

Bethe mengalami masa kelam ketika menjabat sebagai asisten profesor di University of Tubingen. Ia diberhentikan secara tidak hormat pada tahun 1933 oleh Nazi yang berkuasa saat itu, karena ibunya adalah keturunan Yahudi, padahal ia menganggap dirinya bukan keturunan Yahudi.

Kejadian tersebut membuatnya sangat membenci Nazi. Dan kebencian itu membuatnya menerima undangan J. Robert Oppenheimer dari Amerika Serikat untuk bergabung dalam Manhattan Project, sebuah proyek militer Amerika Serikat untuk mendesain bom.

Bethe berangkat ke Amerika Serikat untuk mendesain bom ditemani oleh Rose Ewald, putri dari P.P. Ewald, seorang ahli fisika sinar X yang kemudian dinikahinya pada tahun 1939 dan memberinya 2 anak, yaitu Henry dan Monika.

Atas jasanya dalam proyek tersebut pemerintah Amerika Serkat memberinya jabatan asisten profesor di Cornell University pada tahun 1934. Pada tahun 1941, ia resmi menjadi warga negara Amerika Serikat.

Hans Albrecht Bethe belajar fisika nuklir di Cornell University yang mengantarkannya pada keberhasilannya dalam Manhattan Project. Setelah berhasil dalam proyek tersebut, ia kembali ke Cornell University dan melanjutkan penelitiannya tentang reaksi nuklir.

Bethe dikenal sebagai ilmuwan pertama yang berhasil menjelaskan fenomena tingkat energi atom dalam spektrum hidrogen yang dilaporkan oleh Willis Lamb pada tahun 1947 dalam konferensi fisika. Pada tahun 1948, Bethe sempat menyumbangkan makalah penting tentang asal-usul elemen kimia pada saat terjadinya peristiwa big-bang.

Makalah yang Bethe susun bersama dengan Ralph Alpher dan Georges Gamow ini dikenal dengan makalah "Alpha-Betha-Gamow".

Selain itu, Bethe juga mengembangkan teori Bohr mengenai inti persenyawaan dengan cara yang lebih kuantitatif. Penelitiannya ini, dan juga pengetahuan yang telah ada mengenal teori nuklir serta hasil percobaan-percobaannya, terangkum dalam 3 artikel yang dipublikasikannya di Reviews of Modern Physics, yang mana selama bertahun-tahun menjadi pegangan wajib (dikenal sebagai Bethe's Bible) bagi para fisikawan yang bergelut dalam bidang nuklir.

Pada tahun 1949, Edward Teller mengajak Bethe untuk bergabung dalam usaha pembuatan superbom (bom hidrogen). Tetapi Bethe menolaknya dan menentang aksi tersebut. Ia pun mengampanyekan anti penggunaan nuklir untuk kekerasan.

Pada tahun 1958, ia memimpin penasihat ilmiah Amerika Seikat pada pertemuan di Jenewa Swiss, yang membahas pengaturan larangan uji coba nuklir. Ia juga ikut dalam perundingan dengan Uni Soviet pada tahun 1963 dan menjadi penasihat Presiden Eisenhower untuk ikut melarang uji coba senjata nuklir.

Pada tahun 1992, di usia 86 tahun Bethe menulis surat terbuka kepada seluruh ilmuwan untuk memboikot pengembangan senjata nuklir dan senjata pemusnah lainnya seperti senjata kimia dan senjata biologi.

Pada tahun 1997 walaupun sudah berusia 91 tahun, Bethe menulis surat kepada Presiden Clinton untuk menghentikan aliran dana bagi semua jenis uji coba senjata nuklir, termasuk eksperimen yang bertujuan untuk mengembangkan senjata nuklir terbaru.

Bethe terus menyerukan anti penggunaan nuklir untuk kekerasan kepada dunia. Hal ini membuatnya mendapatkan penghargaan sebagai doctor honoris causa dari berbagai universitas di seluruh dunia.

Biografi singkat Hans Albrecht Bethe the Doctor Honoris Causa

Terlepas dari penghargaan tersebut, pencapaian Bethe yang utama adalah kewberhasilannya mengembangkan teori reaksi nuklir yang menghasilkan energi bintang (stellar nucleosynthesis). Penemuan tenrang reaksi-reaksi nuklir ini mengantarkannya meraih Nobel Fisika pada tahun 1967.

Lihat hasil penemuan Hans Albrecht Bethe di artikel : Tentang Teori Bethe, fusi nuklir dan fisi nuklir

Hans Albrecht Bethe meninggal dunia di rumahnya Itacha, New York, Amerika Serikat pada tanggal 5 Maret 2005.

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …