Skip to main content

Nadine Gordimer wanita sastrawati dari Afrika Selatan

Biografi. Nadine Gordimer adalah seorang sastrawati wanita dari Afrika Selatan yang meraih Nobel Sastra pada tahun 1991. Ia banyak mendapatkan pujian karena gaya penceritaannya sangat alami serta gaya menulisnya yang memukau. Karyanya banyak diwarnai dengan keprihatinan atas rasialisme yang menghinggapi sistem sosial politik Afrika Selatan.

Gordimer lahir 20 November 1923, Springs, Afrika Selatan. Ia adalah anak dari pasangan Isidore Gordimer, Hannah Gordimer. Ia berasal dari keluarga kaya di daerah Springs, Transvaal, sebuah kota pertambangan di wilayah East Rand di luar kota Johannesburg. Daerah tersebut menjadi seting novel pertamanya yang berjudul The Lying Days (1953).

Foto Nadina Gordimer
Nadina Gordimer

Ayahnya adalah seorang Yahudi dari Latvia yang bekerja sebagai pedagang perhiasan, sedangkan ibunya berdarah Inggris. Pengalaman masa kecil yang banyak menyaksikan minoritas kulit putih terus mengurangi hak-hak kaum mayoritas kulit hitam, melekat di hati Gordimer hingga ia dewasa.

Gordimer kecil mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari keluarganya. Keluarganya memperlakukan dirinya dengan sangat ketat. Ia hanya menempuh kuliah setahun, hingga akhirnya ia harus keluar tanpa gelar kesarjanaan. Selain itu, ia banyak dikurung di dalam rumah, karena dianggap mengidap kelainan jantung.

Gairah kepenulisan Gordimer muncul sejak ia berusia 9 tahun. Karyanya yang berjudul Come Again Tommorow sudah dimuat di halaman anak-anak majalah Forum katika ia masih berusia 14 tahun. Ketika usianya 20 tahun, ia telah banyak menerbitakan karya di beberapa majalah lokal. Pada tahun 1951, majalah The New Yorker menerima salah satu karyanya dan sejak itu menjadi penerbit karya-karya Gordimer.

Gordimer berhasil menerbitkan kumpulan cerpen pertamanya Face to Face pada tahun 1949. Namun, ia tidak mencantumkan biografi karena persoalan psikologis dari maraknya politik diskriminasi di Afrika kala itu.

Sementara, The Lying Days (1953) merupakan fiksi yang diangkat dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia menampilkan tokoh seorang gadis kulit putih bernama Helen, yang dari waktu ke waktu semakin mengalami ketidakpuasan terhadap kehidupan masyarakat sebuah kota kecil yang berfikiran sempit.

Gairah kepenulisan Gordimer terus menggelora, sehingga dalam kurun waktu tahun 1950 dan 1960-an ia telah menghasilkan beberapa karya, seperti : A World of Strangers (1958), Occasion for Loving (1963), dan The Late Bourgeois World (1966).

Novel yang ditulisnya berupaya mengangkat hubungan majikan dan pembantunya. Ketakuan (paranoia), kejiwaan terhadap kolonialisme, serta kebebasan palsu yang dimiliki kaum kulit putih seperti dirinya. Novel Occasion for Loving misalnya, berkisah tentang cinta terlarang antara pria kulit hitam dan wanita kulit putih yang berakhir dengan pahit.

Kumpulan cerpen Gordimer di masa-masa awal, di antaranya termasuk Six Feet of the Country (1956), Not for Publication (1965), dan Livingstone's Companions (1971). Fakta sejarah tentang rakyat yang dipisahkan akibat rasisme juga menjadi dasar penting dalam cerpen-cerpen Gordimer.

Dalam cerpen Oral History di buku Soldiers Embrace (1980), tokoh kepala desa memperoleh jabatannya berdasarkan hasil pilihan kubu penindas. Setelah desanya dimusnahkan, tokoh itu pun bunuh diri. Gordimer dengan tenang mengkaji tindakan tokoh protagonisnya, menghubungkan kejadian tragis tersebut dengan tradisi panjang dari peraturan kolonial.

Baca juga: Jejak kepenulisan Gordimer

Sejak tahun 1948, Gordimer tinggal di Johannesburg. Ia mengajar di beberapa universitas di Amerika Serikat sepanjang tahun 1960 - 1970-an. Ia telah menulis buku nonfiksi tentang Afrika Selatan dan membuat film dokumenter televisi. Salah satu film dokumenter terkenalnya adalah Choosing Justice; Allan Boesak. Nadine Gordimer meninggal dunia pada tanggal 13 Juli 2014, Johannesburg, Afrika Selatan.

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …