Skip to main content

Shining Armour Throughout the Middle Ages

Shining Armour Throughout the Middle Ages. Throughout the Middle Ages, the knight in amour was considered to be the most powerful figure on the battle field. Every ambitious lad would have liked to have been one (but, for many ambitiuous lads, this was impossible: to be a knight, yotu had belong to the gentry).

These men were heroes. Their courage and skill at fighting had to be great. They were also supposed to be good men: men who defended the weak and helpless, who looked after women and children in times of danger. The rules that governed their behaviour were known as 'chivalry'.

Edward III, especially, believed in chivalry. He founded the Order of the Garter in 1344. He created a court to make sure his knights behaved correctly, and he loved the bright colours of pageantry and tournaments.

A tournament was at once a sport and a means of training knights for their role in warfare. It had been invented by the French. During the 12th century, a tournament (in this case called a melee) was a mock battle between two sides. Unfortunately it was more dangerous than intended. Many were killed or wounded in these events.

Later, jousting was introduced. Two knights charged each other with levelled lances. The idea was to unseat the opponent. Henry II banned jousting; Richard I allowed it - but insisted on issuing licences for tournaments; Edward III loved it. Henry II of France also enjoyed it. Perhaps he was too enthusiastics; : he was killed in a bout.

Eventually, the casually rate was reduced by the introduction of blunt weapons and a code of rules. Special arena were built, and competitors (no one less than a knight was allowed to take part) were charged entry fees.

But there were changes afoot. While Edward III was encouraging tournaments and chivalry, he was also experimenting with the use of the cannon. Cannons needed gunpowder. The army now had gunpowder. Had the monarch thought about it, he might have realised that lances and longbows, swords and swashbuckling, were all out of date.

All sorts of things, including muskets, were now possible. After the Hundred Years War, battles would never be quite the same again. But Edward III was dead long before this happened. Read previous article: Henry V's Campaigns taking people's hearts English

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …