Skip to main content

Expansion of Colonialism and imperialsm in Jayakarta

History-One of the offices of VOC was located in Jayakarta. Knowing that Jayakarta was very strategic, the governor of VOC, Jan Pieterzoen Coen, wanted to build a fort in Jayakarta and take a full control of the town. But it was certainly not permitted by Pangeran Jayakarta. At that time, Jayakarta was under the control of Banten.

Apart from the Dutch, the English people also had a trade office in Jayakarta. When a dispute arose between the Dutch and Pangeran Jayakarta, the English people sided with him. The dispute ended up in a battle between the Dutch and the English in the sea, while on land, Pangeran Jayakarta's troops attacked the Dutch's fort. VOC surrendered and they returned to Maluku to ask for support.

Meanwhile, the commandant of VOC's fort was captured by Pangeran Jayakarta. However, the attack of Jayakarta's troops on VOC and its relationship with English people made Banten as the central government of Jayakarta anxious.

Expansion of Colonialism and imperialsm in Jayakarta

Banten was afraid that Jayakarta would rival her in trade and politics, and the building VOC's office in Jayakarta had actually been approved of by Banten. To prevent the development of Jayakarta, Banten sent troops to take over the control of the area. The Dutch people who had been captured by Pangeran Jayakarta were taken to Banten.

On 30 May 1619, J.P. Coen came back from Maluku with more troops and they managed to destroy the palace of Jayakarta, then they sent out some messengers to Banten to ask them to release the Dutch prisoners soon or otherwise Banten would be attacked. After request was granted VOC left Banten, moved their trade office to Jayakarta and took full control of the town.

The takeover of Jayakarta by VOC in 1691 enraged Sultan Agung Hanyokro Kusumo of Mataram because he also wanted to control Jayakarta. For that purpose, Sultan Agung attacked Jayakarta twic, in 1628 and 1629, but the two attempts failed because Mataram's troops were beaten by VOC.

Next article : Expansion of Colonialism and imperialsm in Banten
Thanks you for visited website history

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …