Skip to main content

Expansion of Colonialism and imperialsm in Makasar

History-Gowa-Tallo Sultanate in South Sulawesi which was also known as Makasar Kingdom was the major opponent of VOC in East Indonesia. The capital of Gowa Kingdom, Makasar, was a center of trade for Malay, Chinese, Arabic people and other nations.

This rivaled VOC's trade which was centered in Maluku and endangered them. Many merchants from Maluku also did trade in Makasar because the system was freer than in Maluku. VOC considered it black marketeering.

Military power could not be used to defeat Makasar, so VOC applied a divisive policy to intensify conflicts between the kingdoms in South Sulawesi. Bone Kingdom which had been under the control of Gowa was unhappy with Gowa's hegemony.

Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin
Led by Aru Palaka, Bone rebelled against Gowa. However, the rebellion could be suppressed by Makasar. Aru Palaka fled to Butung Island and asked for help from VOC. VOC's armada consisting of 31 ships attacked Makasar in 1660, destroyed some Portuguese ships in the harbour and forced Sultan Hasanuddin to accept an agreement.

Nevertheless, the attack did not decrease Sultan Hasanuddin's resistance against VOC. in December 1666, an armada of VOC which was supported by Aru Palaka and his troops as well as soldiers from Ambon attacked Makasar in particular adn Gowa-Tallo in general.

Severe battles took place on land and the sea, forcing Sultan Hasanuddin to surrender and sign Bongaya Agreement on 18 November 1667. The agreement said :
  1. VOC was given trade monopoly in Makasar.
  2. VOC could build a fort in Makasar (Fort of Rotterdam).
  3. Makasar had to release some of its territories, such as Bone and the island lutside Makasar.
  4. Aru Palaka was recognized as the king of Bone.
In addition, trade ships from Makasar were not allowed to sail to Maluku, but Sultan Hasanuddin kept struggling to resist and not to implemet the contents of Bongaya Agreement fully. As a result, VOC and its allies launched a second massive attack on Makasar from April 1668 until June 1669. Sultan Hasanuddin suffered a great loss in the war, so he was finally willing to implement Bongaya Agreement fully.

After the implementation of the agreement, Gowa-Tallo was not a powerful kingdom in Sulawesi anymore, and its role was taken over by Bone Kingdom under the reign of Aru Palaka who was backed up by VOC military. Sultan Hasanuddin's perseverance in resisting VOC made him dubbed 'The Cock from the East'.

Makasar started to profess Islam in early 17th century when the kings of Gowa-Tallo twin kingdoms embraced Islam. The king of Gowa, Daeng Manrabia, changed his name to Sultan Alaudin, while the king of Talo, Kraeng Matoaya, changed his name to Sultan Abdullah.

The two kings worked hard to spread Islam and expand their territory as far as Nusa Tenggara. Besides that, they kept improving the people's welfare and believed that Allah had created the sea and all its contents for all His servants.

Since Makasar was a maritime kingdom, most of its people were involved in navigation activities. As a result, they were well-known for their cultural product, 'pinisi' boat. The strength of this boat was not only recognized domestically but also internationally.

Next article : Expansion of Colonialism and imperialsm in Ternate and Tidore
Thanks you for visited website history

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …