Skip to main content

Paul Laurence Dunbar - Biography Dunbar Laurence Paul

Dunbar, Paul Laurence (1872-1906), African American poet, often remembered for his dialect poetry. Paul Laurence Dunbar wrote this poem, "The Poet," three years before his death in 1906 at the age of 34. Its words may express his own regrets about the direction of his literary career. Dunbar was the most famous African American poet, and one of the most famous American poets, of his time.

His career brought him international fame and by any measure was a tremendous success. Although Dunbar felt his best work was his poetry in standard English, he was celebrated almost exclusively for his folk poetry about African Americans written in dialectthe "jingle in a broken tongue."



His identification with dialect poetry disappointed him during his lifetime and alienated some later African American readers. But Dunbar's poetry has also been praised by readers, from W. E. B. Du Bois to Nikki Giovanni, who recognized the challenges Dunbar faced as a turn-of-the-century black poet trying to sound the "deeper note."
Biography Dunbar Laurence Paul
Dunbar Laurence Paul
Dunbar's parents had both been slaves on plantations in Kentucky. Although Dunbar was born in Dayton, Ohio, during Reconstruction, his parents' stories about life as as slaves were the basis for some of his folk poetry.

He attended Dayton public schools and was the only student of color at Dayton High School, where he was class president, editor of the school paper, president of the literary society, and class poet. After graduating in 1891 Dunbar tried to pursue a career in journalism. He could not find a writing job because of his race, and he became an elevator operator.

However, he continued writing, earning the nickname "the elevator boy poet." Dunbar took out a loan to publish his first book, Oak and Ivy, in 1893. Later that year, he read his poetry at the World's Columbian Exposition in Chicago, Illinois, where he was praised by Frederick Douglass and other prominent African Americans.

Dunbar became a crossover literary sensation in 1896, when his second book, Majors and Minors, was noticed by well-known white critic and writer William Dean Howells. Howells arranged for an expanded version of the book, titled Lyrics of Lowly Life, to be published by the mainstream white firm of Dodd, Mead. The national publication, and the speaking tour that followed, made Dunbar famous among black and white audiences. His reputation soon spread overseas. .

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …