Sejarah Negara Yaman Selatan

Aden sudah terkenal sejak zaman sebelum Masehi dan berperan penting sebagai pelabuhan untuk perdagangan Timur-Barat sehingga menjadi incaran bangsa-bangsa yang kuat. Sesudah diduduki Inggris selama lebih dari satu abad (sejak 1839), muncullah gerakan kemerdekaan (mulai tahun 1963), yang berhasil memproklamasikan kemerdekaan Yaman Selatan pada 30 November 1967.

Bentrokan senjata di daerah perbatasan dengan Yaman Utara pada tahun 1972, berlanjut dengan perang terbuka pada tahun 1979; tetapi berkat dukungan negara Arab, pada tahun itu juga ditandatangani sebuah persetujuan mengenai penyatuan kedua Yaman. Persetujuan ini belum direalisasikan sampai sekarang.

Gambar Peta negara Yaman Selatan

YAMAN, REP. DEMOKRASI RAKYAT, (Yaman Selatan), terletak di Semenanjung Arab bagian tenggara; berbatasan dengan Arab Saudi (utara), Oman (timur), Teluk Aden (selatan), dan Rep. Arab Yaman (barat). Luas: 336.869 km2. Penduduk: 2.488.000 (1989). Kepadatan penduduk: 7,4/km2. Agama: Islam Sunni (99,5%); Hindu (0,2%); Kristen (0,1%); tidak beragama (0,1%); lain-lain (0,1%). Bahasa: Arab. Ibu kota: Aden. Satuan mata uang: Dinar Yaman (YD).

Foto Aden ibu kota pelabuhan penting di Yaman Selatan
Aden, ibu kota pelabuhan penting Yaman Selatan, terletak di Teluk Aden. Menjadi pangkalan penting untuk mengangkut batu bara ke India setelah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869.

Fisiografi
Dalam hal fisik, seperti dalam hal penduduk, terdapat perbedaan yang mencolok di antara daerah pantai dan daerah pedalaman di Yaman Selatan. Dataran pantainya (lebarnya 60 km, walaupun di sana-sini ada yang tidak mempunyai dataran, seperti di Mul kalla), bersuhu panas dan tidak menerima hujan sedikit pun.

Di daerah pedalaman, terdapat pegunungan setinggi 900 - 1.500 m dan plato setinggi 1.500 - 2.500 m. Di sebelah utara plato utama, membentang gurun besar Rubal-Khali di Arab Saudi selatan.

Aden memiliki suhu rata-rata 29°C, dan curah hujan sekitar 50 mm per tahun. Curah hujan sampai lebih dari 250 mm per tahun di daerah pedalaman, bahkan sampai 750 mm per tahun di daerah-daerah dekat perbatasan dengan Yaman Utara.

Foto suasana kota Aden Ibu kota Yaman selatan
Aden yang sejak tahun 1967 menjadi ibu kota Yaman Selatan, memiliki dua wajah. Wajah lama (latar depan) adalah daerah pemukiman dengan bangunan gaya Arab, dan wajah baru merupakan bangunan modern dengan gedung-gedung bertingkat.

Air hujan tersebut se-f lanjutnya mengalir masuk ke wadi yang sudah dibendung guna menampung air untuk penduduk yang hidup menetap di daerah pertanian. Waduk terpenting, Wadi Hadramaut, panjangnya mencapai 400 km.

Kendati curah hujannya rendah, di daerah pantai pohon kelapa dapat tumbuh subur. Di daerah-daerah lainnya terdapat cendana, ariata, akasia, tamarisk, dan lain-lain. Semak-semak berduri tumbuh di atas ketinggian 900 m, sedang kemenyan tumbuh pada ketinggian 9001.500 m.

Karena terus diburu secara liar, ibeks (kambing gurun) dan oriks (antilop besar), dua jenis binatang liar yang paling penting di Yaman Selatan, kini berada dalam bahaya punah di berbagai daerah. Sejenis musang masih dapat ditemukan di P. Socotra.

Penduduk
Daerah pantai dan P. Socotra terutama didiami para nelayan; sedang daerah pedalaman terutama didiami para petani. Di daerah gurun hidup sejumlah penduduk yang. berpindah-pindah untuk mencari makanan dan air bagi ternak mereka.

Dari 2 juta lebih penduduk Yaman Selatan, sekitar 95% adalah orang Arab. Yang lainnya adalah orang India-Pakistan (1,8%), orang Somali (1,4%) dan sejumlah orang Amhara-Swahili, Yahudi, Persia, dan lain-lain. Penduduk di bagian barat masih berkerabat dekat dengan orang Yaman Utara yang berbicara dalam bahasa Arab.

Pemerintah berusaha terus meningkatkan jumlah dan mutu sekolah di negeri ini. Wajib belajar diberlakukan untuk anak-anak tingkat sekolah dasar. Tetapi dari seluruh penduduk berusia 15 tahun ke atas, baru sekitar 40 persen yang bebas buta aksara. Kini di negeri ini terdapat sekitar 900 sekolah dasar (712 tahun) dengan 237.000 murid, 50 sekolah lanjutan (13 -18 tahun) dengan 28.000 siswa, dan 1 perguruan tinggi dengan 4.800 mahasiswa.

Pemerintahan
Republik Demokrasi Rakyat Yaman dibagi atas enam propinsi, masing-masing dikepalai seorang gubernur. Pemerintahan dikuasai oleh Presidium, sebuah dewan yang terdiri dari para tokoh Partai Sosialis Yaman, satu-satunya partai politik di negeri ini. Ketua dewan ini sekaligus menjadi kepala negara.

Gambar Bendera Negara Yaman Selatan
Bendera Negara Yaman Selatan

Roda pemerintahan dijalankan oleh sebuah kabinet di bawah pimpinan seorang perdana menteri. Dewan Rakyat Tertinggi, badan legislatif yang dibentuk berdasarkan Konstitusi 1970, beranggotakan 111 orang.

Gambar Lambang Negara Yaman Selatan
Lambang Negara Yaman Selatan

Ekonomi
Kegiatan ekonomi yang paling penting di Yaman Selatan adalah pertanian. Tetapi sumbangan sektor ini tidak sampai 10 persen dari seluruh pendapatan nasional, kendati tenaga kerja yang diserap mencapai sekitar 37 persen dari seluruh tenaga kerjanya. Kapas, tanaman dagang utama, ditanam di Delta Abyan, yang terletak di sebelah timur Aden.

Sedangkan tanaman pangan, di antaranya milet, bijan (wijen), dan sorgum, ditanam terutama di daerah dataran tinggi. Hasil gandum, yang ditanam terutama di Hadramaut dan Bayhan-al-Qasab, belum mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri, sehingga kekurangannya perlu diimpor dari Australia. Pantai Yaman Selatan kaya akan berbagai jenis ikan, seperti ikan sardin, ikan anchovy (sejenis ikan hering), ikan opah (Lampn's), dan ikan tuna.

Ikan hiu juga banyak terdapat di pantai P. Socotra. Hasil penangkapan ikan di seluruh negeri ini mencapai kira-kira 80.000 ton setiap tahun; di antaranya sebagian dapat diekspor. Pusat perikanan terbesar di negeri ini adalah Mukalla.

Industri utama di Yaman Selatan adalah kilang minyak di Aden, yang mengolah minyak mentah dari Iran dan Kuwait. Selain itu terdapat juga pabrik tekstil dari kapas, pabrik pengalengan, pabrik pengolahan bahan pangan, dan lain-lain. Industri kecil memproduksi minuman ringan, barang-barang dari kulit, kain, ubin, perabot, dan lain-lain.

Dalam sektor perdagangan dengan luar negeri, Yaman Selatan masih terus mengalami defisit. Pada tahun 1984, misalnya, nilai impornya mencapai lebih dari dua kali nilai ekspornya. Negeri ini mengekspor minyak beserta produk-produknya, kapas, kulit, ikan kering, dan lain-lain; sedangkan barang impor utamanya adalah mesin dan alat-alat transportasi, bahan pangan, minyak mentah, pakaian, dan hewan ternak.

Barang-barang ekspor dipasarkan ke Italia, Jepang, Selandia Baru, Perancis, Jerman Barat, Singapura, dan beberapa negara lain; sedangkan barang-barang impor diperoleh dari Australia, Inggris, Jepang, Negeri Belanda, dan puluhan negara lain di Eropa dan Asia. Aden masih menjadi pelabuhan transit bagi negara-negara tetangganya, meskipun hanya dalam skala yang kecil.

Sarana transportasi di Yaman Selatan belum begitu maju. Negeri ini tidak memiliki jaringan kereta api. Sementara itu, dari seluruh jalan rayanya (sekitar 10.000 km), baru 18 persen yang sudah beraspal. Jalan beraspal yang utama terdapat di kota Aden dan beberapa rute ke luar kota Aden, terutama ke arah daerah perbatasan dengan Yaman Utara. Antara Aden dan Mukalla telah dibangun jalan kelas satu.

Pelayaran pantai dalam negeri masih terbatas di antara Aden dan Mukalla, tetapi di Aden terdapat pelabuhan yang bagus dan sangat strategis karena terletak pada rute perdagangan antara L. Merah dan Samudera Hindia. Hubungan udara dengan luar negeri berlangsung lewat bandara internasional Aden, sedangkan hubungan udara dalam negeri berlangsung secara teratur di antara delapan bandara yang ada di negeri ini, dengan Aden sebagai pusat.

Baca juga: Sejarah Negara Yaman Utara

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel