Skip to main content

2 Jenis Pakaian Adat Sumatera Selatan Lengkap Penjelasannya

Sebagaimana daerah lain di Indonesia, Sumatera Selatan khususnya Palembang mempunyai pakaian adat dengan ciri khasnya sendiri. Berdasarkan pada catatan sejarah, Pakaian Adat Sumatera Selatan adalah berasal dari zaman kesultanan Palembang sejak abad ke enam belas hingga abad ke sembilan belas pertengahan.

Pada mulanya, pakaian adat ini hanya boleh digunakan oleh orang kalangan tertentu saja, seperti raja, pangeran, dan priyai serta kalangan ningrat lainnya. Tidak sembarang orang boleh memakai pakaian ini.

Namun, sebagaimana kita ketahui, pada jaman sekarang ini, pakaian adat dari Sumatera Selatan ini boleh dipakai oleh siapa saja pada saat acara pernikahan. Jadi tidak harus raja. Dengan kata lain, pakaian adat ini sudah merakyat.

Provinsi Sumatera Selatan saat ini paling tidak memiliki dua pakaian adat yang cukup unik dan menarik untuk kita simak sebagai penambah wawasan kita akan kekayaan budaya nusantara yang sesungguhnya sarat makna.

Pakaian adat ini biasa digunakan pada saat acara-acara terntentu, misalnya : upacara adat perkawinan, festival, dan acara-acara budaya lainnya. Jadi pakaian adat ini tidak digunakan pada sembarang acara apalagi untuk busana harian.

Adapun dua pakaian adat Sumatera Selatan ada dua, yaitu:
  1. Aesan Paksangko dan
  2. Aesan Gade.

Gambar Pakaian adat pengantin Palembang, Sumatra Selatan
Pakaian adat pengantin Palembang, Sumatra Selatan

Kedua pasang mempelai pengantin akan semakin terlihat lebih Anggun jika memakai baju adat Palembang ini. Dari hal ini kita bisa mengetahui betapa agungnya budaya bangsa kita khususnya hal desain pakaian adat oleh nenek moyang kita.

Kenapa dinamakan Aesan? Aesan ialah sebuah kata dari bahasa Palembang yang bermakna Baju, Busana, atau Pakaian. Jadi sangatlah wajar jika nama pakaian adatnya memakai kata ini. Mungkin juga untuk pakaian adat lainnya di nusantara ini banyak terilhami dari bahasa daerah masing-masing untuk menyebut namanya.

Mari kita bahas satu persatu untuk mendapatkan pemahaman lebih rinci sebagai berikut:
1. Aesan Paksangko : Pakaian Adat dari Palembang Sumatera Selatan
Baju adat daerah Sumatera Selatan yang pertama adalah yang dikenal dengan nama Aesan Paksangko. Pakaian adat ini mengandung makna filosofis yang melambangkan keagungan masyarakat daerah Sumatera Selatan.

Gambar Pakaian adat Aesan Paksangko Sumatera Selatan
Pakaian adat Aesan Paksangko Sumatera Selatan

Busana Adat Palembang ini pada umumnya lebih sering terlihat pada suatu  acara resepsi pernikahan yang dipakai oleh kedua pasang mempelai, dengan kombinasi warna merah dan emas. Dengan mengenakan pakaian adat ini penampilan kedua pengantin akan semakin anggun.

Pada Baju Aesan Paksangko, mempelai wanita mengenakan baju kurung dengan warna merah dan bermotif bunga bintang berwarna keemasan. Suasana ceria semakin terlihat dengan pengaruh pakaian adat yang unik ini.

Selain itu juga memakai kain songket lepus bersulam emas dan teratai dibagian dada, serta dilengkapi dengan mahkota Paksangkong, Kembang Goyang, Kembang Kenango, Kelapo Standan, serta aksesoris mewah lain yang berwarna kuning keemasan.

Untuk pengantin pria, memakai baju dengan warna senada atau tidak jauh berbeda yaitu mengenakan baju motif tabur bunga emas, seluar pengantin (celana pengantin), songket lepus, selempang songket, serta songkok (kopiah) yang berwarna emas sebagai penutup kepala.

2. Aesan Gede ; Pakaian Adat di Sumatera Selatan (Palembang)
Pakaian adat provinsi Sumatera Selatan yang kedua adalah yang disebut dengan nama Aesan Gede. Berbeda dengan Aesan Paksangko, baju adat Aesan Gede lebih mengkombinasikan warna merah jambu dan emas.

Gambar Pakaian adat Aesan Gede Sumatera Selatan
Pakaian adat Aesan Gede Sumatera Selatan

Kedua warna tersebut mencerminkan keagungan para bangsawan dan kebesaran para bangsawan dari bumi Sriwijaya. Jadi masih erat kaitannya dengan pengaruh kerajaan pda jaman dahulu. Di bawah ini ini adalah gambar dari Pakaian Adat Sumatera Selatan dengan Baju Aesan Gede.

Penjelasan singkat tentang pakaian adat dari Sumatera Selatan “Aesan Gade” adalah sebagai berikut :
1. Mahkota yang dikenakan  adalah Karsuhun untuk perempuan dan Kopiah Cuplak untuk laki-laki.

2. Terate adalah sebuah hiasan dipakai oleh si laki-laki dan perempuan untuk menutupi bagian dada dan pundak. Terate imi bebentuk lingkaran bersudut 5 bermotif bunga melati bersepuh emas. Bagian tepinya terdapat pekatu berbentuk bintang serta rantai dan juntaian lempengan emas berbentuk biji mentimun. Hiasan ini menggambarkan kemegahan dan kesucian.

3. Kebo Munggah atau Kalung Tapak Jajo, yaitu kalung yang terbuat dari emas 24 karat berbentuk lempengan bersusun 3 (khusus untuk yang telah menikah). Kalung ini masih boleh digunakan oleh laki-laki atau wanita yang belum menikah hanya saja terdiri dari lempengan bersusun dua atau satu saja. 

4. Selendang Sawit, ialah salah satu bagian dari pakaian adat Palembang yang terbuat dari emas 22 karat dengan ragam hias sulur dan nada aksen intan di bagian tengahnya. Selendang sawit ini dengan jumlah 2 yang dipakai menyilang dari bahu kiri ke pinggang sebelah kanan, dan dari bahu kanan kepinggang sebelah kiri.

5. Keris. Keris ini dipakai oleh pengantin pria (keturunan raja/bangsawan) yang terselip  di pinggang depan sebelah kanan dengan gagang menghadap keluar. Untuk si laki-laki yang bukan bangsawan atau keturunan raja, kerisnya diletakkan di bagian pinggang belakang. Hal ini bermaksud untuk menghormati para raja atau atasan. Pada jaman dahulu, sarung keris ini dibuat dari emas 20 karat. 

6. Pending, yaitu ikat pinggang laki-laki dan perempuan dengan bentuk lempengan emas berukuran 6×9 cm terbuat dari emas 20 karat. Badong adalah kepala pending yang diukir dengan motif ragam hias naga, burung hong daun, dan bunga.

7. Gelang Palak Ulo, y aitu gelang emas 24 karat dengan taburan berlian berbentuk ular naga bersisik dan berpulir. Gelang ini hanya digunakan oleh si-perempuan di bagian lengannya.

8. Gelang Kecak. Gelang Kecak adalah gelang emas 24 karat berwujud mata berhias pekatu polos dan ditengahnya ada dua tumpukan lingkaran berhias emas. Gelang ini dipakai  oleh kedua mempelai dibagian pangkal lengan.

9, Gelang Sempuru dan Gelang Kanu.

10. Saputangan Segitigo, adalah saputangan yang dibuat dari beludru dengan warna merah yang salah satu sisinya bertabur kelopak bunga melati dari emas. Di pinggir saputangan ini ada rantai dan juntaian bandul juga lempengan logam berbantuk wajik. Dipakai oleh mempelai pria di jari tengah sebelah kanan (Aesan Gade), atau dipakai mempelai pria di telunjuk sebelah kiri (Aesan Paksangko).

11. Trompah, adalah sejenis sepatu yang dikenakan oleh kedua mempelai pengantin biasanya berwarna senada dengan atasan untuk terlihat serasi.

Dari 13 kabupaten dan 4 kota di Sumatra Selatan ini, Masing-masing daerah mempunyai corak yang berbeda-beda. Daerah tersebut adalah :
  1. Kabupaten Banyuasin
  2. Kabupaten Empat Lawang
  3. Kabupaten Lahat
  4. Kabupaten Muara Enim
  5. Kabupaten Musi Banyuasin
  6. Kabupaten Musi Rawas
  7. Kabupaten Musi Rawas Utara
  8. Kabupaten Ogan Ilir
  9. Kabupaten Ogan Komering Ilir
  10. Kabupaten Ogan Komering Ulu
  11. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
  12. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
  13. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir
  14. Kota Lubuklinggau
  15. Kota Pagar Alam
  16. Kota Palembang
  17. Kota Prabumulih.

Letak dari masing-masing daerah di atas dapat anda lihat di: Peta Sumatra Selatan

Namun demikian, hampir semua pakaian adat Sumatera Selatan masih memakai kain songket asli dengan teknik pembuatan manual . Tentu hal ini memerlukan kesabaran, ketelatenan, dan maha karya seni yang tinggi.

Dari semua daerah di Sumatera Selatan, masing-masing tentu memiliki unsur Melayu yang sangat kuat dengan tetap mengedepankan nilai-nilai budaya dan norma kesopanan yang sudah seharusnya tetap kita jaga dan kita lestarikan untuk warisan anak cucu kita kelak.

Demikian pembahasan mengenai “Jenis Pakaian Adat Sumatera Selatan dan Lengkap Penjelasannya’’, semoga menambah wawasan dan kesadaran kita akan agungnya budaya bangsa Indonesia.

Untuk mengetahui jenis pakaian adat Indonesia silahkan kunjungi: 34 Gambar Pakaian Adat

Popular posts from this blog

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya

Peta Pulau Jawa Lengkap dengan keterangannya - Seperti telah kita ketahui bahwa pulau Jawa merupakan pulau yang lebih padat penduduknya daripada pulau-pulau lain di Indonesia. Selain itu, Pulau Jawa Dwipa bisa dikatakan sebagai pusat sejarah peradaban sejak zaman kerajaan, sebagai contoh zaman Kerajaan Majapahit.
Pulau Jawa sampai saat admin menuliskan ini dibagi dalam 4 provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing provinsi membawahi kabupaten dan kota administratif.
Pulau Jawa merupakan pulau yang subur makmur dengan batas-batasnya sebagai berikut: sebelah barat: Selat SundaSebelah timur: Selat Balisebelah utara: Laut Jawasebelah selatan: Samudera Indonesia/Samudera Hindia
Gambar Peta Pulau Jawa Mengacu pada judul di atas, kali ini sejarah negara akan melampirkan Peta Pulau Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Karena wilayahnya memanjang dari barat ke timur peta tersebut ukurannya …

Sebab umum dan sebab khusus Perang Diponegoro

Sejarah Nasional.Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1830. Hal ini secara gamblang telah di bahas pada artikel Perang Diponegoro terjadi tahun 1825-1830. Untuk kali ini Sejarah Nasional dan Dunia akan membahas secara lebih spesifik tentang penyebab terjadinya perang tersebut.
Sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Berikut pembahasannya.
Sebab umum Rakyat dibelit oleh berbagai bentuk pajak dan pungutan yang menjadi beban turun-temurun.Pihak keraton Jogjakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial.Kalangan keraton hidup mewah dan tidak mempedulikan penderitaan rakyat.
Sebab khusus Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan, karena menolak berkompromi dengan pemerintah kolonial. Pangeran Diponegoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo untuk memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan.Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yan…

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Turunnya Soeharto dari jabatan kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia. Perkembangan politik ketika itu ditandai dengan pergantian presiden di Indonesia. Seperti telah di bahas pada Kronologi reformasi indonesia tahun 1998, bahwa Segera setelah Soeharto mengundurkan diri, Mahkamah Agung mengambil sumpah Baharuddin Jusuf Habibie sebagai presiden.

Masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie berlangsung dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Pengangkatan Habibie sebagai presiden ini memunculkan kontroversi di masyarakat. Pihak yang pro menganggap pengangkatan Habibie sudah konstitusional, sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa Habibie sebagai kelanjutan dari era Soeharto dan pengangkatannya dianggap tidak konstitusional.

Pengambilan sumpah beliau sebagai presiden dilakukan di Credential Room, Istana Merdeka. Dalam pidato yang pertama setelah pengangkatannya, B.J. Habibie menyampaikan hal-hal sebagai berikut : Mohon dukungan dari …