X

Kalimantan Barat

Kalimantan Barat adalah salah satu dari 5 provinsi yang ada di Pulau Kalimantan. Sesuai namanya, provinsi yang sering disingkat Kalbar ini terletak di Kalimantan bagian barat dengan ibukotanya Kota Pontianak. Kalimantan Barat merupakan provinsi terluas ke-4 setelah Papua, Kaltim, dan Kalteng, dengan luas wilayah wilayahnya kurang lebih 146.807 km².

Kalimantan Barat dijuluki provinsi Seribu Sungai. Hal ini sesuai kondisi geografisnya yang memiliki ratusan sungai besar dan kecil. Sungai-sungai besar masih menjadi jalur utama sebagai transportasi air masyarakat pedalaman.

Wilayah darat Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan negara bagian Malaysia, yaitu Sarawak. Kalbar mempunyai wilayah berupa puluhan pulau besar dan kecil yang sebagian belum ada penghuninya, dan tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna perbatasan wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Kilas Sejarah Kalimantan Barat

Pada zaman kerajaan, sebuah wilayah Bakulapura atau Tanjungpura konon menjadi taklukan Kerajaan Singasari. Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah negara kerajaan induk, yaitu: Borneo (sekarang Brunei), Sukadana (Tanjungpura) dan Banjarmasin (Bumi Kencana).

Daerah-daerah di Kalimantan Barat yang terkenal sejak zaman dahulu adalah Tanjungpura dan Batang Lawai. Daerah Loue (Lawai) oleh Tomé Pires digambarkan sebagai daerah yang memiliki banyak intan. Tanjungpura dan Lawai dahulu dipimpin oleh seorang Patih (Patee), di mana ia tunduk dan patuh kepada Pati Unus, sang raja Demak kala itu.

Kerajaan Demak pernah berjasa membantu raja Banjar bergelar Pangeran Samudera yang sedang berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung, penguasa Kerajaan Negara Daha terakhir yang memperebutkan wilayah Kalimantan Selatan.

Berdasarkan naskah Hikayat Banjar dan Kotawaringin, Sambas, Sukadana dan negeri-negeri di Batang Lawai (sungai Kapuas) pernah menjadi taklukan Kerajaan Banjar.

Kerajaan Banjar menyebut kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat sebagai negeri-negeri di bawah angin. Dikala pemerintahan Raja Maruhum Panambahan seorang Adipati Sambas/Panembahan Ratu Sambas pernah mengirim upeti berupa 2 biji intan berukuran besar yang dinamakan Si Giwang dan Si Misim.

Tahun 1604 untuk kali pertama Belanda mengadakan hubungan dagang dengan Sukadana. Di sambas tahun 1609, terjadi kekhawatiran yang besar akan serangan Brunei, sehingga penguasa Saboa Tangan Pangeran ay de Paty Sambas mengadakan aliansi dengan VOC pada 1 Oktober 1609, dalam rangka memperkuat negaranya dari serangan musuh-musuhnya.

Pada tahun 1672, Sultan Banjar mengangkat Raja Sintang sebagai Sultan. Di perjanjian 20 Oktober 1756, VOC berjanji akan membantu Sultan Banjar (Tamjidullah I) menaklukan kembali wilayah-wilayah yang telah memisahkan diri dari Kerajaan Banjar. Daerah tersebut antara lain Sanggau, Sintang dan Lawai (Melawi). Sedangkan beberapa daerah lain masih di bawah Kesultanan Banten, terkecuali Sambas.

Di dalam akta 26 Maret 1778 negeri Landak dan Sukadana diserahkan kepada VOC oleh Sultan Banten. Wilayah inilah yang pertama kali menjadi milik VOC selain daerah Sambas.

Pada tahun itu Syarif Abdurrahman Alkadrie yang telah dilantik di Banjarmasin sebagai Pangeran bergelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam diijinkan oleh VOC sebagai Sultan Pontianak pertama dalam wilayah milik Belanda tersebut.

Tahun 1789 Sultan Pontianak dibantu Kongsi Lan Fang diperintahkan VOC untuk menduduki negeri Mempawah yang kemudian menaklukan Sanggau.

Tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam dari Banjar menyerahkan Jelai, Sintang dan Lawai kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pada tahun 1846 daerah koloni Belanda memperoleh pemerintahan khusus sebagai Dependensi Borneo.

Pantai barat Borneo terdiri dari asisten residen Sambas dan asisten residen Pontianak. Divisi Sambas mencakup daerah dari Tanjung Dato hingga muara sungai Doeri. Sedangkan divisi Pontianak sebagai wilayah di bawah asisten residen Pontianak meliputi distrik Pontianak, Mempawah, Landak, Kubu, Simpang, Sukadana, Matan, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Sepapoe, Belitang, Silat, Salimbau, Piassa, Jongkong, Boenoet, Malor, Taman, Ketan, dan Poenan.

Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indie tahun 1849, 14 daerah di wilayah ini termasuk dalam wester-afdeeling berdasarkan Besluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8.

Tahun 1855, Sambas dimasukkan ke dalam wilayah Hindia Belanda menjadi Karesidenan Sambas.

Hikayat Malaysia mencatat bahwa Brunei dan Singapore merupakan wilayah yang tidak bisa dikuasai oleh kerajaan Hindu hingga kesultanan Islam di Kalimantan Barat, seperti Negeri Sambas dan sekitarnya.

Menurut Brunei Darussalam, Hikayat Banjar adalah palsu yang tidak dibuat oleh kesultanan Banjar itu sendiri, melainkan dari tangan-tangan yang ingin merusak nama Kalimantan Barat, dengan cara disebarluaskan ke seluruh wilayah Nusantara hingga saat ini. Sebab, menurut penelitian para ahli psikolog di dunia, Negeri Sambas tidak pernah kalah dan takluk dengan Negara manapun.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal yang dimuat dalam STB 1938 No. 352, antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibu kota wilayah administratif Gouvernement Borneo berkedudukan di Banjarmasin dibagi atas 2 Residentir, satu di antaranya adalah Residentie Westerafdeeling Van Borneo dengan beribukota di Pontianak dan dipimpin oleh seorang Residen.

Provinsi Kalimantan Barat resmi berdiri menjadi provinsi pada tanggal 1 Januari 1957, dengan dasar Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang tersebut juga menjadi dasar pembentukan dua provinsi lainnya di pulau Kalimantan ini, yaitu Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Batas Wilayah Kalimantan Barat

Batas-batas wilayah Provinsi Kalimantan Barat meliputi sebagai berikut:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Sarawak, Malaysia Timur.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Tengah
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Natuna, Selat Karimata dan Semenanjung Malaysia

Daftar kabupaten dan kota di Kalimantan Barat

Provinsi Kalimantan Barat dibagi 12 kabupaten dan 2 kota, 660 kecamatan, 8.513 desa/kelurahan, adapun nama-nama kabupaten dan kota tersebut adalah sebagai berikut.

Kab./KotaPusat Pemerintahan
Kabupaten BengkayangBengkayang
Kabupaten Kapuas HuluPutussibau
Kabupaten Kayong UtaraSukadana
Kabupaten KetapangKetapang
Kabupaten Kubu RayaKubu
Kabupaten LandakNgabang
Kabupaten MelawNanga Pinoh
Kabupaten MempawahMempawah
Kabupaten SambasSambas
Kabupaten SanggauSanggau
Kabupaten SekadauSekadau
Kabupaten SintangSintang
Kota Pontianak
Kota Singkawang

Ringkasan

Secara ringkas, Provinsi Kalimantan Barat dapat digambarkan sebagai berikut:

ProvinsiKalimantan Barat
PulauKalimantan
Ibu KotaPontianak
Hari jadi1 Januari 1957
Dasar HukumUndang – Undang No 25 Tahun 1956
Luas wilayah146.807 km²
SemboyanAkCaya (Tak Kunjung Binasa)
Bendera
Bendera Kalimantan Barat
Lambang
Lambang Kalimantan Barat
Peta Wilayah
Peta Kalimantan Barat
Pembagian administratif12 kabupaten dan 2 kota, 660 kecamatan, 8.513 desa/kelurahan
Kode BPS61
Kode ISOID-KB
Kode kendaraanKB
Kode telepon0564-0568, 0534
Kode pos78111-79682
Zona waktuWaktu Indonesia Tengah (WITA)
Kebudayaan1. Pakaian Adat Kalimantan Barat
2. Senjata tradisional Kalimantan Barat
3. Rumah Adat Kalimantan Barat
Lagu DaerahCik Cik Periuk, Aek Kapuas, Masjid Jami’, Alon-Alon, Kapal Belon
Obyek wisataPotensi Wisata Di Kalimantan Barat
FloraTengkawang tungkul (Shorea stenoptera)
FaunaEnggang Gading (Rhinoplax vigil)
Produk domestik regional bruto per kapitaTidak ada data
Situs web resmiwww.kalbar.go.id
Situs BPSwww.kalbar.bps.go.id

Kalimantan Barat

Categories: Provinsi