Hegel: Filsafat Sejarah

Hegel: Filsafat Sejarah – Nama lengkap Hegel adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Ia lahir 27 Agustus 1770 dan meninggal tanggal 14 November 1831 pada umur 61 tahun. Hegel adalah seorang filsuf idealis berkebangsaan Jerman yang lahir di Stuttgart, Wurttemberg.

Dialektika

Dialektika

Contoh Dialektika

  • Tentang bentuk negara
  • Tesis: Negara Diktator. Di Negara ini hidup kemasyarakatan diatur, akan tetapi warganya tidak mempunyai kebebasan apapun juga.
  • Antitesis: Negara Anarki. Dalam negara anarki para warganya mempunyai kebebasan tanpa batas, tetapi hidup kemasyarakatan menjadi kacau.
  • Sintesis: Negara konstitusional. Sintesis ini mendamaikan antara pemerintahan diktator dengan anarki menjadi demokrasi.

Tujuan Filsuf Sejarah

Hegel berpendapat bahwa tugas seorang filsuf sejarah adalah menemukan rasionalitas sejarah, yakni arti dari tujuan dalam proses sejarah secara keseluruhan serta mencoba untuk menjawab apakah sejarah lebih dari hanya sekedar rangkaian peristiwa yang berkaitan satu sama lain?

Asumsi

  • Menurut Hegel, hanya ada satu asumsi pokok dalam pendekatan sejarah, yakni alasan/tujuannya, sehingga oleh karena itu sejarah hadir (terjadi) dengan suatu proses rasional.
  • Dasar dari kesadaran manusia berubah dari generasi ke generasi.
  • Tidak ada “kebenaran abadi” atau “akal yang kekal”.
  • Satu-satunya hal yang dapat dijadikan pegangan adalah “sejarah”.

Analogi Sungai

  • Sejarah itu seperti sungai, ia selalu berubah,
  • Kita tidak dapat menyebut titik tertentu dari sungai yang merupakan “sungai yang paling benar”
  • Namun demikian bukan berarti kita tidak bisa berbicara tentang sungai itu secara umum.
  • Akal Ibarat Aliran sungainya.
  • Sebuah pemikiran tidak bisa disebut benar selamanya, bisa benar sekarang dan disini saja lalu tidak relevan lagi untuk besok di dan tempat yang lain.
  • Tidak ada kriteria di luar proses sejarah untuk menentukan mana yang paling benar/paling masuk akal dari berbagai pemikiran yang ada.

Ide – Alam – Roh

  • Ide dalam dirinya sendiri adalah sesuatu yang terus berkembang, dinamika realitas dari dan yang berdiri dibalik layar- atau “sebelum-dunia”.
  • Antitesis dari ide yang berada di luar dirinya, yaitu Ruang, adalah Alam. Alam terus berkembang, setelah mengalami taraf perkembangan kehidupan mineral dan tumbuhan kedalam diri manusia.
  • Dalam diri manusia terdapat kesadaran yang membuat ide menjadi sadar akan dirinya sendiri. Kesadaran diri ini oleh Hegel disebut Roh.
  • Sejarah adalah proses yang dilalui oleh roh untuk menyadari dirinya.

‘WHAT IS REASONABLE IS REAL; THAT
WHICH IS REAL IS REASONABLE.’

Ruh Dunia / Akal Dunia

  • Sebagaimana orang bisa berbicara tentang sungai secara umum meskipun ia selalu berubah, demikian juga orang bisa berbicara tentang perkembangan pemikiran manusia secara umum (spirit/trend/paradigma/kecenderungan universal).
  • Kecenderungan umum itu bisa disebut sebagai Ruh Dunia/ Akal Dunia.
  • SEMAKIN LAMA MANUSIA SEMAKIN MAJU MENUJU PENGETAHUAN DIRI DAN KESADARAN DIRI YANG SEMAKIN MENINGKAT.
  • RUH DUNIA merupakan kesadaran berproses dari Ruh Subyektif (kesadaran individu) – berkembang lebih tinggi dalam masyarakat menjadi Ruh Obyektif (Kesadaran sosial)-berkembang lagi menjadi Ruh Mutlak dalam seni, agama dan filsafat. Hal ini dijelaskan oleh Hegel dalam Fenomenologi Ruh.

Fenomenologi Roh

  • Mula-mula roh itu merupakan roh subjektif, kemudian roh objektif, dan akhirnya roh mutlak.
  • Sebagai roh subjektif, roh itu mengenal dirinya dan merupakan tiga tingkatan: antropologi, fenomologi, dan psikologi. Dalam antropologi, roh mengenali dirinya dalam alam. Dalam fenomenologi, roh mengenali dirinya dalam perbedaannya dengan alam. Dalam psikologi, roh mengenal dirinya dalam kemerdekaan terhadap alam, mula-mula teoritis, kemudian praktis dan akhirnya merdekalah roh itu, meningkat kepada roh obyektif.
  • Roh objektif ini roh mutlak yang menjelma pada bentuk-bentuk kemasyarakatan manusia, hak dan hukum kesusilaan dan kebajikan. Tesis: hukum, Anti-tesis: Kesusilaan, Sintesis: kebajikan. Sampailah sekarang kepada roh mutlak.
  • Roh mutlak itu ialah idea yang mengenal dirinya dengan sempurna dan merupakan sintesis dari roh subjektif dan objektif. Tak ada lagi pertentangan antara subjek dan objek antara berpikir dan ada.

Roh Obyektif

  • Kesadaran diri paling rendah (primitive): hasrat, dibatasi oleh kehadiran orang lain. Kesadaran ini lalu berkembang saat mampu mengenali diri bukan hanya dalam diri sendiri, namun dalam diri orang lain (Kesadaran ke-Kita-an, kesadaran sosial).
  • Dialektika Tuan-Budak: Tuan mengenal dan menguasai dirinya dengan cara memaksakan kesadarannya sendiri sebagai kesadaran yang lain. Budak, sebaliknya, mengenal dirinya dalam kesadaran yang lain, yakni kesadaran tuannya. Selanjutnya yang terjadi adalah sebaliknya: Karena Tuan memposisikan budak sebagai bukan diri yang lain, kesadarannya merosot ke taraf primitive (hasrat), sebaliknya dengan mengerjakan kehendak tuan, budak justru menyadari dirinya lewat hasil kerjanya dan dia menjadi tuan atas alam.

Roh Mutlak

  • Roh Mutlak itu dapat dipahami dalam tiga bentuk pengetahuan: seni, agama dan filsafat.
  • Oleh karena roh mutlak ini sebenarnya gerak juga, maka dia menunjukkan perkembangan juga: seni (tesis), agama (antitesis) dan kemudian filsafat (sintesis).
  • Seni itu memperlihatkan idea dalam pandangan indera terhadap dunia, objeknya masih di luar subjek. Adapun agama tidak lagi mempunyai objek di luar objek, melainkan di dalamnya. Tetapi segala pengertian dan gambaran agama itu dianggap ada.
  • Filsafat akhirnya merupakan sintesis dari seni dan agama merupakan paduan yang lebih tinggi. Di sinilah idea mengenal dirinya dengan sempurna.

Penulisan Sejarah Asli

  • Masa silam seolah-olah berbicara sendiri yaitu laporan seseorang mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zamannya sendiri.
  • Sejarah jenis ini mendasarkan dirinya pada sepenuhnya fakta yang terjadi di sekitar penulis sejarah. Dan penulis sejarah itu sendiri berada di dalam sejarah yang ia tulis sendiri, baik sebagai pelaku sejarah maupun penonton yang penuh perhatian.

Penulisan Sejarah Reflektif

  • Mengambil jarak terhadap masa silam sehingga menciptakan ruang bagi suatu penilaian oleh roh subjektif.

ADA 4 JENIS:

  1. Pragmatis, untuk tujuan tertentu, misalnya ‘moral’
  2. Informatif, memahami secara komprehensif babak sejarah tertentu.
  3. Kritis, sebuah kritik terhadap penceritaan sejarah dan sebuah pengkajian atas kebenaran dan kredibilitasnya. Model penulisan sejarah ini lebih bersifat menggugat dan menentang fakta sejarah yang telah ditetapkan.
  4. Tematik, sejarah yang disajikan berdasar tema-tema tertentu, misalnya Sejarah Seni, Hukum atau Agama.

Penulisan Sejarah Filosofis

DIPEROLEH SUATU PENGERTIAN DEFINITIF MENGENAI SIFAT SEJARAH. AKAL MENGENAL KEMBALI DIRINYA SENDIRI DALAM BENTUK YANG DIHASILKAN OLEH PENAMPILAN DIRI LEWAT PROSES SEJARAH.

Esensi Sejarah: Rasionalitas dan Kebebasan

  • Sejarah bergerak linier; gerak kearah rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar.
  • Sejarah dimulai dari kekurangbebasan, Ruh Dunia yang kurang sadar diri.
  • Dimulai dari Orang Timur. Orang Timur telah tahu bahwa manusia itu bebas namun kebebasannya hanyalah aksidensi dari Alam. Alam pikiran manusia masih dikuasai oleh bayang-bayang kekuasaan Alam yang serba misterius.
  • Kemudian, kesadaran akan kebebasan lahir di Yunani dan Romawi. Itu pun hanya sebagian manusia, tidak manusia secara utuh. Sebagian manusia masih berada di dalam bayang-bayang perbudakan. Kebebasan tumbuh dan berlaku bagi sebagian manusia, sifatnya terbatas dan sementara saja.
  • Maka bangsa Jerman, di bawah pengaruh agama kristenlah yang benar-benar mencapai taraf kesadaran dirinya yang utuh. Bahwa manusia sebagai manusia adalah bebas. Bangsa Jerman, bagi Hegel adalah model Ruh Dunia (yang sadar diri) mencapai kematangan sejarah yaitu kebebasan.

RUH DUNIA ITU SELALU BERGERAK KE ARAH YANG LEBIH RASIONAL

Kesadaran Kebebasan

ORIENTAL

  • DESPOTISME
  • TESIS: Hanya Satu Orang bebas
  • ANTI-TESIS: Semua yang lain tidak bebas

CLASSICAL

  • CITY-STATE (DEMOKRASI)
  • TESIS: Beberapa orang bebas
  • ANTI-TESIS: Sebagian besar orang tidak bebas

GERMANIC

  • JERMAN
  • TESIS: Semua orang bebas, agama tidak dipaksakan

Jenis Kebebasan

Kebebasan formal: kebebasan individual, yang berasal dari sifat alamiah seperti: kehidupan, kebebasan bertindak dan properti (hak milik). Kebebasan ini bersifat abstrak dan negatif. Bagi Hegel, inilah kebebasan dari penguasa yang menindas.

Kebebasan substansial: merupakan kebebasan ideal, merupakan kebebasan mewujudkan cita-cita moral masyarakat. Kebebasan ini hanya dapat diraih dari negara. Disinilah cita-cita etika dan jiwa fundamental orang-orang dalam hukum dan institusi-institusinya dapat di capai.

Negara

  • Negara merupakan manifestasi dari ide universal. Sedangkan individu (orang per orang) merupakan penjelmaan dari ide partikular yang tidak utuh, dan merupakan bentuk kepentingan yang sempit.
  • Negara memperjuangkan kepentingan yang lebih besar, memperjuangkan atau merealisasikan ide besar. Keinginan negara merupakan keinginan umum untuk kebaikan semua orang, karenanya negara harus dipatuhi dan negara dapat memaksakan keinginannya pada warganya.
  • Negara adalah “penjelmaan dari kemerdekaan rasional, yang menyatakan dirinya dalam bentuk objektif”.
  • Negara bukan dibentuk dari kesepakatan bersama rakyatnya, namun negaralah yang membentuk rakyatnya. Hegel menganggap negara sebagai Divine Idea as it Exists on Earth.

Keterasingan

  • Keterasingan merupakan kondisi dimana seseorang tidak bisa mengidentifikasi diri dengan moralitas publik dan institusi masyarakat.
  • Dalam pandangan Hegel, jika kita membenci budaya kita dan tidak sependapat dengan cita-cita dan institusi masyarakat kita maka kita berada dalam keterasingan.
  • Keterasingan terdiri dari banyak komponen yaitu: perasaan menjadi asing diri, terputus dari perasaan sendiri ataupun identitasnya sendiri, Perasaan tidak memiliki norma, tidak memiliki arti, lemah dan lain-lain. Keterasingan ini berasal dari kegagalan kehendak individu untuk beradaptasi dengan yang lebih besar yaitu kemauan masyarakat.

MP3

Silahkan dengarkan kajian lengkap filsafat sejarah Hegel oleh Bp. Fahruddin Faiz di bawah ini:

DOWNLOAD

Quotes

Quote
Quote2
Quote3
Quote4

Lisensi

mjscolombo

Ngaji Filsafat G.W.F. Hegel: Sejarah.

Edisi: Filsafat Sejarah ke 172, Bersama Dr. Fahruddin Faiz, di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, 01 November 2017

Website: mjscolombo.com

Hegel: Filsafat Sejarah