Mineral Lebih Tua dari Tata Surya di Temukan Para Ilmuwan

13 views

Sejarah Negara Com – Baru-baru ini para ilmuwan kembali mengklaim temuannya berupa butiran mineral kecil yang konon umurnya lebih tua dari matahari dan tata surya kita. Butiran tersebut diperkirakan terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

Dikutip dari laporan Discover Magazine (13/01), beberapa butir “presolar” tersebut berusia sekitar 5 miliar dan 7 miliar tahun. Karenanya, benda itu merupakan benda tertua yang diketahui di Bumi selam ini.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 13 Januari di Prosiding National Academy of Sciences, tim peneliti menganalisis 50 butir presolar yang mengandung mineral yang disebut silikon karbida.

Tim ini dipimpin oleh seorang kosmokimiawan bernama Philipp Heck dari Field Museum di Chicago. Sampel berasal dari meteorit Murchison yang jatuh ke Bumi di Australia pada tahun 1969.

“Saya masih bersemangat untuk mengekstraksi mineral, dan mempelajari sesuatu tentang sejarah galaksi kita,” kata Heck.

Awalnya, butiran persolar terbentuk di ruang antar bintang yang kemudian terkondensasi menjadi debu. Para ilmuwan juga mengidentifikasikan butir itu ada kemungkinan tercipta setelah ledakan dalam pembentukan bintang yang dialami Bima Sakti sekitar 7 miliar tahun yang lalu.

Dengan ditemukannya benda baru ini, para peneliti dapat mempelajari meteorit agar lebih memahami sejarah terbentuknya bintang di galaksi.

Saat bintang-bintang kecil dan menengah berukuran 0,5 – 5 kali massa matahari mendekati akhir hidup, ia akan berkembang menjadi bintang-bintang raksasa merah. Kemudian menghasilkan awan materi yang indah dan mengembang, para astronom menyebutnya dengan nebula planet.

Seiring berjalannya waktu, materi dalam nebula planet tersebut mendingin dan mengembun yang kemudian menjadi butiran debu dan mineral. Selanjutnya, beberapa butiran akan masuk ke dalam rumpun gas antar-bintang, membantu membentuk generasi bintang baru, planet, asteroid dan sebagainya.

Butir presolar hadir di Bumi pada saat pertama kali terbentuk sekarang telah lama hilang, diubah secara alamiah oleh proses geologis planet Bumi, termasuk gunung berapi dan melalui lempeng tektonik. Namun, meteorit yang jatuh dari ruang angkasa ke bumi masih mempertahankan kapsul waktu kosmik ini.

Sejak para ilmuwan menemukan butiran presolar dalam meteorit pada 1987, mereka telah mempelajari untuk mencari tahu berapa usia dan dari mana benda tersebut berasal.

Saat partikel-partikel kecil dan energik (disebut sinar kosmik) menembus ruang dapat menyerang mineral di dalam batu, bak peluru kecil. Hal ini, pada gilirannya akan menyebabkan beberapa atom silikon dan karbon dalam mineral yang terfragmentasi menjadi unsur-unsur lain seperti helium dan neon.

Dengan melakukan pengukuran berapa banyak mineral dari meteorit Murchison diubah menjadi helium dan neon, para ilmuwan dapat menentukan berapa lama mereka telah terpapar sinar kosmik untuk kemudian bisa memprediksi berapa usianya.

Para ilmuwan telah memperkirakan bahwa usia butiran silikon karbida itu berkisar 3 miliar tahun lebih tua dari matahari. Sebagian besar dari butiran ini berada di sisi yang lebih muda, meskipun ⁠hanya 4 juta hingga 300 juta tahun lebih tua dari matahari.

Heck bersama timnya berpikir melimpahnya butir-butir presolar yang relatif muda mungkin bisa menjadi bukti lebih lanjut bahwa Bimasakti mengalami ledakan pembentukan bintang sekitar 7 miliar tahun yang lalu.

Dengan metode lain, para astronom juga telah menemukan petunjuk bahwa Bimasakti mungkin mengalami lebih banyak pembentukan bintang rata-rata sekitar 7 miliar tahun yang lalu. Jadi, waktu yang dibutuhkan bintang-bintang ini untuk menjadi bintang raksasa merah dan nebula planet, seharusnya ada peningkatan butiran debu yang terbentuk jutaan tahun sebelum matahari terbentuk.

Posting Terkait