Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani epistēmē, “pengetahuan”, pemahaman”, and λόγος – logos, adalah cabang filsafat yang membahas tentang ciri dan ranah pengetahuan; dikenal juga sebagai “filsafat pengetahuan” atau “teori pengetahuan”.

Sebelum kita bahas lebih jauh, ada baiknya anda tahu terlebih dahulu bahwa materi ini di kaji oleh Bp. Doktor Fahruddin Faiz bertempat di Masjid Jenderal Sudirman (MJS), Sleman Yogyakarta. Kajian lebih mendalam bisa anda dengarkan file rekamannya yang kami sertakan di bawah artikel ini.

Pokok Bahasan

Pokok-pokok bahasan yang dikaji oleh beliau Bp. Faiz mengenai epistemologi adalah sebagai berikut:

Masalah-masalah dalam Epistemologi

  • Apakah manusia mampu mengetahui hakekat, keabsahan dan kebenaran pengetahuan?
  • Apakah pengetahuan itu bersifat kemungkinan atau suatu keyakinan tanpa celah keraguan?
  • Dengan cara apa kita dapat mengetahui?
  • Bagaimana pengetahuan muncul, apakah dari luar atau dari dalam?
  • Bagaimana pengetahuan diperoleh, apakah dengan intuisi, akal atau indera, atau secara bersama, dan apakah masing-masing punya keabsahannya sendiri-sendiri?

Jenis Epistemologi Berdasarkan Pandangan Atas Realitas

1. Epistemological idealism (Subjectivism): kenyataan dunia yang diperspsi tergantung pada kesadaran.

2. Epistemological realist (Objectivism) : ada realitas yang bebas dari kesadaran.

Obyek Pengetahuan

  1. Fenomena/gejala alam fisis (External world)
  2. Masa lalu (the Past)
  3. Masa depan (The future)
  4. Values (etis, estetis, religius)
  5. Mind (dimensi dalam/psikis)

Sumber-sumber Pengetahuan

  1. Authority
  2. Sense Perception
  3. Reason
  4. Intuition

Alat Pengetahuan

  1. Panca Indera
  2. Akal
  3. Nurani
  4. Naluri
  5. Intuisi
  6. Imajinasi

Jenis Pengetahuan

  1. Biasa
  2. ilmiah
  3. Teknologi
  4. Ideologi
  5. Filosofis
  6. Mistis/Agama

Proses Lahirnya Pengetahuan

  1. Pendekatan non-ilmiah
  2. Pendekatan ilmiah

Pendekatan non-ilmiah

1. Penemuan kebenaran secara kebetulan

Penemuan diperoleh tanpa rencana (tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu). Meskipun demikian, perolehan kebenaran dengan cara ini banyak terjadi dan berguna.

2. Penemuan kebenaran dengan “akal-akalan” (apriori murni)

Akal sehat merupakan serangkaian konsep yang dapat digunakan untuk menyimpulkan hal-hal yang benar. Walaupun demikian, kebenaran yang diperoleh dapat juga menyesatkan

3. Penemuan kebenaran secara intuitif

Dalam hal ini kebenaran diperoleh melalui proses yang tidak disadari atau tidak diperkirakan lebih dahulu tanpa melalui suatu penalaran.

4. Penemuan kebenaran melalui usaha coba-coba

Penemuan ini merupakan hasil usaha percobaan yang dilakukan berulang-ulang (trial and error) tanpa petunjuk pemecahan yang jelas.

5. Penemuan kebenaran melalui kewibawaan

Kebenaran didasarkan kepada reputasi kedudukan seseorang. Pendapat seseorang yang dianggap mempunyai kewibawaan dalam bidang tertentu akan diterima tanpa diuji lagi, walaupun sebenarnya kebenaran pendapat tersebut belum tentu terbukti.

6. Penemuan kebenaran secara spekulatif

Merupakan tral and error yang lebih tinggi tarafnya. Dalam proses penemuannya digunakan pertimbangan sebagai panduan, walaupun pertimbangan yang digunakan kurang dipikirkan secara mendalam.

7. Penemuan kebenaran melalui wahyu

Penemuan kebenaran didasarkan kepada wahyu sebagai pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan YME kepada manusia melalui Nabi-Nabi utusanNya sepanjang zaman.

Pendekatan Ilmiah

Pendapat yang diperoleh dilaksanakan melalui penelitian yaitu suatu penelitian yang sistematis dan terkontrol berdasarkan fakta empiris.

Pendekatan ini disandarkan pada dua cara pokok yaitu rasio (deduktif) dan pengalaman (induktif).

Jika dilakukan penelitian ulang sesuai dengan langkah dan kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang konsisten.

Rekaman

Pembahasan lebih gamblang mengenai Epistemologi yang dikaji oleh Bp. Fahruddin Faiz, silahkan unduh file rekamannya di bawah ini:

DOWNLOAD