Libya

Para ahli sejarah dalam waktu yang lama mengira bahwa Libya tidak memiliki suatu peninggalan sejarah kecuali pusaka yang ditinggalkan oleh suku Berber dan berbagai puing peninggalan kota serta permukiman bangsa Funisia, Yunani, dan Romawi.

Namun, selama beberapa dekade terakhir, para ahli arkeologi, sejarah, dan wisatawan menjumpai banyak lukisan indah yang terlukis di dinding gua di Libya Selatan jauh di daerah gurun pasir. Yang tertua di antara lukisan ini berusia 10.000 tahun.

Beberapa di antara lukisan itu menggambarkan gajah, badak, jerapah, dan binatang lainnya yang kini sudah tidak menghuni Afrika Utara selama ribuan tahun. Beberapa lukisan seringkali ditemukan pada beberapa karya seniman berikutnya.

Namun, tidak seorang pun yang tahu tentang siapa yang melukis berbagai lukisan ini walaupun lukisan ini merupakan petunjuk yang berharga bagi para ahli yang berusaha mengetahui sejarah awal negeri ini.

Geografi Libya

Libya, yang dahulu pantas disebut Kerajaan Gurun Afrika, memiliki garis pantai sepanjang 1.600 km yang membentang antara Tunisia dan Mesir di Afrika Utara. Pantai ketiga negara ini diterpa oleh Laut Tengah.

Dari pantai ke selatan, sejauh 800-1300 km, terdapat wilayah yang sebagian besar berada di Sahara, yaitu lautan pasir yang memisahkan Afrika Utara dengan Afrika khatulistiwa. Dengan wilayah seluas 1.759.540 km2, secara tradisional dianggap terdiri atas tiga wilayah terpisah: Sirenaika di timur, Tripolitania di paling ujung barat laut, dan Fezzan di barat daya.

Peta wilayah Libya

Kunjungi Peta Libya atau di google map

Sirenaika

Pantai Sirenaika menyerupai suatu lengkung yang menjorok ke Laut Tengah. Selain sebuah teluk yang cukup besar yang terletak di dekat Tobruk, pantai Libya memanjang tak terputus. Pegunungan Hijau (Cebel el Akhdar), yaitu suatu plato yang tingginya mencapai 880 m, berdiri sejajar dengan pantai dari Benghazi ke Derna.

Plato ini mendadak meninggi dari dataran rendah pantai yang sempit, tetapi kemudian perlahan-lahan menurun ke arah selatan menuju Gurun Libya, yaitu bagian gurun Sahara. Plato yang subur ini memiliki curah hujan yang cukup tinggi.

Lereng utara tertutup dengan kebun anggur dan buah-buahan lainnya, sedangkan daerah kayunya terdapat di lereng selatan. Di selatan dataran tinggi hampir tidak terdapat pohon, kecuali semak-semak kecil dan rumput. Namun, angin yang menghanguskan dan wilayah yang setengah gersang ini perlahan-lahan ditelan jantung padang pasir.

Tripolitania

Dataran rendah pantai wilayah Tripolitania mengandung banyak oasis. Daerah ini merupakan daerah pertanian yang paling produktif. Antara daerah pantai dan daerah pegunungan terletak dataran berpasir Gefara.

Gebel Nufusa, yang merupakan dataran tinggi antara Nalut dan Kusabat dengan ketinggian antara 460-910 m, terdapat banyak lembah yang luas. Lahan subur wilayah lembah ini memungkinkan orang untuk menanam biji-bijian dan berbagai pepohonan di lerengnya.

Di daerah gurun Sirenaika dan Tripolitania selatan terdapat banyak oasis yang selalu menjadi pusat perdagangan penting antara Afrika utara dan Afrika tengah. Oasis terbesar adalah Kufra dengan daerah yang dapat dihuni seluas 1.110 km2 dan berpenduduk sekitar 5.000 jiwa.

Fezzan

Sebagian besar wilayah Fezzan adalah daerah oasis dan gurun yang luas di Libya barat daya. Sebagian besar lahan di daerah ini adalah gersang dengan berbagai dataran tinggi dan bukit pasir yang besar.

Tibesti Massif terletak sebelah selatan di sepanjang perbatasan dengan Chad. Banyak pohon kurma tumbuh disekitar oasis di Fezzan, yang merupakan sumber pangan utama penduduk.

Di Libya tidak terdapat danau atau sungai yang tetap. Sungai kecil mungkin terbentuk selama musim penghujan, tetapi kemudian menghilang di bulan-bulan musim kering.

Kota

Tripoli dan Benghazi merupakan kota terpenting. Tripoli, yang didirikan lebih dari 2.500 tahun yang lalu, adalah kota pelabuhan, kota terbesar, dan ibu kota Libya. Bagian kota Tripoli terdapat banyak sisa-sisa zaman kuno.

Mungkin, di antara peninggalan yang paling mengesankan adalah gapura kemenangan besar yang terbuat dari marmer putih yang dibangun oleh Romawi untuk menghormati Marcus Aurelius sekitar tahun 163 Masehi.

Di bagian ini pula terdapat bazar yang mempesona bagi banyak orang dari berbagai pelosok negara. Jalan-jalan sempit dan berliku-liku serta kedai-kedai kopi di alun-alun Tripoli kuno penuh dengan orang yang datang ke kota untuk menjual dan membeli barang.

Berbagai kerajinan tangan Arab tradisional terpajang di sepanjang toko berjajar dengan radio, peralatan modern, dan berbagai barang mewah. Di dekatnya, tukang roti bekerja memanggang di depan tungku primitif seperti halnya yang dilakukan oleh leluhur mereka ratusan tahun silam. Di pasar besar di pinggiran Tripoli, para petani menjual dan membeli biri-biri, unta, dan berbagai ternak lainnya.

Di bagian modern, Tripoli terdapat banyak bangunan kantor baru, apartemen, dan hotel yang ber-AC. Banyak toko mobil dapat ditemukan di jalan-jalan pusat kota Tripoli dan di situ terdapat pula banyak toko besar bertingkat. Bulevar yang lebar dan tempat berjalan di pinggir laut yang teduh oleh pohon palem terdapat di sepanjang pantai Laut Tengah.

Benghazi, kota terbesar kedua, terletak di Teluk Sidra. Benghazi merupakan pusat kota dan pelabuhan laut utama di Libya Timur. Kota kuno ini dibangun oleh bangsa Yunani pada abad ke-6 sebelum Masehi.

Beberapa puing selama periode ini masih ada dan tertutup oleh gurun pasir. Seperti halnya Tripoli, Benghazi berkembang pesat sejak ditemukannya endapan minyak yang luas. Berbagai bangunan kantor modern, masjid, dan rumah apartemen mendominasi pemandangan langitnya.

Beida terletak di dekat pantai Laut Tengah, yaitu sekitar 190 km di timur Benghazi. Di waktu lampau, Beida berfungsi sebagai ibu kota Libya di musim panas. Pada tahun-tahun belakangan, pemerintah telah memperluas dan memodernkan kota ini.

Derna, sebuah kota pantai di timur Beida, terletak di kaki Pegunungan Hijau. Derna merupakan kota tua menarik yang dikelilingi oleh banyak pohon palem dan nampak indah oleh bunga melati yang harumnya semerbak.

Setelah tahun 1915, Derna merupakan tempat masyarakat Italia yang besar. Namun, menjelang tahun 1970, sebagian besar orang italia meninggalkan wilayah tersebut.

Tobruk merupakan sebuah kota pelabuhan Laut Tengah di timur laut. Selama babak-babak awal Perang Dunia II, Tobruk merupakan tempat pertempuran yang hebat antara Jerman dan Inggris.

Iklim Libya

lklim di Libya beragam menurut ketinggian tempat dan letaknya dengan laut. Sebagian besar memiliki iklim gurun. Musim panasnya sangat panas dan tak ada hujan, sedangkan musim dingin umumnya sedang dengan cuaca yang sekali-kali dingin.

Hujan hanya turun selama bulan-bulan musim dingin yang pendek dan musim penghujan pun hanya berlangsung selama beberapa hari saja, yaitu ketika hujan turun lebat.

Di musim semi dan musim gugur ghibli, yaitu angin yang membawa pasir, kering dan panas-bertiup dari Sahara. Angin ini biasanya datang selama 1-4 hari sehingga mengakibatkan peningkatan suhu yang cepat dan menghancurkan banyak tanaman.

Penduduk Libya

Mayoritas penduduk Libya adalah bangsa Arab dan Berber. Ikatan keluarganya sangat kuat, kepala rumah tangga sangat dipatuhi oleh keluarga besar dan dihormati oleh seluruh anggota keluarga.

Di negeri ini juga terdapat beberapa kelompok kecil orang Italia, Yunani, dan Malta. Bahasa resminya adalah bahasa Arab, tetapi bahasa Inggris, Italia, dan Berber juga lazim digunakan.

Sebelum bangsa Arab bermukim di Libya, suku Berber telah terlebih dahulu menghuni wilayah ini. Penduduk Arab baik yang bermukim tetap, mengembara, maupun yang setengah mengembara adalah sisa-sisa penyerbuan besar-besaran yang terjadi setelah tahun 600. Selama berabad-abad, suku Berber telah berasimilasi dengan budaya dan cara hidup orang Arab.

Selain yang tinggal di kota-kota daerah Sirenaika, sebagian besar orang Arab adalah kelompok setengah pengembara. Mereka, yang beternak kambing dan biri-biri, mengembara terus mencari makanan dan air bagi ternaknya.

Terdapat juga petani yang tinggal di Pegunungan Hijau yang subur di daerah Sirenaika, yaitu di tempat yang banyak tumbuh gandum hitam, anggur, kurma, buah-buahan, dan gandum.

Orang Arab di daerah Tripolitania sangat menggantungkan hidupnya pada pertanian. Mayoritas penduduk di daerah ini bermukim di ladang-ladang pertanian sepanjang pantai. Iklim di daerah ini cocok untuk berbagai tanaman utama seperti gandum, gandum hitam, zaitun, dan kurma.

Bagi orang yang tinggal sekitar oasis di Libya selatan adalah sangat sulit. Oasis ini biasanya merupakan pedesaan kecil yang padat, dengan jalan-jalan sempit, dan rumah-rumah umumnya berbentuk jajaran genjang dengan halaman sempit.

Pertaniannya terbatas di sekitar tempat berair atau airnya berada dekat ke permukaan tanah. Banyak penduduk daerah Tripolitania bekerja memintal keranjang, menyamak kulit, dan membuat gerabah. Beberapa orang memilih beternak unta karena pekerjaan ini dianggap sebagai profesi terhormat bagi kebanyakan orang di daerah ini.

Suku nomad mengembara di gurun untuk mencari tanah tempat menggembalakan biri-biri dan untanya.

Kehidupan Kota

Banyak di antara petani yang tinggal di daerah pedesaan dan oasis di Libya selatan meninggalkan tempat tinggal mereka dan berpindah ke kota-kota utama di utara. Kesempatan bekerja menjadi semakin besar terutama setelah ditemukannya minyak.

Industri minyak telah menyediakan banyak pekerjaan yang sebelumnya tidak ada. Kini masyarakat juga banyak yang menduduki posisi administrasi di berbagai kantor, bank, dan toko yang sebelumnya dipegang oleh orang asing.

Semakin lama terdapat perubahan penduduk dalam berpakaian. Sebagian besar wanita tua memilih memakai barracano, yaitu jubah besar panjang yang menutupi kepala sampai kaki, kecuali matanya. Namun, orang muda tampaknya lebih suka memakai pakaian model Barat.

Pendidikan

Pemerintah Libya sedang memprioritaskan sebagian besar hasil kekayaan minyaknya bagi pendidikan. Sebelum tahun 1960, hanya sejumlah kecil anak-anak bersekolah di beberapa sekolah, juga di berbagai kota bagian utara.

Namun, di awal tahun 1960-an, didirikanlah sekolah di seluruh negara. Pendidikan adalah wajib dan gratis bagi semua anak usia 6-12 tahun.

Universitas di Libya antara lain Universitas Alfatah di Tripoli, Universitas Garyounis, dengan kampusnya di Benghazi dan Beida (kedua universitas itu sebelumnya lebih dikenal dengan Universitas Libya), dan Universitas Teknik Bright Star yang didirikan pada tahun 1981.

Agama

Hampir 97% penduduk Libya beragama Islam, yang merupakan agama negara. Di tahun 1804 an, Sayyid Muhammad bin Ali al-Senusi mulai berdakwah tentang Islam kepada setiap orang di negeri ini sampai mendalam.

Dia menekankan perlunya kembali kepada ajaran Islam yang asli. Dakwahnya merupakan gerakan reformasi yang didasarkan pada pemahaman terhadap kitab suci Al Quran dan hadis Nabi Muhammad.

Senusi yang Agung, yaitu julukan Sayyid Muhammad kemudian, mengirimkan banyak mubalig untuk tinggal di antara kelompok berbeda yang terpencar di seluruh Libya.

Zawiya (pondok pesantren) didirikan di tengah masyarakat. Setiap Zawiya dipimpin oleh seorang syeh, atau kyai, atas tunjukkan Senusi yang Agung. Syeh itulah pendidik masyarakat dan bertindak sebagai administrator, hakim, juru damai, dan pemimpin keagamaan.

Ekonomi

Dengan ditemukannya ladang minyak utama pertama pada tahun 1959, posisi ekonomi Libya di dunia berubah secara drastis. Minyak menjadi produk utama dan merupakan sumber devisa utama. Minyak kini meliputi sekitar 95% seluruh ekspor sehingga membuat negeri ini menjadi salah satu negara produsen minyak terkemuka di dunia.

Secara umum Libya masih merupakan negara pertanian. Sekitar tiga perempat penduduknya sibuk menanam berbagai tanaman dan beternak hewan. Biji-bijian, sayuran, kurma, jeruk, dan zaitun merupakan produk tanaman utamanya.

Daerah oasis di selatan menghasilkan berbagai ragam sayuran dan buah-buahan, tetapi kurma tetap merupakan produk utama daerah oasis. Berbagai jenis makanan ini biasanya merupakan tanaman kebutuhan pokok, meskipun beberapa di antaranya diekspor atau diperdagangkan.

Libya kaya dengan ternak-biri biri, kambing, sapi, dan unta, sedangkan kuda dan keledai jumlahnya jauh lebih sedikit.

Sejarah dan Pemerintahan Libya

Meskipun lukisan dinding gua yang ditemukan di Sahara berusia 10.000 tahun, Libya baru dikenal setelah datangnya suku Berber sekitar 4.000 tahun silam. Berber diperkirakan datang dari daerah timur Laut Tengah sekitar tahun 2.000 sebelum Masehi.

Sekitar abad ke-7, bangsa Funisia datang ke Afrika timur laut sehingga mendesak suku Berber berpindah ke daerah gurun. Pada saat yang sama, bangsa Yunani menguasai wilayah Sirenaika. Lalu bangsa Romawi menaklukkan daerah yang sekarang disebut Libya utara kemudian menggabungkannya ke dalam kekaisaran Romawi.

Selama abad ke-5, bangsa Vandal, termasuk rumpun orang Germanik, melintasi Laut Tengah dari Spanyol dan mengusir orang Romawi ke luar dari wilayah tersebut. Pada awal tahun 643, bangsa Arab datang dan menggantikan semua penyerang sebelumnya.

Di pertengahan abad ke-16, Libya jatuh ke kekuasaan Turki Usmani dan tetap menjadi sebuah propinsi Turki sampai tahun 1911 saat Italia menyerang. Ketika tentara Turki menarik diri dari wilayah ini pada tahun berikutnya, Italia menduduki wilayah ini.

Tentara Inggris dan Prancis mulai menduduki Libya selama Perang Dunia II. Di bawah pasal perjanjian damai, Italia melepaskan tuntutannya atas Libya. Untuk sementara waktu, pemerintahan dipegang oleh Inggris dan Prancis sebelum memperoleh kemerdekaannya di tahun 1951 Mohammad Idris el Sanusi seorang emir Sirenaika diproklamasikan sebagai Raja ldris.

Libya tetap menjadi sebuah kerajaan konstitusional di bawah Idris I sampai tahun 1969, ketika raja digulingkan dalam suatu kudeta militer pimpinan Kolonel Muammar el-Qaddafi.

Libya sekarang

Libya kini merupakan sebuah negara yang didasarkan pada gabungan prinsip sosialisme dan Islam. Menurut konstitusinya, kekuasaan dijalankan oleh seseorang melalui berbagai organisasi politik dan berbagai tingkat.

Secara teori, organ utama pemerintah adalah Kongres Umum Rakyat. Namun, Kongres Umum Rakyat hanya bersidang sewaktu-waktu saja, sedangkan kekuasaan didelegasikan kepada Sekretaris Jenderal.

Berbagai urusan pemerintahan sehari-hari ditangani oleh Komite Umum Rakyat yang berfungsi semacam kabinet. Qaddafi tidak memegang jabatan resmi apapun namun ia tetap merupakan pemimpin yang sebenarnya. Usaha kudeta pada tahun 1986 dan tahun 1993 gagal.

Dibawah kepemimpinan Qaddafi, Libya memainkan peran agresif di dunia Arab. Qaddafi telah berulang-ulang berusaha menyatukan negara Afrika yang lain termasuk Mesir, Syria, Sudan, Tunisia, Chad, Maroko dan Aljazair dan dengan terus menggerakkan revolusi di Timur Tengah, Afrika dan beberapa bagian lain di dunia.

Tentara Libya ikut campur tangan dalam perang sipil Afrika, bahkan juga di Chad, yang diklaim Libya karena kekayaan mineral di Jalur Aozou. Namun, pada tahun 1994 Pengadilan Internasional menolak klaim tersebut.

Qaddafi telah berulang-ulang berusaha untuk menyatukan berbagai negara Arab. Upayanya yang terakhir, yaitu pada tahun 1984, adalah berhasilnya Libya menandatangani perjanjian kerja sama dan persahabatan dengan Maroko. Namun, tahun 1986 Maroko membatalkan perjanjian tersebut.

Galeri

Ringkasan

  • Nama resmi: JAMAHIRIYA SOSIALIS RAKYAT ARAB LIBYA (Negara rakyat), Al Jamahiriya al Arabiya al Libiya ash Shabiya al Ishtirakiya.
  • Rakyat: disebut orang Libya.
  • Ibu kota: Tripoli.
  • Letak geografis: Afrika Utara.
  • Perbatasan: Laut Tengah, Mesir, Sudan, Chad, Nigeria, Aljazair, Tunisia.
  • Luas wilayah: 1.759.540 km2.
  • Ciri fidik: Titik tertinggi: Puncak Bette (2.286 m). Titik terendah-24 m di bawah paras laut.
  • Jumlah penduduk: 5,1 juta jiwa (perkiraan terakhir)
  • Bahasa utama: Arab (bahasa resmi), Inggris, Italia, Berber.
  • Agama utama: Islam (agama resmi).
  • Pemerintahan: Republik Sosialis Islam.
  • Kepala negara: pemimpin revolusioner.
  • Kepala pemerintahan: Sekretaris Jenderal Komite Rakyat.
  • Badan legislatif-Kongres Rakyat.
  • Kota besar: Tripoli (994.000 jiwa), Benghazi (371.500 jiwa).
  • Mineral utama: minyak, gas alam, besi.
  • Produk pertanian: tomat, semangka, zaitun, gandum, kentang, kurma, gandum hitam, bawang, buah jeruk.
  • Produk dan Industri: pengilangan minyak, pengolahan makanan (minyak zaitun, buah dan sayuran kalengan, tepung), tekstil, kerajinan tangan.
  • Ekspor utama: minyak mentah, produk minyak.
  • Impor utama: mesin, peralatan transpor, makanan ternak, berbagai barang konsumen.
  • Mata uang: 1 dinar Libya = 1.000 dirham.

Artikel Terkait