Mesir

Nama lengkapnya Republik Arab Mesir adalah suatu nama baru bagi wilayah Mesir yang sudah sangat tua. Lebih dari 5.000 tahun telah berlalu sejak Firaun pertama berkuasa, namun sapi yang serupa dengan yang tergambar pada tembok makam kuno, masih tampak membajak di sawah-sawah di negeri ini.

Ratusan tahun yang lalu, setiap tahun orang Mesir menyembah Sungai Nil, saat sungai itu banjir mereka mengorbankan seorang gadis cantik bagi dewa sungai itu.

Namun sekarang berbeda, saat banjir mencapai titik ketinggiannya hari itu dinyatakan sebagai hari libur resmi dan boneka yang dihias sangat indah dilemparkan ke Sungai Nil.

Di dekat stasiun kereta api Kairo yang ramai berdiri patung Ramses II yang besar, patung untuk mengenang para petualang abad ke-20 tentang sejarah Mesir yang panjang.

Mesir terletak di sudut timur laut Afrika, dengan batas wilayahnya: di sebelah barat dengan Libya, di selatan dengan Sudan, di utara dengan Laut Tengah, dan di timur dengan jalur Gaza, Israel, dan Laut Merah.

Penduduk Mesir

Mesir adalah negara terpadat kedua di Afrika. Petani miskin yang disebut dengan Fellahin (atau kaum fellah) mencakup 40% penduduknya. Namun, hanya kurang dari 4% lahan yang cocok untuk pertanian.

Sebelum para pemimpin revolusi 1952 memperkenalkan reformasi lahan, kurang dari 2% pemilik tanah menguasai separuh tanah pertanian. Sebagian besar kaum fellah adalah buruh tani karena hanya memiliki lahan yang sangat kecil.

Orang yang memiliki 1-2 hektar tanah dianggap kaya. Tetapi sekarang tidak ada lagi seorang pun diizinkan memiliki lebih dari 20 hektar dan rata-rata petani Mesir memiliki tidak lebih dari tanah seluas itu.

Peta wilayah Mesir

Kunjungi Peta Mesir atau google map

Kehidupan Petani Mesir

Alat pertanian utama seorang petani Mesir adalah cangkul, bajak sederhana, dan sakia atau roda-air. Fellah, istri dan anak-anaknya semua bekerja di ladang. Kesibukan mereka sehari-hari hanya dilepaskan pada beberapa kesempatan, salat Jumat di masjid, pesta keagamaan, dan perayaan keluarga seperti pernikahan atau sunatan.

Kepemilikan sangat berharga bagi seorang petani adalah kerbau, sapi, atau banteng yang membantu mengolah lahan pertaniannya. Banteng atau kerbau digunakan untuk menarik bajak, roda air, dan nowrai.

Nowrai adalah sejenis penggilingan padi yang terbuat dari kayu dan bercakram 4 atau 5 buah besi. Ujung cakram yang tajam melindas gagang padi atau gandum sehingga bijinya dapat dipisahkan dari gagangnya.

Kerbau atau sapi juga menghasilkan susu bagi keluarga fellah sekaligus menghasilkan anak yang dapat dijual. Seringkali seorang fellah tinggal bersama di dalam satu rumah dengan ternaknya. Hal itu memang tidak menyehatkan, tetapi cara ini lebih disukai petani untuk melindungi ternaknya. Kehilangan seekor ternak dapat berarti bencana ekonomi bagi seorang fellah miskin.

Pakaian Fellah

Seorang fellah akan memakai jubah katun panjang dan longgar yang disebut galabia, celana katun yang renggang, dan kopiah wol yang dibuatnya sendiri. Dalam kesempatan tertentu, mereka memakai sorban dengan melilitkan selempang putih pada kopiahnya. Sandal kuning yang rata melengkapi pakaian seorang fellah.

Fellaha, istri fellah, mengenakan pakaian yang berlengan panjang dan rok yang juga panjang serta cadar hitam, yang kadang-kadang dipakai untuk menutup mukanya.

Pada hari-hari pasaran dan kesempatan tertentu, seorang wanita akan menyematkan anting-anting, kalung, gelang, dan gelang kaki. Semua perhiasan ini biasanya terbuat dari manik-manik, perak, kaca, tembaga, dan emas sehingga terdengar irama musik yang nyaman ketika seorang fellaha berjalan di sepanjang jalan pedesaan.

Pedesaan

Sebagian besar fellah Mesir tinggal di desa di sepanjang Sungai Nil. Pedesaan ini kelihatan berwarna abu-abu karena rumah-rumah di dalamnya di kapur putih hanya apabila ada pesta-pesta penting seperti pernikahan. Rumah-rumah ini pada umumnya kecil dan berkelompok semaunya tanpa perencanaan.

Rumah khas Mesir terbuat dari batu bata yang tahan panas matahari, sehingga membuat suasana rumah terasa dingin selama musim panas. Di dalam rumah hanya terdapat satu atau dua kamar tidur, dan kandang binatang berkumpul dengan ruang keluarga.

Di dalam ruang keluarga terdapat tungku primitif yang panas karena pembakaran tangkai kapas atau jagung, yang mereka simpan di atap rumah. Tungku ini digunakan untuk membakar roti tipis, bundar, dan besar yang merupakan 80% menu makanan kaum fellah.

Kamar tidurnya berisi sebuah tempat tidur terbuat dari kayu atau besi, tetapi keluarga fellah biasanya tidur di atas tikar yang terbuat dari buluh. .

Rumah seorang fellah yang kaya memiliki ruang keluarga dan ruang atas dengan kamar tidur cadangan dan gudang. Ruang keluarganya berisi perabotan kayu yang panjang, beberapa tempat tidur, dan tikar buluh.

Di kebanyakan desa, wanita masih mengambil air dari salah satu anak Sungai Nil dan membawanya pulang menggunakan gentong air dengan diletakkan di atas kepalanya.

Namun, banyak pedesaan kini memiliki cadangan air bersih. Di pedesaan terdapat pompa air di alun-alun desa. Air dari pompa dibawa pulang dengan gentong tradisional atau dengan wadah dari timah.

Pipa air sudah dihubungkan ke beberapa rumah. Rumah-rumah biasanya terang oleh lampu minyak. Namun, sejak dibukanya bendungan Aswan jaringan listrik telah dipasang di seluruh Mesir.

Di antara tempat yang terpenting di dalam pedesaan Mesir adalah masjid atau gereja Koptik, rumah kepala desa, pusat masyarakat desa, kantor polisi, dan pasar. Masjid dan gereja biasanya dipakai sebagai sekolah dan tempat beribadat.

Pasar

Setiap seminggu atau dua minggu sekali, para fellah berkumpul di pasar. Di pasarlah, fellah membeli dan menjual sapi, kerbau, keledai, unta, biri-biri, kambing, dan juga produk pertanian dan susu.

Di pasar-pasar yang lebih besar, makanan, pakaian, perhiasan, dan peralatan pertanian banyak diperjualbelikan. Air dan minuman ringan dijual oleh para penjaja yang menyanyi atau meneriakkan barang dagangannya.

Pedagang di Luxor Mesir
Dalam perjalanan mereka ke pasar, para pedagang membongkar dagangan dan ternak dari perahu angkutan di Luxor Mesir

Pasar adalah suatu tempat yang bising, tatkala para fellah sedang tawar-menawar dengan suara mereka yang melengking-Iengking. Dalam jual beli selalu tawar-menawar, atau fissal. Harga disetujui setelah terjadi serangkaian persetujuan.

Ungkapan-ungkapan keagamaan seperti “Dengan nama Allah”, “Dengan nama Muhammad”, atau “Dengan nama AI-Masih” terdengar setiap kali tawar menawar mencapai klimaksnya, yaitu ketika harga barang hampir disetujui.

Pasar bukan saja merupakan tempat berjual beli, melainkan juga merupakan peristiwa sosial yang penting. Kawan dan saudara bertemu, saling bertukar berita, dan bergosip. Orang desa berpakaian yang indah-indah dan kehidupan monoton fellah menjadi bergairah untuk sesaat.

Umdah

Umdah, atau kepala desa, biasanya adalah seorang penduduk asli desa setempat yang telah berusia lebih dari 25 tahun dan memiliki 4 hektar tanah atau lebih serta terpandang di dalam masyarakatnya.

Dia dicalonkan oleh penduduk desa dan dipilih oleh para menteri desa. Umdah merupakan penghubung antara masyarakat dan pemerintahan propinsi atau pemerintahan pusat. Dia menyelesaikan pertikaian, membantu mengatur hukum dan ketertiban, dan membantu mengumpulkan pajak.

Pusat Masyarakat Desa

Pusat Masyarakat Desa yang pertama didirikan di tahun 1940-an dan lembaga ini sangat berhasil sehingga kini ada di setiap desa di Mesir. Tugas utama lembaga ini adalah untuk memperbaiki kehidupan kaum fellah.

Secara tradisional, satu-satunya pejabat pemerintah yang terlihat di daerah pedesaan Mesir adalah petugas pengumpul pajak dan para insinyur yang mengarahkan kendali sistem irigasi.

Staf pusat masyarakat desa meliputi dokter, bidan, dokter hewan, dan penyuluh pertanian, serta guru sekolah dasar setempat. Nasihat dan bantuan yang diberikan oleh para ahli ini memiliki dampak yang positif di dalam kehidupan kaum fellah.

Pemerintah sedang mengatasi berbagai masalah yang sebelumnya merupakan beban keluarga dan tetangga. Tugas mengubah tradisi desa Mesir adalah tigas berat, namun mulai terlihat beberapa kemajuan.

Kehidupan Kota

Kehidupan di berbagai kota Mesir sangat dipengaruhi oleh budaya Eropa modern. Perencanaan kota dicerminkan oleh jalan-jalan yang luas, bertrotoar, dan taman indah.

Kota biasanya dihubungkan dengan jaringan jalan raya dan kereta api nasional. Banyak di antara kantor dan pengadilan pemerintah terletak di pusat perkotaan. Terdapat lebih banyak sekolah dasar di kota daripada di desa. Sebagian besar sekolah lanjutan dan universitas juga terdapat di kota.

Berbagai bangunan apartemen modern yang besar berjajar di tepi jalan di kota-kota. Bangunan ini tidaklah mencerminkan Mesir. Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan keadaan jika kita berjalan-jalan di Tokyo atau di New York.

Namun di bagian kota yang lebih tua, rumah dibangun dengan gaya arsitektur Islam tradisional, yang terlihat di berbagai bangunan masjid dan bangunan umum. Listrik dan air bersih lebih banyak terdapat di rumah-rumah perkotaan daripada di rumah-rumah pedesaan. Di berbagai bangunan baru seringkali dipasang AC.

Sebagian besar penduduk kota berpakaian model Barat. Mereka hanya mengenakan galabia, yang bermutu lebih baik dari pada galabia yang dipakai oleh fellah.

Para penduduk kota sering bertutur dalam bahasa Arab dengan intonasi dan aksen yang berbeda dengan para fellah. Tempat hiburan mereka belumlah pasti berpusat di sekitar keluarga. Mereka sering mengunjungi kedai-kedai kopi, menonton bioskop, atau menonton konser terbuka.

Para pekerja kota lebih mudah menerima berbagai perubahan dan penemuan baru daripada para fellah yang lebih berorientasi ke tradisi. Ikatan keluarga di kota semakin melemah daripada di pedesaan. Namun, penduduk kota tetap menjaga ikatannya dengan desanya, khususnya jika dia seorang penduduk baru.

Agama Penduduk Mesir

Lebih dari 90% penduduk Mesir beragama Islam. Berbagai gedung pencakar langit penuh dengan menara masjid. Lima kali sehari suara azan menyeru umat Islam untuk bersalat.

Secara tradisional, muazin menyerukan azan dari puncak menara masjid, tetapi kini panggilan ini seringkali hanya dikumandangkan lewat pengeras suara saja atau melalui siaran radio.

Tatkala orang Islam sedang bersalat, mereka menghadapkan wajahnya ke Mekah, yaitu sebuah kota di Arab Saudi, tempat kelahiran Nabi Muhammad. Umat Islam menyembah Allah (Tuhan) dan dalam salatnya menyatakan bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”.

Selama bulan suci Ramadan, salah satu di antara 12 bulan menurut kalender Islam, orang Islam berpuasa dari sejak matahari terbit sampai matahari terbenam. Orang Islam juga diwajibkan mengeluarkan zakat bagi si miskin. Sekurang-kurangnya sekali dalam hidupnya, yaitu ketika secara fisik dan keuangan mampu, orang Islam dipanggil untuk melakukan ibadah haji ke Mekah.

Agama Islam sangat erat berkaitan dengan agama Yahudi dan Kristen. Islam meyakini Ibrahim, Musa, dan Isa sebagai utusan Allah. Muhammad dianggap sebagai pengganti para nabi tersebut dan merupakan rasul terakhir.

Islam menekankan kesamaan tanpa memandang suku bangsa dan asal-usul sosialnya. Di dalam Islam tidak terdapat seorang pendeta, karena Islam dibangun di atas hubungan langsung antara manusia dan Penciptanya. Islam sangat menganjurkan penyerahan diri terhadap kehendak Allah dan berjihad, yaitu penggunaan kekuatan senjata untuk membela Islam.

Di antara upacara penting umat Islam adalah Hari Raya Fitrah, Hari Raya Kurban, dan Maulid Nabi. Idul Fitri menandai akhir bulan suci Ramadan, sedangkan Maulid Nabi adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Idul Adha, atau upacara pengorbanan, memperingati penyembelihan anak Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, yang diganti dengan hewan kurban oleh Allah SWT. Idul Adha juga merayakan akhir musim haji di Mekah.

Sekitar 80% penduduk Mesir beragama Kristen, kebanyakan di antara mereka termasuk anggota Gereja Koptik. Umat Koptik mempercayai hakikat Yesus Kristus yang Tunggal.

Mesir adalah tempat kelahiran monastikisme dan hingga kini pun biara tetap memainkan peran penting di dalam Gereja Koptik. Orang yang mengepalai gereja biasanya merupakan salah satu anggota jemaat biara.

Kelompok kecil orang katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, dan Protestan juga terdapat di negeri ini. Meskipun populasi orang Yahudi pernah besar, kini hanya ada sejumlah kecil saja orang Yahudi di Mesir.

Pendidikan

Pendidikan dasar adalah wajib dan gratis bagi anak usia 6-12 tahun. Undang-undang wajib sekolah diloloskan di tahun 1933 meskipun baru berjalan efektif pada tahun 1950.

Pada tahun 1950, Menteri Pendidikan Mesir, Taha Hussein, menyatakan bahwa pendidikan adalah sangat penting bagaikan, udara dan air bagi kita. Hidangan gratis yang hangat di tengah hari disediakan di tingkat sekolah dasar dan menengah.

Sekitar 60% anak usia sekolah dapat bersekolah dan anak perempuan merupakan 35% seluruh populasi anak sekolah. Bahasa Arab adalah bahasa utama di dalam pengajaran di sekolah-sekolah negeri. Bahasa Inggris dan Prancis diajarkan sesudah tingkat sekolah dasar.

Sekolah menengah dan universitas di Mesir juga tidak dipungut uang sekolah. Sekolah menengah adalah sekolah akademi atau sekolah teknik. Sekolah akademi mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke universitas, sedangkan sekolah teknik mempersiapkan siswa dengan pendidikan kejuruan di bidang pertanian, industri, dan perdagangan.

Empat di antara universitas di Mesir terletak di Kairo-Al-Azhar, Universitas Kairo, Universitas Helwan, dan Universitas Ain Syamsi. Di Kairo juga terdapat Universitas Amerika. Al-Azhar didirikan di abad ke-10 oleh Jauhar AlSiqili, pendiri Kairo modern.

Secara tradisional rektor Al-Azhar memiliki pengaruh besar di antara umat Islam di dunia. Universitas Kairo didirikan di tahun 1908 sebagai sebuah lembaga swasta. Universitas ini diambil alih oleh negara di tahun 1925 dan diberi nama baru Universitas Fuad I setelah Raja Fuad naik Takhta.

Setelah revolusi 1952, universitas ini kembali menjadi Universitas Kairo. Terdapat juga universitas di Iskandariah dan Asyut dan berbagai rencana juga sedang dilaksanakan untuk membuka lebih banyak lagi universitas di bagian lain Mesir.

Bahasa

Bahasa di Mesir adalah bahasa Arab. Bahasa Arab klasik digunakan baik sebagai bahasa lisan maupun bahasa tulis. Bahasa itu juga digunakan dalam siaran radio, surat kabar, transaksi dagang, keputusan pengadilan, dekrit pemerintah, dan di sekolah-sekolah. Bahasa Arab sehari-hari, bahasa orang jalanan, jarang dipakai sebagai bahasa tulis.

Terdapat dua macam tulisan Arab. Naskh merupakan bentuk tulisan yang biasa dipakai di buku-buku. Kufi bukanlah sekadar bentuk tulisan, melainkan merupakan bentuk seni.

Tulisan Kufi banyak ditemukan dalam cetakan Al Quran. Cetakan Quran ini mirip dengan Injil yang banyak dihias dan buku doa sembahyang yang diterbitkan selama abad pertengahan di Eropa.

Di samping bahasa Arab, di Mesir dipakai juga 4 bahasa lain. Bahasa Koptik, yang berkembang sejak Mesir kuno, dituturkan hingga abad ke-12. Bahasa Koptik hanya dipakai di dalam tata peribadatan Gereja Koptik. Bahasa Nubian dituturkan oleh penduduk yang tinggal di selatan Aswan.

Beja adalah bahasa suku nomad yang tinggal di sepanjang perbatasan Mesir-Sudan di sebelah timur Nil, sedangkan Berber adalah bahasa yang dituturkan oleh penduduk Siwa, yaitu suatu oasis di Gurun Libia. Bahasa Nubia dan Beja bukanlah bahasa tulis.

Makam dan Candi di Mesir

Banyak di antara pengetahuan kita tentang peradaban Mesir kuno didapat dari puing-puing makam yang dibangun untuk para firaun. Orang Mesir kuno percaya tentang adanya kehidupan setelah mati.

Oleh karena itu, makam ini penuh dengan berbagai barang yang tampaknya diperlukan di dalam dunia berikutnya. Dinding makam dihias dengan pemandangan kehidupan sehari-hari, yang dilukis dalam hieroglif. Banyak di antara makam ini masih dapat dilihat di sepanjang Sungai Nil.

patung Sphinx di Giza
Selama berabad-abad patung Sphinx di Giza tetap tegar berdiri melawan amukan badai pasir yang ganas. Bagi orang Meisr, patung ini melambngkan masa kejayaan Mesir Kuno

Piramida Besar dan Sphinx di Giza mungkin merupakan pemandangan yang paling termasyhur di Mesir. Piramida yang terbesar dibangun bagi Cheop, atau Khufu, di abad ke-27 sebelum Masehi.

piramida raksasa abad ke 27
Tiga buah piramida raksasa: Cheop, Khafre, dan Menkure bertarikh abad ke-27 sebelum Masehi menjulang di antara ladang-teririgasi di Giza

Serombongan unta di Giza
Serombongan unta di Giza merupakan titik awal perjalanan menuju berbagai piramida kuno di Mesir

Diperlukan waktu 20 tahun untuk membangun piramida ini digunakan lebih dari 2.000.000 balok batu. Di sekitarnya terdapat banyak piramida yang lebih kecil lagi yang dibangun bagi para pengganti Cheop. Piramida ini dijaga oleh Sphinx. Sphinx sebenarnya adalah kepala seorang manusia yang bertubuh singa.

Barisan Sphinx
Barisan Sphinx berjajar mengawal candi besar Amon-Re di Karnak Mesir

Piramida tertua terdapat di Zoser di Sakkara, 24 km selatan Kairo. Piramida ini dirancang sebagai rangkaian tangga oleh Imhotep, menteri utama Firaun.

Reruntuhan candi Matahari Mesir Kuno
Reruntuhan di Luxor ini merupakan sisa-sisa bekas candi Dewa Matahari, Amon Re

Di Deir el-Bahri, di dekat Thebes berdiri candi Ratu Hatshepsut. Jalur dan teras yang melandai mengarah ke candi ditatah di atas batu padas. Tangga yang menuju candi ini pernah penuh dengan tanaman eksotik yang dibawa ke Mesir dari Tanah Puntt (wilayah Somalia).

Candi Ratu Hatshepsut
Candi Ratu Hatshepsut di tepi Sungai Nil, berasal dari tahun 1500 Sebelum Masehi

Di seberang sungai dari candi Hatshepsut adalah Medinet Habu yang dibangun oleh Ramses III. Medinet Habu adalah serangkaian candi dan istana yang merupakan salah satu tempat peninggalan yang terawat paling baik di Mesir. Jauh di sebelah selatan Nil berdiri Abu Simbel.

Pada awal tahun 1960an, Abu Simbel terancam oleh naiknya air Danau Nasser untunglah bahwa upaya antar bangsa berhasil menyelamatkan seluruh candi ini termasuk patung besar Ramses II yang menghias pintu masuknya. Susunan kerangka patung ini menjadi rusak, digeser ke tempat yang lebih tinggi dan disusun kembali ke bentuk semula.

Peninggalan peradaban Mesir kuno penting lainnya, yang masih dapat dilihat adalah termasuk Kolosi Memnon di Thebes, Lembah Raja-Raja di Luxor, dan candi Amon-Re di Karnak dan Luxor.

Di Eddfu dan Dandara terdapat patung Ptolomeus yang besar. Kekuasaan Islam di Mesir selama ratusan tahun dicerminkan dalam banyak masjid dan istana yang dibangun oleh para penguasa Islam di Kairo.

Lukisan perjalanan ke Mekkah di Dandara
Cerita tentang perjalanan si pemilik rumah ke Mekah dilukis di tembok rumah seperti di Dandara ini

Geografi Mesir

Republik Arab Mesir menduduki posisi strategis di titik temu antara Afrika dan Asia. Dengan pantai yang panjang, baik di Laut Tengah maupun di Laut Merah, selama berabad-abad Mesir merupakan pusat perdagangan dan komunikasi yang penting antara Asia, Afrika, dan Eropa.

Letaknya menjadi lebih penting lagi ketika Terusan Suez dibuka pada tahun 1869. Terusan ini membuat perjalanan mengelilingi ujung selatan Afrika tidak perlu lagi.

Gurun

Tanpa Sungai Nil, Mesir tetap akan merupakan bentangan gurun yang memanjang dari Lautan Atlantik ke Laut Merah melintasi Afrika Utara. Di sebelah barat Nil adalah Gurun Libia, atau Gurun Barat yang merupakan bagian terbesar Sahara. Sebagian besar wilayah ini merupakan plato yang tandus dengan ketinggian lebih dari 1.800 m di barat daya Sahara.

Di sebelah timur laut terdapat Depresi Qattara yang tingginya 134 m di bawah permukaan laut. Oasis Gurun Libia merupakan satu-satunya wilayah di Mesir, di luar Lembah Nil, yang cocok untuk pertanian.

Di antara oasis yang terpenting adalah Siwa, Farafra, dan Kharga. Oasis Faiyum yang terletak di sebelah barat Nil, dihubungkan dengan Sungai Nil dengan sebuah terusan irigasi.

Gurun Arabia, atau Gurun Timur, terletak di antara Sungai Nil dan Laut Merah. Sebagian besar wilayah Gurun Arabia merupakan plato yang gersang yang terputus-putus oleh banyak dasaran sungai yang disebut dengan wadi.

Di sepanjang pantai timur Mesir terdapat rangkaian pegunungan yang sempit, Pegunungan Laut Merah, dengan ketinggian lebih dari 2.100 m.

Jazirah Sinai, satu-satunya bagian Republik Arab Mesir yang berada di benua Asia, di sebelah timur berbatasan dengan Jalur Gaza, Israel, dan Teluk Aqaba, sedangkan di barat berbatasan dengan Terusan Suez, dan Teluk Suez.

Seusai Perang Arab-lsrael tahun 1967, Jazirah Sinai berada di bawah pendudukan Israel. Namun, berdasarkan perjanjian damai Mesir-lsrael pada bulan Maret 1979, Sinai dikembalikan kepada Mesir dalam tiga tahap dua pertiga bagian yang pertama dikembalikan pada tanggal 25 Januari 1980, sedangkan tahap terakhir pada tanggal 25 April 1982.

Sebagian besar wilayah Sinai berupa gurun dan pegunungan yang gersang. Dengan ketinggian di atas 2.620 m, Gebel Katherina di Sinai selatan merupakan titik tertinggi.

Terusan Suez, yang terletak di barat Semenanjung Sinai, membagi wilayah Mesir menjadi Asia, Mesir dan Afrika. Terusan ini membentang dari Port Said di Laut Tengah sampai ke Suez di Teluk Suez, suatu jarak yang panjangnya sekitar 160 km.

Sungai Nil

Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, seorang ahli sejarah Yunani, Herodotus, menyebut Mesir sebagai ”hadiah dari Sungai Nil”. Tentu saja dia menghubungkannya dengan sungai yang telah memberikan kehidupan dan endapan kaya yang dibawa oleh sungai itu dari Afrika Khatulistiwa ke gurun Mesir.

Secara tradisional, para petani harus menunggu datangnya banjir tahunan untuk mulai menanam tanaman. Namun, sejak abad ke-20 telah dibangun sistem bendungan air, penampungan air, dan terusan yang ekstensif untuk memanfaatkan air Sungai Nil secara lebih efektif.

Hewan ternak di tepi Sungai Nil
Hewan ternak sedang merumput di tanah subur di sepanjang Sungai Nil, di seberang sana tampak sebuah kepal layar (felluca)

Sungai Nil melintas sepanjang lebih dari 4.800 km dari Afrika sebelum memasuki Mesir. Di selatan atau Mesir Hulu, Sungai Nil melintas di antara tebing pasir yang terjal.

Pembangunan Bendungan Tinggi Aswan perlahan-lahan telah menciptakan danau besar di kawasan ini. Danau Nasser terbentang dari Aswan sampai ke Sudan. Bendungan Tinggi Aswan diharapkan akan menyediakan sumber tenaga dan air yang cukup untuk mengairi 800.000 hektar lagi tanah pertanian.

Dari Aswan, Nil mengalir ke utara ke Kairo. Sedikit di sebelah selatan Kairo,Nil bercabang menjadi dua cabang utama, Rosetta dan Damietta. Kedua anak sungai ini dinamai dengan nama itu karena Nil memasuki kota Rosetta dan Damietta di Laut Tengah. Daerah ini dikenal sebagai daerah Delta, atau Mesir Hilir.

Seluruh daerah ini banyak dilintasi oleh berbagai terusan yang menyediakan irigasi sepanjang tahunnya.

Iklim

Iklim di Mesir adalah hangat dan matahari bersinar terus sepanjang tahun. Musim panas adalah panas dan kering. Musim dingin lebih sejuk dan sebagian besar hujan turun selama musim dingin ini.

Bagian Mesir yang banyak mendapatkan curah hujan adalah daerah pantai Laut Tengah, yaitu sekitar 20 cm per tahun. Sejak bulan April sampai Mei, khamsin bertiup dari Sahara ke Mesir. Khamsin, atau angin kering dan panas, terkadang membawa banyak pasir dan debu sehingga membuat hari yang cerah tampak berawan. ‘

Kota

Kairo dan Iskandariah adalah dua kota terpenting di Mesir. Kairo, yaitu ibu kota Mesir, berpenduduk lebih dari 5.000.000 jiwa dan merupakan kota terbesar di Afrika. Iskandariah berpenduduk lebih dari 2.300.000 jiwa.

Kota penting lainnya adalah Giza (pinggiran Kairo) dan kota-kota pelabuhan di sepanjang Terusan Suez-Ismailia, Suez, dan Port Said. Aswan merupakan kota yang berkembang dengan pesat sebagai akibat dibangunnya Bendungan Tinggi Aswan. Tanta adalah kota terbesar di jantung Lembah Delta.

Kairo

Kairo terletak di timur Sungai Nil, tepat di selatan Lembah Delta, merupakan pusat keagamaan dan budaya dunia Arab dan Islam dan pengaruhnya terasa sampai ke luar wilayah Mesir.

Kota Kairo Mesir
Kota Kairo kota terbesar di Afrika, terletak di tepi sungai Nil

Pengaruh ini mungkin setua Mesir itu sendiri. Tempat kota Kairo sekarang merupakan pusat pemerintahan sejak zaman firaun. Kairo dalam bahasa Arab disebut AI-Qahira yang berarti ”kemenangan”. Kairo modern didirikan di abad ke-10 oleh bani Fatimiyah, sebuah dinasti Islam dari Afrika Utara yang berhasil menaklukkan Mesir.

Khan Al Khalidi kota tua Kairo
Di sore hari banyak orang berkerumun dan berbelanja di Khan Al-Khalidi, pasar terkenal yang terletak di bagian kota tua Kairo

Kairo merupakan tempat kedudukan tiga cabang pemerintah nasional serta beberapa universitas, masjid, dan gereja. Kairo merupakan tempat persimpangan utama jalan raya dan jalan kereta api di Mesir dan penerbangan dari seluruh penjuru dunia mendarat di Bandara Internasional Kairo.

Banyak peninggalan berharga tentang Mesir Kuno, termasuk pusaka yang menakjubkan di makam Firaun Tutankhamen, yang dirawat baik di Museum di Kairo. Tak jauh dari Kairo terdapat piramid-piramid dan Sphinks di Giza.

Raja Tutankhamen dan permaisurinya
Raja Tutankhamen dan permaisurinya dilukis dalam emas dan keramik di belakang singgasananya (sekitar 1350 sebelum Masehi) di Museum Kairo, Mesir

Kairo Lama mencerminkan abad kekuasaan Islam yang silih berganti di Mesir. Khan Al-Khalili, atau bazar, terletak di bagian kota tua. Para pengrajin di Khan masih terus mempraktikkan seni dan kerajinan yang masih mencerminkan motif Islam dan Mesir kuno.

Arsitektur Islam dapat dilihat dengan baik di Kairo. Masjid Al-Azhar, yang dibangun oleh seorang Jenderal bani Fatimiyah-Jauhar Al-Siqili-pada abad ke-10, akhirnya menjadi salah satu pusat studi Islam yang terbesar. Masjid Biru beroleh nama dari ubin yang menghias dinding masjid itu.

Sebuah benteng yang dibangun oleh Salahuddin juga berisi Masjid Alabaster yang dibangun selama abad ke-19. Di antara masjid termasyur lainnya adalah masjid Mehemet Ali Sultan Hasan dan Al Rifai. Polusi, ketakpedulian, air pasang naik, dan kerusakan akibat gempa tahun 1992 mengancam pondasi bangunan bersejarah tersebut.

lskandariah

Iskandariah adalah kota terbesar kedua di Mesir, terletak di pantai Laut Tengah. Iskandariah didirikan oleh Iskandar (Alexander) yang Agung di tahun 332 sebelum Masehi.

Kota Iskandariah Mesir
Iskandariah pelabuhan utama Mesir terletak di pantai Laut Tengah

Penggantinya adalah Dinasti Ptolemeous, membangun Pharos di Iskandariah, yaitu suatu mercu suar yang akhirnya menjadi salah satu di antara tujuh keajaiban dunia. Ptolemeous juga membangun perpustakaan besar yang telah menarik banyak sarjana, misalnya ahli matematika Euklides.

Kini Iskandariah merupakan kota pelabuhan utama Mesir. Sebagian impor dan ekspor Mesir dilakukan melalui pelabuhan Iskandariah.

Ekonomi

Harapan utama Mesir adalah memacu pembangunan industri dan pertaniannya bergantung pada Bendungan Tinggi Aswan. Turbin bendungan ini menghasilkan hidroelektrik dalam jumlah yang besar bagi keperluan industri. Air yang ditampung o|eh bendungan ini digunakan untuk mengubah gurun kering menjadi berhektar-hektar tanah pertanian yang subur.

Pertanian

Mayoritas orang Mesir mencari nafkah dengan cara bertani. Kapas merupakan tanaman penting Mesir yang utama. Kapas ditanam di sepanjang lembah Nil dan deltanya. Kapas dan produk kapas mencakup lebih dari 60% total ekspor Mesir. Jagung dan gandum merupakan tanaman pangan pokok.

Pertanian kapas Mesir
Memanen kapas yang merupakan tanaman pertanian terpenting Mesir

Cantel, tebu, sayuran, dan buah-buahan merupakan produk pertanian penting. Iklim sedang dan irigasi memungkinkan untuk menanam tanaman lebih dari satu kali setahun. Di beberapa tempat, khususnya di Delta Nil, petani dapat panen tiga kali setahun.

Industri

Mesir sedang berusaha untuk melepaskan ketergantungannya pada pertanian melalui industrialisasi yang pesat. Pabrik tekstil dan pabrik pengolahan makanan secara tradisional merupakan industri terpenting.

Namun, berbagai industri baru, seperti pabrik baja, kimia, dan mobil, sedang berkembang dengan cepatnya. Sebagian besar industri terletak di Kairo, Iskandariah dan berbagai kota di Delta, sedangkan Bendungan Aswan telah menarik para pengusaha untuk berpindah ke selatan ke Aswan dan kota-kota lainnya.

Pertambangan

Di antara sumber alam Mesir adalah minyak, besi, timbel, fosfat, mangan, emas, asbes, kromium, titanium, dan belerang. Eksplorasi sedang dijalankan terus untuk mendapatkan bahan mentah nuklir, seperti uranium dan thorium.

Gurun Arabia dan Semenanjung Sinai merupakan tempat endapan minyak utama, meskipun endapan minyak belakangan ini juga ditemukan di El Alamein. Gurun Arabia juga kaya dengan fosfat dan besi. Mangan ditemukan di Semenanjung Sinai.

Sejarah Mesir

Ribuan tahun yang silam, Sahara merupakan daerah yang subur. Sahara merupakan daerah tanaman hijau dan memiliki banyak sungai kecil dan besar. Selama berabad-abad curah hujan di daerah Sahara berkurang sehingga dataran rendah Sahara menjadi kering.

Namun, Nil tetap mengalir melalui bagian timur Sahara sehingga menciptakan daerah subur di tengah-tengah kegersangan Sahara. Berbagai binatang buas yang banyak berkeliaran di Afrika Utara akhirnya berpindah ke Lembah Nil.

Para pemburu yang bertualang mencari binatang buruannya di Sahara harus melintasi oasis hijau di sepanjang Nil. Pada akhirnya, para pemburu binatang ini tahu cara bercocok tanam dan cara menjinakkan hewan.

Para petani awal di Lembah Nil ini merupakan sebagian orang yang pertama kali melakukan pertanian yang menetap di dunia. Baik para petani Mesir maupun orang Mesopotamia, yang telah memulai pertanian dalam kurun yang bersamaan, merupakan petani paling awal di dunia meskipun kebenarannya belum dapat dibuktikan.

Menjelang tahun 5000 sebelum Masehi, berbagai perkampungan didirikan oleh berbagai kelompok suku atau kelompok keluarga. Pada abad-abad berikutnya, perkampungan ini membentuk sebuah negara, atau nomes, yang dipimpin oleh kepala suku.

Akhirnya nomes ini menjadi dua kerajaan yang kuat, Mesir Hulu di selatan dan Mesir Hilir di utara. Menurut legenda, sekitar tahun 3200 sebelum Masehi Menes, sebuah kerajaan di Mesir Hulu, dapat menaklukkan Mesir Hilir sehingga menyatukan kedua kerajaan itu dan mendirikan kedinastian yang pertama.

Kerajaan Tua

Dengan munculnya dinasti keempat, sekitar tahun 2600 sebelum Masehi, peradaban Mesir mulai memasuki zaman keemasan. Orang Mesir telah dapat merancang kalender matahari dan menemukan bentuk tulisan yang dikenal sebagai hieroglif.

Adalah para firaun Kerajaan Tua yang membangun piramida raksasa yang telah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Piramida ini mengungkapkan bahwa orang Mesir kuno telah menguasai matematika dan rekayasa.

Piramida juga menyatakan tentang kekuasaan dan kewibawaan seorang firaun. Firaun bukanlah sekadar seorang penguasa, tetapi dia juga seorang negarawan. Cheop yang jasadnya dimakamkan di piramida agung di Giza, merupakan salah seorang penguasa awal zaman keemasan ini.

Namun, zaman keemasan ini tidak berlangsung lama. Kekuasaan firaun menjadi berkurang dan setelah tahun 2200 sebelum Masehi, negara Kerajaan Tua yang bersatu dan kuat berubah menjadi suatu federasi yang kurang kuat.

Kerajaan Pertengahan

Baru pada tahun 2050 sebelum Masehi, raja Thebes di Mesir Hulu dapat menyatukan negeri ini kembali di bawah seorang penguasa. Meskipun Kerajaan Pertengahan bertahan hingga tahun 1786 sebelum Masehi, firaun tidak pernah mendapatkan kekuasaannya yang absolut lagi.

Tahun-tahun Kerajaan Pertengahan merupakan zaman kemakmuran Mesir. Selama kekuasaan Amenemhet III, serangkaian proyek irigasi dan proyek pembukaan lahan baru yang ekstensif dijalankan. Mesir meluaskan kekuasaan hingga ke Nubia atau yang sekarang disebut Sudan Utara.

Hyksos

Di bawah kekuasaan dinasti ke-13, sekali lagi kekuasaan firaun menurun sehingga berbagai perang saudara menjarah di mana-mana. Negara ini benar-benar berada di dalam posisi yang lemah, sehingga sekelompok orang Asia yang dikenal sebagai Hyksos dengan mudah dapat menaklukkan Mesir di sekitar tahun 1675 sebelum Masehi.

Hyksos menguasai Mesir hingga abad ke-16 sebelum Masehi. Hanya sedikit saja diketahui tentang Hyksos, meskipun merekalah yang memperkenalkan kereta yang dihela kuda dan pemanfaatan baju perang.

Kekaisaran atau Kerajaan Baru Mesir

Ahmose I berhasil mengusir bangsa Hyksos ke luar ke Palestina. Ahmose adalah pendiri dinasti ke-18, yang memerintah dari tahun 1570-1304 sebelum Masehi. Pengganti Ahmose, Amenhotep I dan Thutmose I memperluas kekuasaan Mesir sehingga batas wilayah selatannya sampai ke Sudan, sedangkan batas wilayah timurnya sampai ke Sungai Eufrat di Mesopotamia.

Topeng emas Raja Tutankhamen
Sebuah topeng Raja Tutankhamen yang terbut dari emas padat (sekitar tahun 1350 SM) di Museum Kairo, Mesir

Di antara penguasa dinasti ke-18 yang termasyhur adalah Ratu Hatshepsut, yang berkuasa selama 20 tahun. Selama pemerintahannya, ekspedisi dagang dikirim ke pantai Afrika Timur dan berbagai proyek pembangunan yang ekstensif dilaksanakan di negeri ini.

Anak laki-laki tirinya dan yang menjadi penggantinya, Thutmose III, mengkonsolidasikan wilayah-wilayah yang diperoleh oleh para firaun pendahulunya dengan dibantu oleh birokrat dan tentara yang efisien.

Selama periode ini, banyak tawanan dibawa ke Mesir sebagai budak. Banyak di antara mereka berdinas di ketentaraan atau ikut melaksanakan berbagai proyek pembangunan yang besar yang sedang dilaksanakan oleh negara.

Perbudakan orang Yahudi selama periode ini dikisahkan di dalam Kitab Perjanjian Lama. Orang Yahudi sekarang masih sering memperingati peristiwa kepergian bangsa Yahudi dari Mesir pada Perayaan ”Masa lalu”.

Di abad ke-14 sebelum Masehi, Amenhotep IV, seorang anggota dinasti ke-18 lainnya, naik takhta. Sebagai seorang monoteis, atau seorang yang percaya pada Tuhan yang satu, Amenhotep menolak berbagai dewa tradisional dan justru menyembah Aten yang dicerminkan dalam matahari.

Amenhotep mengubah namanya menjadi Akhenaten dan memindahkan ibu kota dari Thebes ke suatu kota baru yang dia sebut Akhetaton. Namun, karena Akhenaten mengabaikan berbagai ancaman dari luar negeri, banyak bagian kekuasaannya hilang selama dia berkuasa.

Sepeninggal Akhenaten, agama baru tersebut musnah dan berbagai upaya dibuat untuk memulihkan kembali kekuasaan dan pengaruh Mesir. Baik Ramses II maupun Ramses III bertempur mati-matian untuk mempertahankan ancaman yang datang terus-menerus dari timur.

Namun, karena berbagai masalah dalam negeri Mesir mulai runtuh, kekaisaran ini perlahan-lahan menghilang. Sekali lagi negeri ini dibagi menjadi dua buah negara.

Pada abad berikutnya, para penakluk Libya dan Ethiopia mengambil gelar firaun dan berkuasa di Mesir. Mereka lalu diikuti oleh bangsa Assiria pada abad ke-17 sebelum Masehi, yang menduduki wilayah ini untuk jangka waktu yang singkat sebelum mereka diusir oleh dinasti Saite, atau dinasti ke-26.

Mesir di Bawah Kekuasaan Asing

Pada tahun 525 sebelum Masehi, Cambyses, anak laki-laki penguasa Persia Cyrus yang Agung, menyerang dan berhasil menaklukkan Mesir. Selama 200 tahun, dikurang selang waktu selama 60 tahun, negeri ini tetap merupakan sebuah propinsi Kekaisaran Persia.

Pada tahun 332 sebelum Masehi Iskandar Agung mengusir orang Persia dari Mesir. Selama kekuasaannya, dia membangun kota Iskandariah. Setelah Iskandar meninggal, salah seorang jenderalnya yang berkebangsaan Yunani, Ptolemeous, menggantikan kekuasaan.

Di bawah Ptolemeous, Iskandariah menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan penting. Perpustakaan yang dibangunnya menarik para sarjana dari seluruh kawasan Laut Tengah.

Kekuasaan dinasti Ptolemeous di Mesir berakhir ketika Cleopatra VII meninggal pada tahun 30 sebelum Masehi. Octavian, atau Kaisar Augustus, menjadikan Mesir sebagai bagian dari Kekaisaran Romawi yang sedang tumbuh.

Zaman Kristen Mesir

Agama Kristen mungkin diperkenalkan ke Mesir di abad pertama yang menyebabkan menjadi negara Kristen. Di akhir abad ke-3, Kaisar Diocletian membagi Kekaisaran Romawi menjadi dua bagian.

Mesir menjadi bagian Kekaisaran Timur, atau Bizantium, yang beribu kota di Konstantinopel, atau Istambul sekarang.

Pada abad ke-4, Kaisar Konstantin membuat Kristen sebagai agama resmi kekaisaran. Namun, perpecahan lalu terjadi antara Mesir dan Bizantium yang Kristen.

Orang Mesir percaya terhadap Tuhan yang satu, sedangkan Bizantium percaya terhadap Trinitas. Karena agama Bizantium telah menjadi agama resmi kekaisaran, orang banyak yang dibunuh karena dianggap sebagai kafir murtad.

Penaklukan Muslim

Pertikaian keagamaan antara Mesir dan Bizantium memberikan jalan bagi para penakluk Islam Arab untuk menyerang negeri ini pada tahun 640 selama pemerintahan Khalifah Umar. Banyak orang segera memeluk Islam yang dibawa oleh para penakluk.

Khalifah adalah pemimpin keagamaan umat Islam. Empat kekhalifahan yang pertama beribu kota di Mekah. Selama abad ke-8, Mesir menjadi sebuah propinsi kekhalifahan Abbasiyah yang beribu kota di Baghdad.

Namun, pada abad ke-9, kekuasaan kekhalifahan Abbasiyah mulai menurun. Seorang Jenderal Abbasiyah berkebangsaan Turki, Ahmed Ibn Tulun, memerintah sebagai negara merdeka, meskipun khalifah masih secara resmi memerintah wilayah ini.

Pada abad berikutnya, kekuasaan berpindah dari keluarga Tulun kembali kepada Abbasiyah dan akhirnya berpindah lagi ke Ikhshidis, dinasti Turki lainnya. Pada tahun 969, Mesir sekali lagi diperintah oleh bangsa Arab kali ini oleh bani Fatimiyah yang berasal dari Afrika barat laut.

Fatimiyah menjadikan Kairo sebagai ibu kotanya, membangun Masjid Al-Azhar, dan membuat Kairo sebagai pusat kebudayaan dunia Islam.

Di puncak kekuasaannya, Fatimiyah memerintah seluruh Afrika Utara, Sisilia, Suriah, dan sebagian Arab Saudi.

Pada abad ke-12, penguasa bani Fatimiyah yang terakhir digulingkan oleh Salahuddin, seorang suku Kurdi, yang lalu mendirikan negara merdeka. Salahuddin merupakan pemimpin Islam yang paling terkenal di dalam pertempuran dengan tentara Salib.

Para keturunan Salahuddin memerintah Mesir hingga tahun 1250, ketika mereka akhirnya juga digulingkan oleh Mameluk. Mameluk adalah bekas seorang budak yang ikut berdinas sebagai pengawal kerajaan. Selengkapnya bisa anda baca pada artikel Kerajaan Mamluk

Pada tahun 1517, Turki Usmani mengalahkan Mamluk dan menjadikan Mesir sebagai bagian dari Kekaisaran Turki Usmani. Mamluk terus memerintah sebagai seorang gubernur di bawah kesultanan Turki hingga abad ke19.

Napoleon ke Mesir

Pada tahun 1798, Napoleon Bonaparte menyerang Mesir di dalam usahanya untuk memblokade jalan Inggris menuju ke wilayahnya di India. Prancis dapat dikalahkan oleh kekuatan gabungan lnggris-Turki sehingga tentara Prancis ditarik pada tahun 1801.

Para ilmuwan dan sarjana yang mengiringi ekspedisi Napoleon menjelajah wilayah ini dan berhasil menyibak banyak relik dan monumen tentang negeri ini. Batu Rosetta, yang ditemukan pada saat itu, memungkinkan para sarjana untuk mengetahui tulisan hieroglif Mesir Kuno.

Mehemet Ali

Mehemet Ali adalah seorang jenderal yang memimpin tentara Albania Sultan Turki melawan Prancis, tetap tinggal di negeri ini. Menjelang tahun 1805, dia menjadi pasha di bawah Sultan dan berhasil mengalahkan kekuasaan Mameluk menjelang tahun 1811.

Mehemet Ali lalu memulai program modernisasi dan pembangunan di Mesir untuk mendukung kebijakan perluasan kekuasaan dan kewibawaan. Tentara dapat menguasai Sudan, Semenanjung Arabia, dan Yunani.

Setelah menaklukkan Suriah, dia lalu menuju ke Turki. Namun, tentara Mehemet Ali dipaksa menarik diri di bawah tekanan Inggris dan Prancis. Sebagai imbalan, Sultan Turki mengakui keluarga Mehemet Ali sebagai gubernur turun-temurun.

Selama pemerintahan Mehemet Ali, diperkenalkanlah kapas yang menjadi tanaman ekspor utama. Untuk pertama kalinya selama ribuan tahun, para petani banyak menjadi anggota tentara untuk menggantikan para budak dan para prajurit bayaran asing. Mehemet Ali juga banyak membangun proyek irigasi yang luas.

Ismail dan Terusan Suez

Anak laki-Iaki Mehemet Ali, Said Pasha, mengizinkan Ferdinand de Lesseps, seorang Prancis, membangun Terusan Suez. Namun, proyek ini baru rampung ketika anak Said, Ismail I, berkuasa.

Untuk membuka terusan ini pada tahun 1869, Ismail membuat komisi Giuseppe Verdi untuk mengarang sebuah opera Aida. Ismail membangun gedung opera baru di Kairo dan pertunjukan opera Aida yang pertama dilaksanakan pada tanggal 24 Desember 1871.

Menjelang tahun 1875, kebijakan keuangan Ismail yang boros telah membuat Mesir di ujung kebangkrutan sehingga dia terpaksa menjual saham Perusahaan Terusan Suez kepada Inggris. Inggris dan Prancis menyerahkan tanggung jawab keuangan Terusan Suez ini kepada pemerintah.

Pada tahun 1879, Ismail mengundurkan diri untuk digantikan oleh anak laki-lakinya, Taufik.

Ketidakpuasan terhadap kendali asing mengarah kepada unjuk rasa para nasionalis Mesir tahun 1882. Pemberontakan ini dipimpin oleh Ahmed Arabi, seorang kolonel di dalam angkatan bersenjata.

Inggris lalu mengirim tentaranya ke wilayah ini untuk memadamkan pemberontakan ini. Tentara Inggris berhasil mengalahkan tentara Arabi di dalam pertempuran di Tell el Kebir lalu menduduki negeri ini.

Sejak saat itu, Inggris menguasai Mesir meskipun secara teknis masih di bawah kekuasaan Turki Usmani.

Tahun 1880-an, pemerintah kehilangan kekuasaannya atas Sudan karena kekuatan Mahdi, Mohammed Ahmed, seorang pemimpin agama Islam. Di bawah pimpinan Inggris tentara berhasil merebut kembali Sudan pada tahun 1898. Suatu kondominium (kekuasaan bersama) Inggris-Mesir didirikan di Sudan, tetapi sebenarnya Inggrislah yang menguasai Sudan, sebagaimana halnya di Mesir.

Perang Dunia I dan Kemerdekaan Mesir

Turki bersekutu dengan Jerman melawan Inggris selama pecah Perang Dunia I. Untuk menghukum Turki dan melindungi Terusan Suez, Inggris menyatakan suatu daerah protektorat di Mesir.

Seusai perang, para nasionalis Mesir terus meningkatkan tekanannya kepada Inggris untuk memerdekakan negaranya. Saad Zaghlul Pasha, pendiri Partai Wafd, memimpin gerakan untuk mengusir Inggris. Melalui deklarasi tahun 1922, Inggris memberikan kemerdekaan bersyarat.

Suatu monarki konstitusional didirikan dengan Fuad I, seorang keturunan Mehemet Ali, sebagai raja. Namun, berbagai kepentingan asing dilindungi dan tentara Inggris pun masih bercokol. Kemerdekaan ini juga masih menjamin berlanjutnya kendali Inggris-Mesir atas Sudan.

Pada tahun 1936, suatu perjanjian dibuat o|eh Inggris. Tentara Inggris ditarik ke Zone Terusan, berbagai kepentingan asing di Mesir dicabut dan negara ini lebih banyak mempunyai hak bersuara di dalam administrasi Sudan.

Perang Dunia II dan Perang Arab-Israel

Mesir diserang oleh Jerman dan Italia selama Perang Dunia II. Tentara Sekutu ditempatkan di wilayah ini untuk memukul mundur gerak maju tentara Jerman dan Italia.

Tentara Poros berhasil dipatahkan di El Alamein, dekat Iskandariah pada tahun 1942. Mesir baru menyatakan perang secara resmi terhadap Jerman pada tahun 1945. Pada saat yang sama, Kairo menjadi tempat pertemuan pendirian Liga Arab. Negara ini juga menjadi salah satu anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Bersama dengan negara Arab lainnya Mesir sangat keberatan atas didirikannya negara Yahudi Israel di daerah mandat Inggris di Palestina. Pecahlah perang antara Israel dan negara-negara Arab pada tahun 1948. Negara-negara Arab dikalahkan oleh Israel, dan gencatan senjata pun ditandatangani tahun 1949.

Pemberontakan 1952 dan Perang Sinai

Kekalahan tentara oleh Israel dan semakin menyebarnya korupsi di dalam pemerintahan Raja Faruk menyuburkan tumbuhnya berbagai gerakan revolusi di Mesir.

Pada tanggal 23 Juli 1952, sekelompok perwira muda yang dipimpin oleh Kolonel Gamal Abdel Nasser menumbangkan monarki. Untuk pertama kalinya sejak penaklukan oleh Persia, seorang asli Mesir mengambil-alih pemerintahan.

Raja lalu turun takhta digantikan oleh anak laki-lakinya yang masih bayi, Ahmed Fuad II dan Jenderal Muhammad Naguib menjadi kepala Dewan Komando Revolusi.

Pada bulan Juni 1953, monarki dihapuskan dan Mesir menjadi sebuah republik dengan Naguib sebagai presiden dan perdana menteri yang pertama. Pada tahun 1954, Nasser menggeser Naguib dan mengambiI-alih kendali pemerintahan.

Pada bulan Juli 1956, Nasser mengumumkan nasionalisasi Perusahaan Terusan Suez, padahal saham-sahamnya dipegang oleh Inggris dan Prancis. Tiga bulan kemudian, Inggris dan Prancis menyerang Mesir.

Israel yang memang sedang berperang dengan Mesir dan yang kapal-kapalnya dilarang memasuki Terusan Suez, melanggar perjanjian gencatan senjata dan bergabung dengan Inggris dan Prancis menyerang Mesir.

Ketiga negara ini berhasil menduduki Semenanjung Sinai dan sebagian Zone Terusan Suez. Perserikatan Bangsa-Bangsa campur tangan dan tentara Inggris, Prancis, dan Israel ditarik dari Sinai. Tentara penjaga perdamaian PBB ditempatkan di sepanjang garis demarkasi antara Mesir-Israel di Sinai.

Dari Perang Hingga Perdamaian dengan Israel

Kampanye Suez pada tahun 1956 memperkuat posisi Nasser di dunia Arab dan memberikan jalan bagi persatuan politik Mesir dan Suriah pada tahun 1958. Negara baru ini mengambil nama Republik Persatuan Arab dan Gamal Abdel Nasser menjadi presidennya.

Namun, pada tahun 1961, suriah menarik diri dari persatuan ini dan mengorganisasikan pemerintahan sendiri, yang merdeka.

Pada bulan Mei 1967, tentara perdamaian PBB di Sinai ditarik atas permintaan Mesir. Bulan Juni perang meletus lagi antara tentara Israel dan Mesir. Israel dapat mengalahkan tentara Mesir dan menduduki Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, dan tepi timur Terusan Suez. Ketika Nasser meninggal pada tahun 1970, dia digantikan oleh Anwar el-Sadat.

Konflik keempat antara Mesir dan Israel pecah lagi pada bulan Oktober 1973. Konflik ini merupakan perang yang keras sampai menjalar di kedua tepi Terusan Suez sebelum gencatan senjata disetujui.

Tentara penjaga perdamaian PBB sekali lagi ditempatkan di Sinai dan penarikan sebagian tentara Israel dilakukan. Pada bulan November 1977, Sadat membuat suatu perjalanan bersejarah ke Israel sehingga menjadikannya sebagai kepala negara Arab pertama yang mengunjungi negara Yahudi-Israel.

Hubungan ini mengarah kepada perundingan antar kedua negara yang melahirkan Perjanjian Camp David pada tahun 1978. Perjanjian ini mengarah kepada perjanjian damai penuh Mesir-Israel tahun 1979.

Di bawah perjanjian ini, Mesir mengakui hak Israel untuk hidup dan Israel setuju untuk menarik tentaranya dari Sinai dan merundingkan pemerintahan sendiri bagi bangsa Palestina di Gaza dan tepi barat Sungai Yordan.

Terbunuhnya Sadat 6 Oktober 1981 menimbulkan ketegangan baru dalam negeri dan pengucilan Mesir dari Dunia Arab. Penggantinya, Hosni Mubarak, berjanji meneruskan kebijakan Sadat serta memulihkan keserasian dalam negeri dan negara tetangga.

Mesir diterima kembali dalam Liga Arab tahun 1989. Mubarak memimpin negara-negara Arab mengusir Irak dari Kuwait dalam Perang Teluk 2. Mubarak mendukung perjanjian damai 1993 untuk diberikannya pemerintahan sendiri kepada Jericho dan Gaza.

Pemerintahan Mesir

Menurut konstitusi 1971, presiden Mesir dipilih oleh para pemegang hak pilih untuk masa jabatan 6 tahun. Para anggota Dewan Rakyat satu kamar juga dipilih oleh para pemegang hak pilih umum untuk jabatan selama 5 tahun.

Perubahan konstitusi pada tahun 1980 membolehkan presiden untuk memangku jabatan selama waktu yang tak terbatas dan menjadikan hukum Islam sebagai sumber hukum yang utama. Seorang perdana menteri dan dewan menteri bertugas membantu presiden.

Baca juga: 3 kerajaan Mesir Kuno

Artikel Terkait