Sudan

  • Whatsapp
Sudan

Badai pasir yang ganas disebut haboob bergulung melalui bentangan luas pasir dan kerikil kuning menyelimuti Khartum, ibu kota Sudan. Bulevar berjalur tiga, taman, dan semaian bunga-yang merupakan pemandangan yang berlawanan dengan gurun pasir beberapa mil di dekat Sungai Nil segera saja tertutup pasir.

Orang yang berjalan di jalanan telah terbiasa dengan badai musim panas seperti ini. Mereka segera saja mengumpulkan barang miliknya dan berlindung di gedung di dekatnya. Segera setelah badai berlalu orang-orang pun kembali kepada urusan masing-masing.

Bacaan Lainnya

Geografi Sudan

Republik Demokratik Sudan adalah negara terluas di benua Afrika dan memiliki baris pantai Laut Merah yang strategis sepanjang 725 km. Negeri ini berada di timur laut Afrika; dibatasi oleh Libia di ujung barat laut; Republik Arab Mesir di utara; Laut Merah dan Ethiopia di timur; Kenya, Uganda, dan Republik Zaire di selatan; serta Republik Afrika Tengah dan Republik Chad di barat.

Di Sudan tengah terletak Pegunungan Nuba; di sebelah barat adalah Jabal Marra. Pegunungan lmatong di selatan termasuk puncak tertinggi Sudan, yaitu Gunung Kinyeti setinggi 3.187 meter.

Pertemuan Sungai Nil Putih dan Nil Biru di Khartum
Pertemuan Sungai Nil Putih dan Nil Biru di Khartum

Sungai Nil adalah sungai utama yang pusat utamanya adalah Nil Putih dan Nil Biru bergabung membentuk Sungai Nil di Khartum. Masing-masing sungai itu membawa air kehidupan bagi gurun Sudan utara dari daerah hujan yang lebih deras di selatan dan tenggara.

Sungai Nil Putih mengalir masuk ke Sudan dari Uganda. Sebagian besar airnya hilang tersedot daerah rawa yang luas di antara Juba dan Malakal yang dikenal sebagai Sudd.

Sudetan Jonglei dirancang untuk mengkanalkan Nil Putih di daerah ini dan mengurangi hilangnya air karena penguapan. Aliran air Sungai Nil Biru sangat bergantung pada musim.

Sungai itu cepat meluap di musim panas karena air hujan dari Tanah Tinggi Ethiopia yang merupakan daerah asalnya. Bendungan di Sennar dan Roseires menahan sebagian dari air bah musim panas untuk kemudian digunakan untuk mengairi lahan pertanian kapas dan tanaman lain di antara kedua sungai tersebut yang dikenal sebagai Gezira.

Peta wilayah Sudan

Iklim

Iklim negeri ini tropis dengan suhu siang hari 38° C dari Februari – November dan 34° C di bulan Desember dan Januari. Sepertiga bagian utara Sudan merupakan gurun gersang.

Sepertiga di tengah beriklim tropis tipe penghujan-kemarau, dengan musim kemarau selama 6-9 bulan, dan hamparan yang terdiri atas tanah rumput berhutan. Kondisi penghujan tropis, dengan kelengasan tinggi dan hutan lebat meliputi sepertiga bagian selatan.

Kota-kota

Khartum yang terletak dekat pertemuan Sungai Nil Biru dan Nil Putih, adalah ibu kota Sudan. Kota modern ini merupakan pusat bisnis dan perbankan. Daerah metropolitan penting yang lain adalah Omdurman, yang berfungsi sebagai salah satu pasar perdagangan utama Afrika timur laut.

Sedangkan Khartum Utara adalah pusat industri utama negara ini. Port Sudan adalah pusat perkapalan dan perdagangan utama.

Penduduk Sudan

Penduduk Sudan hidup terpencar-pencar. Suku pengelana berjumlah sekitar 10%, sedangkan penduduk kota hanya 25°o. Secara tradisional, bagian utara didominasi oleh kaum Muslimin berbahasa Arab dan bagian selatan oleh penduduk kulit hitam yang masih beragama lokal atau memeluk Kristen.

Bahasa, agama, persengketaan etnik tradisional, dan perbedaan gaya hidup semakin memisahkan penduduk itu. Perbedaan besar budaya ini menimbulkan masalah khusus bagi pemerintah pusat Sudan yang sedang berjuang menciptakan suatu jati diri nasional, tetapi masih harus memuaskan kebutuhan rakyat di daerah yang kadang-kadang berlawanan.

Penduduk Utara

Muslimin berbahasa Arab merupakan separuh jumlah seluruh rakyat. Sebagian besar penduduk yang berbahasa Arab menyatakan diri sebagai orang Arab (yaitu 46°o) meskipun banyak di antaranya memiliki leluhur campuran.

Orang Arab mendominasi daerah utara, yang tinggal di kota, kota kecil, dan desa. Sebagian mengaku sebagai bagian adi suku Guhayna yang hidup mengelana, peternak besar unta dan biri-biri di tanah-tanah kering yang jauh dari Sungai Nil dan anak-anak sungainya.

Selama musim panas, mereka berkelana ke selatan mencari lahan perumputan. Di musim panas di kala hujan sekali-sekali menyegarkan perumputan utara, pengelana ini kembali bergerak ke utara.

Suku Arab Baqqara yang tinggal di daratan sebelah selatan Khartum mengikuti gaya hidup berkelana yang serupa, namun mereka beternak sapi bukannya biri-biri atau unta.

Kelompok utama Muslimin non-Arab terdiri atas suku Nubia, yang merupakan keturunan bangsa Negroid dari kekaisaran Kush kuno. Orang-orang ini beragama Islam meskipun bertutur dalam dialek Nubia, yang agak mirip dengan bahasa Arab. Kebanyakan orang Nubia tinggal di kampung kecil atau di desa kecil yang permanen.

Pegunungan Laut Merah merupakan tempat tinggal kaum Beja, orang Islam pemilik unta yang berkelana dalam kelompok kecil, mengikuti hujan yang menyuburkan perumputan bagi ternaknya. Kam suku Beja dalam bentuk tenda persegi terbuat dari kerangka tiang pancang yang ditutup dengan rumput atau tikar daun kelapa.

Penduduk Selatan

Selama beberapa tahun penduduk Afrika hitam dari Sudan Selatan telah dipaksa mengikuti gaya hidup kaum Muslimin Sudan di utara. Banyak di antaranya menolak dan telah berusaha memaksakan diri sendiri untuk mendapatkan semacam bentuk otonomi regional bagi daerah selatan dari pemerintah pusat.

Karena oposisi yang bersinambung inilah, maka tercipta persatuan di antara penduduk selatan yang sebenarnya sangat bhineka ini adalah Suku Nilote, yang tinggal di sepanjang Sungai Nil, dan orang-orang dari suku lain.

Suku Nilote didominasi oleh tiga kelompok besar yang kuat. Suku Dinka, Nuer, dan Shilluk. Suku Dinka, terdiri atas lebih dari 10% bangsa Sudan merupakan suku terbesar satu-satunya di selatan.

Orang Dinka
Peternakan hewan merupakan pekerjaan utama orang Dinka

Keterlibatannya yang besar terhadap ternak mengungguli kehidupan ekonomi dan agama mereka. Suku ini adalah setengah nomadik, yang hidup dalam rumah yang tersebar.

Rumah mereka, yang dikelilingi dengan pagar berduri, berbentuk kerucut terdiri atas kerangka tiang yang dibengkokkan dan puncaknya diikat menjadi satu, serta ditutup dengan anyaman cabang, rumput, atau kulit binatang.

Selama musim kemarau, saat orang Dinka bergerak mencari perumputan bagi ternaknya, mereka tinggal di kam-kam darurat. Sambil berjalan, mereka biasanya mendirikan tempat berteduh darurat dari semak belukar dan rerumputan.

Suku Neur tinggal di daerah rawa besar Sungai Nil yang paling sukar dicapai, terkungkung bersama gerombolan besar ternak mereka. Mereka tinggal dalam permukiman tetap selama musim hujan, sedangkan rumah mereka biasanya bulat dengan atap ilalang berbentuk kerucut.

Seperti tetangganya, orang Dinka dan orang Neur menggiring ternak mereka memasuki lahan perumputan yang lebih dan subur selama musim kering.

Suku Shilluk menduduki daerah yang boleh dikatakan kecil di tepi barat Sungai Nil dekat permukiman suku Fashoda. Tidak seperti Suku Dinka dan Neur, mereka hanya memelihara sedikit ternak, sebaliknya mereka lebih suka mengolah lahan.

Masyarakat lokal terdiri atas baik sebuah desa tunggal yang padat maupun segugus rumah-rumah kecil. Rumah mereka berbentuk kerucut, terbuat dari kayu dan rumput ilalang.

Suku terbesar di luar kelompok Nilotik adalah Suku Azande, yang tinggal di daerah antara lembah Zaire dan lembah Nil. Suku ini terutama sebagai pemburu dan petani. Panen mereka yang utama adalah polong-polongan, jagung, ketela, dan kacang. Suku Azande dikenal juga sebagai pengrajin dan musisi yang baik.

Agama

Lebih dari 50% orang Sudan dan mayoritas penduduk utara adalah orang Islam. Mereka berhasil mendesak pemerintah pusat menyatakan Islam sebagai agama resmi negara pada tahun 1983. Kampanye Islam yang bersinambung juga menghasilkan diberlakukannya hukum tradisional Islam (hukum Syara’) ke dalam hukum perdata.

Banyak penduduk non-Muslim termasuk sebagian besar penduduk selatan, menentang hukum baru tersebut. Sebagian besar penduduk non-Muslim Sudan adalah animis. Sejumlah kecil, yaitu lulusan sekolah misi, memeluk agama Kristen.

Bahasa

Lebih dari 100 bahasa yang berbeda dan lebih banyak lagi dialek lokal dituturkan di Sudan. Bahasa Arab, yang merupakan bahasa mayoritas penduduk utara adalah bahasa resmi. Bahasa Inggris dituturkan secara luas di daerah selatan yang bahasa daerahnya berbeda-beda.

Makanan

Kisra, yang dibuat dari cantel, merupakan makanan pokok di Sudan. Kisra dibuat menyerupai juadah dan seringkali disajikan dengan daging dan sayuran.

Para peternak bergantung kepada ternak sebagai sumber utama makanan mereka dalam bentuk susu dan daging. Susu diminum segar, dicampur dengan gandum sebagai bubur, atau diolah menjadi keju dan mentega.

Gandum juga merupakan makanan penting, yang dibuat menjadi bubur dan dapat dimasak menjadi bir berkadar alkohol rendah. Ikan adalah makanan pokok bagi penduduk yang tinggal di sepanjang Sungai Nil dan pantai Laut Merah.

Pendidikan

Pendidikan adalah wajib bagi anak umur 7-13 tahun dan diberikan dengan gratis sejak sekolah dasar sampai universitas. Sebelum awal tahun 1980-an hanya terdapat sedikit anak-anak umur sekolah yang terdaftar dalam sekolah dasar, menengah pertama dan atas, negeri ataupun swasta.

kelas sekolah

Namun, baik jumlah sekolah maupun jumlah murid kini semakin meningkat. Sebagian besar sekolah dikelola atau disubsidi oleh pemerintah. Sudan memiliki dua sekolah tinggi yang penting, yaitu Universitas Khartum dan Institut Teknologi Khartum.

Sebuah cabang Universitas Kairo Mesir juga berada di Khartum. Fasilitas pendidikan penting yang lain adalah Universitas Islam Omdurman dan universitas di Wad Medani dan Juba.

Ekonomi Sudan

Sudan adalah salah satu negara terbelakang dan termiskin di dunia. Sekitar 75% tenaga kerjanya bekerja di produksi peternakan dan pertanian pangan. Kapas dan biji kapas, yang ditanam di ladang teririgasi, merupakan tanaman keras dan komoditi ekspor utama.

Kapas hasil bumi Sudan
Kapas yang merupakan tanaman keras utama Sudan sedang ditimbang di sebuah stasiun sebelum di ekspor

Tanaman ekspor lain termasuk gula, perekat arabika (Sudan adalah penyedia utama komoditi ini), biji wijen dan kacang. Gandum, cantel, bulgur, kacang, dan kacang polong merupakan tanaman pangan utama.

Pemeliharaan ternak biasa dilakukan di daerah semi gersang tetapi lebih dihubungkan dengan gaya hidup nomadik tradisional ketimbang dengan produksi untuk dijual atau diekspor.

Tingkat ekonomi separuh daerah utara Sudan yang kering sangat bergantung kepada Sungai Nil dan sistem irigasi. Salah satu proyek Skema Gezira telah membuka lahan antara Sungai Nil Putih dan Nil Biru bagi peningkatan panen.

Suatu program pengembangan pertanian bagi daerah selatan dihubungkan dengan perampungan Terusan Jonglei di Nil Putih, yang diharapkan mampu membagi lebih banyak lagi air Nil Putih ke daerah utara yang gersang.

Air irigasi lain datang dari Danau Nasser, danau buatan yang dibangun karena adanya Bendungan Tinggi Aswan di Mesir. Wadi Halfa dan banyak bekas permukiman lain kini berada di bawah danau.

Produk pertanian di Sudan selatan terbatas karena banyak dari lahan itu tidak mendukung pertanian dan jaraknya terlalu jauh ke pasar dan pelabuhan besar di utara, sehingga produksi pertanian di selatan itu secara ekonomis kurang menguntungkan. Tembakau, gula, beras, kopi, dan minyak kelapa telah diolah meskipun masih dalam tingkat percobaan.

Pemanufakturan masih dalam ukuran kecil dan menghasilkan kurang dari 7% kekayaan negeri. Tekstil, pabrik gula, dan kegiatan pemrosesan makanan lain merupakan industri utama.

Kegelisahan dalam negeri telah menghambat pembangunan ladang minyak yang luas yang ditemukan di selatan pada tahun 1979.

Meskipun Sudan tidak memiliki jaringan jalan segala cuaca yang baik, negeri itu memiliki sistem kereta api yang luas di utara dan pelayanan kapal uap sungai yang terbatas antara Sudan utara dan Mesir.

Sistem transportasi belum benar-benar dikembangkan di Sudan selatan dan sebagian besar perjalanan jarak jauh terbatas pada pelayanan kapal uap sepanjang Sungai Nil dan penerbangan domestik. Sebuah bandara internasional berada di Khartum, sedangkan sebuah terminal udara modern di Port Sudan.

Sejarah dan Pemerintahan Sudan

Penduduk Sudan yang paling dulu dikenal adalah orang Afrika kuno yang hidup di sana di zaman Batu. Di akhir masa seribu tahun ke-4 sebelum Masehi, raja dari dinasti Mesir pertama menaklukkan Nubia (Sudan Utara) dan sesudah itu pengaruh kebudayaan Mesir tersebar ke hulu dan berkulminasi di masa berdirinya kerajaan Kush di Nubia.

Pahatan candi Sudan
Raja yang gambarnya dipahat di atas batuan berumur 200 tahun ini memerintahkan pembangunan Candi Singa yang tampak di latar belakang

Kush terus memerintah Nil tengah selama kira-kira 1.000 tahun. Di pertengahan abad ke-4, Raja Aksum menuruni Tanah Tinggi Ethiopia, menyerang Meroe, ibu kota Kush, dan menghancurkan kota-kota di sekitarnya.

Setelah jatuhnya Kush, muncullah dua buah kerajaan baru, yaitu Maqurra, di Nubia, dan Alwa, dengan ibu kota di Soba di dekat Khartum sekarang.

Di abad ke-14 Maqurra jatuh ke tangan orang Arab. Mereka saling menikah dengan suku Nubia dan bermigrasi ke selatan, memperkenalkan bahasa Arab dan budaya Islam kepada penduduk.

Agak ke hulu Nil, bangsa Arab bersekutu dengan orang Funj, bangsa yang tak diketahui asal muasalnya, untuk menghancurkan suku Alwa. Setelah itu, dinasti Funj, dengan ibu kotanya Sennar, memerintah Sudan sampai tahun 1821, yaitu saat tentara waliraja Turki di Mesir, Mehemet Ali, menyerang Sudan dan melenyapkan bekas-bekas terakhir Kekaisaran Funj.

Mehemet Ali menaklukkan kawasan yang saat ini dikenal sebagai Sudan dan membuka daerah ini bagi kemajuan budaya dan teknik dari dunia luar. Dia berupaya mengembangkan dan memerintah negeri ini dengan memperkenalkan alat komunikasi transpor, dan administrasi modern.

Bangsa Sudan di bawah kepemimpinan Mohammed Ahmed, yang dikenal sebagai Mahdi, memberontak terhadap penguasa Mesir. Mereka mengalahkan tentara Mesir dan menghancurkan pemerintahan Mesir di Sudan.

Pada tahun 1898 suatu tentara gabungan, Inggris-Mesir di bawah komando Jenderal sir H.H. Kitchener kembali menaklukkan Sudan. Pendidikan dan pengobatan Barat diperkenalkan, sedangkan perhubungan berupa jalan besar, kereta api, dan angkutan sungai-diperluas.

Di bulan Februari tahun 1953, Inggris dan Mesir membuat perjanjian untuk memberi pemerintahan sendiri kepada Sudan. Pada tanggal 1 Januari 1956 Sudan menerima kemerdekaannya dan diterima menjadi anggota PBB pada tanggal 12 November 1956.

Setelah merdeka, suatu pemerintah koalisi parlementer terbentuk. Suatu kup militer di tahun 1958 mendepak pemerintah ini dan semua partai politik dilarang. Kemudian dibentuk suatu Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata untuk memerintah negara itu.

Pemerintah ini pun kemudian digulingkan dan sejak tahun 1965-1969 Sudan diperintah oleh suatu Dewan Tertinggi Negara panca anggota, Perdana Menteri, kabinet, dan parlemen.

Di tahun 1969, setelah kup militer, sebuah Dewan Revolusioner dasa anggota dibentuk. Pemimpin Dewan-Jaafar Mohammed al Nimeiry, memenangkan pemilihan sebagai presiden berdasarkan konstitusi baru tahun 1971.

Tanpa oposisi, Nimeiry terpilih kembali tahun 1977 dan 1983. Tahun 1972 dia mengadakan persetujuan dengan kelompok orang Sudan Selatan yang telah memberontak sejak dicapainya kemerdekaan.

Persetujuan itu memberikan otonomi daerah dalam lingkungan federal. Namun, ketegangan lama antara kaum Muslimin utara dan orang non-Muslimin selatan menjurus pada perang saudara.

Setelah tahun 1983, Nimeiry memberlakukan hukum Islam (Syara’) dalam hukum perdata dan mendesakkan Islamisasi negeri itu. Kesukaran ekonomi akibat kemarau panjang Afrika dan masuknya pengungsi dari Chad dan Ethiopia memperburuk keadaan bagi Nimeiry.

Tahun 1985, saat mengunjungi Amerika Serikat, Nimeiry digulingkan dan diganti oleh suatu dewan militer peralihan.

Suatu pemerintahan sipil yang terbentuk setelah pemilu 1986 tidak mampu mengakhiri peperangan di selatan dan digulingkan oleh junta militer tahun 1989.

Pada awal 1990, pemerintah mempererat hubungannya dengan Iran dan mengintensifkan usaha peperangan dengan memaksakan ratusan ribu pengungsi selatan dari Khartoum untuk pindah guna menghancurkan perkampungan pengungsi.

Tahun 1992 dibentuklah parlemen peralihan untuk merintis jalan bagi pemilu-pemilu baru.

Referensi lain mengenai Sudan, silahkan baca di sini

Subscribe to our newsletter

Pos terkait