Mauritania

Mauritania terletak di Afrika barat laut adalah sebuah negara kecil yang sedang memasuki dunia modern. Di sebelah utara, tengah, dan timur wilayahnya terbentang Gurun Sahara, yaitu tempat kafilah unta lebih sering terlihat daripada jeep atau truk.

Penduduk wilayah ini hidup dengan menggembalakan unta, biri-biri, dan kambing, mengenakan sorban dan pakaian panjang, sebagaimana dilakukan nenek moyang mereka untuk melindungi diri dari panas terik dan matahari.

Di Mauritania selatan, gurun ini perlahan-lahan berubah menjadi semak, lalu padang rumput, dan akhirnya hutan yang lembap. Penduduk di wilayah lembap ini pada umumnya tinggal di desa-desa dan hanya mempunyai sedikit persamaan dengan para gembala gurun di utara.

Peta wilayah Mauritania

Kunjungi Peta Mauritania atau di google map

Geografi Mauritania

Mauritania kadang-kadang disebut Sahara Atlantik, karena gurun dan Samudra Atlantik bertemu di wilayah ini. Mauritania memiliki tiga zone geografis, yaitu: Sahara, sahel (semi gurun), dan tropis. Gurun Sahara mencakup sekitar 60% wilayah, yaitu di utara, tengah, dan timur.

Sekurang-kurangnya separuh Sahara Mauritania benar-benar merupakan sebuah gurun yang kejam. Sejauh mata memandang terbentang pasir dan gundukan-gundukan pasir (yaitu bukit atau kambi pasir yang terbentuk oleh angin), puncak karang yang terpencil, dan plato.

Di negara ini terdapat perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Dari bulan November sampai Maret, suhu berkisar antara titik beku di pagi hari sampai 38°C menjelang sore hari. Antara April dan Oktober, suhu sehari-hari berkisar antara 16°C hingga lebih dari 49°C.

Wilayah sahel terletak di selatan Sahara. Sahel merupakan wilayah stepa yang kering dan bersemak sedikit lebih basah dibanding Sahara.

Lebih ke selatan menuju Sungai Senegal, terletak 10% wilayah yang panas, kelembapan, dan musim banjir mengakibatkan tumbuhnya sabana bersemak (rerumputan) dan bercak-bercak hutan tropis.

Mauritania mendapatkan bagian selatan wilayah Sahara Spanyol (kini Sahara Barat) pada tahun 1976 ketika Spanyol mencabut klaimnya atas wilayah ini. Namun, pada tahun 1979 Mauritania menanggalkan kekuasaannya sehingga Maroko, yang telah mendapatkan bagian utara Sahara, mengklaim semua wilayah ini.

Penduduk Mauritania

Penduduk Mauritania yang kecil tetapi beraneka suku, tinggal di suatu wilayah yang luasnya 1.030.700 km2. Moor (”Maures” dalam bahasa Prancis) merupakan nama suku yang kemudian dijadikan nama negara.

Mereka pada umumnya merupakan keturunan campuran Arab dan Berber yang hidup sebagai penggembala wilayah gurun dan setengah gurun. Suku ini membentuk 60% penduduk.

Suku Afrika hitam di selatan, yang merupakan 40% penduduk, berupaya mendapatkan suara yang lebih besar di dalam negara. Suku Afrika hitam yang utama adalah Fulani (atau Fulbe), Tukulor (atau Toucouleur, juga disebut Halphoolaren), dan Sarakole (atau Soninke).

Suku Moor bertutur dalam berbagai dialek Hassaniyya, yang merupakan bentuk bahasa Arab. Suku Fulani dan Tukulor bertutur dalam bahasa Fulfulde (atau Phoolor), yaitu sejenis bahasa Afrika Barat, meskipun dialek suku Tukulor telah banyak berubah. Suku Sarakole bertutur dalam rumpun bahasa Mandingo.

Para pejabat pemerintah biasanya bertutur dalam bahasa Prancis. Baik bahasa Prancis maupun bahasa Arab Hassaniyya merupakan bahasa resmi Mauritania.

Setiap kelompok suku di Mauritania memiliki adat-istiadat dan tradisi masing-masing. Satu-satunya tali pengikat adalah Islam sebagai agama mereka.

Cara Hidup Suku Moor

Karakter suku Moor telah dibentuk oleh gurun, Islam, dan berbagai pengaruh Afrika hitam. Suku Moor merupakan penggembala unta, biri-biri atau kambing bergantung pada tempat mereka tinggal.

Mereka menggiring ternaknya dari satu titik air ke titik air lainnya dalam suatu pola yang telah tercipta dengan baik. Di titik pemberhentian utama mereka mendirikan tenda yang terbuat dari bulu unta.

Untuk dapat bertahan hidup di gurun, suku Moor harus dapat berswasembada dan mampu mengembangkan perasaan yang sangat peka. Mereka umumnya memiliki indera yang sangat baik dan pandangan mata yang sangat tajam.

Apa yang dilihat oleh orang luar sebagai gurun yang monoton, dilihat oleh orang Moor sebagai bentuk yang beragam-bentuk. bukit pasir dan tebing batu yang berbeda serta berbagai fatamorgana gurun.

Mereka dapat menentukan setiap benda yang bergerak di kejauhan dan dapat melihat jalan nyaris tak tampak yang dapat gunakan untuk menentukan tempat mereka. Mereka juga dapat mengetahui lokasi suatu tempat hanya dengan menghirup udara.

Suku Moor memiliki daya ingat yang luar biasa. Mereka merupakan sumber informasi tentang semua suku Moor dan dapat menceritakan kembali sejarah semua keluarganya.

Keramahtamahan merupakan suatu tradisi yang sangat kuat karena mereka hidup mengembara dan tahu kebutuhan seorang musafir. Di samping itu, kehidupan seorang penggembala Moor adalah begitu sepinya, sehingga pertemuan dengan orang lain dirasakan sangat berharga.

Seringkali diadakan undangan makan setelah pertemuan di gurun. Menu utamanya adalah meshwi (daging kambing, domba, atau antelop panggang). Undangan makan ini diawali dan diakhiri dengan jamuan tiga gelas kecil at’tay, atau teh.

Kehidupan Kota

Kehidupan kota adalah asing bagi suku Moor yang biasa tinggal di gurun. Beberapa orang Moor yang kini bekerja di kota-kota Nouakchott, Nouadhibou, dan Atar menolak tinggal di perumahan modern dan memilih tinggal di tenda-tenda di kota tersebut.

Beberapa orang Moor lainnya bekerja di kantor dan tinggal di perumahan modern, membawa makanan dan minuman mereka ke bawah tenda-tenda kawan mereka.

Cara Hidup Orang Afrika Hitam

Suku Fulani, atau Fulbe, merupakan penggembala sapi utama Mauritania. Mereka menggiring ternaknya dari satu tempat ke tempat lain di padang rumput lembap.

Mereka tinggal di gubuk-gubuk sementara (disebut ruga). Sapi-sapi yang sangat berharga bagi mereka di kandangkan di tempat yang terlindung dan jarang disembelih. Suku Fulani hidup terutama dari susu, produk susu, dan bulgur, dengan memakan sedikit daging.

Suku Tukulor (Halphoolaren), kelompok suku hitam Mauritania yang terbanyak, merupakan bagian suku Fulani. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani dan mencari ikan.

Keluarga besar merupakan hal penting bagi suku Tukulor. Setiap keluarga besar tinggal di sebuah galle, yaitu kompleks keluarga besar. Dalam kompleks setiap rumah tangga memiliki tempat tinggal sendiri-sendiri, disebut poyre. Rumah-rumah tangga itu boleh meminta bantuan galle dengan biaya khusus.

Suku Sarakole kemungkinan besar merupakan salah satu di antara penduduk asli Mauritania. Tampaknya mereka adalah kelas penguasa semasa kekaisaran Ghana dahulu. Kehidupan sosial mereka mirip dengan kehidupan sosial suku Tukulor.

Kota

Kota-kota utama Mauritania terlalu kecil untuk dianggap sebagai sebuah kota. Ibu kotanya, Nouakchott yang berpenduduk paling banyak. Ibu kota ini terletak hampir di tengah garis pantai Atlantiknya, sekitar 6 km ke dalam.

Nouakchott ibu kota Mauritania
Nouakchott ibu kota Mauritania

Penduduk ibu kota yang hampir seluruhnya dibangun pada tahun 1958, akhir-akhir ini meningkat dengan pesat. Sebagian besar pendatang baru adalah para penggembala yang kehilangan ternak pedagingnya akibat kekeringan parah yang melanda.

Kota kedua adalah Nouadhibou, yang terletak di ujung utara pantai Atlantik Mauritania merupakan pelabuhan pemberhentian kapal-kapal pencari ikan dari berbagai negara.

Di Muara Sungai Senegal terletak pelabuhan sungai Rosso dan Kaédi. Atar, yang terletak di wilayah tengah barat, merupakan salah satu kota dagang tertua, yaitu sebagai tempat pemberhentian para kafilah selama beratus-ratus tahun.

Pendidikan

Meskipun pendidikan wajib bagi anak usia 6-12 tahun, hanya sebagian kecil saja anak-anak usia sekolah yang bersekolah. Angka melek huruf adalah di bawah 20%. Mauritania kekurangan ruang belajar, guru, dan uang untuk perkembangannya.

Namun, pemerintah menciptakan sekolah-berjalan. Karena begitu banyak anak yang hidup mengembara, buku pelajaran mereka dirancang sedemikian rupa sehingga pelajaran dapat dibawa oleh kawanan penggembala.

Ekonomi Mauritania

Mauritania merupakan salah satu negara termiskin di dunia, tetapi kini situasinya tidak lagi separah sebelumnya. Hingga tahun 1960-an hanya memiliki sedikit sumber alam yang dapat dieksploitasi serta beberapa bahan ekspor.

Gambaran ini berubah ketika endapan bijih besi berkadar tinggi yang luas di barat laut dekat F’Derik mulai dieksploitasi. Menjelang awal tahun 1970-an, penambangan endapan tembaga juga mulai dikerjakan.

Pemeliharaan ternak merupakan mata pencaharian utama. Biri-biri dan kambing adalah yang terbanyak, lalu sapi, dan yang terakhir adalah unta. Di Lembah Sungai Senegal tumbuh bulgur dan padi-padian lain.

Kurma banyak tumbuh dli berbagai dataran tinggi dan oasis. Produk kurma, padi-padian, dan ternak sebagian besar untuk konsumsi dalam negeri.

Berbagai rencana untuk mengembangkan endapan besi di dekat F’Derik dimulai pada tahun 1952 ketika Miferma, yaitu sebuah perusahaan pertambangan internasional didirikan.

Sebelumnya, Perusahaan Miferma ini dikuasai oleh berbagai kepentingan Prancis, tetapi pada tahun 1974 perusahaan ini diambil alih oleh pemerintah. Miferma juga membangun jalan kereta api antara F’Derik dan Nouadhibou untuk mengangkut endapan besi.

Ekspor bijih besi berjumlah 8.000.000 ton per tahun. Pada tahun-tahun belakangan ini, pendapatan Mauritania dari Miferma meliputi sepertiga jumlah anggaran negara.

Pengolahan endapan tembaga di dekat Akjoujt, 260 km timurlaut Nouakchott, pada mulanya mengalami kelambatan, tetapi akhirnya produksi dimulai pada tahun 1970.

Sejarah dan Pemerintahan Mauritania

Jelas bahwa, di Zaman Batu di Mauritania tidak terdapat gurun. Peralatan, senjata, dan berbagai lukisan batu yang ditemukan di gua-gua Sahara menunjukkan bahwa orang Negro dahulu mengolah ladang yang terairi dengan baik yang kini telah berubah menjadi gurun.

Penduduknya, yang dikenal sebagai suku Bafour, tampaknya meninggalkan wilayah ini tatkala iklim berubah.

Lama sebelum Era Kristen, kelompok suku Berber Sanhadja menerobos masuk Sahara Atlantik (Mauritania) dari utara. Pada abad ke-4 dan ke-5, suku Sanhadja bergerak ke selatan, melintasi gurun untuk yang pertama kalinya ke Sungai Senegal dan Ghana.

Ketika bangsa Arab keluar dari Jazirah Arabia dan melintasi Afrika Utara pada abad ke-7, suku Sanhadja menahan gerak maju mereka. Untuk beberapa ratus tahun berikutnya. Sahara Atlantik tetap merupakan tempat berlindung bagi semua suku Berber yang menentang pengaruh Arab dan Islam.

Menjelang abad ke-11, Islam berhasil merembes masuk wilayah Sanhadja. Menjelang pertengahan abad ke-11, Abdallah ibn Yasin, seorang muslim fanatik, berhasil mengislamkan suku Sanhadja.

Dengan sebutan al-murabitun (bahasa Arab untuk ”rahib”), mereka berhasil mengalahkan kekaisaran Ghana yang kaya di selatan, dengan mengislamkan para pemimpin Sarakole (Son’inke).

Di bawah panji Almoravid (perubahan dari kata al’murabitun), mereka menyebarkan Islam ke Maroko, Aljazair, dan Spanyol di utara.

Kekaisaran Almoravid runtuh kira-kira pada tahun 1150, tetapi suku Sanhadja telah berhasil mengislamkan orang Afrika barat laut. Sedangkan di sisi selatan, pengislaman kekarisaran Ghana telah mengembangkan Islam ke seluruh Sudan Afrika Barat (wilayah utara Afrika Barat hitam).

Kira-kira pada tahun 1270, suku Arab Badui yang galak dari Arabia selatan memasuki Mauritania. Bani Hassan, yaitu sebutan untuk kelompok suku ini, melakukan aksi teror terhadap suku Sanhadja, tetapi akhirnya mereka bersatu dengan suku Sanhadja. Dari percampuran dua suku yang bermusuhan ini lahirlah suku Arab-Berber, atau orang Moor.

Zaman Eropa

Orang Portugis mendirikan pos-pos dagangnya di Mauritania pada abad ke-15. Kemudian menyusul orang Spanyol pada abad ke-16 yang selanjutnya digantikan oleh orang Belanda, Prancis, dan Inggris pada abad ke-17 dan ke-18.

Perjanjian Paris tahun 1814 memberikan hak kepada Prancis atas pantai Sahara barat (Mauritania) dan Senegal.

Prancis lebih mudah menguasai Senegal daripada Mauritania. Para emir suku Moor menentang pemerintahan Prancis dan melawannya dengan gigih. Menjelang tahun 1899, Prancis kewalahan menghadapi serangan dan pemberontakan suku Moor, sehingga pemerintah kolonial Prancis mengumumkan maksudnya untuk menyatukan berbagai wilayah yang dihuni oleh suku Moor di bawah nama Mauritania Barat.

Perdamaian ini belangsung dari tahun 1901 – 1934 meskipun masa setelah tahun 1905 ditandai oleh berlanjutnya pertumpahan darah. Pada tahun 1920, Mauritania dijadikan bagian dari Afrika Barat Prancis yang diperintah dari Senegal.

Pada tahun 1946, Mauritania dijadikan wilayah Prancis seberang lautan dengan dewan perwakilan dan wakil tersendiri di dalam parlemen Prancis, tetapi Mauritania masih diperintah dari Senegal. Akhirnya pada tahun 1958, Mauritania berswapemerintahan dan mulai membangun ibu kotanya di Nouakchott.

Kemerdekaan

Mauritania merdeka pada tanggal 28 November 1960. Moktar Ould Daddah, yang menjadi presiden Mauritania sejak kemerdekaannya, digulingkan dalam suatu kudeta militer pada tahun 1978.

Pada tahun 1979, Mauritania melepaskan tuntutannya atas Sahara Barat. Tuntutan untuk suatu reformasi politik menyebabkan pemberlakuan konstitusi baru tahun 1991 yang menentukan pemilihan presiden langsung dan dibentuknya perwakilan dua kamar.

Pemilu multipartai guna mengembalikan negara ke pemerintahan sipil dilaksanakan tahun 1992. Kolonel Maaouya Ould Sid’ Ahmed Taya yang memimpin pemerintahan militer sejak 1984 terpilih sebagai presiden tahun 1992.

Artikel Terkait