Sejarah Negara Com
Ensiklopedia sejarah dan negara

Mali

Kata Mali mengingatkan kita akan masa lalu Afrika Barat. Di dalam wilayah negara yang sekarang terdapat pusat tiga kerajaan awal dan paling kuat Afrika Hitam yang kini telah lenyap. Kata Mali diambil dari nama sebuah kerajaan ini, yaitu kerajaan suku Mandingo.

Ketiga kerajaan itu adalah Ghana (yang tidak ada hubungannya dengan negara Ghana yang sekarang), Mali, dan Songhai. Ketiga kerajaan ini melakukan perdagangan lintas Sahara.

Kerajaan yang pertama adalah Ghana, yang mengembangkan suatu perdagangan emas yang maju. Ghana terletak jauh dari pusat kebudayaan Laut Tengah dan Timur Tengah.

Hanya sedikit orang luar Sahara yang pernah berkunjung ke Ghana. Namun, saudagar yang berani dan jarang itu, yang datang ke Ghana bercerita tentang kebesaran dan kekayaan Ghana.

Peta wilayah Mali

Kunjungi Peta Mali atau di google map

Baru setelah Marco Polo berkunjung ke Ghana beberapa abad berikutnya, setelah dia kembali dari Timur, para pedagang ini banyak cerita tentang Ghana yang akhirnya menjadi buah bibir orang.

Komoditi perdagangan yang banyak dicari oleh rakyat kerajaan Ghana adalah garam. Garam ini diangkut berbalok-balok di atas punggung unta melintasi gurun dari ladang garam di Taoudeni dan ladang garam lainnya di utara.

Mali merupakan kerajaan yang kuat dan kaya. Dengan menguasai wilayah di sepanjang Lembah Niger, memiliki pengaruh yang kuat di wilayah-wilayah sekitarnya. Melalui perdagangannya yang luas, kemasyhurannya menyebar ke Eropa dan Timur Tengah.

Kerajaan Mali mencapai puncak kejayaannya selama abad ke-13 dan ke-14. Setelah itu, terjadilah masa kemunduran dan kerajaan ini perlahan-lahan terpecah-belah. Menjelang abad ke-17, kerajaan ini tinggal suatu legenda.

Nama bersejarah lainnya adalah Timbuktu (Tombouctou), yaitu sebuah kota di wilayah Songhai. Timbuktu terletak di pinggir Sahara selatan di lengkung besar Sungai Niger.

Timbuktu ditemukan kira-kira pada awal abad ke-12 oleh suku nomad Tuareg yang turun dari Gurun ke Sungai Niger selama musim kemarau. Timbuktu memiliki sumur sumber air yang manis dan baik.

Sejak abad ke-13 dan seterusnya, Timbuktu merupakan pusat perdagangan dunia Islam serta pusat budaya, pendidikan, dan keagamaan yang penting. Pada akhir abad ke-16, Timbuktu jatuh ke tangan para penyerang dari Maroko.

Sejak itu, Timbuktu perlahan-lahan kehilangan arti pentingnya. Namun anehnya, kebesaran dan misteri kota Timbuktu tetap berlanjut. Pada tahun 1827, seorang bangsa Prancis, Rene Auguste Caillié, memulai petualangan panjang dan sulit.

Dia mendapatkan bahwa kota bersejarah Timbuktu ini tinggal berupa kota kecil yang dipanggang matahari dengan rumah-rumah terbuat dari tanah lumpur. Hingga kini kota ini masih ada dan kafilah unta masih mengangkut garam dari Taoudéni ke Timbuktu.

Masjid Unik di Kota Djenne Mali Tengah
Sebuah masjid dengan rancangan unik di Kota Djenne, Mali Tengah

Geografi Mali

Republik Mali merupakan negara luas tanpa pantai di Afrika Barat. Luas wilayahnya 1.204.350 km2 dengan penduduk yang meningkat dengan mantap. Tujuh negara berbatasan langsung dengan negara ini, yaitu: Aljazair, Mauritania, Senegal, Guinea, Pantai Gading, Burkina, dan Niger. Semua negara ini, seperti halnya Mali adalah bekas jajahan Prancis.

Lahan Mali terdiri atas lahan gurun, setengah gurun, dan sabana tropis yang kering dengan semak dan rerumputan yang kaya dengan binatang buas. Sabana ini pada umumnya bersuhu panas sepanjang tahun.

Di daerah gurun yang mencakup sepertiga bagian utara, kemarau terus melanda wilayah ini dan curah hujan tak dapat diramalkan. Lebih ke selatan lagi iklimnya berubah secara bergantian basah atau kering.

Sungai Niger

Sungai Niger adalah sungai terpanjang ketiga di Afrika, dimana manfaatnya sangat penting bagi kehidupan dan masa depan pembangunan Mali. Sungai ini mengalir melalui bagian tengah dalam bentuk lengkungan.

Perahu besar dapat berlayar di sungai ini antara pertengahan Juni sampai pertengahan Desember, yaitu pada saat paras air amat tinggi, sedangkan perahu kecil dapat berlayar di sungai ini sepanjang tahun.

Di bagian tengah Mali terdapat Lembah Niger yang subur, yang merupakan salah satu wilayah pertanian yang penting.

Kota

Mali hanya memiliki beberapa kota besar. Bamako, yaitu ibu kota negara terletak di barat daya di sepanjang Sungai Niger. Kota yang rindang dengan pohon palem dan banyak terdapat bangunan putihnya merupakan kota terbesar.

Kota penting lainnya adalah Kayes, yang terletak di barat laut ibu kota. Kedua kota ini merupakan pasar hewan, kulit mentah, dan kulit samakan terkemuka di Mali.

Kayes juga merupakan pusat transportasi sungai dan jaringan kereta api. Kayes terletak jauh di Mali barat, di tepi Sungai Senegal, dan merupakan pintu gerbang Senega. Kota lainnya adalah Ségou, Sikasso, Mopti, Cao, Timbuktu, dan Taoudéni.

Penduduk Mali

Mali terletak di suatu wilayah tempat bertemunya orang kulit putih dan kulit hitam. Penduduknya terdiri atas berbagai kelompok suku. Sekitar lima perenam orang berkulit hitam dan yang terbanyak adalah suku Mandingo.

Di antara kelompok suku berkulit putih terdapat orang Moor dan Tuareg, yang sebagian besar di antara mereka adalah pengembara dan tinggal di gurun, di sebelah barat Adrar des Iforas.

Umumnya, orang kulit hitam cenderung tinggal di wilayah yang basah di selatan, sedangkan kelompok kulit putih cenderung hidup berkelompok dan mendiami dua pertiga wilayah Mali yang kering dan setengah kering.

Bagi yang tinggal di daerah sabana kering atau di dekat gurun, cara hidup mengembara merupakan cara terpenting untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Mereka menggembalakan kawanan biri-biri, kambing, unta, dan keledai mereka mengikuti perubahan musim dan perumputan. Selama musim penghujan, mereka pindah ke daerah gurun. Mereka kembali ke selatan selama musim kemarau.

Penangkapan ikan merupakan mata pencaharian pokok bagi penduduk yang tinggal di sepanjang Sungai Niger. Negeri ini merupakan salah satu negara Afrika Hitam yang telah mengembangkan penangkapan ikan sungai secara komersial.

Ekonomi Mali

Mali tidak memiliki industri yang besar, tetapi hanya beberapa pabrik kecil yang memproduksi makanan, minuman ringan, sabun, rokok, korek api, dan tekstil. Perekonomian utamanya didasarkan pada pertanian, peternakan ternak pedaging, dan penangkapan ikan.

Sebagian penduduk adalah petani irigasi dengan tanaman utama berupa padi, kapas, dan kacang. Sekelompok kecil lainnya adalah petani pengolah lahan di sepanjang Sungai Niger yang tidak terairi.

Setelah banjir atau selama musim penghujan, mereka menanami ladangnya dengan bulgur dan padi. Beberapa petani lainnya bahkan menanami lahan dataran tinggi dengan kapas, bulgur, dan kacang selama musim penghujan.

Sejauh ini, Mali tidak memiliki banyak mineral. Emas diproduksi dalam jumlah kecil. Garam juga masih ditambang seperti halnya zaman dahulu.

Sejarah dan Pemerintahan Mali

Sejarah awal adalah sejarah kekaisaran Ghana, Mali, dan Songhai. Songhai adalah kekaisaran terakhir, yang akhirnya dihancurkan di dalam serbuan oleh kerajaan Maroko kira-kira pada tahun 1600.

Pada akhir abad ke-19, Prancis mulai menjelajah dan lalu menduduki wilayah Sudan barat. Prancis mendirikan wilayah Afrika Barat Prancis pada tahun 1904. Sebagian besar wilayah sekarang ini merupakan bekas Sudan Prancis.

Pada tahun 1958, Mali yang dikenal sebagai Republik Sudan, menjadi wilayah yang berswapemerintahan di dalam Masyarakat Prancis, yaitu kelompok bekas jajahan Prancis di Afrika.

Pada tahun 1959, Mali bergabung dengan Senegal ke dalam Federasi Mali. Federasi ini bubar di tahun 1960 dan Republik Sudan lalu memproklamasikan kemerdekaannya sebagai Republik.

Presiden Mali yang pertama, Modibo Keita, memerintah hingga tahun 1968 ketika digulingkan oleh militer. Tahun 1979 konstitusi dibuat berpartai tunggal oleh presiden terpilih.

Pemimpin kudeta Moussa Traore terpilih menjadi presiden. Walaupun banyak tuntutan untuk reformasi demokratis, ia bertahan dengan jabatan itu sampai digulingkan di bulan Maret 1991.

Konstitusi baru disahkan pada 1992 setelah pemilihan perwakilan multipartai dan pemilihan presiden yang pertama pada tahun itu juga. Kepala negara militer menyerahkan pimpinan negara ke presiden sipil yang terpilih.