Niger

Kota Dosso di sebelah barat daya Niger bergema dengan suara musik. Suasana keriangan melanda kota itu dan suara tertawa terdengar di manamana. Banyak keluarga dari desa-desa sekitarnya datang untuk menyaksikan festival yang semarak. Bagi anak-anak, festival ini merupakan kesempatan khusus.

Sebuah parade akan segera dimulai. Setiap orang yang hadir bersiap-siap tatkala penabuh genderang dalam gaun putihnya memanggil para prajurit untuk berkumpul.

Dia tetap menabuh genderangnya sampai semua prajurit Dosso tersebut menunggang kudanya. Baik kuda maupun para prajuritnya mengenakan pakaian berhias indah.

Di waktu lampau, pakaian yang dikenakan oleh kudanya adalah pakaian baja. Tutup kepala yang dipakai oleh penunggangnya diberi bulu-buluan. Akhirnya, parade prajurit pun terbentuklah dengan bersenjatakan pedang, tombak, dan perisai.

Secara tradisi, pasukan penunggang kuda Dosso adalah para prajurit yang berani, sedangkan kostum dan senjatanya adalah bagian dari kostum dan senjata masa lalu.

Bunyi genderang pun akhirnya berhenti dan dimulailah parade untuk merayakan Hari Republik Niger.

Peta wilayah Niger

Kunjungi Peta Niger atau di google map

Geografi

Apabila kita melihat peta Afrika, kita akan tahu mengapa Niger kadang-kadang disebut sebagai jantung Afrika atau persimpangan benua itu. Luas wilayahnya sekitar 1.266.500 km2, dengan batas-batasnya Aljazair dan Libya di utara, Chad di timur, dan Mali serta Burkina di barat, sedangkan di selatan negara ini berbatasan dengan Benin dan Nigeria.

Wilayah Niger merupakan lahan setengah gersang sampai plato gersang yang luas. Bagian luar berada pada ketinggian rata-rata 360 m di atas paras laut, dengan titik tertinggi di wilayah tengah dan timur laut.

Pegunungan besar, Air Massif, memanjang dari utara ke selatan melintasi Niger Tengah bagian utara. Pegunungan ini memiliki beberapa puncak yang tingginya di atas 900 m, dengan titik tertinggi hampir mencapai 1.800 m.

Di utara Niger terdapat lahan gurun dan setengah gurun luas yang merupakan bagian dari gurun Sahara. Sangat sedikit penduduk tinggal di wilayah ini karena suhu udara yang sangat panas dan langkanya curah hujan.

Wilayah Niger yang paling produktif adalah wilayah stepa dan sabana di selatan yang memanjang dari Sungai Niger di sebelah barat hingga ke Danau Chad di timur.

Wilayah ini merupakan satu-satunya wilayah subur di Niger. Di wilayah ini banyak terdapat hutan dan semak-semak, yang diseling oleh lahan-lahan olahan. Sebagian besar penduduk tinggal di wilayah ini.

Sungai terpenting adalah Sungai Niger, yang namanya diambil menjadi nama negara. Namun, sungai yang panjangnya 4.180 km itu mengalir ke barat daya hanya sejauh 298 km.

Iklim

Iklim di Niger panas dan kering. Di wilayah stepa dan gurun tropis curah hujannya tidaklah begitu besar dan separuh wilayah utara menerima curah hujan kurang dari 10 cm setahun.

Kadang-kadang suhu demikian panas sehingga air hujan menguap sebelum sampai ke bumi. Musim hujan berlangsung dari bulan Juni sampai bulan September.

Semakin ke utara curah hujan semakin berkurang, sedangkan suhu semakin panas dan kering. Suhu pada siang hari lebih dari 32°C dan seringkali bahkan lebih dari 38°C.

Kota

Beberapa kota yang relatif kecil di Niger kebanyakan terletak di setengah selatan negeri itu. Niamey, yaitu ibu kota dan kota terbesar, merupakan pelabuhan di Sungai Niger.

Niamey berfungsi sebagai rute perdagangan utama di wilayah barat daya. Zinder, Maradi, dan Tahoua adalah kota lain yang berukuran memadai dan merupakan pusat pemerintahan dan pusat perdagangan di Niger tengah.

Satu-satunya komunitas terbesar di setengah utara Niger terdapat di Agades. Agades merupakan tempat pemberhentian utama para kafilah dari Libya ke Nigeria.

Kini, pasar Agades merupakan pusat perdagangan ternak pedaging dan produk pertaniannya yang dihasilkan dari Niger selatan. Dari pasar Agades inilah berbagai barang dikirimkan ke berbagai bagian Afrika Barat.

Penduduk

Penduduk Niger sangat beraneka dan terdiri atas berbagai kelompok suku yang beberapa di antaranya, berasal dari luar perbatasan. Hausa merupakan kelompok suku terbesar yang meliputi lebih dari 50% penduduk. Mereka adalah petani dan tinggal di wilayah selatan serta terpisah dengan saudaranya di utara oleh suatu perbatasan.

Pengembara Niger
Seorang pengembara sedang beristirahat di keteduhan pohon sambil menyaksikan para pekerja mengerjakan bantalan jalan baru

Kelompok suku terbesar kedua adalah Djerma Songhai. Mereka juga merupakan petani dan tinggal di barat daya di sepanjang Sungai Niger. Wilayah yang diairi Sungai Niger dan berbagai anak sungainya subur untuk ditanami padi, bulgur, dan kacang.

Di wilayah selatan terdapat sabuk air bawah tanah yang sumur bornya digunakan oleh para petani untuk mengairi kacang, bulgur, cantel, kacang polong, dan buncis.

Beberapa penduduk juga terdapat di wilayah sekitar Danau Chad di tenggara. Di luar wilayah ini, penduduknya jarang dan terpencar-pencar dan hidup sebagai penggembala nomad dengan beternak sapi, biri-biri, dan kambing. Suku Tuareg, sekelompok suku yang terkenal di antara berbagai suku di Niger, tinggal di dataran tinggi di Niger tengah utara.

Cara Hidup

Penduduk Niger khususnya yang tinggal di pedesaan, tetap memelihara tradisi leluhurnya yang artistik dan kaya. Di hari pasaran di Niamey, para wanita berbelanja ke pasar. Mereka memakai perhiasan dari emas dan perak yang indah yang dibuat oleh para pandai emas lokal.

Pajangan kulit keras labu, mangkuk, dan gerabah ukir dapat terlihat berdampingan dengan berbagai alat musik yang terbuat dari kulit yang disamak secara kasar.

Terdapat pula patung hewan dan arca kecil yang terbuat dari emas tempaan. Hasil karya pandai emas Niger telah dikenal luas hingga keluar perbatasannya. Bakat mereka menjadikan para pandai emas ini memenangkan medali emas dan perak pada pameran di Paris.

Sebagian besar penduduk beragama Islam. Terdapat pula minoritas Kristen dan animis.

Pendidikan

Karena keterpencaran penduduk dan kehidupan nomadik mereka, sarana pendidikan tidaklah berkembang. Di kota hanya terdapat beberapa sekolah saja dan ruangan-ruangan kelas di daerah pedesaan sering berupa gubuk-gubuk jerami.

Namun, Prancis telah membantu bekas koloninya ini untuk meluaskan sistem pendidikan sehingga, menjelang tahun 1980, sebanyak 200.000 siswa bersekolah di sekolah dasar dan menengah.

Universitas Niamey dapat menampung sekitar 1.000 mahasiswa yang beberapa di antara mereka menerima beasiswa untuk belajar di luar negeri.

Bahasa Prancis adalah bahasa resmi Niger meskipun sebenarnya terdapat banyak bahasa sebanyak kelompok sukunya.

Ekonomi

Sekitar 95% penduduk Niger hidup bertani dan menggembalakan ternak. Kacang merupakan tanaman yang terkemuka, pernah menyumbang 60-75% pendapatan ekspor.

Selama bertahun-tahun, pendapatan dari tanaman kacang ini terjamin karena Prancis menjamin pembelian kacang di atas harga pasaran dunia, tetapi di tahun-tahun belakangan ini pembelian Prancis berhenti.

Kini negeri ini harus bersaing dengan produsen kacang Afrika Barat lainnya di pasaran dunia. Ekspor Niger lainnya meliputi ternak pedaging, kulit dan jangat, dan getah Arab.

Hingga akhir tahun 1960-an, sama sekali tidak ada produksi mineral di negara ini, kecuali tambang garam di Bilma dan pertambangan kecil timah di wilayah Air Massif.

Namun, gambaran mineral ini telah banyak berubah setelah ditemukannya endapan uranium berkadar tinggi di distrik terpencil Arlit di utara Agades. Prancis dan pemerintah membiayai proyek pertambangan dan pengolahan uranium sehingga, menjelang tahun 1981 menjadi produsen uranium terkemuka keempat dunia.

Sejumlah proyek kecil kini juga sudah rampung. Pembangunan pabrik tekstil, semen, penggilingan tepung, sedangkan pabrik penyimpan daging beku juga sedang mulai digarap.

Di bidang pertanian, produksi kapas juga meningkat di samping berbagai program penggalian sumur dan memperkenalkan metode cara meningkatkan kualitas ternak pedaging.

Transportasi

Dengan jalan yang panjangnya 8.000 km yang beberapa di antaranya bertrotoar, tanpa jalan kereta api negeri yang luas ini sulit dijangkau dan hanya dikunjungi oleh orang-orang yang mau menghadapi kesulitan dalam perjalanannya.

Karena pesawat dapat mengatasi waktu dan jarak untuk menjangkau daerah-daerah terpencil, maka, meskipun saat ini belum dirasakan perlu mengadakan penerbangan teratur ke daerah-daerah terpencil itu, pemerintah telah membangun beberapa tempat pendaratan karena menyadari bahwa dalam situasi darurat pesawat terbang sangat diperlukan.

Di Niamey terdapat bandara internasional yang besar, sedangkan bandara yang lebih kecil lagi banyak pula terdapat di kota-kota di luar Niamey.

Di negeri yang kering ini tidak terdapat transportasi sungai, kecuali dalam musim-musim tertentu. Karena aliran deras membentuk penghalang alami baik di perbatasan Mali maupun di Bussa di Nigeria, transportasi sungai antara Niger dan negeri-negeri tetangganya tidak dapat dilakukan.

Namun, pembangunan bendungan serta pembangunan sungai lainnya di Kainji, menawarkan suatu prospek transportasi sungai dari Niamey ke Teluk Guinea.

Sejarah Niger

Acuan sejarah pertama tentang Niger bertarikh sejak zaman Romawi Kuno. Meskipun wilayahnya sulit di jangkau karena terletak hampir 1.600 km dari Laut Tengah, ekspedisi Romawi toh dapat memasuki wilayah ini.

Awal Kekaisaran Songhai yang berpusat di Cao, yaitu di tepi Sungai Niger di Mali, bertahunkan abad ke-7. Seribu tahun berikutnya merupakan masa perang, yaitu tatkala berbagai suku berpindah ke Cao dan mereka saling bersaing untuk dapat mendominasi wilayah ini.

Di abad ke-10, imigran dari Afrika timur dan utara menguasai sebagian besar rute perdagangan darat, yang kini adalah Niger selatan dan Nigeria utara, dan mendirikan kerajaan kecil yang dikenal dengan negara kota Hausa.

Mereka berhasil membangun masyarakat pedagang dan petani yang makmur. Suku Fulani, yang memberontak terhadap penguasa Hausa, berhasil menguasai daerah itu dan kemudian mendirikan kerajaan pada awal abad ke-19.

Dalam periode yang sama, orang Eropa mulai muncul di wilayah ini. Mungo Park, seorang Skotlandia, adalah orang pertama yang menjelajahi bagian barat daya Niger. Dia kemudian diikuti oleh orang Eropa lainnya di pertengahan abad ke-19.

Pendudukan Prancis atas wilayah yang kini menjadi Republik Niger terjadi pada akhir tahun 1890-an. Koloni Niger, yaitu cikal bakal negeri modern, didirikan pada tahun 1922.

Niger merupakan koloni terbesar dan termiskin di antara 8 koloni Afrika Barat Prancis. Pada tahun 1958, presiden Prancis, de Gaulle, memberikan Konstitusi Republik Prancis Kelima kepada tanah jajahan Prancis, yang menjadikan penduduk di negeri jajahan itu dapat lebih menguasai berbagai urusan mereka.

Dengan kesediaan Niger terhadap konstitusi yang baru itu negara ini diganti namanya menjadi Republik Niger, menjadi anggota Masyarakat Prancis, dan, 2 tahun kemudian, yaitu pada tanggal 3 Agustus 1960 memperoleh kemerdekaan penuh.

Pemerintahan

Di bawah konstitusi 1960, Niger adalah sebuah republik yang dikepalai presiden terpilih. Kekuasaan legislatif berada pada Dewan Nasional yang dipilih rakyat.

Tahun 1974 pemerintahan digulingkan militer. “Republik Kedua” diumumkan tahun 1989 menyusul pemilu tanpa oposisi untuk jabatan presiden dan pembentukan kembali dewan perwakilan.

Tahun 1991 tuntutan reformasi telah mencetuskan persidangan musyawarah nasional yang mencopot Presiden Ali Saibou dari kekuasaannya.

Konstitusi baru yang multi partai diberlakukan tahun 1992, dan partai yang berkuasa sebelumnya kalah dalam pemilu yang diadakan tahun 1993.

Terkait Niger: