Burkina Faso

  • Whatsapp

Burkina Faso – Sekitar 900 tahun yang lalu, menurut hikayatnya, para penunggang kuda Dagomba yang gagah dari selatan, datang ke daerah rerumputan di hulu Sungai Volta. Mereka menyukai plato rendah, yang terletak di selatan padang pasir Sahara dan di sebelah utara hutan hujan tropis ini sehingga mereka bermukim di sana.

Mereka menikah dengan wanita suku setempat dan anak-anak mereka disebut Mossi. Selama beratus-ratus tahun hingga awal abad ini orang Mossi menguasai bagian utara, tengah, dan timur negeri yang kini secara resmi disebut Burkina Faso (Negeri Para Penegak Kebenaran).

Bacaan Lainnya

Ketika Prancis menjajah wilayah ini pada tahun 1896 dan 1897, mereka menyatukan suku Mossi dan suku lainnya di bawah satu administrasi untuk yang pertama kalinya. Mereka semua berada di bawah kekuasaan yang oleh Prancis disebut Koloni Volta Hulu, yang menjadi dasar negeri Burkina.

Geografi Burkina Faso

Burkina Faso adalah negeri daratan di Afrika Barat. Luas wilayahnya adalah 274.540 km2. Di sebelah utara dan barat terletak Mali, sedangkan di sebelah timur laut terletak Niger. Di sebelah selatan adalah Pantai Gading, Ghana, Togo, dan Benin.

Sebagian besar Burkina berupa plato rendah yang dilintasi oleh tiga sungai Volta, yaitu Volta Putih, Volta Hitam, dan Volta Merah. Sebagian besar sungai di Burkina mengalir ke selatan menuju Sungai Volta di Ghana.

Burkina Faso seluruhnya merupakan padang rumput (sabana). Padang rumputnya beragam dari jenis lahan bersemak dan kering, yang disebut tanah sahel, di bagian utara sampai tanah basah yang berkayu (Sudan) di bagian selatan.

Di daerah Sudan, banyak terdapat bukit bundar dan lembut yang tertutup semak belukar dan pepohonan. Busur pegunungan yang rendah menjulang di sebelah timur dan barat daya negeri.

Di barat daya terdapat Tenekourou, dengan puncak tertingginya. Bermacam binatang seperti gajah, jerapah, monyet dan buaya hidup di daerah ini.

Peta wilayah Burkina Faso

Kunjungi Peta Burkina Faso atau di google map

Iklim

Dengan suhu yang hangat sepanjang tahun, di Burkina terdapat musim hujan dan musim kemarau. Hujan turun lebat dari akhir bulan Mei sampai bulan Oktober.

Selama musim ini, rerumputan dan tanaman biji-bijian tumbuh subur dan tinggi. Akhirnya, rerumputan berubah menjadi cokelat.

Musim kemarau berlangsung dari bulan November sampai bulan Mei. Di musim ini, angin kering yang disebut dengan harmattan, bertiup dari Sahara sehingga menambah suasana panas dan, akibatnya, mengeringkan sungai, tanaman, dan tumbuhan lainnya.

Penduduk Burkina Faso

Mossi

Mossi adalah suku yang paling banyak terdapat di Burkina Faso, yaitu hampir 50% jumlah penduduk. Raja mereka memerintah wilayah ini dari abad ke-11 sampai abad ke-19 dan bentuk kerajaan mereka pun hingga kini masih ada walaupun tanpa kekuasaan.

Kata “disiplin” sangat tepat diterapkan terhadap orang Mossi karena mereka hidup di bawah peraturan peraturan tindak tanduk yang sangat ketat.

Agama orang Mossi pada pokoknya didasarkan atas pemujaan nenek moyang dan Tenga, yaitu dewa bumi. Muslim di Burkina Faso merupakan minoritas yang besar dan terdapat pula beberapa orang Kristen.

Suku Mossi selalu menghormati raja dan kepala sukunya karena penguasalah yang membuat pengorbanan terhadap para leluhur.

Ciri tempat tinggal orang Mossi adalah bundar dan kecil. Dinding rumahnya terbuat dari tanah liat atau lumpur, sedangkan atapnya yang berbentuk kerucut terbuat dari rerumputan kering.

Setiap keluarga tinggal di perkampungan berdinding, yang terdiri atas beberapa gubuk serta bangunan tanah liat yang kecil untuk menyimpan padi.

Keluarga Mossi terdiri atas seorang suami, beberapa istri, dan anak-anaknya. Suami tinggal sendirian di gubuk dekat pintu masuk perkampungan.

Masing-masing istri tinggal di gubuknya masing-masing bersama dengan anak-anaknya. Setiap perkampungan dipisahkan dari tetangganya oleh ladang padi, cantel, atau kapas-yang dilintasi oleh lorong-lorong kecil. Tetangganya pun mungkin adalah kakek-nenek, bibi-paman, atau saudara sepupunya.

Orang Non-Mossi

Suku Mossi tinggal di Burkina Faso tengah, sedangkan suku Bobo, Lobi, dan Gurunsi, yang masih punya ikatan dengan suku Mossi, tinggal di barat dan barat daya negeri.

Suku Bobo Burkina Faso
Suku Bobo Burkina Faso

Bobo, yaitu sekelompok suku besar lainnya, adalah orang kuno yang memiliki agama sendiri. Di samping menyembah nenek moyang, suku Bobo juga menyembah Tuhan yang lebih tinggi yang dikenal sebagai Wuro, dan banyak dewa lainnya.

Bobo, seperti halnya Mossi, adalah suku yang berpusat pada keluarga. Tempat tinggal suku Bobo pada umumnya lebih besar daripada rumah orang Mossi, tetapi rumah suku Bobo dibangun sangat berdekatan sehingga mirip sebuah desa atau kota kecil.

Suku penting lain di Burkina Faso adalah suku Fulani (Fula) serta beberapa kelompok suku Mande. Suku Fulani adalah penggembala ternak dan tinggal di bagian utara. Kelompok suku Mande tinggal di daerah yang berserakan di barat dan selatan.

Kota Ouagadougou

Adalah ibu kota kuno suku Mossi juga ibu kota Burkina Faso ”Ouaga”, yaitu nama yang sering digunakan untuk menyebut ibu kota ini, terletak di bagian tengah. Di sana terdapat banyak bangunan pemerintah dan apartemen yang modern.

Di Ouaga juga masih banyak terdapat bangunan yang terbuat dari batu bata merah, misalnya pasar terbuka yang besar dan berwarna-warni. Sejak tahun 1954, Ouagadougou merupakan stasiun terakhir rel kereta api di Pantai Gading.

Bobo-Dioulasso

Adalah kota terbesar kedua dan juga pusat perdagangan utama Burkina, terletak di barat daya, atau di wilayah suku Bobo. Rumah-rumah di Bobo-Dioulasso pada umumnya terbuat dari batu bata.

Masjid terbuat dari tanah
Masjid terbuat dari tanah kering di Bobo, Diolasso, Burkina Faso

Pendidikan

Meskipun semua anak Burkina yang berusia 6-14 tahun wajib bersekolah, tetapi hanya sekitar 1500 anak usia sekolah yang bersekolah. Mungkin kurang dari 20% penduduk dewasa dapat membaca dan menulis.

Ratusan gedung sekolah dasar telah dibangun. Namun, di Burkina Faso terdapat sedikit sekolah menengah dan sekolah kejuruan, sedangkan yang mendaftar masuk pun hanya sedikit sekali. Bahasa Prancis adalah bahasa pengantar di semua tingkat pengajaran.

Lembaga pendidikan tinggi yang terkemuka adalah Universitas Ouagadougou. Terdapat juga beberapa sekolah akademi keguruan. Beasiswa diberikan kepada mahasiswa yang melanjutkan studinya di Eropa dan Afrika.

Ekonomi Burkina Faso

Burkina Faso adalah negara yang sangat miskin. Sebagian besar penduduknya adalah petani atau pemelihara ternak. Para petaninya terutama menanam cantel dan padi-padian.

Jagung juga penting, seperti halnya kacang, cowpea, buncis, padi, singkong, ketela, dan kapas. Kacang shea, yang berasal dari pohon shea, adalah sumber lemak sayuran untuk diekspor.

Para penggembala menernakkan kuda, sapi, biri-biri, kambing, dan unta. Binatang hidup juga merupakan ekspor utama.

Sebagian besar penduduk terpusat di bagian tengah negeri, sedangkan tanaman tidak tumbuh subur untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka. Ribuan orang harus bermigrasi secara musiman untuk bekerja di perkebunan kakao dan kopi di Ghana dan Pantai gading.

Mineral

Di Burkina Faso banyak terdapat sumber mineral, tetapi belum dapat diolah secara menguntungkan tanpa perbaikan di bidang transportasi. Tambahan jaringan rel kereta api diperuntukkan bagi pengembangan endapan mangan berkadar tinggi di timur laut.

Terdapat pula emas di bagian barat daya Ouagadougou dan endapan seng dan perak yang melimpah di bagian tengah.

Sejarah dan Pemerintahan Burkina Faso

Sejarah suku Mossi bermula dari kedatangan suku asing ke plato voltaik, sekitar abad ke-11. Menurut ceritanya pendatang ini adalah suku Dagomba, yaitu para penunggang kuda dari Gambaga (kini Ghana), yang sedang melawat ke selatan.

Mereka bergerak ke wilayah Busansi (Burkina Faso selatan) dan menikah dengan wanita suku Busansi. Keturunan mereka, yaitu suku Mossi, mendirikan Tenkodogo-kerajaan pertama suku Mossi.

Oubri, cucu pendiri Tenkodogo, yang bergelar Mogho Naba (”penguasa dunia”), mendirikan kerajaan Ouagadougou di daerah plato tengah. Saudara Oubri juga mendirikan dua kerajaan utama lainnya, Yatenga, di utara Ouagadougou, dan Fada N’Gourma, di sebelah timur.

Kekuasaan Prancis

Orang Eropa pertama yang mengunjungi Ouagadougou adalah seorang Jerman, memasuki kekuasaan Mossi pada tahun 1886 dari daerah Togoland Jerman.

Lalu orang Jerman disusul oleh orang Eropa lainnya, Inggris, dan Prancis. Menjelang tahun 1893, Prancis telah mengambil wilayah utara Yatenga dan, sebelum tahun 1895, mereka pun berhasil menguasai Yatenga.

Bangsa Prancis lalu mendesak ke selatan ke Ouagadougou dan berhasil menguasainya pada tahun 1896. Raja Mossi, Mogho Naba Wobogo, mundur dan ketika dia mau kembali memasuki ibu kotanya, orang Prancis telah membakar kota tersebut. Tak lama kemudian, Mogho Naba telah kehilangan hampir seluruh kekuatannya.

Pada tahun 1919, Prancis menciptakan koloni Volta Hulu. Di daerah koloni ini, suku Mossi tetap sebagai kelompok suku yang utama dan kota administrasinya adalah Ouagadougou.

Seorang gubernur barunya Edouard Hesling, berusaha untuk mengembangkan perekonomian koloni ini. Dia memulai perkebunan kapas dan membangun jaringan jalan raya.

Dia juga menyalurkan tenaga buruh suku Mossi ke bagian Afrika Barat Prancis lainnya. Ketika Volta Hulu dibagi pada tahun 1932, alasan utamanya adalah untuk mengirim buruh Mossi ke Pantai Gading.

Banyak suku Mossi bertempur bersama Prancis selama Perang Dunia II. Pada tahun 1947, sebagai jawaban terhadap permohonan pribadi Mogho Naba Sagha Il, Prancis sekali lagi membuat Volta Hulu sebagai wilayah terpisah.

Namun, Mogho Naba dan para ketua suku lainnya diabaikan oleh para nasionalis ketika Volta Hulu menuntut kemerdekaannya pada tahun 1950-an. Konstitusi demokratis tahun 1958 bahkan tidak menyebutnya.

Sejak Kemerdekaan

Republik Volta Hulu lahir sebagai negara merdeka pada tanggal 5 Agustus 1960 dan sebuah konstitusi diberlakukan. Akibat pertikaian antara pemerintah dan serikat buruh pada tahun 1966, militer mengambil alih pemerintahan dan ditangguhkanlah konstitusi 1960.

Sebuah konstitusi baru untuk pemerintahan sipil pada 1970 ditangguhkan karena suatu kudeta militer. Konstitusi demokratis yang menentukan pemilihan presiden dan anggota Dewan Nasional disahkan tahun 1977.

Konstitusi ini pun tidak berlaku setelah kudeta militer pada 1980. Kapten Thomas Sankara akhirnya merebut kekuasaan tahun 1983. Sebagai tanda bahwa negeri itu telah melepaskan ikatannya dengan penjajahan Prancis di masa lalu, ditukarnyalah nama negara, bendera, dan lagu kebangsaannya.

Tetapi pada 1987 ia digulingkan dan dibunuh oleh penasihat utamanya, Kapten Blaise Compaore.

Konstitusi baru yang disetujui rakyat pada bulan Juni 1991 mengurangi kekuasaan presiden dan menetapkan pemilihan langsung untuk kepresidenan dan keanggotaan dewan perwakilan.

Compaore terpilih sebagai presiden pada pemilu Desember 1991 yang diboikot oleh oposisi. Partainya secara tak terduga memperoleh mayoritas suara atau kursi dalam pemilu legislatif multi partai yang diadakan pada bulan Mei 1992.

Baca juga:

Artikel Terkait

Pos terkait