Lesotho

  • Whatsapp

Lesotho dengan lahannya yang terdiri atas pegunungan yang menjulang tinggi dan lembah yang lengang itu mempunyai pemandangan yang alami, perikehidupan yang penuh rona dan pesona tersendiri, yang menciptakan suatu suasana yang sulit dicari bandingannya di kebanyakan negara abad ke-20.

Negara pedalaman Lesotho merupakan salah satu di antara sejumlah kecil negara merdeka di dunia yang seluruh wilayahnya dikelilingi oleh perbatasan sebuah negara lain. Hal ini menjadikan negara tetangga raksasanya, yaitu Republik Afrika Selatan yang berbatasan dengan Lesotho pada semua sisinya mempunyai kekuasaan untuk menguasai perdagangan luar negeri Lesotho dan memblokade perbatasannya.

Geografi Lesotho

Kerajaan Lesotho terletak di bagian selatan benua Afrika. Kira-kira seperempat bagian negara ini-yaitu bagian sebelah barat-berupa tanah rendah yang tingginya berkisar antara 1.500 sampai 1.800 m. Kawasan ini merupakan zone pertanian utama di negara tersebut. Bagian lainnya terdiri atas tanah tinggi yang menjulang sampai setinggi 3.400 m lebih di jajaran Drakensberg.

Iklim

Curah hujannya beragam dan rata-rata kurang lebih 100 cm di sebagian besar negeri ini. Hujan kebanyakan turun antara bulan Oktober dan April, tetapi biasanya tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 1,30 cm. Sayangnya, sebagian besar air ini tidak dapat dimanfaatkan oleh Lesotho karena tidak terserap ke dalam tanah.

Para petani membutuhkan hujan yang teratur dan pada saat yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman pokoknya. Akan tetapi, di Lesotho hujan acapkali turun dengan derasnya, meskipun hanya berlangsung sebentar. Air terbuang percuma dan tanah tererosi. Kadang kala terjadi musim kering yang hebat sehingga mengakibatkan kerusakan berat pada tanaman.

Di kawasan tanah rendah, suhu berkisar antara angka maksimum 32°C atau lebih di musim panas sampai angka minimum yang jarang merosot sampai di bawah -7°C di musim dingin. Di kawasan tanah tinggi, kisarannya lebih besar lagi, sedangkan suhu di musim dingin biasanya turun sampai di bawah nol.

Peta wilayah Lesotho

Penduduk Lesotho

Lebih dari 99% penduduk Lesotho terdiri atas orang’Afrika hitam keturunan Bantu. Mereka disebut kelompok masyarakat Mosotho (tunggal) atau Basotho (majemuk). Orang Eropa merupakan golongan minoritas kecil, yang berjumlah sekitar 2.000 orang, sedangkan orang Asia bahkan lebih kecil lagi, yaitu kira-kira 800 orang.

Kebanyakan penduduk tinggal di desa kecil di tanah rendah bagian barat. Tidak ada pusat perkotaan yang besar di Lesotho. Kota yang paling besar di negara ini adalah Maseru, ibu kotanya, yang dihubungkan melalui udara, jalur kereta api, dan bus dengan Afrika Selatan.

Kelompok masyarakat Basotho berbahasa Sesotho. Bahasa resmi adalah bahasa Inggris dan Sesotho. Bahasa Inggris adalah bahasa pengantar di sekolah menengah ke atas, sedangkan bahasa Sesotho digunakan di sekolah dasar.

Angka melek huruf di Lesotho adalah yang tertinggi di Afrika. Lebih dari 60% penduduk dapat membaca dan menulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Sesotho. Sebagian besar sekolah di negara ini diselenggarakan oleh misi keagamaan, tetapi mendapat subsidi dari pemerintah. Universitas Nasional Lesotho terletak di Roma.

Kira-kira 70% penduduk Lesotho beragama Kristen. Sisanya menganut animisme tradisional.

Perikehidupan

Sebagian besar penduduk Lesotho adalah petani atau peternak. Seluruh lahan di negeri ini secara tradisional diwariskan melalui sistem kepala suku-yaitu birokrasi yang terdiri atas para kepala marga, wakil kepala suku, kepala suku dan, pada jenjang teratas adalah penguasa tertinggi, yang sekarang adalah raja. Akan tetapi, sistem pewarisan itu hanyalah me

nyangkut tata guna lahan, bukan hak milik atas lahan itu. Dalam teori, setiap keluarga diberi lahan sesuai dengan besar kecilnya keluarga dan kebutuhannya. Hal ini tidak mendorong dilaksanakannya kegiatan bertani yang cermat dan erosi tanah menjadi suatu problema yang gawat di wilayah pegunungan.

Untuk menggalakkan penerapan berbagai teknik bercocok tanam yang lebih baik, pada tahun 1979 pemerintah mengizinkan raja untuk memberikan hak sewa selama 99 tahun atas beberapa lahan pertanian tertentu.

Menu makanan kebanyakan penduduk Basotho tidak berimbang dan banyak orang yang terserang penyakit yang disebabkan oleh malagizi. DI lingkungan keluarga Lesotho, banyak wanita dan anak-anak yang tinggal dalam satu rumah sewaktu para pria bekerja di berbagai tambang dan pabrik di Afrika Selatan. Uang yang mereka kirimkan kepada keluarga mereka di Lesotho merupakan bagian penting dari pendapatan nasional negara ini.

Meskipun kesenian rakyat tradisional masyarakat Basotho selama ini terabaikan, pihak pemerintah dan berbagai organisasi swasta sekarang sedang menggalakkan penggaliannya kembali. Dewasa ini masyarakat Basotho tidak banyak mempunyai pakaian tradisional, kecuali topi kerucut khas yang dianyam dari rerumputan.

Topi yang dibuat dengan ketrampilan yang tinggi itu ditampilkan pada bendera negara ini sebagai lambang nasional. Kebanyakan pria, wanita, dan anak Basotho juga mengenakan selimut yang berwarna-warni di atas pakaian bergaya Barat mereka.

Selimut tersebut berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap panasnya sinar matahari, dinginnya malam, serta dinginnya angin dan salju musim dingin. Rumah masyarakat Basotho (yang disebut rondavel), biasanya berupa struktur bulat yang terbuat dari batu dengan atap dedaunan, juga merupakan ciri khas kebudayaan Lesotho.

Ekonomi

Lesotho merupakan salah satu negara yang paling miskin dan paling terbelakang di dunia. Negara ini tidak mempunyai industri pemanufakturan dan sangat bergantung kepada penjagaan hubungan yang bersahabat dengan tetangganya Afrika Selatan.

Seluruh kegiatan ekspor dan impor negara pedalaman Lesotho dilakukan melalui Afrika Selatan, dan uang yang dikirimkan ke rumah oleh sekitar 200.000 buruh Basotho, yang kebanyakan pria, yang bekerja di Afrika Selatan mencakup sebagian besar pendapatan negara yang terbatas itu.

Sumber pendapatan lainnya yang penting adalah bantuan luar negeri dan bagian yang telah disepakati dari pemasukan bea cukai yang dipungut oleh Afrika Selatan. Kegiatan ekonomi utama di negeri ini adalah penggembalaan domba, kambing, dan sapi serta produksi sejumlah kecil jagung, milet, cantel, gandum, dan sayuran. Industri kepariwisataan, yang bertulang punggung sebuah taman nasional di Sehlabathebe, sedang dikembangkan.

Bulu domba, bulu kambing, gandum, dan sapi hidup merupakan ekspor utama negara ini. Intan terkadang ditambang di kawasan di sebelah utara Mokhotlong kalau harga batu mulia ini sedang meningkat.

Sejarah Lesotho

Lahirnya kelompok masyarakat Basotho sebagai suatu bangsa yang bersatu diawali pada tahun 1818. Pada masa itu, Kepala Suku Moshoeshoe menghimpun berbagai marga yang terpencar dan menyatukan mereka di bawah kekuasaannya.

Kemudian, pada pertengahan abad, serangkaian peperangan mulai meletus di antara kelompok masyarakat Basotho dan kelompok masyarakat Boer dari Negara Bagian Oranye Merdeka, yang sekarang merupakan bagian Republik Afrika Selatan.

Sebagai akibat peperangan tersebut, kelompok masyarakat Basotho kehilangan sebagian besar wilayahnya. Kepala Suku Moshoeshoe melihat adanya ancaman terhadap negerinya karena didominasi oleh Republik Boer tetangganya itu.

Dia meminta Inggris untuk melindungi negerinya, yang kala itu disebut Basutoland. Pada tahun 1871 wilayah tersebut dialihkan ke Koloni Tanjung tanpa persetujuan rakyat Basotho. Setelah berbagai kemelut, negeri ini dikembalikan lagi ke dalam kekuasaan langsung Inggris.

Dari tahun 1884 sampai 1959 wewenang eksekutif dan legislatif atas Basutoland berada di tangan Komisaris Tinggi Inggris. Pada tahun 1959 Basutoland memperoleh undang-undang dasarnya yang pertama. Hal itu dilakukan karena semakin meningkatnya sentimen nasionalis dan rakyat Basotho takut kalau-kalau Afrika Selatan sampai merebut wilayah tersebut.

Sebuah undang-undang dasar baru yang melahirkan Lesotho sebagai sebuah kerajaan berkonstitusi yang dipimpin oleh penguasa tertinggi,. lengkap dengan Majelis Nasional yang dipilih dan Senat yang ditunjuk, mulai berlaku pada tahun 1965. Kemerdekaan penuh tercapai pada tanggal 4 Oktober 1966 dengan nama Kerajaan Lesotho.

Moshoeshoe ll, yang telah menjadi penguasa tertinggi sejak 1960, ‘ dinyatakan sebagai raja dan Leabua Jonathan, sebagai perdana menteri yang pertama. Tahun 1970 Jonathan membekukan konstitusi dan mulai memerintah dengan dekrit.

Raja Moshoeshoe Il ditahan dan dibuang; dan ketika ia dibolehkan pulang, ia dilarang berpolitik. Jonathan mengangkat Permusyawaratan Nasional pada 1973, tetapi pemerintahannya yang otokratis tidak disukai orang. Tahun 1986, Jonathan digulingkan dalam kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Justin Lekhaya.

Lekhaya digulingkan pula pada April 1991 . Pemilihan demokratis yang pertama di Lesotho dilaksanakan pada Maret 1993. Partai Kongres Basotho merebut seluruh kursi parlemen. Tahun 1994, putera Moshoeshoe, Raja Letsie III, membubarkan pemerintahan partai Basotho setelah terjadi perselisihan antara faksi-faksi militer yang mendukung partai Basotho atau Kongres Nasional Basotho yang semula berkuasa.

Diulas oleh:
RICHARD P. STEVENS, Universitas Lincoln; penulis, Lesotho, Botswana, and Swaziland Diulas oleh J.L. MASITHELA, Sekretaris Pertama pada Kedutaan Besar Lesotho Di Amerika Serikat, Washington, D.C.
Editor: Sejarah Negara Com

Referensi lain tentang negara Lesotho silahkan baca di sini

Pos terkait