Sejarah Negara Com
Ensiklopedia sejarah dan negara

Iran

Iran, selama berabad-abad dikenal dengan sebutan lama Persia, terletak di salah satu tempat jalan silang utama yang menghubungkan Eropa dan Timur Tengah dengan Asia Tengah.

Iran berarti ”tanah Aria” -sebutan yang mengacu kepada pemukim asli di negeri ini. Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, Bangsa Aria berhasil menyatukan daerah Persia dan mendirikan sebuah kerajaan yang besar.

Di puncak kejayaannya, di abad ke-6 dan ke-5 sebelum Masehi, Kekaisaran Iran (atau Persia) menguasai hampir separuh dunia kuno yang telah beradab. Persia kuno banyak mempengaruhi organisasi politik, seni, ilmu pengetahuan, dan agama di Asia dan Eropa.

Namun, setelah mengalami berbagai perang dan penyerbuan oleh bangsa Yunani, Arab, Turki, dan Mongolia, akhirnya kekaisaran Persia runtuh untuk waktu yang cukup lama.

Sejak awal tahun 1900-an, Iran membuat langkah mantap untuk menyusul standar materi dan teknologi Barat. Namun, usaha ini diganggu oleh golongan Islam konservatif, yang pada tahun 1979 membantu digulingkannya dinasti Pahlevi, yang pada mulanya mendukung modernisasi.

Geografi Iran

Iran memiliki garis pantai yang panjang di Teluk Persia dan berbatasan dengan Uni Soviet, Irak, Turki, Afghanistan, dan Pakistan. Wilayahnya sebagian besar terdiri atas dataran tinggi yang berbentuk seperti segi tiga yang dikelilingi oleh pegunungan.

Barisan pegunungan Elburz memanjang dari barat ke timur dari Turki ke Afghanistan sepanjang Iran utara yang berbatasan dengan Uni Soviet dan Laut Kaspia.

Puncak gunung tertinggi di negara ini adalah Gunung Demavend (5.670 m), terletak di barisan ini. Barisan pegunungan Zagros, rangkaian pegunungan lainnya, memanjang ke tenggara di perbatasan barat dengan Turki dan Irak, lalu ke tenggara lagi sepanjang sisi dataran tinggi dan sejajar dengan Teluk Persia sampai di jalan laut ujung selatan di Selat Hormuz.

Pegunungan Zagros dan Elburz bersama-sama memotong daerah dataran tinggi tengah yang gersang dengan tingginya beragam, dari 300 sampai 1.800 m dari daratan rendah pantai yang sempit yang berbatasan dengan Laut Kaspia dan Teluk Persia. Sungai utama di Iran, Karun, terletak di bagian barat negeri itu.

Sungai ini dapat dilayari sampai sejauh 240 km dari muaranya ke kota pelabuhan Khurramshahr. Terdapat juga beberapa sungai kecil di utara dan baratdaya. Di pedalaman, sungai musiman mengalir dari pegunungan di musim semi tatkala salju mencair.

Air yang mengalir itu biasanya cepat menguap atau hilang di kepanasan dua padang pasir garam, Dasht-i-Kavir dan Dasht-i-Lut yang luasnya mencapai sepertiga negara ini. Terdapat juga beberapa danau kecil. Danau Urmia di utara merupakan danau terbesar.

Peta Iran

Selengkapnya bisa anda amati di: Peta Iran atau Peta Buta atau di google map

Iklim

Iklim di daerah dataran tinggi tengah adalah kering, sedangkan musim dapat dibedakan dengan jelas. Hampir sepanjang tahun hari selalu cerah dan bersinar matahari. Musim dingin dapat menjadi dingin sekali, sedangkan musim panas sangat panas.

Iklim di sepanjang pantai Kaspia biasanya adalah hangat dan lembap. Musim panas di dataran pantai selatan adalah sangat panas dan tingkat kelembapannya cukup tinggi. Kecuali di daerah Kaspia, yang berair baik dan subur, curah hujan jarang terjadi di Iran. Rata-rata curah hujan setahunnya, secara kasar, adalah 25 cm. Salju tebal menyelimuti puncak pegunungannya di musim dingin.

Sumber Alam

Minyak merupakan sumber mineral terpenting bagi Iran. Pemerintah memperkirakan bahwa potensi cadangan minyaknya sekitar 75 miliar barel, atau cukup untuk sekurang-kurangnya jangka waktu 50 tahun.

Iran juga memiliki endapan gas alam yang luas sepanjang pantai selatan Teluk Persia di dekat Bushire. Di baratlaut terdapat juga banyak endapan tembaga dan beberapa endapan batubara, besi, timbel, seng, kromit, belerang, dan antimoni.

Penduduk Iran

Penduduk Iran merupakan campuran berbagai bangsa. Mayoritas penduduknya adalah keturunan bangsa Mede, Persia, dan Parthia, kelompok terpenting suku Aria yang berdiam pada zaman kuno.

Terdapat juga beberapa keturunan suku kuno, seperti suku Skithia, Baktria, dan Turki. Kelompok keturunan mayoritasnya adalah bangsa Persia yang bertutur dalam bahasa Farsi, yang meliputi 50% dari seluruh jumlah penduduk, sedangkan suku Azerbaijan yang bertutur dalam bahasa Turki di baratlaut merupakan 27% dari seluruh jumlah penduduk Iran.

Di samping itu, terdapat juga berbagai kelompok minoritas, seperti suku Armenia di baratlaut, Arab di sepanjang Teluk Persia, suku setengah pengembara Kurdi, Lur, dan Bakhtiari di Pegunungan Zagros, serta suku nomadik Baluchi di sepanjang perbatasan dengan Pakistan di sebelah timur yang gersang.

Bahasa

Sebagian besar orang Iran bertutur dalam bahasa Persia (Farsi), termasuk rumpun bahasa Indo-Eropa yang hanya berubah sedikit saja selama berabad-abad. Bahasa Persia merupakan bahasa resmi negara dan bahasa itu diajarkan di sekolah-sekolah.

Bahasa ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab dan ditulis dengan huruf Arab, dari kanan ke kiri. Di baratlaut, dialek Turki juga dituturkan. Beberapa kelompok masyarakat termasuk Kurdi, Lur, Gilak, dan Mazandrani bertutur dalam dialek Persia yang berbeda.

Agama

Hampir semua orang Iran adalah orang Islam. Agama resmi negara, berdasarkan konstitusi 1979, adalah Islam Syiah, yang merupakan cabang agama Islam yang banyak dianut oleh orang Persia dan Azerbaijan. Suku Arab, Kurdi, dan minoritas lainnya biasanya beragama Islam Suni.

Terdapat kira-kira 20.000 masjid di Iran, yang banyak di antaranya merupakan bangunan kuno yang sangat indah. Terdapat juga penganut agama Kristen dan Zoroastria. Tiga puluh ribu orang Zoroastria merupakan para pengikut agama dominan yang didirikan di negeri ini sebelum bangsa Arab menaklukkannya pada abad ke-7.

Pengikut Zoroastria percaya bahwa di alam ini terdapat dua kekuatan jiwa yang bersaing, yang satu mewakili kebenaran dan terang, yang lainnya mewakili kebohongan dan gelap.

Cara Hidup

Secara tradisional, kebanyakan orang Iran tinggal di daerah pedesaan. Karena banyak kesempatan baru untuk bekerja di industri, banyak orang meninggalkan desanya untuk mencari penghidupan yang lebih baik di kota. Kini sekitar separuh penduduk negeri ini tinggal di kota-kota.

Sebelum Perang Dunia I, lebih dari 20% penduduknya adalah suku pengembara yang mengembara di daerah gurun mencari padang rumput untuk menggembalakan kuda, biri-biri, dan keledai mereka.

Namun, selama abad ke-20, banyak orang nomadik ini menghentikan cara hidupnya yang tradisional. Banyak di antara mereka kini bekerja di industri perminyakan atau mencari kerja di kota.

Banyak orang Iran terus mencari nafkah dengan cara bertani. Hingga tahun 1950-an, sebagian besar petani menyewa lahan pertaniannya dari para bangsawan kaya. Sewa mereka sering berjumlah 80% dari harga tanamannya.

Kini menyusul program reformasi tanah besar-besaran yang dimulai tahun 1951 semasa berkuasanya Syah Mohammad Reza Pahlevi, banyak petani memiliki lahannya sendiri. Selama revolusi Islam, para bangsawan kaya menguasai kembali tanah yang oleh pemerintah dipaksa untuk dijual.

Banyak di antara petani yang kehilangan lahannya pergi ke Teheran mencari penghidupan lain. Mereka yang masih menguasai tanah dipaksa untuk menjual surplus hasil tanamannya kepada pemerintah dengan harga yang telah ditentukan.

Keluarga di Iran merupakan suatu kesatuan yang sangat erat Pusatnya adalah ayah atau orang laki-laki yang lebih tua yang dikenal sebagai tuan (aga). Dia merupakan penguasa tunggal di rumah sehingga harus dihormati dan dipatuhi sepenuhnya.

Keluarga besar banyak disukai di Iran dan anak laki-laki terutama lebih disukai agar nama keluarga terus berlanjut. Jika masih mengikuti tradisi lama, biasanya anak laki-laki tetap tinggal di rumah orang tuanya, bahkan setelah dia menikah.

Di dalam masyarakat tradisional Iran, sebagaimana halnya di dalam kebanyakan masyarakat Islam, wanita biasanya kurang mendapatkan hak dan kebebasan dibanding pria. Oleh karena itu, Syah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki status wanita pada tahun 1950 dan 1960-an.

Dia memberikan hak memilih bagi wanita dan melarang pria Islam untuk memiliki lebih dari satu istri (poligini) serta mengeluarkan undang-undang yang melindungi wanita dari perceraian dan ditinggalkan suaminya begitu saja. Syah juga memperbaiki kesempatan belajar bagi wanita di semua tingkat pendidikan.

Akibatnya, banyak wanita meninggalkan peran wanita muslim tradisionalnya. Mereka tidak lagi memakai cadar di tempat umum dan mulai mendapatkan kerja di berbagai profesi yang baru dibuka.

Kaum fundamentalis Islam sangat menentang gerakan kebebasan bagi wanita ini. Mereka menyatakan bahwa gaya kehidupan yang baru itu tidak konsisten dengan ajaran Islam sehingga mereka berusaha untuk menarik kembali berbagai perubahan itu ketika mereka berkuasa setelah Revolusi Islam tahun 1979.

Mereka memulihkan hak pria/suami untuk menceraikan istrinya semaunya dan mendekritkan bahwa semua anak di bawah tingkat universitas harus dipisahkan di dalam sekolah, laki-laki semua atau perempuan semua.

Mereka tetap mempertahankan hak wanita untuk memilih, tetapi menyatakan haram bagi semua kebiasaan minum minuman beralkohol ala “Barat”. menari dan bernyanyi di tempat umum, dan berenang bercampur di pantai atau kolam renang.

Sebelum Revolusi Islam, pakaian model Barat menggantikan pakaian tradisional Iran. Namun kini, pakaian model Barat dianggap sebagai “tidak sopan”, khususnya bagi wanita, dan pakaian tradisional sangat dianjurkan oleh pemerintah.

Pakaian tradisional bagi pria adalah kemeja bahan katun dan celana panjang longgar mirip karung Wanita memakai cadar (chawdar), yaitu kain panjang penutup kepala, yang dililitkan melingkari kepala dan kadang-kadang berfungsi sebagai penutup muka.

Daging domba, daging ayam, nasi. dan keju merupakan makanan pokok Iran. Minuman nasionalnya adalah teh yang tumbuh di lereng perbukitan sekitar Laut Kaspia. Makanan yang disukai adalah kaviar yang terbuat dari telur ikan sturgeon.

Waktu senggang

Orang lran merayakan berbagai hari libur agama Islam, seperti hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan bulan puasa Ramadhan. Di antara perayaan lainnya adalah Hari Republik Islam dan Tahun Baru. Festival yang terbesar adalah Tahun Baru yang di Iran jatuh pada hari pertama musim semi.

Tahun Baru dirayakan selama 13 hari, termasuk berkumpulnya keluarga, pemberian hadiah, dan pergi ke luar kota. Orang Iran gemar sekali berolah raga. Sejak dahulu orang di negeri ini adalah pemburu ulung, pemain polo dan pegulat. Mereka juga suka bermain catur yang memang berasal dari Iran dan india.

Kota

Teheran (atau Tehran) merupakan kota terbesar dari ibu Kota Iran. Teheran terletak di kaki pegunungan Elburz di bagian utara. Sebagai bekas kota karavan hingga akhir abad ke-18, Teheran sejak itu berkembang menjadi sebuah kota industri modern dan perdagangan.

Tabriz, yang terletak di sekitar Danau Urmia di baratlaut Iran, merupakan kota paling penting lainnya. Tabriz terkenal karena hasil permadani yang berkualitas tinggi dan beberapa industri lainnya. Pusat kota utama lainnya adalah bekas ibu kota Isfahan, di bagian tengah, dan Meshed, ibu kota propinsi Khorasan di bagian timurlaut.

Seni dan Sastra

Kesusastraan Iran, yang telah mendapatkan pengakuan dunia luas, mencapai puncaknya antara abad ke-10 sampai 16. Banyak karya penting tentang sejarah, filsafat, matematika, kedokteran, astronomi, dan syair ditulis di masa ini meskipun pada waktu itu terjadi perang, serbuan, dan berbagai konflik di dalam negeri.

Di antara penulis klasik yang paling terkemuka adalah Firdausi (940?-1020), penulis Book of Kings (Buku Raja-Raja) yang merupakan syair lirik yang terdiri atas 60.000 bait, dan Rumi (1207-1273), Saadi (1184-1291 ), serta Hafiz (1324-1388).

Penyair Iran yang paling terkenal adalah Omar Khayyam (? -1123), yang syair Rubaiyat-nya telah dibaca luas di dunia Barat. Omar Khayyam juga seorang ahli matematika dan astronomi.

Sebagian besar penulis klasik Iran menulis dalam bahasa Persia, dengan hanya mempergunakan beberapa kata bahasa Arab. Namun, karena bahasa Arab adalah bahasa ilmiah ketika itu, beberapa ahli fisika dan filsafat terkenal Persia menulis dalam bahasa Arab.

Arsitek Persia kuno merintis pembangunan kubah, kubah gereja, dan gaya arsitektur lainnya. Para kontraktor bangunan ketika itu dapat menemukan cara membangun kubah bundar di atas pondasi segi empat.

Mereka memperkenalkan halaman gedung berbentuk segi empat dengan keempat lengkung diagonalnya, yang kemudian ditiru dalam pembangunan masjid. Meskipun kini hanya tinggal puing-puingnya, pengaruh arsitektur bangunan indah di ibu kota Persia kuno, Persepolis dan Susa tetap dapat dilihat di berbagai masjid dan bangunan tradisional di Timur Tengah.

Seni Iran digambarkan sebagai seni dekorasi yang rumit. Di zaman dahulu, ubin tertentu yang indah dipakai untuk menghias dinding dan kubah masjid. Para pelukis amat pandai di dalam menciptakan ilustrasi tulisan mini di atas gading dan tulang. Juga diproduksi keramik yang berkualitas tinggi.

Kini, keramik ini termasuk hasil karya dunia yang amat berharga. Mungkin hasil cipta seni Iran yang paling terkenal-karena banyak dicari oleh negara-negara Barat-adalah karpet dan permadani yang dipintal tangan. Karpet pintal merupakan hasil ketrampilan orang Iran yang telah maju sejak dahulu kala dan ketrampilan ini terus sebagai kerajinan tangan yang penting dan menguntungkan.

Ekonomi

Ekonomi Iran berkembang pesat semasa Syah di tahun 1960 dan 1970an. Minyak memberikan andil besar di dalam kekayaan negara dan hasil penjualan minyaknya dipakai untuk membiayai modernisasi di bidang militer, industri,dan reformasi lahan pertanian.

Hasil minyak mencapai rekor tertinggi pada tahun 1970-an, ketika Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya, dengan bekerja sama di dalam Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), mulai mengendalikan produksi minyak dunia dan memaksa harga minyak naik.

Revolusi Islam 1979 dan perang yang berkepanjangan dengan Irak, berbarengan dengan ambruknya OPEC, telah memukul sekali ekspor minyak Iran sehingga amat menekan ekonominya pada tahun 1980-an.

Sekitar 40% tenaga buruhnya bekerja di bidang pertanian tetapi, karena iklim kering di sebagian besar daerah Iran, hanya sekitar 12% lahannya saja dapat diolah. Sawah irigasi menyediakan sebagian besar pangan negara meskipun terdapat juga beberapa sawah tadah hujan di daerah yang padat penduduknya di baratlaut.

Sebagian besar lahan pertanian Iran adalah kecil sebagai akibat program redistribusi lahan yang dijalankan pada tahun. 1960 dan 1970-an. Gandum merupakan tanaman pokok sedangkan padi, jewawut, dan padi-padian lainnya juga tumbuh.

Bit gula, yang digunakan untuk membuat gula, juga banyak ditanam, sedangkan ampas proses pembuatan gula mendukung industri makanan ternak modern. Kapas, teh, buah-buahan, kacang, dan sayuran juga merupakan tanaman lain yang menghasilkan uang. Kambing dan biri-biri juga diternakkan oleh pengembara gurun yang kebanyakan telah berswasembada. Penangkapan ikan kurang penting, tetapi sedikit ikan kaviar didapat di Laut Kaspia.

Sekitar 33% tenaga buruhnya yang lain bekerja di pertambangan. pabrik, dan perdagangan. Minyak yang merupakan produk mineral utama juga merupakan ekspor utama Iran, tetapi kini produksinya hanya 50% dari tingkat produksi sebelum tahun 1979.

Terminal minyak besar di pulau Kharg di Teluk Persia menangani sebagian besar ekspor minyak lran. Industri minyak ini telah melahirkan industri petrokimia yang besar yang menghasilkan pupuk, plastik, serat tiruan, dan produk lainnya. Produk nonmigas Iran adalah logam, peralatan mesin, kendaraan, dan karpet Setelah Revolusi Islam 1979, semua industri minyak, pabrik, dan perbankan dinasionalisasikan.

Pemerintahan

Iran menjadi sebuah negara republik Islam setelah monarki tumbang pada tahun 1979. Menyusul revolusi yang membawa rezim Islam ke tampuk kekuasaan, konstitusi 1906-yang memungkinkan Iran diperintah oleh monarki konstitusional dikesampingkan. Pemimpin revolusi, Ayatullah Khomeini, orang suci Islam, segera mendirikan pemerintahan sementara yang dikendalikan olehnya.

Konstitusi baru yang disetumi pada tahun 1979, menetapkan pemilihan presiden dan sebuah badan leguslatnf yang dusebut Majlis. Seorang perdana menteri yang disetujui parlemen. memadu kepala pemerintahan.

Konstitusi baru juga memberlakukan kekuasaan yang lebih besar kepada pemimpin agama tertinggi atau faghi. Hal itu berarti bahwa Khomeini tetap sebagai pemimpin terpenting Iran. Para pemimpin keagamaan banyak mendominasi parlemen setelah revolusi Islam.

Sejarah Iran

Iran dihuni oleh suku Aria sekitar 3500-4000 tahun yang lalu, yang berpindah dari daerah sekitar Laut Aral, kini termasuk wilayah Uni Soviet. Selama 1.000 tahun pertama sejarah Iran, berbagai kerajaan bangun dan jatuh.

Pada abad ke-6 sebelum Masehi, Raja Cyrus yang Agung dari dinasti Archaemenid Persia, mengalahkan saingannya Medes di Utara dan berhasil menyatukan Iran. Di bawah pemerintahan Cyrus, tentara Persia berhasil menaklukkan seluruh daerah yang kini Timur Tengah dan Asia Tengah sampai sejauh Pakistan.

Kerajaan besar yang didirikan Cyrus ini bertahan selama lebih dari 2 abad sebelum ditumbangkan oleh Iskandar yang Agung pada abad ke-4 sebelum Masehi. Iskandar dan para penggantinya menegakkan dinasti baru dan memperluas pengaruh kebudayaan Yunani ke seluruh wilayahnya.

Pemerintahan Yunani ini berlangsung sampai 2 abad sebelum Masehi sebelum bangsa Parthia (yang memiliki tali ikatan dengan orang Iran) mengalahkannya. Setelah berkuasa selama 350 tahun, bangsa Parthia ditaklukkan oleh bangsa Sassania, yang menegakkan dinasti Persia lainnya dan berhasil memukul mundur serbuan tentara Romawi.

Semasa Sassania (224-641 ), bangkitlah kebudayaan dan nasionalisme Persia. Pada abad ke-7, tentara Arab menyapu dataran tinggi Iran dan menggulingkan dinasti Sassania. Para penakluk Arab ini memperkenalkan agama lslam yang menggantikan agama Zoroastria sebagai agama utama dan tulisan Arab.

Dominasi bangsa Arab berlangsung selama beberapa abad sampai kekaisaran Islam mulai runtuh. Pendudukan bangsa Arab ini disusul oleh serbuan asing lainnya. Selama 5 abad (dari 1040-1500), Iran mengalami berbagai gelombang serbuan.

Menyusul gerakan damai ke Iran yang dilancarkan oleh tentara Turki Seljuk, tentara Mongolia di bawah Jenghis Khan dan tentara Tartar di bawah Timurleng menyerbu wilayah ini. Banyak kota dijarah dan luar kotanya dibiarkan merana.

Dinasti Safawid (1499-1722) memulihkan kebesaran Persia yang silam. Syah Abbas | (yang berkuasa 1587-1628), seorang penguasa terkemuka dari dinasti Safawid, membangun kembali berbagai kota, jalan-jalan baru, dan menstabilkan pemerintahan.

Isfahan, ibu kotanya, dibangun menjadi salah satu kota tercantik di dunia. Syah Abbas menjadikan Islam sekte Syiah sebagai agama negara dan mempergunakan semangat keagamaan sebagai kekuatan pemersatu.

Dinasti Safawid runtuh oleh serbuan bangsa Afghan pada tahun 1722. Selama periode singkat, di bawah Nadir Syah (1736-1747), Iran kembali menjadi sebuah kekuatan militer. Tentara Persia berhasil menaklukkan Afghanistan sehingga luas daerahnya mencapai Delhi di India.

Di antara harta karun yang dibawa pulang kembali setelah penaklukan ini adalah Singgasana Merak yang terkenal bertaburkan intan permata. Singgasana ini kini dirawat di museum di Teheran, yang menjadi ibu kota Iran sejak tahun 1788.

Menyusul kematian Nadir Syah, Iran dilanda perang saudara antara dua dinasti yang bersaingan. Pada tahun 1790-an, dinasti Qajar muncul sebagai pemenang dan memerintah hingga Perang Dunia I selesai.

Selama berabad-abad setelah kekuasaan bangsa Arab, Iran jarang mengadakan kontak dengan dunia luar sehingga negeri ini jauh tertinggal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menjelang tahun 1800-an, negeri ini menjadi semakin lemah karena berbagai perang dan serbuan.

Melihat kelemahan ini, Rusia, Inggris dan negara Barat lainnya memanfaatkannya dengan melibatkan diri dalam berbagai permasalahan internal Iran. Setelah berperang dua kali (1801-1813 dan 1825-1828), Rusia menguasai seluruh wilayah utara mulai dari Sungai Aras.

Pada awal tahun 1900-an, Inggris memperoleh hak komersial di banyak ladang minyak utama Iran, sehingga sebenarnya pemerintah negara ini sudah tidak mempunyai kekuasaan lagi.

Untuk membela ancaman kemerdekaannya, bangsa Iran memulai suatu gerakan reformasi dalam negeri. Konstitusi 1906 memberikan kewibawaan kepada pemerintahan dan berbagai upaya modernisasi meningkat setelah Perang Dunia I.

Pada tahun 1921, Reza Khan menguasai kendali pemerintahan, lalu menjadi perdana menteri. Pada tahun 1925, dengan mengubah namanya menjadi Pahlevi, Reza Khan diangkat menjadi Syah.

Selama Perang Dunia II, dia berpihak kepada Jerman dan, ketika sekutu menaklukkan Iran pada tahun 1941, dia dipaksa turun takhta dan digantikan oleh anaknya Mohammad Reza Pahlevi.

Sebuah gerakan nasionalis, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Mossadeq, berusaha untuk menasionalisasikan industri minyak pada tahun 1951. Namun, upaya ini ditentang oleh Inggris dan Amerika dan dengan dukungan mereka pula Syah baru memecat Mossadeq pada tahun 1953.

Konsorsium (asosiasi) delapan perusahaan minyak asing kemudian diberi hak pengeboran minyak di Iran. Dengan memanfaatkan hasil minyak yang semakin meningkat, Syah melancarkan modernisasi di negeri ini.

Dia menggalakkan teknologi baru, membangun angkatan bersenjata yang modern, dan memperluas pendidikan dan hak-hak lain bagi kaum wanita. Dia mulai mendistribusikan kembali tanah-tanah milik tuan tanah yang kaya seringkali berupa tanah yang ditinggalkan pemiliknya kepada kaum miskin.

Ekonomi Iran berkembang di bawah Syah, tetapi para pemimpin konservatif keagamaan Syiah menentang cara-cara ”Barat” dan berbagai kebebasan baru yang bertentangan dengan ajaran tradisional Islam.

Naiknya harga minyak dunia, karena dikendalikan oleh OPEC, membantu Syah mempercepat program modernisasinya pada tahun 1970-an. Ketika tentangan dari para pemimpin keagamaan juga semakin meningkat, dia membuat Iran sebagai negara satu partai, dengan melarang partai oposisi sehingga dia mulai berkuasa secara autokratik. Segala oposisi ditindas oleh SAVAK, polisi rahasia yang dibenci.

Revolusi Islam

Ketidakpopuleran Syah mencapai puncaknya di bulan Januari 1979 sehingga membuatnya memutuskan untuk meninggalkan negaranya. Pemimpin agama Ayatollah Rohullah Khomeini, yang dibuang pada tahun 1964 karena menentang Syah, kembali ke Iran pada bulan Februari 1979 untuk memimpin revolusi yang mengakhiri kekuasaan dinasti Pahlevi dan menjadikan negeri ini sebagai negara republik Islam pada bulan April 1979.

Konstitusi baru, yang menyerahkan kekuasaan eksekutif ke tangan perdana menteri terpilih dan ”kekuasaan tertinggi” ke tangan pemimpin agama Syiah yang ditunjuk (Khomeini), diratifikasi pada bulan Desember 1979.

Para mahasiswa Iran, yang menuntut dikembalikannya Syah (yang sedang mencari perawatan medis di Amerika Serikat), menduduki kedutaan besar Amerika di Teheran pada tanggal 7 November 1979 dan menawan warga Amerika di kedutaan sebagai sandera selama 444 hari. Syah meninggal sebelum para sandera dibebaskan pada tahun 1981.

Kekacauan politik terus berkembang di Iran. Fraksi-fraksi yang bersaingan, dengan menggunakan bom dan menghukum mati lawan-lawan politiknya, berjuang untuk menguasai kendali politik dan untuk mendapat peran yang menentukan dalam memilih pengganti Khomeini yang semakin tua.

Negara tetangga, Irak, memanfaatkan keadaan kacau ini dan menyerbu Iran pada bulan September 1980. Pulau Kharg dan beberapa pabrik pengilangan minyak hancur selama Perang Teluk yang berkepanjangan dan telah menelan banyak korban jiwa di kedua belah pihak.

Terkait Iran

Diulas oleh:
MEHDI VAKIL, Mantan Duta Besar Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa
Editor: Sejarah Negara Com