Myanmar negara Tanah Emas di Asia Tenggara

Orang Myanmar (Burma) menyebut negaranya dengan Tanah Emas. Nama ini mungkin berasal dari kebiasaan orang negeri ini untuk menghias pagoda Budha mereka dengan lempeng emas sehingga berkilauan diterpa terik matahari. Nama ini mungkin juga mengacu pada tanaman padi yang menguning bagaikan emas menjelang musim panen.

Myanmar menanam begitu banyak padi yang merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Asia, sehingga dapat mengekspornya dalam jumlah besar. Nama ini mungkin juga mengacu pada kenyataan bahwa matahari bersinar selama beberapa bulan dalam setahunnya.

Apa pun alasannya, Tanah Emas adalah nama yang cocok, karena Myanmar adalah suatu negara yang dianugerahi lahan yang subur, berbagai hutan dengan kayu yang tak ternilai harganya, dan berbagai sumber mineral penting lainnya.

Geografi Myanmar

Dalam peta Myanmar dapat kita lihat bentuknya mirip dengan layang-layang, berbentuk intan lengkap dengan ekornya. Garis pantainya yang panjang di teluk Bengala dan Laut Andaman merupakan bagian Samudra Hindia.

Negara tetangga Myanmar di sebelah barat adalah India dan Bangladesh; sedangkan Cina, Thailand, dan Laos di sebelah utara dan timur.

Puncak pegunungan Himalaya yang tertutup salju jauh di utara dan menjulang pada ketinggian lebih dari 4.600 m menjadi tapal batas Myanmar dengan India dan Cina. Rangkaian pegunungan memanjang di bagian barat dan timur negara bagaikan jari yang membentuk huruf V.

Di bagian barat, rangkaian pegunungan Arakan yang memanjang dalam rangkaian jurang terjal yang dikenal dengan Naga, Chin, dan bukit Lushai menjadi daerah perbatasan Myanmar dengan India. Wilayah ini jarang penduduknya dan hanya memiliki lahan yang sempit bagi pertanian.

Di sebelah barat pegunungan Arakan, di sepanjang Teluk Bengala, terdapat jalur lahan sempit yang banyak dialiri oleh sungai kecil dan sungai besar yang turun dari pegunungan Arakan. Wilayah ini merupakan lahan pertanian yang luas.

Dataran tinggi Shan, di sisi timur wilayah yang berbentuk V, memaniang ke selatan ke rangkaian pegunungan Tenasserim. Pegunungan ini beserta dataran tingginya merupakan garis pemisah antara Myanmar dan Thailand.

Di antara dataran tinggi Shan dan pegunungan Arakan terletak cekung tengah Myanmar yang besar. Sebagai wilayah yang rendah, daerah cekung tengah ini dialiri oleh sistem sungai utara-selatan yang penting, yaitu Sungai Irawadi serta berbagai anak sungainya, Chindwin, Sittang, dan Delta Salween. Delta yang sangat luas ini merupakan pusat ekonomi utama produksi beras.

Letak Myanmar yang dekat dengan garis khatulistiwa dan pengaruh angin musim dari baratdaya menciptakan iklim tropis dengan tiga musim yang terbagi dengan jelas, yaitu musim hujan yang basah dan kering, diikuti oleh musim sejuk, atau ”dingin” (yang lebih mirip dengan musim semi yang hangat), dan musim kering yang panas.

Di dataran yang lebih tinggi, di daerah pegunungan Myanmar utara, suhu udara sedikit membeku sehingga terjadilah salju. Di bagian tengah, suhu berkisar antara 160-380 C. Di sepanjang pantai, suhu udara rata-rata tinggi. Curah hujan di sepanjang daerah pantai kering, yang membentang di sepanjang negeri tengah, berkisar setinggi-tingginya antara 457-548 cm dan serendah-rendahnya 53-102 cm setahun.

Peta wilayah Myanmar

Kunjungi Peta Myanmar atau di google map

Ekonomi

Pertanian merupakan pusat ekonomi Myanmar dengan mempekerjakan 7 dari setiap 10 tenaga kerja. Di samping beras, lahan yang kaya juga menghasilkan biji-bijian, kapas, tebu, tembakau, kacang, wijen, dan kacang-kacangan (polong, buncis, miju-miju).

Hutan menutup hampir tiga perlima negara sehingga produksi kayu, khususnya kayu jati, merupakan industri utamanya. Myanmar merupakan pengekspor kayu jati terkemuka di dunia. Negara ini juga banyak memiliki sumber mineral, sedangkan hasil tambangnya adalah timbel, seng, tungsten, tembaga, emas dan perak, timah, batu berharga, dan permata.

Minyak juga diproduksi dalam jumlah yang banyak. Selain industri penangkapan ikan, pertambangan dan perkayuan merupakan industri yang terbatas. Berbagai pabrik Myanmar memproduksi semen, tekstil, pupuk, ubin, rami, farmasi, dan baja.

Di samping itu, terdapat juga berbagai pabrik yang mengolah makanan ternak, kayu, dan mineral. Para pengrajin Myanmar terkenal dengan hasil ukir kayu dan gadingnya yang bagus, pemintalan sutera, dan permata yang dibuat dengan tangan.

Penduduk Myanmar

Penduduk Myanmar, termasuk sejumlah besar warga Cinanya, terutama berasal dari suku Mongoloid. Terdapat lebih dari 500.000 orang imigran India dan Pakistan serta sejumlah kecil orang Eropa. Hampir setiap penduduk beragama Budha meskipun terdapat juga pemeluk Kristen, Islam, Hindu, dan animisme.

Mayoritas penduduknya bertutur dalam bahasa Myanmar. Bahasa Inggris umumnya dituturkan sebagai bahasa kedua dan diajarkan sejak dari sekolah dasar. Sekitar 1/5 penduduknya bertutur dalam dialek dan bahasa lain.

Sekitar 5% penduduk bertutur dalam bahasa Cina atau bahasa India, seperti Hindi, Tamil, atau Urdu. Abjadnya didasarkan atas tulisan yang diambil dari bahasa India, khususnya Pali, yang digunakan dalam tulisan teks.

Untuk menentukan secara tepat siapa penduduk asli Myanmar adalah sulit. Migrasi ke negeri ini dari Asia Tengah dimulai sekurang kurangnya 2.000 tahun yang lampau.

Mula-mula datang orang Mon-Khmer, yang kemudian bermukim di daerah delta dan wilayah Tenasserim dan menyebarkan agama Budha dan beberapa unsur budaya lainnya ke seluruh wilayah negeri. Pada awal abad ke-1, orang Myanmar-Tibet termasuk orang Pyu, Myanmar, Chin, dan kemudian Kachin-mulai berdatangan.

Kelompok imigran utama ketiga adalah Shan-Thai, yang kerajaannya pernah mendominasi Cina Selatan, yang disebut dengan Nanchao. Keturunan utama orang Shan-Thai yang banyak berdiam di Laos, Thailand, dan Negara Shan Myanmar terusir ke luar dari kerajaan mereka di Cina selama penaklukan bangsa Mongol pada abad ke-12 dan ke-13.

Di negeri ini juga terdapat kelompok kecil suku perbukitan, biasanya mereka dihubungkan dengan ketiga kelompok keturunan utama bangsa ini.

Berbagai kelompok suku di Myanmar dapat dibedakan dari pakaian dan tutur mereka. Pria dan wanita mengenakan Iongyi, atau rok, sedangkan orang laki-laki Shan mengenakan celana panjang lebar tak berkancing.

Terdapat pula variasi sepatu dan tutup kepala, cara mengikat buhul, model perhiasan, dan warna serta rancangan tekstil yang digunakan oleh berbagai kelompok yang berbeda. Seseorang penutur bahasa Myanmar yang berasal dari Tavoy atau Mergui di wilayah selatan, misalnya, memiliki aksen yang sangat berbeda dari seseorang yang tinggal di Mandalay, wilayah tengah.

Cara Hidup

Dalam kehidupan sehari-harinya, orang Myanmar berpaling kepada nilai-nilai dan adat-istiadat tradisionalnya. Baik di kota maupun di desa, orang lebih suka mengenakan pakaian tradisional daripada pakaian model Barat.

Berbagai peralatan rumah tangga modern, radio, dan gedung film banyak terdapat di kota-kota, tetapi sebagian besar orang hidup tanpa berbagai barang mewah ini. Mobil, truk, sepeda, dan sepeda motor banyak meluncur di jalan-jalan, tetapi orang desa Myanmar lebih suka bepergian dengan berjalan atau naik kereta lembu.

Meskipun beberapa orang petani mengerjakan lahannya dengan traktor modern, sebagian besar petani lebih percaya pada bajak yang ditarik oleh kerbau atau sapi. Gajah sering dimanfaatkan untuk membawa beban yang sangat berat, khususnya di dalam industri kayu.

Mayoritas orang Myanmar sekitar 4 dari setiap 5 orang tinggal di desa pertanian yang kecil, terutama di berbagai lembah sungai dan delta hilir. Sebuah keluarga yang khas hidup di rumah-rumah bambu yang ditinggikan dengan jangkungan.

Biasanya terdapat beranda yang panjang di luar rumah sebagai tempat keluarga bersantai-santai dan makan. Sebagian besar pria dan wanita mengenakan jaket pendek, rok, dan sandal. Pria Myanmar seringkali mengenakan ikat kepala berwarna yang terbuat dari kain.

Nasi adalah makanan pokoknya dan dimakan dengan tangan di dalam mangkuk dan dicampur dengan sayuran, daging ayam, ikan, atau daging sapi yang dibumbui dengan penyedap rasa dan berbagai bumbu lainnya.

Di samping mengolah tanaman, kehidupan di desa berpusat pada keluarga, yang meliputi paman, bibi, dan saudara sepupu. Anak-anak Myanmar diajar untuk bersikap ”hormat”, ini merupakan hal penting yang meliputi tingkah laku dan penampilan yang benar serta pemakaian bentuk sapaan yang tepat.

Misalnya, orang harus menyapa orang yang lebih tua atau yang memiliki status yang lebih tinggi dengan U, suatu gelar kehormatan yang berarti ”tuan” atau “paman” (sebagaimana U Thant Sekjen PBB ke empat).

Suatu kesempatan penting dalam kehidupan anak laki-laki Budha adalah upacara Shinbyu, yang menandai bahwa anak itu siap bertanggung jawab sebagai seorang Budha secara moral. Setelah upacara, anak itu memasuki biara setempat untuk beberapa lama.

Wanita memiliki status yang sama dengan pria di Myanmar. Di waktu lampau, wanita telah menguasai sebagai Ratu dan kini mereka banyak yang aktif di bidang politik dan berbagai profesi lainnya. Semua bazar dan toko di pasar setempat dijalankan oleh wanita.

Di sebagian besar Myanmar, seorang Budha tidak memiliki nama keluarga. Setiap orang diberi nama berdasarkan huruf nama hari dalam seminggu waktu dia dilahirkan. Th dalam U Thant menunjukkan bahwa dia dilahirkan pada hari Jumat.

Seorang Myanmar mungkin hanya memiliki satu atau beberapa nama. Nama lainnya biasanya merupakan nama-harapan terhadap mutu sifat dan penampilannya. Seorang anak laki-laki mungkin akan bernama ”kejujuran” (yah), ”pintar” (thin), ”besar” (gyi). Anak wanita diberi nama seperti ”manis” (khin) atau ”cantik” (hla).

Selama waktu senggangnya, seorang Myanmar akan bermain berbagai jenis olahraga dan permainan, seperti renang, mendayung, dan main layanglayang. Suatu permainan populer yang disebut dengan chin-Ion dimainkan oleh 5 orang pemain yang berdiri dalam suatu lingkaran dengan melempar-lempar ke atas bola berlubang menggunakan telapak kaki dan kakinya saja.

Myanmar memiliki banyak festival, beberapa di antaranya dihubungkan dengan hari libur keagamaan, atau hari sabat (hari-hari dalam sebulan bertepatan dengan 4 fase dalam sebulan). Di bulan April, penduduk merayakan Tahun Barunya dengan Festival Air (Thingyan). Festival ini berlangsung gembira selama 3 hari, yaitu ketika orang saling mendoakan dengan memercikkan air kepada kawannya atau bahkan kepada siapa pun yang lewat.

Seringkali pemercikan air ini berkembang menjadi permainan perkelahian dengan air. Perayaan lain, Festival Lampu, dihubungkan dengan berakhirnya masa 3 bulan peringatan keagamaan (yang bermula di bulan Juni). Hampir setiap bulan dalam setahun memiliki waktu perayaan.

Pasar tahunan nasional diselenggarakan selama festival dan banyak orang menonton pertunjukan musik terbuka yang disajikan oleh kelompok musik jalanan yang dikenal dengan pwes. Meskipun Myanmar memiliki banyak seniman yang melahirkan lukisan dan ukir patung modern, sebagian besar seninya diinspirasikan oleh tema-tema tradisional dan keagamaan.

Pendidikan

Pendidikan sangat dijunjung tinggi di Myanmar. Salah satu tugas seorang Bikhu adalah untuk mempelajari berbagai tulisan Budha. Tugas lainnya adalah mengajar anak-anak dan ketika negeri ini belum merdeka pada tahun 1948, sebagian besar pendidikan dasar diselenggarakan oleh berbagai sekolah biara Budha.

Setelah kemerdekaan, pemerintah Myanmar telah memperluas pendidikan umum ke seluruh negara. Hampir 60% penduduknya kini melek huruf. Pendidikan profesi dan akademi yang murah dan dapat dimasuki oleh setiap orang yang telah lulus ujian akhir sekolah menengah atas tersedia diseluruh pelosok.

Kota

Myanmar memiliki sekitar 50 kota, tetapi hanya beberapa saja yang merupakan kota besar. Yangon, ibu kota negara, merupakan kota terbesar dengan penduduk metropolitannya sekitar 4.000.000 jiwa (kotanya sendiri hanya berpenduduk sekitar 2.000.000 jiwa) (2003).

Kota ini berkembang di sekitar tepi kiri Sungai Yangon, 34 km di muara sungai ini di Laut Andaman. Yangon merupakan pelabuhan utama negara, suatu pusat perdagangan dan industri dan merupakan induk jaringan transportasi dan komunikasi negara.

Di samping memiliki banyak bangunan umum yang menarik, Yangon terkenal dengan monumen sejarahnya, termasuk Pagoda Shwe Dagon yang dilapisi dengan emas yang tingginya mencapai 112 m. Sejumlah lembaga pendidikan juga terdapat di Yangon, yang terbesar di antaranya adalah Universitas Yangon.

Pagoda Sule di Yangon Myanmar

Kota terbesar kedua Myanmar adalah Mandalay (berpenduduk sekitar 417.000 jiwa) yang terletak di tepi Sungai Irawadi. Mandalay merupakan kota pelabuhan dan pusat perdagangan yang ramai, dengan beberapa pasarnya seperti Bazar Zegyo.

Di bagian kota tua terdapat berbagai bangunan kuno dan pagoda Budha meskipun sejumlah besar lainnya hancur selama Perang Dunia II. Kota utama lainnya adalah Moulmein (dengan penduduknya sekitar 205.000 jiwa) dan Bassein (dengan penduduknya 355.000 jiwa) (2003).

Sejarah dan Pemerintahan Myanmar

Sejarah Myanmar sebagai negara yang bersatu bermula pada abad ke-11 ketika Raja Anawratha (yang memerintah dari tahun 1044-1077) mendirikan dinasti yang pertama di Pagan, yaitu kota di tepi Sungai Irawadi.

Selama dua abad berikutnya, orang Myanmar menaklukkan banyak orang di wilayah sekitarnya dan mereka mengambil kebudayaannya, termasuk agama Budha Theravada. Pagan lalu menjadi kota yang berarsitektur megah dan kota pusat kebudayaan, sama dengan Athena ketika Abad Keemasan Yunani.

Berbagai perpustakaan dan seminari didirikan, berbagai kuil Budha yang indah dibangun, sehingga Myanmar lalu berkembang menjadi sebuah masyarakat Budha yang berakar kuat sekali hingga sekarang ini.

Pada akhir abad ke-13, tentara Mongol yang dipimpin oleh Kubilai Khan menyerang Myanmar sehingga menimbulkan kekacauan politik.

Kerajaan Myanmar pecah menjadi fraksi-fraksi yang saling berperang sehingga dinasti Pagan runtuh. Namun, kemunduran negeri ini hanya bersifat sementara. Menjelang akhir abad ke-15, dinasti yang baru yang dikenal dengan Toungoo (nama salah satu ibu kotanya) muncul dan berkuasa.

Di bawah Raja Bayinnaung (yang berkuasa dari tahun 1551-1 581 ), sekali lagi Myanmar menjadi bersatu dan bahkan memperluas wilayah kerajaannya. Namun, keturunan Raja Bayinnaung menghancurkan diri dengan berbagai perang yang mahal, sehingga dinasti ini akhirnya runtuh setelah terjadi pemberontakan Mon pada tahun 1740.

Dinasti Konbaung, dinasti yang ketiga dan yang terakhir, dibangun oleh Raja Alaungpaya (memerintah dari tahun 1752-1760), yang dengan mantap mengalahkan orang Mon dan memulihkan kembali kekuasaan Raja di seluruh Myanmar.

Pada tahun 1760-an, dinasti baru ini dapat mengalahkan orang Siam dan berhasil memukul mundur serangan Cina. Dari tahun 1782-1820, kekuatan politik dan militer Myanmar mencapai puncaknya. Wilayahnya meluas sampai ke Assam dan Manipur.

Namun, perluasan ke barat mengakibatkan pertikaiannya dengan Inggris di India sehingga terjadi tiga kali perang Inggris-Myanmar pada tahun 1800-an. Setelah terjadi perang tersebut yang ketiga kalinya pada tahun 1885, kerajaan Myanmar dikalahkan oleh Inggris lalu dianeksi menjadi sebuah propinsi India. Pada tahun 1937, wilayah ini dijadikan negara jajahan terpisah di dalam Imperium Inggris.

Selama Perang Dunia ll, tentara Jepang menyerang dan berhasil menduduki Myanmar sehingga sebagian besar wilayah menjadi hancur. Setelah Jepang diusir keluar pada tahun 1945, para nasionalis yang dipimpin oleh Aung San melanjutkan usahanya untuk memperoleh kemerdekaan negaranya.

Kaum nasionalis ini berhasil sehingga pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris memberikan kemerdekaan penuh kepada Myanmar. Sebuah konstitusi baru, yang disyahkan 4 bulan sebelumnya, menjadikan negeri ini sebagai negara berbentuk demokrasi parlementer, dengan badan legislatif dua kamar yang dipilih oleh rakyat, seorang perdana menteri sebagai kepala pemerintahan, dan seorang presiden sebagai kepala negara tituler.

Konstitusi ini juga menyebut adanya pasal tentang rencana ekonomi nasional, berbagai kepentingan umum yang dikuasai negara, pembagian dan reformasi tanah, dan sumber daya nasional yang dikembangkan secara bersama oleh negara. Di bawah konstitusi ini Myanmar berkembang menjadi sebuah negara sosialis demokratis yang sejahtera.

Segera setelah kemerdekaannya, Uni Republik Myanmar yang baru ini mengalami berbagai pemberontakan komunis. Meskipun tentara berhasil menghancurkan berbagai kelompok komunis, aktivitas gerilyawan komunis masih terus berlangsung.

Hal ini menciptakan ketidakstabilan politik dan merupakan faktor utama yang mendorong kaum militer untuk mengambilalih pemerintahan pada tahun 1962, ketika Jenderal Ne Win mengambil alih kekuasaa.

Jenderal Ne Win mengesampingkan Konstitusi 1947 dan mendirikan kediktatoran yang moderat dengan dirinya sendiri sebagai kepala negara. Para pemimpin militer memperlemah kontak dengan luar negeri dan berusaha menjadikan Myanmar sebagai negara yang mandiri dalam bidang ekonomi.

Para pemimpin negara melepaskan gelar kemiliterannya, tetapi pemerintah satu partai tetap berlanjut. Pada tahun 1981, Ne Win melepaskan kepresidenannya, tetapi tetap mempertahankan kursi ketua partai.

Di bawah para pemimpin baru, Myanmar memperluas hubungan internasionalnya selama pertengahan tahun 1980-an, yaitu ketika usaha ini ditandai oleh serangan bom oleh Korea Utara terhadap pejabat Korea Selatan yang sedang berkunjung ke negara ini pada tahun 1983.

Diulas oleh: FRANK N. TRAGER, Universitas New York, penulis Burma from Kingdom to Republic
Editor: Sejarah Negara Com