Sejarah Virus Corona Sejak Tahun 1960

Sebenarnya dari manakah Virus Corona berasal? Virus Corona adalah jenis virus yang menyebabkan penyakit pada jenis mamalia dan burung. Tetapi, mengapa akhir-akhir ini menjangkit pada manusia?

Akhir-akhir ini Virus corona membuat gempar dunia, tak terelakkan menjadi perbincangan sebagian besar masyarakat dunia. Bahkan negara Italia mengunci negaranya gara-gara virus ini.

Di Indonesia sendiri tercatat dua warga asal Depok positif terjangkit virus corona. Tak ayal masyarakat resah dibuatnya, yang berkembang menjadi kewaspadaan dan kepanikan. Kami yakin banyak pertanyaan dalam benak kita, itu virus corona? Bagaimana asal usulnya? Apakah benar awalnya dari hewan khususnya kelelawar?

Dampak dari virus korona mengakibatkan infeksi saluran pernapasan yang biasanya ringan, seperti beberapa kasus flu biasa (di antara penyebab lainnya, terutama rhinovirus). Meski efek virus ini jarang mengakibatkan kematian, seperti SARS , MERS , dan COVID-19.

Gejala coronavirus bervariasi pada spesies lain, seperti pada ayam misalnya. Virus ini menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas, namun berbeda lagi yang terjadi pada sapi dan babi, mereka akan menderita diare.

Coronaviruses membentuk Orthocoronavirinae subfamili, dalam keluarga Coronaviridae , memesan Nidovirales , dan ranah Riboviria . Virus ini diselimuti dengan genom RNA untai tunggal rasa positif dan nukleokapsid dari simetri heliks.

Ukuran genom dari virus corona berkisar antara 27 hingga 34 kilobase , yang terbesar di antara virus RNA yang diketahui. Nama coronavirus berasal dari bahasa Latin corona, yang artinya “mahkota” atau “halo“, yang mengacu pada penampilan karakteristik yang mengingatkan pada mahkota atau korona surya di sekitar virion (partikel virus) bila dilihat di bawah transmisi dua dimensi mikroskop elektron , karena penutup permukaan pada paku protein berbentuk klub.

Penemuan Virus Corona

Dari hasil pengumpulan informasi penulis, Virus Corona pertama kali ditemukan pada 1960-an. Paling awal ditemukan adalah virus bronkitis menular pada ayam dan dua virus dari rongga hidung pasien manusia dengan flu biasa yang kemudian dinamai human coronavirus 229E dan human coronavirus OC43 .

Anggota lain dari keluarga ini telah diidentifikasi, termasuk SARS-CoV pada 2003, HCoV NL63 pada 2004, HKU1 pada 2005, MERS-CoV pada 2012, dan SARS-CoV-2 (sebelumnya dikenal sebagai 2019-nCoV) di 2019. Sebagian besar dari ini melibatkan infeksi saluran pernapasan serius.

Gejala terjangkit Corona

4 Jenis Virus Corona

Menurut jenisnya virus corona terbagi menjadi empat genus, yaitu:

  1. Alpha coronavirus
  2. Beta coronavirus
  3. Gamma coronavirus
  4. Delta coronavirus

Virus corona yang menjangkiti manusia hanya berasal dari genus alpha dan genus beta, dan parahnya genus ini merupakan yang paling berbahaya diantara lainnya. Sedangkan yang menyerang hewan adalah genus delta serta genus gamma.

Virus corona yang mewabah manusia ada 4 yaitu:

  1. HCoV-229E (alpha coronavirus)
  2. HCoV-NL63 (alpha coronavirus)
  3. HCoV-OC43 (beta coronavirus)
  4. HCoV-HKU1 (beta coronavirus)

Sedangkan jenis coronavirus yang menginfeksi pada hewan merupakan genus beta pasca berevolusi dalam bentuk baru, yaitu:

  1. SARS-Cov
  2. MERS-Cov
  3. 2019-ncov

Penularan Virus Corona

Penularan virus corona dari manusia ke manusia diperkirakan karena terjadi kontak dekat melalui tetesan pernapasan yang dihasilkan oleh bersin dan batuk.

Upaya pencegahan Virus Corona

Dari pemaparan di atas ada beberapa langkah dan kiat untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona yang lebih meluas, antara lain sebagai berikut:

  1. Menjaga imunitas
  2. Menjaga lingkungan
  3. Menggunakan masker saat berada di ruang terbuka
  4. Mengolah makanan dengan tepat
  5. Jangan konsumsi satwa liar
  6. Segera ke dokter apabila mengalami gejala seperti sakit tenggorokan, flu, batuk, demam, atau sesak nafas.

Agar kita tak mudah tertular virus ini, ada beberapa saran dan anjuran sebagai berikut:

  1. Menghindari kontak langsung dengan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
  2. Menggunakan alat pelindung diri (APD).
  3. Segera mencuci tangan setelah mengadakan kontak bersama lingkungan orang sakit.
  4. Mengingatkan mengenai etika batuk kepada pasien ISPA.