Jepang negara hancur yang bangkit kembali

Jepang – Orang Mesir kuno menceritakan suatu legenda tentang burung yang amat besar dan indah yang disebut burung Phoenix (funiks). Burung itu hidup selama beratus-ratus tahun, lalu membakar dirinya sendiri. Akan tetapi, dari abunya lahirlah burung funiks lain yang sama besar dan sama indahnya.

Jepang telah disamakan dengan burung funiks itu. Pada akhir Perang Dunia II, sebagian besar negeri ini hancur berantakan, ekonominya nyaris hancur sama sekali.

Namun, dalam waktu yang sekejap saja, Jepang telah membangun kembali negaranya sehingga dari segi ekonomi kini berada di urutan ke-3 di antara negara raksasa dunia setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet, sedangkan keindahan alamnya, sekali lagi, membuat para turis terpesona.

Perbandingan antara Jepang dan burung funiks mempunyai satu titik kelemahan. Jepang bukanlah negara yang besar dibandingkan dengan Uni Soviet, Cina, Kanada, atau pun Amerika Serikat.

Luas Jepang hanyalah sekitar 1/20 luas Amerika Serikat. Apalagi hanya kurang dari 1/5 wilayahnya yang cocok untuk pertanian. Namun, pemerintah mampu menyediakan pangan bagi penduduknya yang berjumlah lebih dari separuh penduduk Amerika Serikat.

Salah satu aspek mencolok dari Jepang adalah kontras antara cara-cara kuno dan cara-cara modern, antara gaya Timur dan gaya Barat. Orang di negeri ini termasuk orang yang paling progresif di dunia, tetapi mereka ingin tetap memelihara adat istiadat tradisionalnya.

Oleh karena itu, tradisi kuno dan baru bercampur di Jepang. Kereta api tercepat jarak jauh di dunia, yang melaju dengan kecepatan 210 km per jam dan dikendalikan dengan komputer, melintasi melalui daerah pinggiran Jepang, tempat para petani padi menanam padinya sama seperti para leluhurnya.

Di tengah-tengah distrik hiburan yang gemerlapan di Tokyo, berdirilah patung Budha kuno, Senso-Ji (biasanya disebut juga Asakusa Kannon), yang dikabarkan dibangun pada abad ke-7.

Di berbagai kotanya, orang muda Jepang memakai pakaian model mutakhir Eropa meskipun kaum wanita yang sudah tua terlihat memakai pakaian tradisional, yaitu kimono. Banyak di antara kaum wanitanya, setelah seharian bekerja di salah satu pabrik elektronika besar, berlatih upacara jamuan teh.

Banyak pria dan kebanyakan wanita mengadakan jamuan teh ala kuno yang menarik dari waktu ke waktu. Jepang, salah satu negara pembuat kapal terbesar di dunia, ternyata masih membuat manusia merasa kagum akan bunga cerinya di musim semi.

Mungkin kontras ini akan semakin berkurang di suatu saat nanti. Industrialisasi tampaknya cenderung menghapus perbedaan di antara negara. Namun, sebegitu jauh, modernisasi Jepang tidak banyak mengubah sikap dan cara berpikir kolot.

Sikap Jepang yang kolot ini mungkin masih dapat dilihat di antara orang-orang yang bersikap santun dan pendiam, di dalam sikap hormat mereka terhadap orang yang lebih tua, kebiasaan mereka dalam bekerja keras, kecintaan mereka untuk belajar, rasa sensitif mereka terhadap keindahan, dan rasa bangga mereka terhadap negaranya.

Ada satu cara berpikir mereka’yang sudah berubah. Pengalaman selama Perang Dunia II telah membuat orang Jepang tidak ingin lagi melihat penderitaan dan kehancuran seperti dulu. Hal ini penting untuk memahami kepercayaan yang kini menyadari bahwa mereka adalah satu-satunya bangsa yang pernah dibom senjata nuklir.

Konstitusi bahkan melarang perang. Pasal 9 konstitusi itu berbunyi,

”Bangsa Jepang selamanya mengecam perang sebagai satu-satunya cara berkuasa suatu negara, serta mengecam berbagai bentuk ancaman atau pun penggunaan kekuatan sebagai alat untuk menyelesaikan pertikaian internasional…angkatan darat, laut, dan udara serta potensi perang lainnya tidak akan dipelihara. Hak berperang bagi suatu negara tidak akan diakui.” ‘

Menyimpang dari pasal yang terkenal ini, pemerintah Jepang ternyata pernah mempersenjatai diri lagi selama Perang Korea (1950-1953). Namun, anggaran belanja militer masih relatif kecil jika dibandingkan dengan pengeluaran negara-negara lainnya.

Namun, banyak di antara orang Jepang sangat kritis terhadap anggaran belanja ini sehingga anjuran untuk mengubah Pasal 9 akan mendapatkan tentangan keras dari rakyat.

Tahun-tahun damai Jepang yang lama, sejak berakhirnya perang pada tahun 1945, dan anggaran belanja militer yang relatif kecil, sangat membantu pertumbuhan ekonomi yang amat mengesankan.

Untuk lebih memahami pertumbuhan ekonominya itu, pertama-tama kita harus menengok keadaan alamnya. Anehnya, alam Jepang hanya menyediakan sedikit sumber alam, yang bagi negara lain dapat dipakai membantu mengembangkan kemakmuran.

Peta wilayah Jepang

Kunjungi Peta Jepang atau di google map

Geografi Jepang

Kepulauan Jepang membentuk suatu rantai panjang dan sempit yang terletak di sekitar 160-800 km lepas pantai timur Asia. Keempat pulau besarnya yaitu Kyushu, Shikoku, Honshu, dan Hokkaido, tetapi masih terdapat lebih dari 3.000 pulau lain yang lebih kecil, yang beberapa di antaranya tidak berpenghuni.

Jarak ujung selatan sampai ujung utara keempat pulau utamanya hampir sama dengan jarak dari Spanyol selatan sampai ke Jerman utara.

Bentangan alamnya sangat beragam, tetapi sebagian besar daratan Jepang bergunung. Pegunungannya berjajar bagaikan tulang punggung. Sebagian di antaranya adalah pegunungan mati yang melingkari pegunungan tua; beberapa yang lainnya bagaikan bergerigi dan termasuk pegunungan muda.

Puncak gunung yang paling terkenal adalah puncak Gunung Fuji yang berbentuk kerucut yang disebut dengan Fuji-san. Gunung berapi juga mencirikan daratan Jepang.

Lebih dari 50 di antaranya adalah pegunungan yang masih aktif sepanjang sejarah, sedangkan 9 di antaranya sering meletus sejak tahun 1958. Terdapat pula banyak mata air panas yang merupakan tempat hiburan yang digemari oleh orang Jepang.

Pegunungan dan mata air panas merupakan tempat yang disukai oleh para olahragawan dan mereka yang sedang berlibur, daerah pesisir dan dataran penting bagi kehidupan orang di negeri ini. Jepang memiliki garis pantai yang panjang, yang cekung oleh berbagai teluk besar dan kecil. (Jika tali dibentangkan mengikuti seluruh pantainya, tali itu akan membentang hampir 3/4 panjang dunia).

Di Jepang orang tak akan pernah jauh dari laut. Oleh karena itu, orang di negeri ini adalah orang yang gemar melaut baik sebagai nelayan, pelaut, pembuat kapal, dan pedagang internasional. Para pembuat kapal tidak hanya membuat kapal untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya saja, melainkan juga untuk kebutuhan luar negeri. Ikan hampir sama pentingnya dengan padi bagi santapan makan malam.

Laut di sekitar Jepang, yaitu di suatu tempat bertemunya arus dingin dari utara dan arus panas dari selatan, terdapat banyak ikan tuna, pike, bonito, dan berbagai ikan lainnya. Para nelayan ikan paus berlayar ke berbagai tempat di dunia untuk mencari buruannya.

Banyak di antara lahan pertanian terdapat di dataran rendah yang tersebar di wilayahnya. Daerah dataran rendah yang terbesar terdapat di Kanto, sekitar Tokyo di pulau Honshu. Honshu merupakan pulau yang paling besar di Jepang dan merupakan pulau yang paling padat penduduknya karena lebih dari 3/4 penduduk tinggal di pulau itu.

Karena tanah begitu berharga, maka tanah benar-benar dimanfaatkan sehingga lereng pegunungan pun dijadikan lahan pertanian. Beberapa lereng pegunungan dibuat berteras untuk tempat menanam buah-buahan dan tanaman sayuran lain.

Pulau Hokkaido di utara adalah terbesar kedua sesudah pulau Honshu, tetapi pulau ini kurang padat penduduknya. Berbeda dengan lahan pertanian sempit yang banyak mendominasi Jepang selatan, lahan pertanian di pulau Hokkaido relatif besar. Pertanian di Kyushu dan Shikoku beruntung karena adanya iklim yang hangat dan masa tanam yang panjang.

Sungai di Jepang pada umumnya pendek dan berair deras. Biasanya air mengalir terlalu deras untuk dapat digunakan sebagai sarana transportasi, tetapi beberapa di antaranya telah dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

lklim Jepang

Lahan dan cuaca menentukan orang yang tinggal di dalamnya. Iklim di di negeri ini berkisar dari dingin sampai hangat. Iklim di daerah sepanjang Laut Jepang dipengaruhi oleh udara yang amat dingin yang berasal dari Siberia, tetapi pantai Pasifiknya beriklim hangat karena Arus Jepang, yaitu sekumpulan air hangat yang mengalir ke arah baratdaya.

Musim dingin di daerah yang terkena pengaruh Arus Jepang tidaklah sedingin musim dingin di daerah Asia yang terletak sama jauhnya di utara. Untungnya, negeri ini dikaruniai hujan yang melimpah untuk dapat menanam padi, yaitu tanaman terpenting yang memerlukan banyak air.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa negeri matahari terbit ini merupakan negara yang hijau. Daerah yang mendapatkan curah hujan yang terbesar, yang turun di musim panas, adalah daerah pantai Pasifik. Angin dari daratan Asia membawa salju ke pantai Laut Jepang dan ke pegunungan di musim dingin. Daerah Takada di pulau Honshu memperoleh hujan salju yang terbanyak.

Biasanya alam Jepang sangat pemurah dan sangat teratur datangnya. Meskipun iklimnya bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya, di beberapa daerah tertentu ke-4 musim itu berubah demikian jelas sehingga orang di negeri ini dapat meramal dengan tepat keadaan cuaca di bulan-bulan tertentu.

Sebagian besar seni dan kesusastraan didasarkan pada perubahan musim yang teratur ini dan banyak festival dan perayaan menandai perubahan musim ini dalam setahun. Namun, alam tidak selalu ramah. Angin topan kadang melanda Jepang sehingga mengakibatkan kerugian harga dan korban jiwa yang besar.

Meskipun gempa bumi terjadi setiap tahun di Jepang, hanya sedikit saja kerusakan yang terjadi. Namun, ada juga beberapa yang mengakibatkan kerugian besar terutama apabila diikuti dengan gelombang pasang dan kebakaran.

Sampai kini banyak bangunan yang terbuat dari kayu sehingga orang Jepang amat berhati-hati terhadap api. Sejarahlah yang memaksa orang di negara ini bertindak demikian. Pada tahun 1923, lebih dari 100.000 orang meninggal dalam kebakaran menyusul terjadinya gempa bumi di daerah Tokyo-Yokohama.

Sumber Alam Jepang

Jepang tidak dikaruniai sumber alam yang kaya. Seperti contoh yang diperagakan oleh seorang pramuniaga, Namun memiliki hampir setiap jenis mineral tetapi dalam jumlah yang kecil sehingga tidak cukup untuk dapat dikembangkan.

Memang terdapat batubara, tetapi kurang penting . sebagai sumber energi industri dan ternyata mengimpor minyak justru lebih murah. Sebagai akibat berkurangnya permintaan akan batubara, maka produksinya pun menurun sehingga beberapa tambang harus ditutup.

Seng, tembaga, dan timbel juga ditambang. Sumber mineral yang lebih penting adalah kayu. Karena hampir 70% wilayahnya tertutup hutan, maka Jepang merupakan salah satu negara produsen bubur kayu dan kertas terkemuka dunia.

Namun, ekonomi Jepang yang berhasil, baik sebelum maupun sesudah Perang Dunia II, sulit untuk dapat dijelaskan kalau kita hanya melihat faktor sumber alamnya saja. Sumber daya yang terbesar adalah penduduk, yang merupakan tulang punggungnya. Mereka bersifat suka kerja keras terutama disebabkan oleh tradisi mereka.

Penduduk Jepang dan Sejarahnya

Tidak seorang pun tahu asal nenek moyang orang Jepang yang sekarang. Namun, Korea yang terletak 161 km ke arah baratdaya pantai merupakan daerah Asia yang paling dekat dengan Jepang sehingga diduga sebagai satu-satunya rute untuk menyeberang ke wilayah ini.

Sebagian lainnya mungkin berpindah dari pulau Okinawa ke utara atau dari pulau Sakhalin ke selatan. Para ahli sejarah percaya bahwa selama zaman prasejarah, orang dari Siberia, Cina, Korea, dan Asia Tenggara menggunakan ”jembatan” ini ke Jepang.

Orang yang tinggal di Jepang ketika itu adalah bangsa Ainu, yaitu orang yang ciri-ciri fisiknya lebih menyerupai orang Eropa daripada orang Asia (Misalnya, orang Ainu memiliki lebih banyak bulu di wajah dan tubuhnya daripada orang Asia).

Kini bangsa Ainu asli sudah tidak ada. Mereka tersapu oleh budaya yang dominan dari orang Jepang Baru dan menjadi golongan mereka melalui pernikahan antar suku. Hanya sedikit saja orang yang berdarah asli Ainu yang dapat mewakili kelompok awal bangsa ini.

Orang dari daratan Asia ini lama-lama berkembang menjadi orang yang berbeda meskipun jelas ada hubungan dengan orang Asia. Sejak itu, fisik orang Jepang tidak berubah. Mungkin tak ada bangsa penting mana pun di dunia yang hanya sedikit bercampur dengan orang lain.

Letak Jepang di lepas pantai timur Asia mungkin agak serupa dengan letak Inggris Raya di lepas pantai barat Eropa. Cukup dekat dengan Asia untuk memungkinkan penduduknya saling berhubungan, seperti halnya orang Inggris dengan orang Eropa.

Namun, selat selebar 160 km yang memisahkan daratan Asia dengan Jepang cukup lebar dan buas dibandingkan dengan Selat Inggris sehingga bangsa ini mampu mengusir para penyerang dari daratan Asia ke luar dari pantainya.

Belum pernah tercatat adanya satu rekor penyerbuan Jepang yang sukses sebelum meletus Perang Dunia II. Oleh karena itu sejarah Jepang itu sangatlah unik. Bangsa ini dapat saja mengadakan kontak dengan orang luar kalau mereka mau atau pun mengusirnya kalau mereka mau.

Menjelang abad pertama, orang Jepang telah mulai menciptakan suatu bentuk pemerintahan yang tertib. Antara abad ke-1 dan abad ke-4, ketertiban itu dapat dijalankan oleh dewan kekeluargaan atau dewan marga.

Salah satu dari dewan itu Dewan Yamato menjadi cukup berkuasa selama abad ke-4 dalam memerintah sebagian besar wilayah sehingga dapat dikatakan bahwa Jepang telah memiliki eksistensi kesatuan selama lebih dari 1.500 tahun.

Selama pemerintahan Yamato, kontak resmi dengan daratan Asia dimulai dan, oleh karena itu, dimulailah perkenalan dengan ide-ide dan teknik-teknik baru ke Jepang Budhisme dari Cina, India, dan dari mana saja, kesenian Cina, ilmu, organisasi pemerintahan, serta bentuk tulisan Cina. Namun, masing-masing disesuaikan dengan kondisi.

Kita tidak perlu mengikuti sejarah Jepang yang rumit ini dengan seksama, yaitu sejak Kaisar kehilangan kekuasaannya pada abad ke-9 (lalu dia hanya berfungsi sebagai tokoh pemersatu bangsa saja) sampai tahun 1868 ketika sistem kekaisaran, yang telah banyak berubah, diperbaiki.

Kadang-kadang penguasa feodal (yang disebut Shogun) dapat memperoleh cukup kekuatan untuk menyatukan Jepang. (Periode Edo, dari tahun 1603-1868, pada umumnya merupakan masa kedamaian dan stabilitas politik).

Pada saat yang lain, khususnya selama abad ke-15 dan ke-16, Jepang disobek-sobek oleh perang saudara ketika banyak kelompok yang bersaing saling berebut kekuasaan. Sejarah selama masa perjuangan ini, dalam beberapa hal sama dengan masa perjuangan Italia untuk menyatukan negerinya kembali seperti masa Kekaisaran Romawi dahulu.

Pencapaian Budaya

Banyak istana bangsawan Eropa selama Abad Pertengahan merupakan tempat yang kasar sehingga seni dan ilmu hanya hidup di biara-biara. Akan tetapi, pada waktu yang sama, banyak bangsawan Jepang mempertahankan pusat-pusat budayanya di Nara, Kyoto, dan Kamakura.

Istana bangsawan Fujiwara di Kyoto, misalnya, sejak abad ke-9 sampai ke-12, merupakan pusat bikhu Budha terpelajar dan pujangga wanita. ”Belajar cara Cina, semangat cara Jepang” merupakan slogan seorang bangsawan terkemuka ketika itu.

Para bikhu mengubah Budhisme Cina menjadi suatu bentuk yang lebih cocok dengan Jepang sehingga pada abad ke-11, seorang pujangga bangsawan wanita Lady Murasaki menulis Dongeng Genji yang panjang yang kadang-kadang dianggap sebagai novel yang pertama.

Periode lainnya, Periode Muromachi (1338-1573), ditandai dengan berbagai gangguan politik yang serius, tetapi periode itu juga merupakan saat ditemukannya bentuk seni Jepang tulen.

Sebuah bentuk drama yang disebut No, jamuan teh, seni arsitektur baru, dan lukisan gaya pemandangan alam yang ditandai dengan kesederhanaan dan ketenteraman serta selaras dengan Budhisme Zen, semuanya berkembang selama periode perang ini. Lagi-lagi, perbandingan Jepang dengan Barat menjadi menarik.

Pada saat itu, Italia hancur oleh perang antar negara kotanya, tetapi pada saat yang sama juga banyak menghasilkan karya sastra Dante, Petrarch, Boccaccio; lukisan Leonardo da Vinci dan Michelangelo; dan berbagai katedral agung, seperti St. Petrus.

Bangsa Jepang sangat bangga hahwa tidak satu pun penyerang berhasil menaklukkannya. Kaisar memberikan gelar Seii-Tai-shogun-”jenderal yang mengenyahkan kaum barbar” kepada para pemimpin militer, suatu gelar yang masih tetap dipakai sampai pertengahan abad ke-19.

Kubilai Khan yang perkasa, seorang Kaisar Mongolia dari Cina, pernah dua kali mencoba menaklukkan Jepang, yaitu pada tahun 1274 dan 1281 tetapi gagal. Selalu saja kapal Khan dihancurkan oleh angin topan, yang disebut dengan kamikaze “angin dewa” yang datang dengan tiba-tiba.

Jepang Mengucilkan Diri

Selama lebih dari dua abad, antara tahun 1639-1853, selama pemerintahan Tokugawa, para penguasa Jepang menolak semua misionaris asing dan perdagangan luar negerinya, kecuali dengan beberapa pedagang Belanda dan Cina yang diizinkan berlabuh hanya di pelabuhan Nagasaki.

Bangsa Jepang sendiri dilarang bepergian ke luar negeri. Masa itu adalah masa damai, berkembangnya kebudayaan, dan penumpukan harta kekayaan oleh beberapa keluarga.

Namun, tahun-tahun pengucilan diri ini berarti bahwa Jepang tetap menjadi masyarakat feodal yang jauh lebih lama daripada negara-negara Eropa sehingga tidak menikmati kemajuan ilmu dan teknologi yang pesat di Eropa.

Hal itu juga berarti bahwa bangsa Jepang, seperti halnya bangsa Yunani kuno, sulit untuk menghilangkan kebiasaan berpikir bahwa semua orang asing adalah orang barbar, yaitu orang yang tak berbudaya.

Selama hidup menyendiri dalam waktu yang lama itu, bangsa Jepang membentuk suatu kode bertindak yang rumit dan halus, yaitu suatu cara untuk meniadakan hubungan antarbangsa di sekitarnya.

Sebagian kode ini masih tetap dipertahankan. Hal itu membuat kehidupan sehari-hari orang Jepang lebih mudah dan lebih enak meskipun kadang-kadang membuat mereka kelihatan misterius bagi orang yang belum mengenalnya.

Perubahan penting lainnya terjadi selama periode pengucilan ini. Seni dan ilmu, yang pada mulanya merupakan monopoli para biara Wan dan bangsawan perang saja, menjadi terbuka bagi para pedagang kaya baru di kota-kota. Orang-orang kota ini mengembangkan bentuk seninya sendiri yang justru lebih hidup daripada selama periode Muromachi.

Teater Kabuki yang mencolok dan melodramatis tumbuh selaras dengan drama No yang tenang. Arsitekturnya menjadi lebih beraneka warna dan beraneka hias. Pada saat yang sama, bentuk puisi yang amat ketat yang disebut haiku, yang menjadi terkenal di Barat pada tahun-tahun berikutnya, berkembang di antara orang-orang kaya baru di kota.

Awal Modern

Bangsa Jepang tidak dapat menutup diri selamanya terhadap orang Barat, yang bersaing untuk lebih banyak berdagang dengan luar negeri, dan terus menekan bangsa ini untuk membuka pintu-pintunya.

Akhirnya, pada tahun 1853 seorang perwira Angkatan Laut Amerika, Komodor Matthew Perry, berlayar ke Teluk Tokyo dengan armada kapal perangnya sehingga bangsa Jepang sangat terperanjat.

Pada tahun berikutnya, perjanjian damai ditandatangani dengan Amerika Serikat dan pada tahun 1858 perjanjian dagang juga ditandatangani oleh kedua negara.

Celah sempit yang dibuka Perry kian melebar sehingga membawa perubahan besar di dalam kehidupan bangsa. Sudah lama Kaisar Jepang hanya berfungsi sebagai tokoh simbol saja, tetapi sejak tahun 1868 Kaisar Meiji yang baru berumur 15 tahun, dengan didukung oleh berbagai kelompok politik baru, menjadi simbol baru yang bersatu di bawah Kaisar. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya membuat Jepang sebagai negara paling modern di Timur.

Banyak orang muda berbakat dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa untuk belajar. Banyak orang Eropa dan Amerika Serikat diundang ke Jepang sebagai guru, dan perdagangan luar negeri pun ditingkatkan.

Melalui sebuah konstitusi, pemerintah membentuk kembali badan legislatif dua kamar (Diet) dan sistem hukum yang modern. Sistem feodal dihapuskan. Angkatan Darat diorganisasi kembali dengan meniru model Eropa.

Mungkin perubahan yang paling penting adalah perubahan besar sistem pendidikannya. Kementerian Pendidikan didirikan untuk mengorganisasi sistem pendidikan sehingga akan menjadi sama bagi semua anak-anak Jepang di seluruh pelosok negara. Sistem pendidikan baru ini banyak memanfaatkan ide-ide para pendidik Barat.

Periode perubahan ini, yang juga disebut periode Restorasi Meiji (baca kembali Masa Kebangkitan Jepang), juga membuka ide-ide demokrasi dan industrialisasi bagi Jepang.

Lalu bangsa ini meniru hal lain yang tampaknya menjadi ciri negara modern yang berhasil, yaitu kekuatan militer. Jepang menang di dalam perang melawan Cina pada tahun 1894-1895, melawan Rusia pada tahun 1904-1905, dan melawan banyak koloni Jerman di Asia dan Pasifik selama Perang Dunia I.

Para pemimpin militer menjadi semakin berpengaruh dan disegani. Dengan bergabung dengan orang-orang yang meragukan ide-ide demokrasi di Jepang, para pemimpin militer membuat suatu rencana yang pada akhirnya mengarah pada penyerbuan ke Mancuria dan Cina utara pada tahun 1930-an, Asia Tenggara pada tahun 1940, dan akhirnya secara tragis pada tanggal 7 Desember 1941 Jepang mengebom pelabuhan Pearl Harbor di Hawaii. Setelah 4 tahun masa perang yang mengerikan ini, negeri ini pun runtuh.

Kini orang muda Jepang sering terdengar mengatakan bahwa mereka senang Jepang kalah dalam perang itu. Bagaimanapun, kini Jepang ngeri sekali terhadap perang sehingga konstitusinya pun, yang ditulis selama Tentara Sekutu menduduki Jepang setelah perang, menjanjikan banyak perubahan di bidang politik dan ekonomi yang disukai oleh banyak orang di negeri ini.

Kota-kota di Jepang

Tiga perempat orang Jepang tinggal di kota. Tiga perempat daerah yang padat penduduknya terletak di sepanjang pantai tenggara pulau Honshu. Di antara daerah itu adalah kota metropolitan Tokyo-Yokohama, Nagoya, dan sekumpulan kota-misalnya Osaka, Kyoto, dan Kobe.

Seperempat penduduknya lagi berada di kota Kitakyushu dan Fukuoka di ujung utara pulau Kyushu serta kota Shimonoseki di bagian paling barat pulau Honshu. Kota Kitakyushu dan Shimonoseki dihubungkan dengan terowongan bawah laut.

Tokyo

Peta Tokyo

Kota sebesar Tokyo tentulah memiliki banyak wajah. Tokyo adalah ibu kota Jepang, pusat perindustrian, pusat perdagangan internasional, dan tempat kedudukan banyak kantor utama perusahaan besar. Tokyo juga merupakan pusat kebudayaan dengan berbagai akademi dan universitas, balai percetakan, museum, dan balai seni.

Namun, lebih dari itu semua Tokyo memiliki sangat banyak penduduk. LEbih dari 12.000.000 orang tinggal di Tokyo dan daerah pinggirannya. Sekitar seperlima penduduk Jepang tinggal di lingkaran sekitar 50 km dari pusat negaranya.

Pelabuhan Tokyo
Pelabuhan Tokyo

Dalam hal luasnya, New York merupakan saingan utama Tokyo. Banyak kota utama di dunia adalah kota tua, tetapi kedua kota ini boleh dikatakan baru didirikan belakangan ini dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu pada awal abad ke17.

Menjelang awal abad ke-19, New York adalah kota yang berpenduduk kurang dari 100.000 orang sedangkan Tokyo berpenduduk lebih dari 1.000.000 orang-lebih padat daripada London atau Paris. Alasan bagi pertumbuhan kota yang amat cepat ini adalah luar biasa.

Pada tahun 1590, Ieyasu Tokugawa, pemimpin yang amat berkuasa di Jepang (dia menjadi shogun pada tahun 1603), menetapkan untuk mendirikan markas besarnya di desa nelayan kecil yang disebut Edo (lalu Edo diganti namanya menjadi Tokyo, yang berarti ”ibu kota timur”, menyusul Restorasi Meiji (pada tahun 1868).

Tokugawa ingin menghindari plot-plot dan pertentangan politik pemerintahan lama di Kyoto dan dia juga tahu bahwa dataran rendah yang luas di Edo dapat ditanami padi yang cukup banyak untuk memberi makan bagi tentaranya daripada dataran rendah yang sempit di sekitar Kyoto.

Lalu untuk tetap mengendalikan orang-orang kuat yang mengikutinya, yang sewaktu-waktu diperlukan bantuannya, Tokugawa menemukan suatu pikiran yang cerdik.

Pada tahun pertama dia menyuruh separuh panglima perangnya untuk datang ke ibu kotanya yang baru dan bekerja dalam pemerintahannya. Pada tahun berikutnya dia menyuruh separuh panglima perang lainnya datang, tetapi dia lalu mendesak agar istri, anak, dan pembantu panglima perang yang pertama pindah ke Edo sebagai semacam jaminan bahwa suami mereka tidak akan berkomplot melawan Tokugawa selama keluarganya berada dalam pengawasan Tokugawa.

Para panglima perang ini membangun rumah istananya sehingga memerlukan lebih banyak lagi pembantu, pemborong, dan pekerja lain. Para pengusaha berdatangan untuk memenuhi berbagai kebutuhan ibu kota yang baru. Mereka lalu diikuti oleh orang-orang lain yang mau mengadu untung sehingga Edo berkembang dengan pesat.

Menjelang pertengahan abad ke-18, Edo merupakan kota terbesar di dunia. Namun, pertumbuhan ini rupanya kurang didasarkan pada alasan ekonomi yang sehat untuk mendukung kota itu sehingga Tokyo akhirnya dilampaui oleh New York.

Hanya setelah Perang Dunia II saja, Tokyo memperoleh kembali keunggulannya sebagai kota terbesar dunia, kali ini disebabkan oleh alasan-alasan ekonomi.

Orang tidak perlu melihat angka-angka statistik untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi Tokyo. Tanda-tanda kedinamisannya dan aktivitasnya yang padat-terdapat di mana-mana. Berbagai bangunan tua terus-menerus dibongkar dan diganti dengan bangunan yang baru.

Selama jam-jam sibuk, seorang pendorong dipekerjakan untuk mendorong penumpang ke dalam gerbong kereta api kota sehingga tidak ada ruang yang kosong. (Anak sekolah biasanya bekerja seperti ini).

Orang dari berbagai bagian Jepang berdatangan ke Tokyo karena pendapatan rata-ratanya lebih tinggi dibandingkan dengan kota-kota lainnya hampir tiga kali lebih besar daripada daerah pertanian miskin dan jumlahnya meningkat setiap tahun.

Setelah lulus, puluhan ribu orang muda tamatan sekolah menengah atas dan tamatan perguruan tinggi berdatangan ke Tokyo untuk mengenal kota itu dan mencari kerja yang sesuai dengan bidang keahliannya.

Tokyo yang Berubah

Seseorang yang meninggalkan Tokyo selama setahun biasanya akan terkejut ketika dia kembali karena Tokyo selalu berubah. Banyak bangunan di Tokyo didirikan dengan tergesa-gesa setelah Perang Dunia II, ketika hampir dua pertiga kota ini hancur, dan sekarang bangunan-bangunan tua ini dibangun kembali.

Namun, penggantian bangunan ini saja tidaklah cukup sepadan dengan pertambahan penduduk yang besar sehingga banyak bangunan baru dibangun juga. Orang Jepang menghendaki bahwa bangunan ini pun dibangun sebagus-bagusnya.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, tahun-tahun belakangan ini banyak arsitek termasyhur di dunia berdatangan ke Jepang. Para arsitek ini tidak hanya merancang bangunan asli dan indah, tetapi juga metode membangunnya.

Sebelumnya, karena orang Jepang dulu takut dengan gempa bumi, mereka hanya membangun bangunan yang rendah dan kayu merupakan satu-satunya bahan bangunan yang paling banyak dipakai.

Tingkat kemakmuran baru telah banyak menyediakan bahan bangunan, sedangkan para insinyur telah menemukan cara membangun gedung pencakar langit yang aman.

Kini Tokyo merupakan kota campuran antara jalan-jalan tua sempit yang berkelok dengan banyak toko dan rumah kecil di tepinya serta jalan-jalan besar dengan banyak toko dan bangunan kantor megah yang berkerangka baja di sisinya.

Ginza, distrik hiburan, perdagangan, dan perbelanjaan terkenal di Tokyo tengah, selalu penuh dengan orang. Pertama, karena di sana banyak orang berangkat kerja. Lalu para pembeli dan wisatawan, dan akhirnya, di bawah lampu-lampu neon, orang yang mencari kesenangan di malam hari.

Sistem jalan bawah tanah yang efisien dan sangat modern, yang dihubungkan dengan sistem kereta api swasta, mengangkut orang pulang-pergi dari rumahnya. Lama-kelamaan, rumah-rumah ini menjadi bangunan apartemen megah di pinggiran kota.

Harga tanah begitu tingginya di Tokyo dan sekitarnya sehingga rumah seorang keluarga dengan sebidang rerumputan kecil di sekitar rumah itu tidak dapat dibeli oleh kebanyakan orang. Tokyo, seperti halnya banyak kota besar lainnya, memiliki banyak perumahan miskin dan juga banyak bangunan apartemen modern yang kadang-kadang berdiri berdampingan.

Berbagai Masalah Kota

Berbagai masalah yang dihadapi Tokyo adalah seperti halnya masalah yang dihadapi banyak kota besar modern lainnya. Upaya untuk menjaga udara dan air bersih dilaksanakan terus-menerus. Menyusul kelangkaan air yang parah pada tahun 1964, Tokyo mulai mengembangkan persediaan airnya lebih jauh lagi, kini jauhnya berkilo-kilometer, tetapi dalam beberapa tahun lagi sediaan air ini pun mungkin tidak akan cukup.

Banyak tempat pembakaran sampah dibangun untuk membakar sampah dan buangan lainnya, tetapi sampah yang secara kasar berjumlah10.000ton sehari bertambah lebih cepat daripada pembakarannya.

Orang yang naik kereta api bawah tanah dan kereta-api kota tampaknya juga semakin bertambah berjubel dibandingkan dengan daya tampung kereta api bawah tanah yang baru dan, dengan melonjaknya jumlah mobil pribadi yang baru, jalan-jalan juga menjadi macet meskipun banyak dibangun jalan bebas-hambatan baru.

Semua ini merupakan masalah yang banyak dihadapi oleh kota-kota besar, tetapi masalah ini lebih serius di Tokyo daripada di kota-kota lain karena tingginya harga tanah.

Harga tanah di pinggiran Tokyo jauh berlipat ganda daripada harga tanah di pinggiran New York atau London sehingga orang harus menyisihkan bagian gajinya yang terbesar, kadang-kadang sampai separuh gajinya untuk membeli sepetak tanah untuk membangun sebuah rumah bagi keluarganva.

Harga tanah pun meningkat demikian cepatnya sehingga tanah yang dapat dibeli makin lama makin kecil. Ketika akhirnya orang dapat membangun sebuah rumah, maka rumah itu berukuran kecil dan mutunya kurang baik. Sewa rumah juga sangat mahal. (Karena tingginya harga tanah di pinggiran Tokyo, terdapat kecenderungan untuk menyewakan apartemen di berbagai bangunan apartemen yang tinggi dan baru di Tokyo tengah).

Karena harga tanah meningkat begitu cepatnya, maka orang yang memiliki tanah pun enggan menjualnya. Hal ini membuat pemerintah sulit untuk merencanakan perubahan di daerah permukiman di Tokyo dan hal itu juga berarti sulit bagi pemerintah untuk memperoleh tanah untuk membuat taman, sekolah baru, rumah sakit, dan tempat sosial lain yang diperlukan untuk perkembangan sebuah kota yang modern.

Tidak satu pun dari hal tersebut membuat orang enggan datang berduyun-duyun ke Tokyo. Tampaknya, pekerjaan yang lebih baiklah yang menarik begitu banyak orang. Alasan lain mungkin karena kehidupan di Tokyo amat beragam sekali.

Seorang penduduk Tokyo dapat menikmati berbagai kebun dan candi tua yang tenang, keceriaan kehidupan malam, dan toko yang gemerlapan. Dia dapat juga mendatangi pasar ikan yang besar, dengan tangkapan ikan hariannya yang dapat memberi makan berjuta-juta orang.

Dia dapat pula pergi menonton drama, bioskop, konser musik, pameran seni, dan berbagai pertandingan olahraga di banyak gelanggang yang besar. Dia dapat juga pergi ke restoran yang bagus dengan mencicipi aneka hidangan dari berbagai negeri dan, tak kalah menariknya, dia merasa bangga berada di tempat berbagai keputusan penting dibuat yang dapat mengubah kehidupan seluruh bangsa dan sebagian besar dunia.

Kota Lain

Dengan naik kereta api peluru baru dari Tokaido, ke arah baratdaya Tokyo, orang dibawa ke daerah Kansai, yang merupakan letak kota Osaka, Kyoto, Kobe, dan Nara. Osaka, kota terbesar kedua di Jepang dengan penduduknya sekitar 3.000.000 orang, merupakan pusat industri pemanufakturan tekstil, perkakas, dan barang-barang lain.

Osaka Jepang
Kota Osaka Jepang

Hampir 13.000.000 orang tinggal di Osaka dan di daerah dalam radius 50 km dari Osaka. Penduduk Osaka merasa bangga dengan kenyataan bahwa hingga Restorasi Meiji tahun 1868, Osaka merupakan jantung perdagangan dan budaya Jepang.

Sementara Osaka merupakan pusat perdagangan, Kyoto merupakan pusat budaya dan ibu kota hingga tahun 1868. Kota kecil yang terletak tidak jauh dari Kyoto adalah Nara yang merupakan ibu kota tetap Jepang yang pertama.

Nara terkenal dengan banyak candi kuno yang indah yang berasal dari abad ke-8. Kobe adalah kota pelabuhan tempat bergeraknya sebagian besar perdagangan Osaka.

Kobe memiliki cita rasa internasional seperti halnya Yokohama, yaitu kota pelabuhan tempat penanganan sebagian besar perdagangan Tokyo. Ekonomi seluruh daerah Kansai telah menderita dibandingkan dengan ekonomi daerah Tokyo-Yokohama, karena Kansai pada mulanya amat bergantung pada perdagangannya dengan Cina dan negara Asia daratan lainnya, padahal perdagangan tersebut telah sangat berkurang.

Nagoya, kota industri lainnya, terletak di Pulau Honshu di tengah-tengah antara Tokyo dan Osaka. Nagoya merupakan jantung industri mobil Jepang. Penduduk Nagoya menyebut kota mereka dengan Chukyo atau ”ibu kota tengah” dan mereka amat bangga dengan pusat perkataannya yang terbuka dan terencana dengan baik serta berjiwa progresif.

Terdapat juga kota yang merupakan pusat daerah, seperti Sapporo dl Hokkaido. Sendai, kota utama di utara Honshu, Fukuoka di baratlaut Kyushu dan Hiroshima (yang merupakan kota yang maju pesat setelah hancur oleh bom atom di dalam Perang Dunia II) di baratlaut Honshu Penduduknya merasa bangga dengan sejarah dan tempat pusat budaya daerahnya.

Monumen Perdamaian Hiroshima Jepang
Monumen Perdamaian Hiroshima Jepang

Di Jepang hanya terdapat sedikit kota tempat peristirahatan. seperti Mami dan Beppu yang besarnya bergantung pada musim wisata. Kedua kota itu terkenal sebagai mata air panas.

Ekonomi Jepang

Ekonomi yang hampir seluruhnya hancur pada tahun 1945, telah pulih kembali dengan kecepatan yang mengagumkan. Jepang jauh lebih maju daripada negara-negara lainnya sebagai pembuat kapal. Jepang merupakan produsen baja mentah terbesar kedua (setelah Uni Soviet) dan bersama dengan Amerika Serikat menjadi negara produsen kendaraan bermotor terkemuka dunia.

Sebenarnya, di bidang produk industri pada umumnya, jepang berada di urutan kedua di antara negara-negara di dunia setelah Amerika Serikat.

Ekonomi Jepang telah kuat sejak sebelum Perang Dunia II, tetapi sebagian besar kekayaan itu dipergunakan untuk memelihara angkatan darat dan angkatan lautnya yang kuat.

Terlebih lagi sebagian besar kekayaan negara itu hanya dimiliki oleh lima atau enam keluarga yang disebut zaibatsu. Kekuatan keluarga tersebut hancur selama pendudukan tentara Sekutu.

Sebelum perang, banyak produk Jepang diekspor. Kini lebih banyak barang yang dihasilkan pabrik diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri. Namun, perdagangan luar negeri masih diperlukan karena, tanpa itu, ekonomi akan berantakan.

Karena Jepang sendiri hanya memiliki sumber alam yang sedikit, sebagian besar ekonomi bergantung pada pembelian bahan mentah dari negara lain, lalu mengubahnya menjadi barang-barang yang diinginkan orang di pabrik-pabrik, dan kemudian menjualnya baik di dalam maupun di luar negeri.

Hal itu berarti bahwa kesehatan ekonomi Jepang-amat bergantung pada ketrampilan penduduknya. Alasan yang paling penting bagi pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan itu sejak tahun 1945 adalah karena tersedianya banyak orang yang berpendidikan baik dan banyak orang yang mau bekerja keras serta oleh tingkat pengetahuan ilmu dan teknik mereka yang tinggi.

Pembaharuan di bidang pertanian serta penggantian peralatan dan pabrik yang hancur selama perang juga ikut membantu ”keajaiban” ekonomi Jepang.

Alasan lain bagi sukses Jepang berkaitan dengan kebijakan politiknya. Anggaran belanja yang diperuntukkan bagi angkatan darat dan angkatan laut Jepang, yang sebenarnya hanyalah angkatan kepolisiannya, adalah jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara utama lainnya.

Pada saat yang sama, para pengusaha dan pedagang Jepang banyak mendapat keuntungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari perang di Korea, Timur Tengah, dan Vietnam. Di samping itu, upah buruh di negeri ini rendah, khususnya di tahun-tahun setelah perang.

Akhirnya, pajak yang relatif kecil dibelanjakan bagi berbagai program pemerintah, seperti rumah sosial dan gaji sosial bagi mereka yang sudah lanjut usia dan para penganggur. Anggaran belanja bagi pendidikan dan kesehatan Jepang sepadan dengan negara-negara lain.

Salah satu kritik yang dilontarkan oleh banyak orang Jepang terhadap kebijakan ekonomi negaranya adalah bahwa para pengusaha dan pemimpin politik terlalu banyak menekankan pada pertumbuhan ekonomi itu sendiri, yaitu dengan menekankan pada pertumbuhan produksi, dengan kurang menekankan perbaikan standar kehidupan, dengan menaikkan upah buruh atau dengan memperbaiki berbagai rumah sakit, taman, dan tempat-tempat sosial lainnya.

Ekonomi Berbelah Dua

Ekonomi Jepang kadang-kadang disebut ekonomi berbelah dua karena beberapa produksinya diorganisasikan menurut cara-cara modern, sedangkan sebagian lagi dijalankan dengan cara-cara model agak kuno. Hal itu berarti bahwa kondisi kerja di kedua tingkat itu sangat berbeda.

Kerja bagi sebagian besar orang Jepang diatur dengan cara yang berbeda dengan sebagian besar kerja di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Mungkin karena masa feodal berlangsung lebih lama daripada di Eropa Barat maka hal itu mempengaruhi hubungan antara buruh dan majikan.

Di kantor-kantor dan pabrik-pabrik di Jepang masih terdapat perasaan kuat bahwa buruh harus patuh, setia, dan mau bekerja keras seharian bagi majikannya dan sebaliknya majikan mengimbangi prestasi buruh yang bekerja lama dan setia dengan kesejahteraan lain di samping upahnya.

Dengan kata lain, hubungan antara buruh dan majikan masih tampak sebagai hubungan pribadi dan bukannya berdasar aturan tertulis semata-mata seperti di Barat. Sebagian besar buruh bekerja dalam satu perusahaan sepanjang hayatnya.

Ketika seorang Jepang telah lulus dari sekolahnya, apakah itu SMP, SMA, atau perguruan tinggi, dia dapat merencanakan untuk mengikuti ujian yang diberikan oleh salah satu perusahaan besar. Perusahaan yang mempekerjakan dia, jika hal itu adalah perusahaan besar, akan tetap mempekerjakan dia terus selama sisa hidupnya, asalkan dia patuh dan setia terhadap perusahaan itu.

Gajinya kecil, tetapi dia dapat berharap untuk mendapatkan berbagai fasilitas yang akan dapat membuat pendapatannya tampak lebih banyak. Salah satu fasilitas penting itu adalah pemondokan gratis (atau pemondokan dengan sewa yang sangat rendah) yang ditawarkan oleh banyak perusahaan besar dan badan-badan pemerintah.

Dia mungkin diberi makan siang di tempat kerjanya dan mungkin transportasi gratis atau murah ke dan dari tempat kerjanya. Dia dapat juga membeli pakaian dengan harga yang telah diturunkan atau diberi produk pabriknya secara cuma-cuma. Perusahaan mungkin juga memiliki sarana sehingga dia dapat bermain bola voli atau olahraga lainnya selama istirahat makan siang.

Apabila sudah cukup senior, dia dapat berharap untuk dipromosikan dan mendapatkan berbagai fasilitas yang lebih banyak. Jika dia mau menikah (pernikahan di Jepang amat mahal), dia dapat menggunakan kapel pernikahan perusahaan dan perusahaan mungkin juga akan memberikan hadiah kepada calon mempelai.

Setiap tahun perusahaan mungkin juga mengadakan wisata baginya dan rekan-rekan kerjanya. Perusahaan mungkin juga memberikan semacam premi dan bonus asuransi dan bonus tahunan atau dua tahunan yang seringkali sebesar beberapa bulan gajinya di hari Tahun Baru atau mungkin di hari musim panas.

Apabila dia cukup beruntung dapat menduduki posisi manajer, fasilitasnya akan menjadi semakin banyak; di samping perumahan gratis atau uang sewa yang sangat murah, fasilitas itu dapat mencakup mobil dan supirnya.

Dia dapat pula diberi sejumlah uang belanja sehingga dia dapat pergi ke klub malam yang mahal dan menjadi anggota perkumpulan golf yang cukup bergengsi.

Di atas segalanya, dia dapat merasa pasti bahwa perusahaannya memang perusahaan besar sehingga ia tetap loyal kepadanya dan bahwa dia tidak akan dipecat. Biasanya dia mengundurkan diri menjelang usia 60 tahun dengan pesangon hari tua sebesar gajinya beberapa tahun.

Sebaliknya, jika seseorang lepas dari sekolah tidak dapat memperoleh pekerjaan di perusahaan besar sehingga dia bekerja pada perusahaan kecil yang baru mampu memproduksi lebih dari separuh barang-barang Jepang, dia tidak dapat merasa pasti tentang dirinya.

Banyak perusahaan besar bekerja sama dengan perusahaan kecil untuk membuat bagian tertentu dari produknya. Perusahaan kecil ini pun bekerja sama lagi dengan perusahaan yang lebih kecil lagi untuk memproduksi bagian dari bagian produk itu.

Jika dilanda depresi, perusahaan besar mungkin akan dapat bertahan, tetapi perusahaan kecil akan merasa terpukul sekali. Cirinya, perusahaan yang amat kecil hanya mempekerjakan tidak lebih dari 10 orang. Mereka dibayar dengan gaji yang rendah dan perusahaan tidak menawarkan berbagai fasilitas dan keamanan seperti pada perusahaan besar. Jelas bahwa, di dalam ekonomi berbelah dua, kesenjangan antara pekerjaan yang baik dan yang kurang baik cukupleban

Tradisi dan Kebiasaan Bekerja Orang Jepang

Pengaturan kerja, bahkan di berbagai perusahaan besar, mungkin akan dianggap oleh orang Barat sebagai tidak efisien. Para ahli perdagangan Jepang merasa bahwa produksi yang cepat seharusnya lebih dihargai daripada loyalitas dan kepatuhan saja.

Tradisi orang Jepang pun sangat menghargai kerja keras sehingga baik laki-laki maupun perempuan bekerja keras. atas kehendaknya sendiri karena mereka merasa memang seharusnya demikian. Oleh sebab itu, sistem kerja tidak diragukan lagi berjalan dengan amat baik.

Sekitar 35% dari seluruh pekerja Jepang termasuk anggota serikat buruh, suatu persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika Serikat meskipun lebih rendah dari Kerajaan Inggris dan hampir sama dengan di Jerman Barat dan Prancis.

Produktivitas industri Jepang tidak terlalu diganggu oleh pemogokan dan perjuangan kaum buruh. Tradisi loyalitas terhadap atasan dan bekerja keras mungkin dapat membantu menjelaskannya.

Namun, kekurangan tenaga buruh belakangan ini telah meningkatkan kekuasaan tawar-menawar serikat buruh sehingga upah meningkat lebih cepat di Jepang daripada di negara-negara Amerika Utara dan Eropa.

Kekurangan buruh juga ikut mempengaruhi pekerja wanita. Secara tradisional, tempat wanita adalah di rumah. Dahulu, wanita bekerja di kantor-kantor dan pabrik setelah tamat sekolah, tetapi biasanya dapat diduga bahwa mereka akan segera menikah sehingga mereka hanya dianggap sebagai pekerja sementara, dibayar lebih rendah, dan diberi sedikit fasilitas.

Namun, kini lebih banyak wanita diizinkan terus bekerja setelah mereka menikah dan pekerjaan mereka pun perlahan-lahan semakin baik. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang menduduki pos penting di bidang manajemen.

Semua buruh, baik pria maupun wanita, haruslah hemat karena sistem jaminan sosial pemerintah kurang pemurah dibandingkan dengan Amerika Serikat, Inggris, Swedia, sedangkan uang pensiun perusahaan tidak mencukupi.

Lagi-lagi, tradisi Jepang kuno ikut berbicara. Hemat, menyukai bekerja keras, merupakan kaidah perilaku yang kuat seperti halnya Puritan di Inggris dan Inggris Baru.

Membeli dengan cara kredit, yang telah menjadi mode di Amerika Serikat sejak tahun 1920-an, kini menjadi populer di Jepang sehingga orang masih dapat menabung setelah membeli sesuatu.

Alam selalu tidak ramah bagi pemalas dan para petani yang kurang berhemat di masa Jepang kuno, tetapi alam ramah bagi mereka yang suka berhemat dan mau bekerja keras sehingga tradisi berhemat ini masih kuat di zaman modern ini.

Tradisi tua lainnya seperti tradisi keluarga, memberikan arah yang bermanfaat bagi ekonomi Jepang. Ikatan keluarga biasanya amat erat. Keluarga mengikuti dengan amat ketat suatu sistem tanggung jawab dan kewajiban terhadap satu sama lain yang sangat rumit, yang muda ke yang tua, yang wanita ke yang pria.

Di antara kewajiban lainnya adalah bahwa keluarga mengurus anggotanya jika mereka sakit atau terlalu tua untuk bekerja dan bahkan saudara sepupu yang jauh pun juga dirawat jika tidak ada seorang pun yang merawatnya.

Namun, meskipun kini orang tidak seketat lagi mengikuti tradisi ini, khususnya di kota-kota, sistem ini masih berjalan dengan cukup baik untuk sekadar melegakan kecemasan orang yang tidak dapat bekerja lagi.

Dalam hal lain para buruh di Jepang juga, masih lebih aman daripada buruh di negara industri lainnya. Karena ekonomi berkembang dengan pesat sehingga tenaga buruh sangat diperlukan, maka hanya sedikit di atas 1% orang usia kerja tidak mendapatkan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan dengan banyak negara industri Barat lainnya.

Namun, sebagian orang Jepang adalah tenaga kerja setengah menganggur, yaitu bahwa mereka bekerja tetapi tidak memaksimalkan seluruh kecakapannya sehingga mereka tidak dibayar cukup untuk hidup layak.

Kerja Para Petani Jepang

Hidup seringkali lebih keras di kota-kota kecil dan di tanah pertanian. Di sebuah kota kecil, orang mungkin dapat memiliki tiga jenis pekerjaan. Dia dapat sedikit bersawah jika tanamannya memang memerlukan perhatiannya, sedikit melaut atau mencari kayu, dan kadang-kadang bekerja di sebuah pabrik.

Banyak perusahaan di kota-kota kecil seperti ini menjadwalkan kerjanya demikian rupa sehingga para petani dan nelayan dapat bekerja ketika mereka tidak sibuk.

Seseorang dapat juga bertani selama musim-musim tertentu dalam setahun, lalu pergi ke kota bekerja sebagai kuli bangunan. Para istri di Jepang biasanya membantu bekerja di ladang selama musim-musim sibuk, tetapi kini dia dapat juga pergi ke suatu tempat pada musim liburan untuk bekerja sebagai pembantu atau pelayan. Namun, sekitar sepersepuluh pria tetap meluangkan waktu mereka untuk bekerja di sawah dan hutan.

Petani Padi

Jika seorang petani Jepang kebetulan sebagai petani padi, maka pekerjaannya itu adalah vital, karena padi jauh lebih penting daripada roti dan kentang bagi orang Barat. Pemerintah menghargai padi ini sehingga membeli hampir seluruh produksi padi setiap tahunnya dengan harga yang cukup tinggi.

Setelah dibeli dari petani, pemerintah lalu menjualnya kepada ibu rumah tangga dengan harga yang agak sedikit murah. Tujuan pokok kebijakan bantuan pertanian adalah untuk memelihara kemampuan Jepang untuk memberi makan penduduknya, tetapi kebijakan ini juga bertujuan untuk memelihara kepercayaan para petani kepada pemerintah.

Akan tetapi, belakangan ini, kebijakan ini mengakibatkan surplus padi sehingga pemerintah terpaksa mengurangi subsidi sehingga mengakibatkan turunnya jumlah suara kaum tani dalam pemilu.

Bantuan pemerintah pun tidak dapat mengurangi beratnya kehidupan para petani. Menanam padi merupakan pekerjaan yang sangat meletihkan, sedangkan metode pertanian modern belum banyak membantu.

Sebuah traktor kecil yang dapat membantu mengolah tanah dan membantu menyuburkannya merupakan suatu langkah penting yang banyak diambil orang Jepang. Namun, langkah yang paling penting adalah menyebar benih dan menanamnya, sedangkan pekerjaan ini harus dilakukan dengan tangan, setelah sawah diairi.

Langkah kedua, yaitu penanaman, harus dilakukan dengan penuh kesabaran. Hal ini sulit sehingga banyak perusahaan memberikan kebebasan bekerja bagi para buruhnya untuk kembali ke sawah pada saat musim tanam. Petani padi harus bekerja dengan membungkuk berjam-jam selama berhari-hari.

Kalian dapat melihat seorang petani tua yang punggungnya bungkuk sehingga tidak bisa ditegakkan. Kerja keras para petani ataupun bantuan pemerintah tidak membuat mereka menjadi kaya.

Sawah di Jepang berukuran kecil dibandingkan sawah di Amerika Serikat atau bahkan di Prancis. Jika sebuah keluarga memiliki lahan seluas 1-2 hektar, keluarga itu dianggap berada sehingga sang ayah mungkin dipilih menjadi pemimpin masyarakat.

Keteraturan sosial masyarakat petani padi selalu erat karena keadaan. Air harus selalu siap pada saat tertentu, kalau tidak, tanaman akan rusak. Dahulu, para petani berkumpul bersama untuk membuat sistem irigasi yang, dengan beberapa perubahan, masih dipakai hingga kini.

Para pemimpin di lingkungan masing-masing memastikan bahwa segalanya dapat berjalan bersama. Di dalam masyarakat ini, setiap orang saling mengenal karena banyak di antara keluarga memiliki lahan pertanian yang kecil selama berabad-abad.

Mereka merasa bangga dengan sawahnya dan akan merupakan hari sedih bagi keluarga terutama karena kurangnya tenaga di pertanian, jika anak mereka harus meninggalkan sawah dan pergi ke kota karena alasan ekonomi ataupun alasan lainnya.

Jenis pertanian lain juga dilaksanakan dengan penuh hati-hati. Dikabarkan bahwa petani sutera yang hanya tidur sebentar saja karena dia harus bangun, tidur, dan bangun lagi sepanjang malam untuk memberi makan ulat sutera piaraannya dengan daun murbei. (Meskipun sutera menjadi kurang disukai karena ditemukannya kain sintetis, orang yang mampu masih akan memilih sutera asli daripada jenis kain lainnya).

Di kebun apel atau pear, buah dibungkus dengan kertas sebelum dipetik. Sejenis sapi ternak yang diternakkan dekat Kobe diberi makanan khusus termasuk bir dan diurut dengan tangan agar dagingnya lebih lezat.

Perawatan yang cermat inilah yang membuat para petani Jepang, walaupun tanah suburnya amat kecil, dapat memberi makan banyak orang. Hanya di Hokkaido, yang tanah pertaniannya masih cukup luas dan metode bertaninya telah dipengaruhi oleh para ahli dari Amerika yang masuk ke Jepang selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pertaniannya lebih bebas dan mudah meskipun kurang intensif.

Di segala jenis pekerjaan, dari ban perakitan otomatis sampai ke pertanian, kita dapat melihat arti pentingnya ketrampilan dan kecerdasan para buruh, manager, dan insinyur. Selama beratus-ratus tahun orang Jepang sangat menghargai nilai sistem pendidikan, sedangkan andilnya terhadap ekonomi tidak dapat dibantah lagi.

Pendidikan di Jepang

Pada abad ke-6, orang Jepang sangat menghargai pendidikan dan mulai mengimpor ide-ide dan bentuk kesenian Cina yang pada waktu itu berbudaya paling maju di dunia.

Selama berabad-abad setelah itu, bangsa ini masih menghormati para sarjana Cina dan menimba banyak ilmu dari mereka. Menjelang tahun 701, Jepang telah menciptakan badan pemerintah urusan pendidikan di awal sistem pendidikan nasionalnya.

Selama Abad Pertengahan, pendidikan di Eropa lebih merupakan hak para biarawan, sedangkan di Jepang, pendidikan tidak hanya urusan para pendeta, tetapi juga tanggung jawab pria dan wanita keluarga raja.

Menjelang abad ke-17, Samurai, kelas prajurit yang sejak itu peran militernya menurun, mulai menguasai ilmu pengetahuan. Menjelang abad ke-18 dan awal abad ke-19, pendidikan juga menjadi populer di antara masyarakat kelas pedagang.

Mereka menyekolahkan anak-anak mereka ke terakoya, yang dikelola oleh para pendeta Budha atau golongan samurai, untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Bangsawan feodal mendirikan sekolah sendiri bagi anak-anak mereka.

Setelah Restorasi Meiji, pemerintah mengorganisasikan sekolah wajib. Berbagai sekolah kuno digabungkan ke dalam sistem baru yang dikontrol dari Tokyo. Menjelang awal abad ke-20, semua anak setidak-tidaknya bersekolah gratis selama 6 tahun dan berbagai rencana juga dibuat bagi sistem pendidikan sekolah lanjutan, sekolah dagang, sekolah kejuruan, dan universitas.

Rencana itu tampak sangat ambisius dan berjalan dengan baik, tetapi rencana itu mengundang perdebatan seru tentang tujuan pendidikan yang belum juga berakhir. Beberapa sarjana berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membantu anak didik mengembangkan bakat dengan sepenuhnya.

Sebagian sarjana lainnya berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah agar anak didik menjadi seorang pekerja dan prajurit yang patuh. Sebagian guru menerima pendapat pertama, sedangkan sebagian lainnya lebih banyak menerima pendapat yang kedua.

Namun, di akhir Perang Dunia II, sistem pendidikan Jepang diubah lagi meniru model pendidikan Amerika sehingga pendapat bahwa sekolah seharusnya mengajarkan superpatriotisme dibuang jauh-jauh.

Badan Pendidikan Nasional Pusat di Mombusho tetap mengontrol sistem pendidikan, tetapi guru diberi lebih banyak kebebasan di kelasnya dibanding sebelum perang.

Kini orang muda Jepang diharuskan bersekolah sekurang-kurangnya selama 9 tahun. Mereka lalu dapat mencari kerja pada usia 1 5 tahun atau mengikuti ujian masuk sekolah menengah berikutnya.

Sekitar tiga perempat anak didik masuk sekolah menengah atas. Setelah tamat mereka harus mengikuti ujian lagi, yang seringkali lebih sulit, untuk dapat diterima di akademi atau universitas. Sekitar seperempat tamatan sekolah menengah atas memasuki perguruan tinggi.

Sejak Perang Dunia II, jumlah siswa akademi dan universitas semakin meningkat secara tajam, tetapi akademi dan universitas itu belum mampu menampung semua orang yang ingin memasukinya. Berbagai akademi swasta tua juga tumbuh tetapi masih belum mencukupi. Jumlah lembaga pendidikan tinggi Jepang hanya berbeda sedikit dengan Amerika Serikat sehingga diperlukan lebih banyak sekolah lagi.

Upaya habis-habisan untuk memberi kesempatan setiap siswa memperoleh pendidikan sebanyak mungkin telah melahirkan akibat baik dan buruk. Angka melek huruf di Jepang hampir mencapai 100%, suatu angka yang jarang terjadi di dunia.

Pemberian Hadiah Nobel terhadap dua ahli fisika Jepang, Hideki Yukawa pada tahun 1949 dan Shinichiro Tomonaga pada tahun 1965, serta terhadap Yasunari Kawabata di bidang kesusastraan pada tahun 1968, dapat dijadikan suatu petunjuk tentang keberhasilan pendidikan yang sangat tinggi.

Mungkin kebaikan sistem pendidikan Jepang yang paling penting adalah bahwa siswa-baik kaya maupun miskin dan yang dapat lulus serangkaian ujian sulit yang menjadi tanda langkah kemajuannya di sekolah-dapat memperoleh pendidikan yang sama baiknya. Universitas yang terbaik memberikan bea siswa bagi mereka yang lulus serangkaian ujian ini dengan baik.

Sebagian orang Jepang menganggap bahwa sistem ini sangat mirip dengan lomba lari gawang dan bahwa sistem ini memberikan beban yang berlebihan terhadap siswa-ujian itu seringkali menentukan kesuksesan hidup mereka di masa depan-sedangkan sebenarnya para siswa itu masih terlalu muda untuk mengatasi kendala ini.

Ujian bagi siswa yang berusia 12 tahun untuk memasuki sekolah menengah pertama tidaklah terlalu penting karena semua anak harus tamat SMP. Namun, beban bagi siswa yang berusia 15 tahun untuk dapat memasuki sekolah menengah atas adalah terlalu berat.

Bukan hanya bagi mereka yang gagal untuk memasuki beberapa SMA saja, melainkan juga bagi mereka yang berhasil yang mencoba untuk mendapatkan SMA yang bagus.

Tahap pendidikan berikutnya adalah amat vital. Karena SMA ini mempersiapkan siswa untuk dapat bersaing memasuki akademi atau universitas, maka seorang tamatan SMA yang berprestasi bagus akan lebih mungkin dapat diterima di akademi atau universitas yang bagus pula.

Persaingan memasuki akademi justru akan lebih tajam lagi. Beberapa akademi dan universitas memiliki pamor yang lebih baik sehingga kaum usahawan dan pejabat pemerintah cenderung untuk memberikan pekerjaan kepada mereka yang tamat dari universitas atau akademi itu.

Jika seorang siswa dapat memasuki Universitas Tokyo, misalnya, boleh dikatakan bahwa ia telah memiliki diploma seumur hidup. Kesempatan untuk lulus juga 100%, padahal beberapa siswa dari akademi mungkin akan gagal.

Kesempatan untuk dapat bekerja pada perusahaan besar atau kantor-kantor pemerintah juga baik. Beberapa perusahaan dan badan-badan pemerintah lebih menyukai siswa tamatan universitas tertentu sehingga siswa universitas lainnya hanya memiliki kesempatan yang kecil.

Sebagai akibatnya, beberapa siswa berusaha terus untuk dapat diterima di universitas-universitas yang terkenal. Jika sekali ujian gagal, dia akan berusaha mengulanginya lagi, demikian seterusnya. ”Sekolah bimbingan tes”, suatu kursus swasta yang hanya menyiapkan siswa untuk mengikuti ujian-ujian ini, merupakan usaha yang menguntungkan.

Bahasa Jepang

Bahasa lisan Jepang yang berasal dari zaman prasejarah, tidaklah begitu sulit dipelajari, tetapi bahasa tulis benar-benar sulit. Bahasa tulis dimulai sekitar 1.300 tahun yang silam ketika bahasa tulis ini mulai meniru bahasa tulis Cina.

Pada mulanya, bahasa tulis itu berupa sebuah bahasa gambar, seperti halnya hieroglif Mesir. Orang Jepang meminjam huruf Cina, yang disebut huruf kanji, untuk menggambarkan ide atau bunyi bahasa lisannya.

Huruf kanji ini merupakan dasar bahasa tulis Jepang. Seorang sarjana biasanya mengetahui ribuan huruf kanji yang 1.850 huruf di antaranya banyak digunakan dalam tulisan koran dan majalah. Seorang siswa harus mengetahui paling sedikit 900 huruf kanji menjelang akhir kelas 6.

Di samping huruf kanji, masih terdapat 48 huruf yang disebut huruf hiragana, yang terutama digunakan untuk mewakili bunyi kata depan, partisip dan jenis kata lain yang kurang penting, dan juga 48 huruf katakana, yang terutama untuk mewakili bunyi kata asing yang telah menjadi bahasa Jepang.

Orang Jepang juga belajar satu atau beberapa sistem Romaji, kata-kata bahasa yang ditulis dengan huruf Romawi. (Biasanya di kelas 7, siswa mulai belajar bahasa Inggris).

Beberapa orang ahli menyarankan agar bahasa Jepang yang sulit itu hendaknya disederhanakan atau diganti menjadi abjad seperti yang banyak dipakai di negara-negara Barat.

Namun, sebagian besar orang lebih suka tidak mengubahnya karena khawatir bahwa semua literatur kuno yang kaya akan hilang. Sejumlah kata-kata asing, terutama istilah-istilah ilmiah, telah menjadi istilah di dalam bahasa Jepang.

Namun, orang Jepang kaya dengan cara-cara untuk mengungkapkan perasaan pribadi yang halus serta perbedaan yang halus pula di dalam pandangan, bunyi, dan segala cita rasa.

Kehidupan Rumah Tangga

Pola kehidupan di dalam rumah tangga Jepang mulai berubah pada tahun 1920-an selama periode Taisho, tetapi pola-pola kuno masih tampak jelas dalam pola-pola modern ini. Pokok pola kehidupan kuno adalah kelompok keluarga yang erat dengan ayah sebagai pemimpinnya.

Akan tetapi, di dalam keluarga yang miskin hal ini mungkin akan sukar dilaksanakan. Jika ayah tidak mendapatkan cukup banyak uang, ibu mungkin akan memiliki kekuasaan yang cukup menentukan.

Lebih lanjut, empat atau lima keluarga miskin mungkin akan menempati bersama sebuah rumah yang kecil. Namun, biasanya orang laki-laki memberikan perintah terhadap orang perempuan, dan yang tua kepada yang muda.

Jika mertua perempuan berada dalam satu rumah, sang istri harus menghormatinya, kakak perempuan harus menjaga adik laki-lakinya. Sebagian kerja dianggap lebih cocok bagi kaum pria, sedangkan sebagian lagi lebih cocok bagi kaum wanita.

Oleh sebab itu, seorang istri tidak pernah mengganggu kehidupan suaminya di luar rumah dan suami pun tidak pernah mengganggu tugas istrinya di dalam rumah (dia bahkan tidak membantu mencuci piring).

Untuk makan malam, seluruh keluarga akan menunggu ayah pulang dari kerja dan sampai dia selesai mandi. Setelah si ayah selesai mandi, barulah anak laki-laki mulai, lalu anak perempuan, baru kemudian sang istri.

Rancangan rumah ditekankan pada kebersihan, ketenangan, dan kesederhanaan. Seseorang akan masuk ke dalam rumah melalui ruangan kecil, mes lepaskan sepatunya, lalu melangkah di atas karpet jerami (tatami) yang lembut dan berbau sedap yang menutup lantai.

Dinding dalam rumah ditempel dengan kertas yang dapat diatur agar ruangan menjadi kecil atau besar. Idealnya, hanya sedikit barang saja yang menutup ruangan.

Misalnya, meskipun seorang keluarga memiliki beberapa lukisan yang siap digantung di sudut (tokonoma) yang disetujui bersama, mereka tidak akan menggantungnya sekaligus, tetapi disesuaikan dengan musim. Kamar pun tidak akan berjubel dengan kursi, tempat tidur, sofa, dan perabotan lainnya.

Hidangan makannya sederhana. Sarapan pagi mungkin hanya terdiri atas nasi, sup, dan teh. Makan siang terdiri atas nasi atau mie, sayuran, dan teh. Makan malam terdiri atas ikan, nasi lagi, dan sayuran yang beberapa di antaranya diacar.

Namun, masih terdapat juga berbagai ragam hidangan lainnya karena masih terdapat berbagai jenis ikan, sayuran, dan buah-buahan Mandi amat digemari oleh orang Jepang.

Bak kayu besar, yang semerbak tatkala basah, cukup besar sehingga, jika seseorang duduk di dalamnya, air akan naik sampai ke leher. Bak ini diisi air panas sekali saja untuk seluruh keluarga.

Namun, orang hanya memakai bak mandi ini untuk berendam dan bersantai, bukannya untuk membasuh badan, yang biasanya dilakukan di luar bak ini sebelum seseorang masuk bak.

Di musim dingin, yang dirasakan hangat kalau orang mandi, orang akan bergegas ke hibachi, sebuah belanga yang berisi sedikit arang yang membara. Kadang-kadang di tempat ini pula makanan dipanasi di dalam panci dan memasak air.

Lalu seluruh keluarga mungkin akan duduk dengan kaki dibawah selimut di atas kotatsu, suatu mesin pemanas yang diletakkan di tengah-tengah ruangan keluarga sampai saat mereka tidur. Tempat tidur dilipat di tepi dinding dan digelar di atas tatami di malam hari.

Selama musim panas, jendela rumah dibuka lebar-lebar agar angin berhembus sehingga dapat menerpa lonceng yang digantung di dekat pintu dan menimbulkan rasa sejuk. Setiap rumah memiliki taman walaupun hanya beberapa meter saja luasnya dan mungkin hanya berisi batu kerikil dan beberapa batu tiruan yang tersusun apik. Kehidupan bagi sebagian besar orang Jepang tidaklah mudah, tetapi mereka pandai mengubahnya menjadi menyenangkan.

Berbagai Perubahan dalam Kehidupan Orang Jepang

Bagi sebagian orang Jepang, gambaran kehidupan rumah tangga tradisional ini hanya berubah sedikit. Namun, bagi sebagian besar orang, kehidupan rumah tangga mereka telah berubah sekali. Berbagai kekuatan bekerja untuk mengubah berbagai segi kehidupan ini.

Mungkin yang paling penting adalah daya tarik yang hebat terhadap ide-ide dan perilaku Eropa sejak Restorasi Meiji. Ide persamaan antara laki-laki dan perempuan, antara golongan bangsawan dan golongan miskin, serta ide kebebasan individu semuanya mulai menyobek kepercayaan yang lebih tua.

Industrialisasi dengan caranya sendiri, telah mengubah tata cara kehidupan kuno. Karena banyak pekerjaan yang lebih baik di kota, banyak orang mulai meninggalkan lahan pertanian keluarga yang tua sehingga mulai memecahkan tembok keluarga yang kuat.

Orang juga mulai menginginkan hal-hal yang baru, bukan karena benda tersebut lebih baik, tetapi karena benda itu baru. Rancangan rumah misalnya, telah diperbarui lagi mengikuti rancangan Barat. Perubahan di dalam rumah ini mencerminkan perubahan di dalam seluruh gaya kehidupan orang Jepang.

Pada tahun-tahun belakangan ini banyak dapur rumah dan bangunan apartemen baru dibangun dengan model Eropa, termasuk kulkas modern, sehingga dengan sendirinya telah ikut mengubah gaya hidup Jepang.

Pemakaian tatami semakin berkurang, sedangkan tempat tidur, kursi, dan perabotan Eropa lainnya menjadi semakin populer di antara keluarga yang mampu membelinya dan di antara mereka yang ingin tampak modern (orang Jepang menggunakan kata modan untuk istilah ini).

Banyak orang Jepang bahkan mengganti bak mandi tradisionalnya dengan bak mandi pancuran gaya Eropa. Pendeknya, setiap orang memiliki pesawat televisi dan radio dan kini rumah mulai kehilangan kesannya yang unik dan rapi.

Pada saat yang sama, perubahan juga terjadi di dalam keluarga itu sendiri. Ayah mulai kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya setelah berakhir Perang Dunia II.

Semakin lebih banyak istri bekerja bukan untuk mencari tambahan uang agar dapat hidup layak tetapi kadang-kadang hanya untuk membeli barang-barang mewah model Eropa yang baru yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko.

Seorang pengusaha yang sukses sering bekerja sampai larut malam dan banyak para buruh sering bekerja lagi di malam hari untuk dapat membeli produk baru. Karena tidak seorang keluarga pun yang mau menunggu ayah yang bekerja sampai larut malam untuk makan malam bersama, maka tradisi lama untuk menunggu ayah mulai menghilang.

Jika seorang ibu berada di rumah selama seharian dan menonton acara pens didikan yang menarik di televisi, pengetahuannya mungkin akan menjadi lebih luas daripada pengetahuan suaminya yang sibuk bekerja.

Oleh karena itu, dia mungkin akan merasa tidak betah untuk berdiam apabila para pria bicara tentang berbagai masalah ekonomi dan sosial, meskipun tradisi lama menganjurkannya agar wanita tetap diam mengenai berbagai masalah seperti itu.

Menu makanan juga mulai berubah. Menu lama kini ditambah dengan lebih banyak daging, ikan, roti, sayuran dan buah (yang sebelumnya tidak pernah ditanam di Jepang), selai kacang, keju, roti kering ala Amerika, dan spageti model Italia.

Dahulu, seorang ibu rumah tangga menghabiskan waktunya untuk berbelanja berbagai jenis daging, nasi, ikan, dan sayuran di toko sekitarnya. Berbelanja tiap hari berarti bahwa segala yang dibeli masih segar, khususnya ikan. Kini, pasar swalayan terdapat di mana-mana di kota dan menjual berbagai jenis makanan dari seluruh dunia, sedangkan semakin banyak kulkas berarti bahwa tidak perlu sering berbelanja.

Selera untuk makanan dan barang-barang baru mengakibatkan dibutuhkan lebih banyak uang lagi. Oleh karena itu, di kota terjadi dua perubahan. Salah satunya adalah semakin meningkatnya pembelian secara kredit, sedangkan lainnya adalah bahwa kini semakin banyak istri bekerja dan mereka dilindungi oleh undang-undang antipemecatan hanya karena mereka telah menikah.

Sebaliknya, hal ini berarti bahwa anak-anak Jepang kini semakin menjadi anak ”gerendel” yang memiliki kunci rumahnya sendiri karena orang tua mereka tidak ada di rumah ketika mereka pulang sekolah.

Mungkin karena jurang yang semakin lebar antara apa yang diinginkan orang dengan apa yang dapat mereka bayar, orang Jepang belum menikah sampai usia cukup tua.

Rata-rata usia menikah orang Jepang adalah 27 tahun bagi orang laki-Iaki (dibanding 23 tahun bagi pria di Amerika Serikat) dan 24 tahun bagi perempuan (dibanding 201/2 tahun di Amerika Serikat). Tamatan perguruan tinggi mungkin akan lebih tua lagi ketika mereka menikah. Biasanya anggota keluarga adalah kecil dengan dua atau tiga orang anak.

Bentuk pernikahannya itu sendiri mungkin akan berbeda dibanding orang tua mereka dahulu. Apa yang mereka kenal dengan menikah karena cinta, kini menggantikan bentuk pernikahan tradisional yang diatur oleh dua keluarga melalui calo-pernikahan.

Kini di kota-kota, peminangan mungkin terjadi tanpa berembug sama sekali dengan orang tua. Upacara pernikahan itu sendiri mungkin berbeda pula. Upacara itu mungkin akan berlangsung secara tradisional atau model Barat.

Namun, banyak di antaranya adalah campuran antara kedua bentuk itu: calon pria dan wanita mengenakan pakaian kimono dan dinikahkan oleh pendeta Shinto meniru cara upacara kuno, lalu berganti pakaian ala Barat untuk resepsi atau perjalanan bulan madu. Model campuran ini mungkin merupakan petunjuk tentang campuran pola Timur dan Barat dalam kehidupan yang akan mereka jalani.

Pernikahan karena cinta mungkin hanyalah satu sebab perbedaan antara orang tua dan anak-anak mereka di Jepang. Karena pola berpikir tentang berbagai masalah penting telah berubah dengan cepatnya, khususnya sejak tahun 1945, orang tua dan orang muda sulit untuk dapat hidup berdampingan Akibatnya, banyak orang muda, seperti halnya ayah-ayah mereka, kini menghabiskan waktu senggangnya di luar rumah.

Pada saat yang sama, beberapa sikap kuno tertentu hanya berubah sedikit saja. Pasangan muda modern, yang telah menolak kemauan orang tuanya tentang rencana pernikahan mereka, mungkin masih menganggap sebagai tugas mereka untuk mengurus orang yang telah tua di dalam keluarganya.

Norma keramah-tamahan kuno tampaknya juga masih bertahan. Pasangan muda mungkin akan hidup hemat dan makan makanan yang ituitu saja dari minggu ke minggu, tetapi, jika ada tamu, mereka akan menyambutnya dengan ramah sekali. Pada hari Tahun Baru dan di bulan Juni, pada saat hari pemberian hadiah tradisional, hadiah mereka mungkin akan berupa hadiah yang mahal sekali.

Hari Libur

Perbedaan yang tajam antara penghematan sehari-hari dan kebiasaan amat royal dalam kesempatan tertentu membuat irama kehidupan orang Jepang berbeda dengan kebanyakan orang di negara industri lainnya.

Orang Jepang melihat hari-hari mereka susah dan membosankan, tetapi mereka optimis bahwa beberapa hari dalam tahun mendatang pasti menyenangkan.

Dalam setahun pekerja Jepang mendapatkan 20 hari cuti dan 12 hari libur nasional. Sekitar separuh jumlah pekerja harus bekerja sampai setengah hari di hari Sabtu, sedangkan separuhnya lagi bebas kerja.

Para pekerja dan keluarganya menghabiskan hari Sabtu mereka dengan menonton bioskop, bekerja di sekitar rumah, atau menonton TV. Namun, seorang pekerja boleh mengumpulkan hari cutinya di sekitar hari libur nasional sehingga dia akan memiliki dua atau tiga hari libur indah dalam setahun.

Salah satu hari libur yang paling populer adalah sekitar hari libur Tahun Baru, ketika secara tradisional hanya ada sedikit orang yang bekerja. Orang Jepang kini juga merayakan Hari Natal (meskipun hanya sekitar 1% di antara mereka yang beragama Kristen) karena Natal datang hampir bersamaan dengan hari pemberian hadiah.

Saat liburan terkenal lainnya adalah minggu pertama bulan Mei yang disebut dengan Minggu Emas, yang didahului dengan Hari Kelahiran Kaisar (29 April), Hari Konstitusi (3 Mei), dan Hari Anak-Anak (5 Mei).

Selama hari libur yang panjang ini, orang Jepang suka pergi ke desa untuk berlibur atau mungkin menengok keluarga mereka di kampung. Beberapa perusahaan besar sering mensponsori pesta atau piknik bersama dengan mencarter bus.

Seni dan Kegiatan Santai

Karena minggu-keria bagi kebanyakan orang menjadi semakin singkat, dan karena kekayaan orang Jepang perlahan-Iahan semakin merata, orang mulai berpikir tentang bagaimana menghabiskan masa santai mereka. Mereka juga telah memungut kata reja dari bahasa Inggris untuk istilah santai (leisure).

Beberapa penulis menyatakan bahwa terlalu banyak waktu senggang telah membuat kebanyakan orang Barat menjadi tegang. Namun, orang tidak merasa tegang seperti itu, bahkan sebaliknya mereka banyak menemukan arti kehidupan mereka dalam berolah raga atau melaksanakan hobinya.

Di Barat, jika orang disapa dengan ”What do you do?”, dia akan menjawab apa kerjanya, tetapi di Jepang dia akan menjawab apa hobinya.

Hobi seseorang mungkin sesuatu yang tradisional ataupun yang modern, mungkin berupa kegiatan masal atau kegiatan perorangan. Menonton dan bermain baseball adalah kesukaan banyak orang. Menonton bioskop me rupakan kegiatan rutin bagi beberapa orang Jepang. Film ditonton bukan

hanya sekadar sebagai hiburan tetapi terlebih sebagai hasil seni, sehingga orang akan mengamatinya dengan saksama. Hal ini bukan berarti bahwa orang tidak sering menonton film yang tidak memiliki nilai seni yang tinggi seperti film Western Amerika atau Italia, film Jepang tentang tentara feodal yang tidak jauh berbeda dengan film Barat, ataupun film kriminal Jepang dan Amerika lainnya.

Namun, Jepang juga membuat banyak film yang baik sehingga memenangkan hadiah internasional. Di samping itu, mereka juga mengimpor film yang baik dari berbagai negara lain. Televisi komersial menyuguhkan film yang kualitasnya kurang baik, termasuk film yang diimpor dari Barat.

Namun, stasiun televisi dan radio yang disponsori pemerintah, NHK, menyuguhkan pertunjukkan yang bermutu baik dan bersifat nonkomersial. Di antara beberapa acaranya adalah wawancara dengan cendekiawan ataupun cendekiawan asing, konser musik Barat dan Jepang, serta lagu-lagu dan tarian rakyat dari berbagai daerah.

Setiap rumah di Jepang memiliki TV. Radio juga terdapat di mana-mana. Jalan-jalan pun penuh dengan orang yang sibuk mendengarkan radio masing-masing.

Berbagai kegiatan waktu senggang juga meniru Barat. Golf kini sedang menjadi mode. Di samping lapangan indah yang tersebar di seluruh negeri, banyak bangunan kantor memiliki tempat latihan golf di atapnya, tempat para pengusaha berlatih golf selama istirahat makan siangnya.

Golf merupakan olahraga mahal yang kebanyakan dimainkan oleh kaum laki-laki dengan biaya yang besar. Bola gelinding, yang juga merupakan jenis olahraga impor, menjadi semakin populer karena tidak terlalu mahal. Mesin penyodok bola Barat versi Jepang dinamakan pachinko.

Di Jepang terdapat jutaan mesin seperti itu dan salon tamu pachinko mempekerjakan sekitar 100.000 orang. Dari pagi hingga larut malam, ribuan orang dapat dilihat sedang berjudi di pachinko. Kedai-kedai kopi banyak terdapat di kota.

Kedai ini ditujukan bagi orang muda dan seringkali menggunakan nama-nama Prancis atau Italia. Masing-masing menyuguhkan jenis musik tertentu-klasik, rakyat, atau jazz-dan dengan hanya membeli secangkir kopi, orang dapat mendengarkan musik itu selama berjam-jam.

Olahraga ski dan naik gunung juga termasuk olahraga yang sangat populer. Di setiap musim, stasiun kereta api penuh dengan orang, yang membawa peralatan mendaki gunung, bersiap menuju ke gunung; sedangkan di musim dingin, banyak orang bermain ski. Renang. tenis, dan lari juga populer, begitu pula bola voli yang sering dimainkan oleh para pekerja selama istirahat makan siang.

Mungkin akan sulit untuk menjumpai orang Jepang yang tidak sedang bepergian dan bersantai untuk meluangkan waktu senggangnya. Tempat keindahan alamiah, candi Budha kuno dan kelenteng Shinto, kota-kota, tempat mata air panas, pantai, dan berbagai taman terkenal, semuanya terus dibanjiri oleh para turis Jepang.

Banyak sekolah mengatur anak didiknya berdarmawisata naik bus yang dicarter dan para pengusaha pun merasa wajib memberikan hadiah wisata terhadap para karyawannya. (Hawaii dianggap sebagai hadiah berlibur yang mahal, tetapi banyak orang Jepang lebih suka berlibur ke Atami, Beppu, atau Tokyo).

Perkumpulan wanita di pedesaan menabung uang mereka hingga mereka memiliki uang yang cukup banyak untuk menyewa bus dan berdarmawisata. Meskipun tujuan utama mereka mungkin untuk datang ke tempat suci, sebagai penghormatan mereka, tetapi mereka tidak membiarkan tujuan sembahyang ini menghalangi kegembiraan mereka.

Bus, yang dicarter didampingi dengan wanita muda yang membantu para penumpang dengan menerangkan daerah-daerah yang dilalui sepanjang perjalanan sambil menyanyikan lagu rakyat daerahnya.

Terdapat juga banyak cara untuk meluangkan waktu secara tradisional. Beberapa orang pria bermain go, sejenis permainan catur yang lebih rumit selama berjam-jam, atau bermain mah-jongg, sejenis permainan yang rumit pula yang berasal dari Cina.

Pertandingan kejuaraan gulat sumo dihadiri oleh ribuan orang dan disaksikan oleh jutaan pemirsa TV. Sumo dilangsungkan secara khidmat dalam upacara, tetapi amat cepat dan hati-hati dalam pertandingan sebenarnya.

Pertandingan ini mungkin akan selesai dalam beberapa detik saja, tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa dengan sumo akan dapat menjejaki perbedaan kecil di dalam cara-cara menyerang.

Pegulat biasanya seorang yang besar, yang makan dengan makanan khusus. Olahraga lain yang agak kasar yang kini menjadi semakin populer di antara orang Barat adalah judo, karate, dan sejenis olahraga anggar-disebut kendoyang menggunakan tongkat kayu sebagai ganti pedang.

Seni Tradisional jepang

Lebih lembut lagi adalah seni Jepang yang banyak disukai tua dan muda. Penataan bunga (ikebana) dilakukan oleh baik laki-laki maupun perempuan dan toko-toko bunga banyak menggelarkan bentuk seni bunga-baik baru maupun tradisional.

Banyak orang Jepang memiliki perasaan kuat terhadap koto (sejenis kecapi yang bersenar panjang, berjumlah 13 buah, dan biasa dimainkan di atas lantai) dan samisen (alat seperti mandolin dan bersenar 3 buah).

Banyak orang Jepang menonton drama No, Kabuki, dan Bunraku. No adalah bentuk drama kuno yang para pemainnya, seperti halnya dalam banyak drama Yunani kuno, memakai topeng dan bergerak dalam langkahlangkah tarian yang khidmat dan hati-hati, sedangkan ceritanya dibacakan dengan penuh kekhusukan.

Secara sekilas, No tampaknya bergerak lamban, tetapi orang segera akan melihat bahwa semangat dan kekuatan yang besar terletak tepat di bawah gerakan yang lamban dan pembacaan cerita itu.

Kabuki merupakan bentuk drama terbaru yang berkembang di antara golongan pedagang selama zaman damai dan makmur pada akhir abad ke-17. Kabuki lebih populer, lebih berwarna-warni, dan penuh dengan gerakan dan plot yang sentimental yang dirancang, pada mulanya, untuk golongan kaya baru zaman itu.

Drama Bunkaru, yang muncul di tahun yang sama dan masih terpusat di Osaka, menggunakan boneka. Boneka itu hampir sama besarnya dengan manusia dan berperan dengan perasaan dan keanggunan yang begitu kuat sehingga pemirsa seringkali lupa bahwa apa yang dia lihat adalah boneka. Orang harus siap membawa kotak makan siang untuk menonton pertunjukan Kabuki atau Bunkaru yang baik selama seharian.

Keindahan perjamuan teh (chanoyu) tentulah agak sulit untuk dapat dirasakan oleh orang Barat. Pada dasarnya, chanoyu adalah cara menyajikan minuman teh terhadap tamu dan cara tamu itu menerimanya untuk menghargai keramahtamahan tuan rumah.

Namun, chanoyu lalu menjadi formal sekali dengan tekanan pada keindahan alat yang dipakai, kelemahgemulaian tuan rumah atau nyonya rumahnya, keharuman air teh itu sendiri, serta kesopanan orang yang hadir dalam perjamuan itu.

Seperti halnya banyak bentuk seni Jepang, perjamuan teh juga memperlihatkan ketenangan, kelemahgemulaian, dan gerakan yang penuh disiplin-yang menggambarkan cara mendapatkan kedamaian dalam dunia yang rusuh ini.

Secara tradisional, selama abad ke-16, para prajurit yang istirahat setelah berperang akan melakukan perjamuan teh seperti ini. Adalah baik, kata orang Jepang, untuk mendapatkan kedamaian dan ketenteraman selama beberapa menit walaupun di tengah-tengah pertempuran.

Banyak orang Jepang menulis syair, atau bahkan menciptakannya, sesaat sesuai dengan kesempatan. Biasanya, mereka lebih suka bentuk syair lama seperti haiku, yang berusaha untuk memenuhi 17 suku kata untuk menggambarkan isi dunia.

Untuk menuliskan dunia dengan kata yang sedikit itu, diperlukan semacam kontrol dan wawasan tajam yang banyak dikagumi oleh orang Jepang dalam segala seni mereka. Kaligrafi, campuran bentuk seni dan ketrampilan menulis indah, diajarkan di sekolah dan siswa di Jepang mempelajarinya di kelas 3 sampai kelas 9.

Berkebun adalah bentuk seni patung yang terus berubah. Objeknya di sini juga menggambarkan visi dunia, biasanya dengan tanaman, tetapi kadang-kadang juga dengan batu atau kerikil. Di samping kebun rumah yang kecil, masih terdapat juga taman umum yang luas dan terkenal.

Berbagai restoran yang bagus terkadang dilengkapi dengan taman yang bagus, sedangkan ryokan atau sejenis rumah penginapan Jepang model kuno memiliki kebun yang dapat dilihat dari tiap kamar.

Ciri khas orang Jepang dalam urusan kebun dan taman adalah kemampuan mereka mengombinasikan berbagai bentuk seni dalam satu objek: batu berukir mungkin berisi syair pendek yang diukir dalam bentuk kaligrafi yang bagus.

Seni dalam Kehidupan Sehari-hari

Fakta bahwa orang menyukai berbagai bentuk seni ini mengungkapkan suatu perbedaan antara budaya Jepang dan budaya beberapa negara Barat. Di negeri ini, seni bukanlah bidang khusus milik beberapa orang yang terdidik untuk itu saja.

Minat yang meluas di bidang seni mencerminkan bahwa di Jepang seni tidak hanya mencerminkan tradisi dan sistem pendidikan yang baik, melainkan juga sangat erat hubungannya dengan alam, agama, dan kehidupan sehari-hari.

Berkebun dan perjamuan teh, misalnya, hanyalah sebagian cara memformalkan berbagai masalah biasa dalam bercocok tanam dan keramahtamahan. Jamuan makan resmi dihidangkan dalam berbagai piring mungil, yang ditata apik menurut corak dan warna sehingga menu itu akan berbau sedap dalam aturan warna yang bagus.

Jiwa lukisan dan kesusastraan berhubungan erat dengan jiwa Budhisme yang menekankan keselarasan, ketenangan, dan ketenteraman. Semangat Budha ini juga dapat ditemukan di dalam perilaku, cara menata pakaian, dan mendekorasi rumah. Bahasa Jepang sendiri memiliki sejumlah kata untuk menggambarkan perasaan keindahan.

Minat besar di bidang seni ini meluas sampai ke segala jenis seni, lama maupun baru, Barat maupun Timur. Semua toko besar di berbagai kota besar mencadangkan lantai atasnya untuk balai seni. Toko-toko itu kadang-kadang memamerkan lukisan dan patung yang berasal dari berbagai tempat dan zaman.

Orang yang melihat pameran seni itu tidak hanya mereka yang berpakaian necis, laki-laki-perempuan, atau anak sekolah dengan seragam mereka, melainkan juga para pekerja selama jam makan siang dengan kepala terikat hachimaki dan memakai celemek yang menunjukkan simbol perusahaan masing-masing.

Ketika, beberapa tahun yang lalu, patung Venus de Milo yang terkenal dipinjam dari Paris dan dipamerkan di Taman Ueno di Tokyo, orang berbaris sampai berkilo-kilometer panjangnya dan menunggu selama sekitar 4 jam hanya untuk melihat patung itu. Hal ini terjadi selama berhari-hari dan bahkan sampai hampir satu bulan.

Minat besar terhadap seni juga dapat dilihat dari jumlah produksi koran, buku, dan majalah. Jutaan kata dicetak setiap hari di koran di Jepang. Perbandingan kasarnya adalah bahwa setiap dua orang di desa mendapat satu koran yang dikirim setiap hari.

Jumlah buku yang diterbitkan juga terus meningkat. Berbagai novel yang ditulis oleh penulis Jepang diterbitkan bersambung di dalam koran atau majalah, sedangkan proporsi penerbitan buku serius dari berbagai jenis juga tinggi.

Berbagai Pengaruh Barat

Bangsa ini telah banyak menyaksikan dan mendengar seni Barat selama satu abad sekarang sehingga banyak seniman telah menguasai berbagai bentuk seni Barat. Misalnya, pemimpin orkes yang terkenal, yaitu Seiji Ozawa, adalah orang Jepang.

Namun, yang lebih menarik tentang orang Jepang terhadap seni Barat adalah cara seniman terbaik untuk menggabungkan gaya Jepang dan gaya Barat dalam menciptakan seni baru dan modern yang masih berbau Jepang.

Kimio Eto, pemain musik kota terbesar di Jepang, berkali-kali main bersama orkes simfoni Barat dan terus menciptakan perpaduan antara gaya musik koto yang bersifat Timur dengan gaya musik Barat.

Seorang penulis terkenal, Junichiro Tanizaki, (yang meninggal pada tahun 1965), seperti penulis modern lainnya banyak menulis tentang novel psikologi walaupun gayanya masih berciri Jepang.

Alih-alih bergantung pada klimaks yang banyak mencirikan novel fiksi Barat, dia menggambarkan perasaan lembut para pelakunya dan berbagai perubahan yang terjadi pada diri pelaku itu.

Arsitek Kenzo Tange yang sibuk, yang antara lain mendesain Gedung Olahraga Nasional untuk Olimpiade 1964 yang berlangsung di Tokyo, banyak mendapat latihan tentang berbagai metode di sekolah internasional arsitektur Barat.

Akan tetapi, ketika belajar dia tetap ingat akan prinsip-prinsip arsitektur kuno yang sebenarnya sangat mirip. Akibatnya, berbagai bangunan hasil karyanya tampak modern di mata internasional, tetapi masih berciri Jepang; sebagian di antaranya mirip bangunan kelenteng Shinto kuno.

Penyair Inggris Rudyard Kipling pernah menulis, ”Oh, Timur adalah Timur, Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bertemu. Namun, banyak seniman abad ke-20 Jepang membuktikan bahwa syair Kipling itu tidak benar.

Pertemuan antara Timur dan Barat itu juga berlangsung di luar bidang seni. Minat orang Barat terhadap agama-agama Asia sudah berusia berabadabad lamanya dan belakangan ini minat itu menjadi semakin jelas. Budhisme Zen, misalnya, salah satu sekte Budha di Jepang, telah menarik minat tersendiri di antara orang Barat.

Berbagai Agama di Jepang

Orang Jepang biasanya memandang agama mereka berbeda dengan agama Kristen, Yahudi, dan Islam. Orang Kristen, Yahudi, dan Islam percaya bahwa Tuhan mereka adalah Esa, Mahasempurna, dan Mahakuasa yang kadang-kadang marah apabila perintah-perintahnya tidak dipatuhi.

Orang Kristen, Yahudi, dan Islam pernah lama saling berperang sampai menumpahkan darah atas nama Tuhan mereka masing-masing. Bagi orang Jepang kuno, Tuhan mereka adalah banyak, yang di antaranya memiliki ciri-ciri manusia, seperti halnya dewa-dewa orang Yunani Kuno.

Dewa orang Jepang Kuno menghuni setiap tempat alam yang kuat-sungai, angin, api, gunung, dan khususnya matahari sebagai tempat seluruh kehidupan bergantung. Kepercayaan terhadap matahari ini disebut dengan Shinto, yang berarti ”jalan dewa”.

Shinto dalam perkembangannya mengajarkan untuk tidak hanya menyembah kekuatan alam saja, tetapi juga untuk menyembah leluhur mereka. Lebih dari itu, karena Shinto mengajarkan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik, Shinto juga mengajar manusia untuk mempercayai setiap dorongan yang berasal dari hati mereka.

Lama-kelamaan, Shinto menggabungkan pemujaan terhadap dewa matahari dengan tradisi pemujaan bahwa para Kaisar Jepang adalah keturunan dewa matahari dan menyatakan bahwa Kaisar adalah dewa juga. Namun, Kaisar Hirohito, di bulan Januari 1946, mengecam ide penuhanan Kaisar ini.

Budhisme masuk ke Jepang sekitar abad ke-6 dari daratan Asia. Minat para cendekiawan terhadap Budhisme perlahan-lahan berkembang. Shintoisme menjadi kurang kuat, tetapi tidak punah walaupun pengaruh Budhisme semakin meningkat.

Tak satu agama pun dari keduanya memerintahkan seseorang agar keluar dari agamanya sehingga kedua agama itu dapat hidup berdampingan dan, bahkan hingga kini, merupakan hal yang biasa bagi orang Jepang untuk menikah dengan upacara Shinto dan mengubur jenazah dengan upacara Budha.

Masalahnya adalah orang Jepang dan selalu memiliki tujuan-tujuan penting dalam upacara. Namun, biasanya tidak dianggap sebagai jawaban sempurna dan final terhadap berbagai permasalahan. Pada umumnya, agama tidak terlalu menuntut kepada kehidupan manusia dibanding agama di Barat dan di Timur Tengah.

Di saat terjadinya ketegangan, yaitu ketika negeri dikacau oleh kerusuhan dan pertentangan, agama menjadi lebih ketat. Selama serbuan bangsa Mongol ke Jepang pada abad ke-13 dan perang saudara pada abad ke-15 dan ke-1 6, Budhisme memperoleh makna spiritual yang mendalam bagi kebanyakan orang, sedangkan pemimpin agama dianggap sebagai amat penting.

Agama Kristen dibawa ke Jepang oleh misionaris Katolik pada abad ke-16. Agama Kristen mendapat sambutan yang hangat, terutama di bagian barat Jepang.

Para shogun selama periode shugon Tokugawa takut sekali dengan kekuatan agama asing ini sehingga dengan harapan dapat memperkuat posisinya, dia membunuh umat Katolik Jepang secara massal pada tahun 1673 dan lalu menutup seluruh negeri bagi orang asing, kecuali bagi orang Cina dan Belanda-itu pun dibatasi pada pelabuhan Nagasaki saja.

Selama periode Meiji, pengaruh agama Shinto meningkat. Sesudah Perang Dunia II, dukungan pemerintah terhadap berbagai agama menjadi tidak resmi. Kini, dengan beberapa perkecualian, agama yang terorganisasi dianggap masih kurang penting bagi kebanyakan orang Jepang.

Perkecualian itu adalah beberapa orang yang taat beragama dari berbagai sekte dan juga kaum Soka Gakki. Soka Gakki adalah salah satu sekte Budha yang aturannya sangat ketat sekali.

Jutaan orang Jepang yang tertarik terhadap gerakan ini terutama berasal dari kalangan usahawan kecil dan orang yang baru datang ke kota sehingga kesepian serta tanpa suara yang membelanya. Mereka akhirnya juga memperoleh kekuatan politik.

Agama Kristen tetap bertahan meskipun hukum lama melarangnya dan telah memiliki arti penting di Jepang meskipun hanya sedikit orang yang menjadi jemaat gereja. Selama Restorasi Meiji, ide-ide Kristen, khususnya ide Protestan, amat populer di antara para cendekiawan dan penulis.

Kini, fakta bahwa terdapat beberapa akademi dan universitas Kristen menunjukkan terus adanya pengaruh agama Kristen. Kuatnya pengaruh ini sulit diukur karena kebiasaan lama orang Jepang untuk memungut, dari orang asing, apa-apa yang mereka inginkan dan membuang apa yang tidak mereka inginkan dan juga karena amat mudahnya orang untuk memeluk suatu agama.

Bangsa Jepang memiliki banyak warisan kebiasaan, festival, dan hari libur bagi berbagai agama. Mereka gemar merayakannya dan mereka juga suka mengunjungi candi-candi dan berbagai tempat suci yang bersejarah.

Orang mungkin akan merasa sebagai orang Kristen pada hari Natal, sebagai orang Shinto pada pesta pernikahan, dan sebagai orang Budha pada upacara penguburan. Namun, aturan yang banyak diikuti oleh kebanyakan orang Jepang tidaklah berasal dari para bikhu atau biarawan, tetapi berasal dari kebiasaan, keluarga, dan dari pemerintah.

Pemerintah Jepang

Sebagian besar kehidupan orang adalah campuran antara cara-cara Jepang kuno dan cara terbaru dari Barat, begitu pula di dalam pemerintahannya.

Konstitusi tahun 1946 tetap menganggap Kaisar hanya sebagai simbol kepala negara saja dan melimpahkan kekuasaan nyata di tangan Diet atau Badan Legislatif, yang terdiri atas Dewan Perwakilan dan Dewan Pertimbangan.

Seperti halnya sistem pemerintahan Inggris, kepala pemerintahannya adalah perdana menteri. Dia bertanggung jawab terhadap Diet dan membentuk kabinet yang anggotanya antara lain adalah anggota Diet.

Sistem hukum peradilan, yang dibuat semasa Meiji, diubah meniru hukum Prancis, Jerman, dan Inggris. Namun, Jepang hanya memiliki sedikit hakim dibanding jumlah penduduknya daripada kebanyakan negara Barat.

Telah menjadi kebiasaan lama untuk meminta orang tua menyelesaikan pertengkaran kecil sesama tetangga sebelum mengajukannya ke pengadilan. Tradisi ini mulai memudar sehingga Jepang kini membutuhkan banyak hakim dan pengacara.

Mahkamah Agung Jepang, seperti halnya di Amerika, merupakan pengadilan terakhir untuk mengajukan banding bagi setiap perkara penting di bidang perundang-undangan.

Sejak tahun 1945, pembuatan undang-undang hampir seluruhnya adalah hasil kerja Partai Demokrat-Liberal (Partai Liberal dan Partai Demokrat bergabung pada tahun 1955), yang selalu menang secara mayoritas di setiap pemilihan nasional.

Partai ini sebagian besar mendapatkan dukungan dari kalangan usahawan dan para petani, yang tertarik untuk mempertahankan harga beras yang tinggi. Partai Demokrat-Liberal tetap bersahabat baik dengan Amerika Serikat. Partai ini tidak berusaha mengurangi jumlah pangkalan militer Amerika di Jepang dan secara perlahan meningkatkan perdagangannya dengan Cina.

Beberapa partai politik lainnya, yang menginginkan’perubahan yang lebih cepat, didukung terutama oleh para guru, buruh, dan mahasiswa. Partai-partai ini menginginkan agar Jepang tidak terus bergantung pada Amerika Serikat dan berusaha membagi kekayaan dengan lebih merata.

Belakangan ini, Partai Demokrat Liberal mengukuhkan mayoritasnya kembali di kedua Dewan. Namun, pengunduran diri Perdana Menteri Zenko Suzuki pada tahun 1982, yang lalu digantikan oleh Yasuhiro Nakasone, mencerminkan ketidakpuasan para pendukungnya karena kegagalan partai untuk memulihkan kembali kekuatan ekonomi Jepang.

Masa Depan

Sepanjang sejarahnya, bangsa Jepang telah menunjukkan kemampuannya membuat berbagai perubahan dalam gaya hidupnya agar sesuai dengan kondisi yang baru.

Kini banyak orang Jepang mempelajari kehidupan di negerinya sendiri dan negeri mana saja serta bertanya pada diri sendiri tentang bentuk penyesuaian apakah yang kini perlu diperbuat. Sebagian di antara pertanyaan paling penting yang diajukannya adalah sebagai berikut.

Apa yang dapat diperbuat untuk menutup kesenjangan yang semakin . melebar di dalam ekonomi berbelah-duanya itu? Perusahaan besar menjadi semakin besar, ketika perusahaan-perusahaan itu bergabung untuk mendapatkan keuntungan yang semakin besar dan lebih mantap.

Sebaliknya, perusahaan kecil merasa tidak aman dan menjadi korban ekonomi yang, karena ekonomi itu sendiri terus meningkat, juga tak lepas dari berbagai perubahan yang sangat cepat.

Perkembangan ekonomi Jepang yang pesat juga mengakibatkan banyak masalah lainnya. Bagaimana para petani atau nelayan akan percaya tentang meningkatnya standar kehidupan yang merata yang dibawa oleh industrialisasi? Bagaimanakah dapat tersedia perumahan, transportasi, dan kesehatan yang memadai bagi penduduk kota yang terus bertambah?

Polusi udara, air, dan tanah sudah merupakan masalah yang serius. Dapatkah produk nasional bruto berlipat ganda tanpa merusak lingkungan hidup? Ekonomi tidak akan berkembang tanpa perdagangan dengan luar negeri. Dapatkah Jepang percaya bahwa kebutuhannya bagi berbagai bahan mentah dan tempat pemasaran tidak akan dibatasi?

Selama lebih dari 35 tahun, Jepang dapat dengan bebas memusatkan perhatiannya pada masalah ekonomi karena keamanan negaranya dijamin oleh Amerika Serikat.

Dengan dikembalikannya pulau Okinawa pada tahun 1972, sebagian besar masalah politik yang diakibatkan oleh Perang Dunia II, sudah diselesaikan. Namun, masalah kepulauan Kurile, yang diduduki oleh Uni Soviet, masih belum terpecahkan. Jepang mulai menjadi anggota PBB pada tahun 1956 dan pada tahun 1978 Jepang menandatangani perjanjian damai dengan negara raksasa tetangganya RRC.

Jepang, sebagai salah satu negara ekonomi terkuat di dunia, tampaknya ditakdirkan untuk memainkan peran yang lebih aktif di dalam berbagai permasalahan internasional. Salah satu masalah paling penting, yang dihadapi oleh Jepang di masa mendatang, adalah bagaimana menjamin keamanan persediaan minyak bagi industrinya yang semakin berkembang.

Masalah keamanan militer di dalam dunia yang rusuh ini mengakibatkan berbagai masalah lain. Namun, sebagian besar orang Jepang masih menyukai pasal anti perang di dalam konstitusinya.

Jika persekutuan dengan Amerika tetap kuat, tekanan untuk mengubah pasal itu tetaplah kecil, bahkan dari kalangan yang percaya bahwa militer yang kuat mutlak perlu untuk menjamin keamanan negerinya.

Namun, sebagian yang lain percaya bahwa persekutuan dengan Amerika itu malah membahayakan keamanan Jepang (berupa ancaman dari musuh Amerika Senikat) dan, dalam beberapa hal, banyak dari golongan ini kurang yakin bahwa organisasi militer (yang kuat sekali pun) mampu menjamin keamanan.

Bagaimana pun, salah satu tradisi bangsa Jepang harus ditinggalkan-yaitu tradisi mengucilkan diri. Banyak kalangan menginginkan bahwa kesenjangan antara si kaya dan si miskin, baik di pedesaan maupun di kota, juga akan menjadi tradisi yang terkikis.

Akhirnya, dapatkah berbagai tradisi yang ingin dipertahankan oleh Jepang dapat terus bertahan di dalam dunia produksi massa dan dunia masyarakat luas?

Diulas oleh:
THOMAS SHIBATA, Universitas Metropolitan Tokyo CHARLES C. CLEAVER, Akademi Crinne”
Editor: Sejarah Negara Com

Pos terkait