Sejarah Negara Com
Ensiklopedia sejarah dan negara

Eropa

Eropa terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok yang termasuk negara-negara komunis; negara-negara yang membentuk Masyarakat Ekonomi Eropa/European Union (MEE: Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Belgia, Luxembourg, Kerajaan Serikat, Irlandia, Yunani, Denmark, Spanyol, dan Portugal); dan negara-negara yang termasuk dalam Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (Austria, Islandia, Norwegia, Swedia, Swiss, dan Finlandia).

Bea dan Cukai terakhir yang dikenakan pada barang industri yang dihasilkan oleh negara anggota MEE dan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa telah dihapus pada tahun 1977 sehingga terciptalah pasaran dagang bebas baru yang besar.

Kunjungi Peta Eropa atau di google map

Masyarakat ekonomi merupakan langkah awal terwujudnya negara-negara Eropa serikat. Jika pemikiran ini membuahkan hasil, Eropa akan mengalami perubahan yang sangat besar dan memperoleh posisi dan harga dirinya kembali, seperti yang pernah dialaminya.

Baca juga: Apakah Eropa itu benua?

Komunis Eropa

Hal pokok yang tetap merintangi terbentuknya Eropa serikat adalah negara-negara komunis. Pengalaman komunis telah dipraktikkan di Uni Soviet sejak tahun 1918 dan kemudian diikuti oleh negara-negara lain, yang mengambil sistem ini sejak akhir Perang Dunia II.

Di semua negeri satelit Soviet ini, rezim komunis didirikan melalui cara-cara revolusioner, yang dilakukan oleh kaum minoritas yang berani dan aktif, dengan memaksa kaum mayoritas menerima pemerintahan yang telah digariskannya.

Pada sebagian besar kasus, kemenangan subversi internal dimungkinkan melalui penekanan yang dilakukan oleh tentara-tentara Soviet.

Karena keberhasilannya dalam bidang ilmu pengetahuan, industri, dan teknologi, Uni Soviet muncul sebagai sebuah penguasa utama ekonomi dunia, yang hanya dapat ditandingi oleh Amerika Serikat.

Namun, pada umumnya standar kehidupan negara komunis lebih rendah daripada negara demokrasi. Kediktatoran dan tekanan politik yang berlaku di negara-negara komunis dapat menimbulkan revolusi, seperti halnya di Hongaria pada tahun 1956 dan Cekoslowakia pada tahun 1968.

Baca juga: Eropa dan Pengaruhnya Bagi Dunia Modern

Tembok Berlin merupakan simbol kekhawatiran yang diperlihatkan oleh dunia komunis dalam menghadapi kemerdekaan dan simbol dari tindakan pencegahan terhadap hal-hal yang bersifat asing yang membuatnya merasa perlu untuk mempertahankan dirinya sendiri.

Evolusi yang besar dan cepat pada negara-negara komunis tidak dapat diramalkan. Pemimpin-pemimpin Uni Soviet akhir-akhir ini telah menegaskan bahwa mereka tidak akan memperbolehkan negara komunis melepaskan lingkungan pengaruh mereka.

Pravda, sebuah surat kabar resmi Partai Komunis Uni Soviet memuat pernyataan yang tak perlu diragukan lagi bahwa ‘Tak satu pun negara komunis berhak untuk mempertahankan kedaulatannya yang menentang Uni Soviet”.

Kenyataannya, pergerakan untuk kebebasan nasional dan kebebasan individu, seperti yang timbul di Cekoslowakia, tampak mengalami kegagalan. Perubahan mungkin baru dapat terjadi jika Uni Soviet sendiri yang mulai mengubah prinsip-prinsip komunis dan jika sebaliknya ia mengambil jalur liberalisasi.

Hal inilah yang tak dapat diketahui sebelumnya. Tradisi-tradisi liberal yang mendalam tidak ada di Uni Soviet. Tradisi liberal ini menghilang tanpa transisi baik di bawah tekanan kekuasaan Tsar maupun di bawah tekanan kekuasaan Bolshevik.

Di bawah kedua bentuk pemerintahan tersebut, muncullah oposisi yang berani. Akan tetapi, oposisi tersebut mengalami kekalahan dan tidak pernah menunjukkan pengaruhnya secara nyata.

Baca juga: Penduduk Eropa yang Kompeks dan Asal Usulnya

Harapan satu-satunya disandarkan pada adanya kenyataan bahwa pendidikan dewasa ini merupakan hal yang telah umum di Uni Soviet dan di sana terdapat kelompok intelektual yang penting.

Jikalau suasana kemerdekaan intelektual berkembang baik maka ada alasan untuk mengharapkan kebebasan yang lain, yang kemungkinan juga akan berkembang dan tumbuh subur.

Uni Bangsa-Bangsa Eropa merupakan suatu impian lama. Pada tahun 1961, penulis bangsa Swiss bernama Denis de Rougemont menerbitkan buku dengan judul yang menggugah, Vingt-Huit Siecles d’Europe (”Eropa Abad Ke-28”).

Dalam buku itu ia mengutip hasil kerja beberapa ratus pengarang, yang dalam bentuk tertentu mengemukakan dan mempertahankan pemikiran tentang uni negara-negara Eropa.

Akan menjadi berlebihanlah jika dikatakan bahwa selama bertahun-tahun impian tentang Eropa serikat dipegang oleh mayoritas orang di benua ini, atau bahwa impian itu merupakan pemikiran yang hakiki dalam sejarah.

Namun, memang benar bahwa pemikiran tersebut selalu ada. Selama berabad-abad, para ahli filsafat, penyair, dan pembaharu telah mendesak bangsa-bangsa Eropa untuk bersatu dan mengakhiri peperangan yang tak terhingga banyaknya itu, yang dilakukan oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain, padahal mereka semua termasuk dalam keluarga dan peradaban yang sama.

Mengapa seruan yang berani itu tidak dihiraukan? Karena tak seorang penguasa pun ingin atau berani memikul tanggung jawab dan tampaknya seluruh bangsa itu pun enggan mengorbankan kedaulatan mereka masing-masing.

Untuk mengubah keadaan ini terpaksa harus terjadi dua perang dunia yang telah melibatkan hampir semua bangsa Eropa, telah menyebabkan ekonomi negara-negara di benua ini rusak berat, dan telah pula mengancam nilai-nilai moral negara-negara itu.

Segera setelah Perang Dunia I berakhir, Aristide Briand, menteri luar negeri Prancis, menjelaskan pemikiran tentang federasi negara-negara Eropa sampai dengan Liga Bangsa-Bangsa. Usulan ini samar-samar dan saatnya tidak menguntungkan. Komunisme, fasisme, dan nazisme menciptakan perbedaan-perbedaan ideologi yang dalam.

Usaha Briand tidak membuahkan hasil. Bagi Eropa, hukuman atas kegagalan untuk bersatu ini adalah Perang Dunia II. Sementara Perang berkecamuk ide mewujudkan Eropa serikat berkembang di berbagai tempat, terutama dalam gerakan-gerakan perlawanan di negara-negara yang diduduki oleh Jerman. Namun, masih harus ditempuh beberapa tahun sebelum pemikiran itu mencapai tahap realisasi.

Pada akhir perang, pada tahun 1945, pemikiran yang dominan dalam berbagai kelompok pembuat kebijakan di antara bangsa Eropa Barat adalah penanganan terhadap persekutuan yang dibuat bersama Uni Soviet.

Related Posts
1 of 25

Selanjutnya, mereka berharap dapat menciptakan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyelesaikan masalah-masalah secara damai serta menghimpun negara-negara bebas ke dalam satu blok yang dapat dipertentangkan dengan negara-negara komunis. Baru setelah terlihat adanya kelemahan dalam kebijaksanaan ini, barulah ide tentang Eropa serikat benar-benar dipikirkan.

Dalam dua buah pidatonya yang bersejarah selama tahun 1946-satu di Fulton, Missouri, dan lainnya di Zurich, Swiss-Winston Churchil menyatakan bahwa Uni Soviet merupakan suatu bahaya bagi dunia merdeka dan mendesak agar negara-negara Eropa Barat bersatu untuk pertahanan mereka dan untuk memulihkan keadaan ekonomi mereka. Hal-hal yang dikatakan oleh negarawan terkemuka ini tampaknya diperhatikan.

Pada tahun 1948 diselenggarakan suatu kongres yang bersejarah di Den Haag. Semua pergerakan yang mencita-citakan perkembangan ide Eropa serikat telah berkumpul di sana. Saat itu hal tersebut sudah bukan lagi merupakan masalah memperdebatkan gagasan besar yang agung tetapi samar-samar, melainkan sekadar mencari pemecahan yang praktis untuk melaksanakan gagasan tersebut.

Adapun yang menjadi karakteristik kongres Den Haag adalah peran serta dari sejumlah negarawan besar, baik yang telah maupun yang akan memikul tanggung jawab politis di negara mereka masing-masing.

Mereka itu adalah Winston Churchill dan Harold MacMilan dari Kerajaan Serikat, Paul Reynaud dan Paul Ramadier dari Prancis, Konrad Adenauer dari Jerman, Alcide de Gasperi dari Italia, dan Paul van Zeeland dari Belgia.

Gagasan tentang Eropa Serikat bukan lagi merupakan impian yang menantang dari beberapa pemikir. Hal itu sudah menjadi masalah yang pemecahannya sangat diperlukan oleh kalangan politisi tingkat atas dari berbagai negara. Pergerakan ke arah integrasi negara-negara Eropa Barat telah dijalankan secara nyata.

Seperti halnya semua pergerakan besar, pergerakan ini sudah dipastikan kemenangan dan kekalahannya, tetapi secara keseluruhan kemajuan-kemajuannya dalam waktu 20 tahun tak perlu diragukan lagi dan pasti akan sangat berarti.

Pada tahun 1949 terbentuklah Dewan Eropa dan majelis parlementer konsultatifnya. Pada tahun 1952 lahirlah Masyarakat Batubara dan Baja sebagai kekuasaan supranasional pertama.

Pada tahun 1955, pada Konferensi Messina di Sisilia, ide tentang Eropa serikat muncul kembali secara sensasional. Enam pemerintah yang termasuk dalam Masyarakat Batubara dan Baja-Belgia, Prancis, Jerman Barat, Italia, Luxembourg, dan Belanda-memutuskan untuk membentuk suatu masyarakat ekonomi di antara mereka sendiri.

Pajak perbatasan dihapuskan, sedangkan barang-barang, kapital, dan orang-orang dapat dengan bebas berkeliling. Melalui uni pajak yang sederhana, diputuskan untuk membentuk masyarakat ekonomi, yang akhirnya menjadi masyarakat pertanian, industri, transportasi, keuangan dan moneter, serta masyarakat politik.

Setelah sering diadakan pembahasan yang menggairahkan dan dramatis selama 2 1/2 tahun, suatu perjanjian (pakta) yang menekankan revolusi ekonomi ini ditandatangani di Roma pada musim semi tahun 1957.

Para penulis Perjanjian (Pakta) Roma yakin bahwa integrasi kekuatan ekonomi secara pasti akan menyebabkan terbentuknya kekuasaan politik supranasional. Bagi mereka, ide tentang Eropa Serikat saat itu sedang menuju ke arah realisasi.

Menyadari bahwa negara Eropa yang terdiri atas enam negara ini hanya merupakan suatu inti yang selanjutnya harus dikembangkan, mereka mengharapkan agar negara-negara lainnya akan bergabung dengan organisasi mereka.

Harapan ini telah menghasilkan buah, yaitu ketika tiga anggota baru-Kerajaan Serikat, Irlandia, dan Denmark-bergabung dengan ke-6 negara anggota asli pada tahun 1973. Yunani diterima pada tahun 1979, dengan keanggotaan penuh efektif pada tahun 1981. Spanyol dan Portugal resmi menjadi anggota pada tahun 1986.

Masa depan sekarang benar-benar bergantung pada perkembangan keberhasilan Masyarakat Ekonomi Eropa sendiri. Hanya dengan berpedoman pada keberhasilan dan kemungkinan yang ada sebagai landasan barulah kita dapat mempertimbangkan dan menentukan masa depan tersebut.

Hasil-hasil yang positif tidak perlu diragukan lagi. Dengan keuntungan yang didapat dari barang-barang impor dan ekspornya. Masyarakat Ekonomi Eropa merupakan kekuatan perdagangan yang terbesar di dunia-lebih penting daripada kekuatan perdagangan Amerika Serikat dan jauh lebih penting daripada kekuatan perdagangan Uni Soviet.

Ketika masalah-masalah perdagangan diperiksa dalam kerangka kerja pengurangan pajak, terlihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat diputuskan tanpa kesepakatan bersama semua anggota Masyarakat Ekonomi Eropa.

Dalam bidang ini, Eropa mendapatkan posisinya kembali. Pasaran Bersama juga sudah berhasil dalam membuat kebijakan pertanian yang, meskipun belum sempurna, sudah menunjukkan langkah ke depan yang benar-benar sangat penting.

Hasil yang positif ini, masih belum dapat menjamin bahwa tujuan-tujuan Perjanjian Roma sudah tercapai. Para penulis perjanjian ini pasti berharap agar integrasi ekonomi dapat menyebabkan terciptanya persatuan politik. Hal itu memang belum dapat diwujudkan.

Akan tetapi, pada tahun 1979 telah dilaksanakanlah pemilihan umum pertama bagi parlemen Eropa. Simone Veil, seorang wanita Prancis, mengetuai organisasi pemilihan. Berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa integrasi ekonomi harus dicapai dan tentu saja, dalam jangka waktu yang panjang, hal tersebut memerlukan kekuasaan politik.

Masyarakat Ekonomi Eropa juga diharapkan kepada masalah perkembangannya. Empat negara-Kerajaan Serikat, Norwegia, Denmark, dan Irlandia-diminta untuk menjadi anggota sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh Perjanjian Roma.

Selama Jenderal de Gaulle berkuasa di Prancis, pembahasan tentang keanggotaan mereka dirintangi oleh vetonya yang sewenang-wenang. Namun, pada awal bulan Desember 1969, terjadilah perubahan yang penting. Pemerintah Prancis yang baru ternyata lebih luwes dan memahami perkembangan kekuasaan politik Eropa yang telah dimulai sejak Kongres Den Haag.

Suasana kecurigaan yang berat yang mengancam masa depan masyarakat kini telah terkikis. Dewasa ini telah lahir kembali ide tentang penyatuan Eropa dengan nyata dan disambut dengan kegembiraan oleh mayoritas pendapat umum yang sangat luas.

Tiga di antara 4 negara calon anggota (kecuali Norwegia yang memutuskan untuk tidak bergabung) bersedia menjadi anggota Masyarakat Ekonomi Eropa pada tahun 1973, sedangkan beberapa negara lainnya juga telah melamar untuk menjadi anggota.

Dengan demikian, Masyarakat Ekonomi Eropa telah menjadi lebih yakin akan menempati suatu posisi yang merupakan kekuatan ekonomi besar yang pertama. Benua ini tidak saja merupakan saingan Amerika Serikat dan Uni Soviet, tetapi mereka berharap dapat memperoleh kembali beberapa kepentingan politis dunia mereka yang telah hilang setelah Perang Dunia II.

Benua Eropa, yang menurut sejarah memiliki kekayaan yang mengagumkan, yang mempunyai kebiasaan (tradisi) yang luar biasa, dan yang pengaruhnya pernah mengalami masa yang gemilang, sekarang tengah berada di persimpangan jalan. Masa depannya secara menyeluruh bergantung pada kemajuan yang dapat dilakukan melalui kesatuan ekonomi dan politik.

Jika tugas ini mengalami kegagalan, tiap negara yang membangun wilayah ini harus sanggup menerima kenyataan bahwa mereka tidak lebih hanyalah kekuatan tingkat kedua atau ketiga.

Sebaliknya, jika tugas itu berhasil, benua ini tentulah bakal menjadi bangsa terbesar. Sekali lagi, Eropa akan menjadi kekuatan yang perlu dipertimbangkan. Keberhasilan Eropa yang bersatu tentulah juga akan menguntungkan seluruh dunia karena hal itu akan berarti keselamatan dan kemenangan suatu peradaban yang berdasarkan pada martabat manusia dan pada prinsip-prinsip besar demokrasi politik dan kemajuan sosial.

 Paul-Henri Spaak

Diulas oleh: PauI-Henri SPAAK Ketua Majelis Umum PBB Pertama