31 Maret, Apa Hubungannya Dengan Tugu Khatulistiwa?

Hari ini (31 Maret), sebuah ekspedisi internasional pimpinan seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda datang ke Kota Pontianak untuk menentukan titik/tonggak garis khatulistiwa yang menandai didirikannya Tugu Khatulistiwa..

Di Pontianak Utara, Kalimantan Barat berdiri sebuah bangunan berbentuk tugu yang bentuknya bisa di katakan unik, yaitu Monumen Tugu Khatulistiwa atau dalam bahasa Inggris Equator Monument.

Monumen ini tepatnya berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Provinsi Kalimantan Barat, berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.

Equator Monument menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan tidak pernah sepi dari pengunjung, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Khatulistiwa ini.

Tugu Khatulistiwa

Sejarah Tugu Khatulistiwa

Jika anda pernah mengunjungi tempat bersejarah ini, anda dapat membaca bagaimana monumen ini di bangun dengan membaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung tugu.

Sejarah Tugu Khatulistiwa

Dilansir dari Wikipedia, di dalam catatan tersebut tertulis bahwa: Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië: Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak.

Sebuah ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut:

  1. Tahun 1928: tugu pertama dibangun berbentuk tonggak dengan anak panah.
  2. Tahun 1930: dilakukan penyempurnaan, berbentuk tonggak dengan lingkaran dan anak panah.
  3. Tahun 1938: dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.
  4. Tahun tahun 1990: Tugu Khatulistiwa kembali direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran 5x lebih besar dari tugu yang aslinya. Dan diresmikan pada 21 September 1991.

Bangunan tugu khatulistiwa terdiri dari empat buah tonggak kayu belian (kayu besi), dengan diameter masing-masing 0,30 meter. Dua buah tonggak bagian depan setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.

Pada lingkaran terdapat tulisan EVENAAR (bahasa Belanda yang berarti Equator) sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter.

Di bawah tulisan plat terdapat anak panah tertera 109o 20′ OLvGr yang menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.

Bulan Maret tahun 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak.

Koreksi tersebut dilakukan dengan menggunakan gabungan metode terestrial dan ekstraterestrial, yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out titik nol garis khatulistiwa dikoreksi

Tim BPPT berhasil menunjukkan bahwa posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur.

Sedangkan posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Maka di tempat itulah kemudian dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia.

Posisi yang tertera pada tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik tersebut terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di jalan Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir.

Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah ketika terjadinya titik kulminasi matahari. Yaitu fenomena alam saat matahari tepat berada di garis khatulistiwa.

Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala manusia sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi.

Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan “menghilang” beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.

Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan.