Prancis di mata Pierre Mendes France

Prancis di mata Pierre Mendes France – Ketika saya masih kanak-kanak, peta negara Prancis sangat menakjubkan saya karena kesempurnaan gambarnya. Bukti nyata dari kesempurnaan itu ialah bentuknya yang enam persegi. Prancis memiliki perpaduan semua iklim.

Hal ini terjadi karena Prancis sekaligus merupakan daerah Nordik dan mediteran, kontinental dan maritim, bergunung dan kaya akan dataran rendah;

  • karena negara ini memiliki puncak tertinggi di Eropa Barat dan bukit pasir yang paling besar di benua Eropa;
  • karena sungai-sungainya membentang ke segala penjuru dan bermuara di empat laut yang berbeda;
  • karena negara ini dihiasi dengan deretan kota kecil dan besar, gereja dan istana yang megah;
  • dan akhirnya karena Paris adalah Paris yang citranya sangat saya kagumi.

Kunjungi Peta Prancis atau di google map

Kemudian, saya mengenal bangsa-bangsa lain; saya mengetahui kepuasan hati saya dan kenaifan kegairahan saya yang pertama.

Dengan mengelilingi negara Prancis, saya mendapatkan kenyataan yang sangat berbeda, dan tentu saja lebih rumit, dari apa yang pernah saya bayangkan sehingga saya makin yakin bahwa lekas merasa puas dengan pikiran yang telah ada tentang suatu negara, tanpa mempertimbangkan segi keanekaragaman dan segi perbedaannya adalah kekeliruan besar.

Dengan demikian, apabila kawan kita dari mancanegara ingin mengetahui Prancis sebagai peninggalan zaman lampau, mereka akan kecewa; seperti mereka“ yang kadang-kadang mengatakan bahwa Prancis tidak mampu menyesuaikan diri dengan dunia masa kini.

Memang benar bahwa Sainte-Chapelle dan Arc de Triomphe adalah bagian integral kita. Akan tetapi, mereka akan keliru beranggapan bahwa jika, dari kenyataan itu, di Prancis jam telah mati sejak awal zaman mesin.

Jam itu tetap berdetak, meskipun sering amat tidak teratur, dan tak seorang pun dari zaman kita yang dapat mengabaikan kenyataan bahwa politik, ekonomi, dan sosial sedang memberi corak baru dan amat khas kepada Prancis.

Sedikit demi sedikit saya makin sadar akan besarnya karya yang dilaksanakan sepanjang abad di negara ini meskipun orang menuduh kita bermalas-malasan. Tentu saja iklim Prancis bagus dan sebagian tanahnya subur, tetapi tak ada satu pun anugerah yang diberikan kepada manusia sebagai hadiah cuma-cuma dari alam.

Dari sepetak tanah Flander sampai ke dam di Loire tedapat bukti adanya pergaulan ”1.000” tahun dengan air. Dari tanah hutan di Normandia dan Britania sampai ke ladang pertanian berteras-teras di Provence dan Roussillon, hasil karya manusia dapat dilihat di mana-mana.

Nenek moyang kita tidak sedikit pun memboroskan waktu dan usaha mereka. Mereka memerlukan waktu berabad-abad untuk membuka hutan yang menimbuni tanah datar kita. Mereka juga memerlukan waktu berabad-abad untuk membangun Katedral Chartres dan untuk menghiasi Gua Lascaux, dan memerlukan waktu seabad penuh untuk membangun Versailles.

Warisan ini telah dirusak beratus-ratus kali oleh tragedi yang terus-menerus terjadi dalam sejarah Prancis. Dengan tidak memperkecil arti peristiwa ini, tetapi sekadar mengingat peristiwa yang paling akhir, perang yang lalu telah membawa lebih banyak kerusakan, kemiskinan, dan keruntuhan daripada peristiwa apa pun sebelumnya.

Pada tahun 1944 dan 1945 tentara Amerika dapat menyaksikan besarnya malapetaka ini. Rumah-rumah roboh, pabrik-pabrik dibakar, mesin-mesin dirusakkan, stasiun tenaga listrik dihancurkan, jembatan-jembatan diledakkan, jalan kereta api dan jalan raya diporak-porandakan.

Terdapat juga keadaan yang mengerikan terhadap ladang-ladang kita, kebun anggur kita, dan kebun buah-buahan kita akibat kekurangan pupuk dan pemeliharaan selama bertahun-tahun. Jelas bahwa sejarah tidak memberikan contoh yang sepadan bagi negara industri yang secara mendadak dilumpuhkan semua kegiatannya.

Pada saat pembebasannya, tingkat produksi Prancis hanya 30% dari produksi sebelum perang. Secara relatif memang mudah memulihkan ekonomi negara itu, tetapi kenyataannya pembangunan kembali ekonomi itu lamban dan memakan banyak tenaga dan memerlukan kerja berat, kesengsaraan, dan kemiskinan.

Karena saya berada di antara orang-orang yang terus-menerus menuntut lebih banyak ketertiban dan disiplin dalam tugas yang tak kenal belas kasihan ini, saya menyaksikan karya besar yang disumbangkan oleh putra-putri Prancis, yang, meskipun nyaris tak kuasa menahan malapetaka perang, masih harus mengorbankan diri membangun kembali negara mereka.

Bagaimanapun, mereka tidak berhenti di situ. Tujuan orang Prancis bukanlah mencapai tingkatan sedang-sedang dari tahun 1939 sehingga mudah dilanda segala macam depresi ekonomi. Mereka bercita-cita lebih tinggi, seraya berharap sekali lagi dapat mendudukkan Prancis di barisan depan di antara negara-negara maju.

Hal ini hanya mungkin jika cita-cita membangun kembali itu diganti dengan cita-cita modernisasi dan pengembangan. Inilah tujuan dan rencana lima tahun kami, yang akan segera diikuti oleh rencana keenam. ‘

Orang memang boleh berkata, bahwa dalam tahun-tahun sesudah perang,’Prancis telah mengalami revolusi ekonomi yang sungguh-sungguh.

Biarlah para pelancong, melihat ke sekitarnya sehingga ia akan melihat tanda-tandanya di mana-mana-gudang penyimpanan gandum raksasa menggantikan gudang tradisional; ladang pertanian yang amat termekanisasi menggantikan ladang-ladang kecil; pabrik-pabrik raksasa dengan produksi mesin perakit menggantikan bengkel desa model kuno tempat terdengar dentangan alas tempa kena pukulan palu.

Semua ini memerlukan upaya yang besar dan kadang-kadang sulit yang, disadari oleh orang Prancis memang belum akan berakhir.

Orang Prancis lazimnya memiliki rasa cinta terhadap gaya hidup tradisional dan memiliki kesadaran manusiawi untuk mempertahankan diri terhadap serbuan peradaban industri. Di sektor dan daerah tertentu, faktor ini, dan berbagai kebijakan yang (dapat dikatakan) sering meragukan, masih mempertahankan struktur yang boleh dikatakan kuno.

Namun, tak dapat disangkal bahwa seluruh negeri sedang berjalan menuju ke arah kemajuan. Industri, pertanian, universitas, kehidupan intelektual, kesenian menunjukkan adanya pengaruh dari perubahan-perubahan itu. Telah terdapat usaha yang tak dapat dielakkan dan juga bukti dari kemajuan yang tak dapat dibendung.

Daya guna perkeretaapian kita; kemajuan dari industri pesawat terbang kita dan bendungan raksasa kita; perubahan dari sejumlah besar daerah-daerah kita; contoh industri Toulouse, Grenoble, dan Rennes yang terkemuka; seiring dengan perbaikan lahan di Camargue dan gejala urbanisasi yang cepat, kesemuanya itu membuktikan adanya pembaharuan yang patut dipuji.

Di mata pengunjung dan para ahli, bendungan hidroelektrik di Tignes tidak kalah hebat dibandingkan dengan Pont du Card.

Satu demi satu, struktur yang kurang cocok dengan zaman kita kini sedang diubah. Kendatipun perubahan yang penting kadang-kadang terjadi di tengah-tengah keruwetan, semua ini merupakan tanda bahwa orang telah sekali lagi kembali menjadi muda.

Oleh sebab itu, di Prancis pengamat yang objektif dapat sekaligus melihat beribu-ribu harta warisan yang diwarisi dari zaman kuno berdampingan dengan inisiatif yang amat kuat untuk maju dan harapan yang polos terhadap kelahiran kembali yang indah.

Diulas oleh:
Pierre MENDES-FRANCE Mantan Perdana Menteri Prancis
Editor: Sejarah Negara Com


Terkait Prancis

Artikel Terkait