Prancis

  • Whatsapp
Kota Orleans Prancis
Orleans, pada tahun 1492 Jeanne d'Arc memimpin pembebasan kota ini dari kepungan Inggris

Orang berkata, “Tiap orang memiliki dua rumah, rumahnya sendiri dan Prancis”. Selama berabad-abad Prancis telah menjadi sumber inspirasi seni, musik, dan kesusastraan. Selama berabad-abad Prancis telah menjadi mata air bagi sejumlah besar pikiran besar dunia. Bahasa negara ini telah menjadi bahasa kedua dari sejumlah besar orang yang sopan di mana-mana.

Di Prancis, cita rasa dan kemolekan merajalela, dan berada di sana saja telah merupakan pengalaman yang menggembirakan. Prancis merupakan negara yang dinamis dan merupakan teladan intelektual dan seni Eropa.

Bacaan Lainnya

Sebagai negara industri yang maju dengan penduduknya yang relatif muda, Prancis juga merupakan negara yang penduduknya sedang menciptakan tradisi baru yang berharga untuk memperkaya tradisi kuno yang agung.

Baca juga: Prancis di mata Pierre Mendes France

Geografi Prancis

Prancis, negara terbesar di Eropa Barat, luasnya kira-kira 546.490 km2. Negara ini berbatasan dengan Spanyol di sebelah selatan; Italia dan Swiss di sebelah timur; serta Jerman Barat, Luxembourg, dan Belgia di sebelah timurlaut. Tanah perbatasan ini sebagian dibentuk oleh sungai terbesar Eropa,

Sungai Rhein, dan oleh deretan pegunungan Eropa yang besar-Pegunungan Pyrenee, Alpen, dan Jura. Di Pegunungan Alpen Prancis di sebelah timur terdapat puncak salju yang menjulang; termasuk Mont Blanc pada ketinggian 4.810 m. Mont Blanc adalah puncak tertinggi di Eropa Barat.

Hampir separuh jumlah perbatasan Prancis berbentuk pantai dengan Laut Tengah di sebelah tenggara serta Samudra Atlantik dan Selat Inggris (La Manche, atau ”lengan” bagi Prancis) di sebelah barat dan baratlaut.

peta Prancis

Iklim

Dalam batas-batas ini Prancis memiliki berbagai macam iklim. Di pantai Laut Tengah, misalnya, dan di banyak daerah Prancis selatan, musim panas adalah panas dan kering. Meskipun musim dingin di daerah selatan sangat nyaman, angin dingin dari Pegunungan Pyrenee dan Alpen berhembus ke bawah sepanjang dataran rendah yang lebih rata di bawahnya.

Salah satu angin ini, angin putar delta Rhone, mencapai kecepatan mendekati tenaga angin topan, yang berhembus selama 3-4 hari berturut-turut. Banyak pohon di daerah ini melengkung selamanya karena kekuatan angin ini dan kata orang angin ini memiliki juga akibat psikologis pada orang yang dikenainya.

Di Pegunungan Alpen dan tetangganya Jura, puncak-puncak gunung diliputi salju sepanjang tahun. Sebaliknya, di pantai Samudra Atlantik Prancis, yaitu dari Hendaye di selatan sampai ke Dunkirk di utara, angin dari laut membawa banyak hujan ke darat.

Air panas dari Arus Teluk biasanya juga membawa suhu sedang ke bagian Prancis ini. Di daerah pedalaman, yang jauh dari pantai ataupun pegunungan, iklimnya di bawah sedang, tetapi suhunya jarang mencapai ekstrem, panas atau dingin, yang tinggi.

Sungai dan Kanal

Sungai Prancis membentuk jaringan yang sangat luas, menyebar di semua lahan dan menyatukan daerah-daerah dan kota-kota. Seine, sungai terpanjang yang dapat dilayari di negeri ini, mengalir ke baratlaut dari Prancis , bagian utara melalui ibu kota raya Paris dan bermuara di Selat Le Havre.

Sungai Loire sering dianggap sebagai sungai tercantik di Prancis. berasal dari daerah jauh di sebelah selatan, mengalir ke baratlaut ke Orleans, kemudian membelok ke barat dan bermuara di Samudra Atlantik di Saint-Nazaire, Sungai Garonne, yang berhulu di Pegunungan Pyrenee, mengalir ke baratlaut melewati kota industri Toulouse dan daerah anggur Bordeaux. Di tempat sungai itu bermuara di Samudra Atlantik, sungai itu disebut Sungai Gironde.

Sungai Rhone mengalir ke baratdaya dari Danau Jenewa di Swiss. Di sebelah selatan daerah penghasil anggur Burgundia, Sungai Rhone bergabung dengan anak-anak sungai utamanya, yaitu Sungai Sa6ne dan Isere.

Sungai Rhone bercabang ke sebuah delta luas ketika mendekati Laut Tengah. Tepat sebelum mencapai delta, sungai itu mengalir melalui kota Avignon. Kini, terdapat sebuah jembatan modern di atas Sungai Rhone di Avignon, tetapi reruntuhan jembatan yang memberikan namanya kepada sebuah nyanyian Sur le Pont d’ Avignon (”Di atas Jembatan Avignon”) masih tampak. Anak-anak di seluruh Prancis gemar menyanyikan lagu kuno itu dan menarikan tarian lingkaran dengan nyanyian itu.

Beberapa kanal yang panjangnya 4.800 km menghubungkan sungaisungai utama Prancis satu sama lain dan sungai-sungai besar Eropa. Jaringan sungai yang luas ini mengangkut sejumlah besar produk pertanian dan industri Prancis.

Gandum dan biji padi-padian dari baratlaut dapat diangkut ke selatan ke Marseilles untuk diekspor melalui sungai dan kanal. Bijih besi dari Lorraine mungkin diekspor dari pelabuhan-pelabuhan besar di pantai Selat Inggris, Le Havre dan Cherbourg, setelah perjalanan jauh melalui jalan sungai di daerah pedalaman. Baja yang diolah di Dunkirk dan dipergunakan di galangan kapal Saint-Nazaire sebagian besar juga dikirimkan melalui kanal.

Ekonomi Prancis

Sejak permulaan abad ke-20 terutama sejak Perang Dunia II, di Prancis telah terjadi pergeseran yang semakin cepat dari pertanian, perindustrian kecil dan tradisional ke unit-unit industri yang lebih besar dan termekanisasi. Perubahan besar ini telah menghasilkan ekonomi yang bervariasi dan salah satu yang paling sehat di Eropa.

Pertanian

Karena tanah di Prancis senantiasa sangat tinggi harganya, pertanian tradisional Prancis adalah pertanian kecil dan merupakan milik keluarga. Masing-masing pertanian memiliki sapi perah, sekawanan ayam, dan beberapa ekor babi. Namun, pertanian kecil ini lambat laun hilang ketika metode pertanian modern menjadi semakin meluas di mana-mana. Akibatnya, hasil pertanian Prancis secara keseluruhan bertambah.

Prancis menghasilkan lebih banyak bahan makanan daripada negara pasaran bersama yang mana pun. Hasil pertanian yang penting adalah gandum yang ditanam terutama di daerah utara dan baratlaut. Prancis merupakan salah satu dari beberapa negara Eropa yang berswasembada gandum dan mengekspor kelebihan gandumnya.

Jewawut, oat, bit gula dan segala macam sayur-sayuran juga ditanam. Kebun buah-buahan Prancis menghasilkan buah-buahan yang melimpah-ruah, mulai dari apel Normandia dan jeruk dari daerah Laut Tengah sampai ke buah ceri, aprikot, dan buah plum Lorraine kecil yang berwarna hijau kekuning-kuningan.

Produksi ternak terus-menerus bertambah. Hampir separuh ternak Prancis adalah lembu. Meskipun demikian, biri-biri, unggas, kuda, babi, dan kambing juga dipelihara. Ternak perah dari Normandia menghasilkan susu dan krem yang merupakan unsur-unsur penting dalam sejumlah besar makanan Prancis yang lezat.

Banyak hasil perusahaan pemerahan juga dipergunakan untuk membuat keju Prancis yang tak terhitung jenisnya. Peternak Prancis selalu berusaha memperbaiki ternak pedagingnya. Limousin Prancis dan lembu jantan Charolais yang putih bagaikan salju, yang terkenal karena dagingnya yang empuk, telah membuat negara ini terkemuka dalam hal produksi daging di Eropa.

Hasil yang paling terkenal dan salah satu ekspor pertanian Prancis yang terpenting adalah anggur. Anggur telah dihasilkan di Prancis sejak zaman Romawi atau barangkali lebih lama lagi. Hampir tak ada daerah Prancis yang tidak ditanami pohon anggur. Dengan variasi warna, dari merah muda pucat sampai ke merah delima dan dari kuning sampai ke putih, anggur Prancis dinilai oleh banyak orang sebagai anggur terbaik di dunia.

Anggur merah muda berasal dari Provence dan Anjou, yang merah dari Rhone, sedangkan yang putih dari Loire dan Alsace. Anggur cemerlang dari daerah Champagne merupakan anggur yang secara sah berhak memakai namanya. Beberapa anggur dari daerah Cognac dan Armagnac disuling menjadi minuman keras yang baik. Anggur merah terkenal dari Bordeaux dan Burgundia terkenal di seluruh dunia meskipun buah itu seringkali berasal dari tanah perkebunan yang hanya beberapa are luasnya.

Di samping kebun anggur yang terkenal dan penting, seperti Rothschild dan Romanee-Conti, terdapat juga anggur lokal dan anggur biasa yang hampir tidak pernah diekspor. Banyak ladang pertanian kecil memiliki anggur bagus, yang menghasilkan minuman anggur yang cukup untuk keluarga dan handai tolan. .

Di beberapa bagian Prancis, sehabis panen, para petani masih bekerja keras memangkas pohon anggur mereka yang rusak dan tidak rapi, dengan pisau kuno berpegangan panjang, seperti yang mereka perbuat sejak zaman Saint Vincent dahulu kala.

Menurut cerita Burgundia kuno, orang suci inilah yang mula-mula mengajarkan bahwa pohon anggur yang dipangkas dengan ketat akan menghasilkan banyak buah. Menanam pohon anggur sehingga dapat membuat Prancis menjadi penghasil anggur terkemuka di dunia memerlukan waktu sepanjang tahun dan kerja keras yang tak kunjung selesai.

Industri Prancis juga memiliki sumber energi untuk industri modern. Pada permulaan Revolusi Industri pada awal abad ke-19, Prancis mengalami kesulitan karena tidak memiliki banyak persediaan batubara dan besi, yang pada waktu itu merupakan bagian penting industrinya.

Cadangan batubara Prancis yang tersebar tidak cukup hasilnya untuk memenuhi kebutuhan negara. Timbunan bijih besi Prancis yang penting di Lorraine dan di dekat Saar telah lama dianggap tak berguna karena kandungan fosfornya yang tinggi.

Prancis kehilangan daerah ini yang jatuh ke tangan Jerman pada akhir perang FrancoPrusia pada tahun 1871, tepat ketika orang Inggris menemukan cara membuat bijih besi semacam ini bermanfaat bagi industri.

Setelah Perang Dunia I, Lorraine dikembalikan kepada Prancis. Produksi baja meningkat dewasa ini. Pabrik-pabrik Prancis mengubah baja menjadi mesin pertanian, rel kereta api, pesawat terbang dan mesin pesawat terbang, serta kereta api dan kapal.

Baja Prancis menghasilkan mobil yang direkayasa dengan indah di pabrik-pabrik perakitan Renault, Citroen, Peugeot, dan Simca sehingga membuat Prancis menjadi negara penghasil mobil terbesar keempat di dunia. Di samping itu, Prancis adalah salah satu dari pengekspor baja terkemuka di dunia.

Sejak akhir Perang Dunia II Pemerintah Prancis telah memusatkan usahanya untuk memodernisasi produk tambang di Lorraine. Sekarang Prancis nomor satu di Eropa Barat dalam hal penggalian bijih besi dan banyak dari bijih besi itu berasal dari Lorraine. Di samping itu, hasil per kapita harian buruh tambang batubara di tambang Lorraine adalah di antara yang paling tinggi di Eropa.

Dalam industri dunia, sumber energi lain melengkapi atau mengganti batubara. Prancis memiliki banyak pembangkit listrik tenaga air dari pembendungan sejumlah besar sungainya yang mengalir deras. Sungai-sungai itu juga merupakan penyebab tumbuhnya industri tekstil Prancis. Lyons, di Sungai Rhone terkenal sejak abad ke-15 karena produk sutera halus yang dihasilkannya.

Sekarang seluruh daerah Lembah Rhone merupakan tempat beradanya pabrik yang menghasilkan kain sintetis bermutu tinggi, yang banyak di antara bahan ini mula-mula dibuat untuk haute couture, atau mode yang canggih, untuk para perancang Paris. Rouen, di Sungai Seine, juga memiliki industri kain sintetis yang maju; kain katun dan kain wol dibuat di daerah utara dan timurlaut Prancis.

Minyak masih dihasilkan di ladang Parentis di sebelah selatan Bordeaux, tetapi persediaannya telah berkurang. Meskipun demikian, Prancis memiliki industri penyulingan minyak dalam skala besar yang bergantung pada minyak mentah yang diimpor dari Afrika Utara dan Timur Tengah dan harapan tetap berlanjutnya hasil penambangan baik di pantai maupun di lepas pantai.

Pada tahun 1951 persediaan gas alam yang besar ditemukan di dekat kota Lacq di kaki Gunung Pyrenee sehingga mengakibatkan daerah itu menjadi pusat industri kimia dan plastik Prancis yang penting. Namun, persediaan di sana juga hampir habis dan sekarang Prancis harus mengimpor lebih dari setengah kebutuhannya.

Di luar sumber-sumber energi ini, Prancis telah memanfaatkan laut di lepas pantai Britania untuk membangun stasiun tenaga ombak pertama di dunia di Sungai Rance dekat Dinan. Persediaan uranium di Prancis tengah dipergunakan untuk memberi bahan bakar reaktor nuklir yang menggerakkan mesin pembangkit yang besar. Di Odeillo di Pegunungan Pyrenee, stasiun percobaan tenaga matahari menggunakan panas matahari untuk menghasilkan energi.

Prancis juga kaya akan “logam ringan” seperti aluminium yang sangat penting dalam ekonomi dunia, khususnya dalam industri pengangkutan. Bijih aluminium atau boksit, yang namanya diambil dari Les Baux, sebuah kota di Prancis selatan tempat logam ini pertama kali ditemukan, ditambang pada abad ke-19.

Meskipun Prancis memiliki semua industri berat yang demikian penting bagi ekonomi modern, negara ini juga memiliki industri barang mewah yang menyebabkannya terkenal. Sebuah label bertuliskan ”diimpor dari Prancis” masih merupakan tanda kualitas dan menjamin penjualan di banyak negara lain. Tanah liat Prancis diolah menjadi keramik porselin Sevres dan Limoges yang dihias secara indah lembut. Terkenal juga kristal Baccarat dan St. Louis yang diukir dengan tangan.

Paris adalah pusat tradisional industri barang mewah Prancis yang penting. Di sana dihasilkan permata yang sangat elok”, tas tangan yang halus, dan sepatu yang dibuat dengan indah seringkali oleh perusahaan kecil yang ternama di dunia. Paris-bagi keceriaan wanita di seluruh dunia juga merupakan pusat mode pakaian.

Industri ini sangat membantu ekonomi Prancis dan juga bagi kemasyhuran Prancis sebagai negara tempat tolok ukur gaya pakaian. Dewasa ini nama-nama termasyhur di bidang ini seperti Dior, Chanel, dan Givenchy, telah diikuti oleh banyak perancang mode yang lebih muda. Terdapat juga perusahaan yang selalu mengikuti gaya yang menghasilkan pakaian yang tidak begitu mahal, tetapi potongan dan bentuknya berarti ”Paris” di tempat-tempat yang jauh seperti Tokyo dan Tahiti.

Kota Penting Prancis

Semua kota Prancis sangat bangga akan jasanya terhadap bangsa di masa lampau dan usahanya untuk masa depan. Hampir tidak ada kota di Prancis yang tidak memelihara dengan cermat-dan bahkan memugar berbagai monumen dan peninggalan sejarah Prancis. Namun, kota besar juga bangga akan pusat pembangkit tenaga listrik yang besar dan pabrik-pabrik yang bekerja secara otomatis.

Gelanggang Romawi di Arles, Prancis
Gelanggang Romawi di Arles, Prancis sejak abad ke-2 Masehi

Karena kota-kota di Prancis mampu mencerminkan keindahan dan keanekaragaman negeri itu, kota-kota itu telah digambarkan sebagai untaian permata sebuah mahkota. Dari semua permata itu, Paris selalu merupakan permata terbesar dan yang paling berkilauan.

Pada abad ke-19, penulis Amerika Oliver Wendell Holmes menulis, ”Orang Amerika yang baik, bila mereka mati, pergi ke Paris.” Bagi banyak orang, Paris tetap sebagai surga. Kota-kota lain disepadankan dengan Paris dan dinamakan ”Paris utara” atau ”Paris selatan”.

Ada berbagai nyanyian tentang kota Paris di setiap bahasa dan hampir di mana-mana di dunia nama Paris senantiasa membangkitkan bayangan kegembiraan, kemewahan (keanggunan), dan keindahan.

Bertahun-tahun keadaan kota Paris telah menarik para artis dan cendekiawan dari semua negara. Mereka semua tertarik ke Paris karena sifat bebasnya dan mendapatkan sesuatu yang khusus karena tinggal di sana. Mereka juga membantu kota Paris mendapatkan julukan la ville lumiere atau Kota Cahaya.

Marseilles

Marseilles, di Laut Tengah, adalah pelabuhan utama Prancis. Kota itu juga merupakan salah satu kota yang tertua dan selalu merupakan pintu gerbang ke Timur. Sejak zaman kuno, baik barang-barang maupun kebudayaan Afrika, Timur Tengah, dan Asia memasuki Prancis lewat pelabuhan Marseilles.

Hampir segala sesuatu dalam kehidupan Marseilles ada hubungannya dengan laut-dari pasar ikan, yang beraneka warna dan hiruk-pikuk penuh kegembiraan, sampai ke puncak bukit tempat beradanya gereja Notre Dame de la Garde, orang suci pelindung armada nelayan kota.

Dari jalan yang paling ramai, La Canebiére, pelabuhan kuno itu hanya beberapa langkah saja letaknya. Di situ, berpuluh restoran menyediakan makanan khusus Marseilles yang disebut bouillabaisse, yaitu ikan rebus yang lezat cita rasanya serta sebuah pemandangan indah dari segala keramaian kota pelabuhan yang sibuk itu.

Marseilles merupakan tempat bertolak yang ideal untuk perjalanan ke tempat berlibur di Riviera-misalnya Cannes, Juan-les-Pins, Antibes, dan Nice yang berderet di sepanjang pantai Laut Tengah. Di dekatnya juga terdapat kota perbukitan Provence dan Languedoc yang indah, misalnya Aix-en-Provence, Arles, Avignon, NTmes, Orange, dan Carcassonne-yang penuh dengan teater dan gedung kuno peninggalan zaman Romawi Kuno.

Kira-kira 270 km di sebelah utara Marseilles terletak Lyons. Kota pelabuhan penting ini terletak di tempat bertemunya Sungai Rhone dan Sungai Saone dan merupakan pusat komunikasi. Lyons merupakan tempat tradisional pabrik sutra Prancis meskipun dewasa ini banyak tekstil halus juga diproduksi di sana. Alat-alat kimia, farmasi, dan listrik adalah hasil industri Lyons yang lain.

Kota ini terkenal juga akan pekan raya dagang dan pameran internasional tahunannya. Pengusaha dan pedagang besar dari pelbagai negara turut serta dalam pekan raya itu, dan semua suguhan dari penjuru dunia dapat dicicipi di sana-termasuk bermacam-macam sosis dari Lyons.

Strasbourg

Strasbourg, ibu kota Alsace, adalah pelabuhan Prancis pada sungai Eropa yang paling penting-Sungai Rhein. Karena sungai dan banyaknya kanal (seperti Rhone-Rhein dan Marne-Rhein), kota itu telah lama menjadi persimpangan jalan bagi perdagangan dan industri.

Besi dan baja dari Lorraine, batubara dari Jerman, dan beratus-ratus hasil lainnya dikirim melalui Strasbourg. Industri kota itu meliputi industri logam, pembuatan minuman keras, dan pemrosesan makanan. Hasil makanan yang paling terkenal adalah makanan yang terbuat dari hati angsa yang dinamakan pate de foie gras.

Strasbourg toh tidak selalu menjadi kota Prancis. Sampai tahun 1681, dan lagi antara tahun 1871 dan 1919, Strasbourg merupakan kota Jerman sehingga sebagian besar kebudayaannya masih bersifat Jerman sampai saat ini.

Pada tahun 1949 kota itu benar-benar menjadi kota internasional ketika dipilih sebagai markas besar Dewan Eropa, suatu organisasi yang didirikan untuk bekerja ke arah persatuan dan kemajuan Eropa.

Toulouse

Toulouse, sebelah utara Pyrenee, merupakan ibu kota Prancis baratdaya yang bersejarah dan merupakan pusat industri pesawat terbang Prancis. Di sana pabrik raksasa Sud-Aviation membuat jet Caravelle, yang digunakan secara luas di Eropa, dan menangani Concorde, pesawat terbang supersonik raksasa yang dibuat secara patungan oleh Prancis dan Inggris. Toulouse memiliki salah satu bandar udara terbesar di Prancis.

Kota itu juga telah menyumbang ke dalam menu makanan Prancis cassoulet, makanan lezat yang terdiri atas angsa, sosis, daging babi, dan buncis rebus.

Kota besar penting Prancis lainnya termasuk Bordeaux, kota industri dan pelabuhan utama dan juga pusat anggur; dan Lille, pusat industri di daerah utara.

Tempat Menarik di Prancis

Pemandangan di Prancis sangat bervariasi, mulai dari pantai Britania yang kasar dan berangin kencang, yang menghadap ke Samudra Atlantik, sampai ke tempat pelancongan Nice dan Cannes di Laut Tengah dengan jajaran palemnya. Tiap-tiap daerah memiliki ciri dan keindahan yang menonjol untuk menarik pandangan mata.

Carcassone, benteng abad pertengahan
Carcassone, benteng abad pertengahan, di atas sebuah bukit Prancis baratdaya

Namun, Prancis sama-sama kaya akan karya manusia sehingga baik orang Prancis maupun wisatawan dapat menyaksikan seluruh pemandangan sejarah yang tersebar di seluruh negeri.

Di kaki gunung Alpen, terdapat kota-kota dengan jalan bertangga yang curam seperti Briangon. Dengan berhiaskan benteng-benteng kuno, Briangon merupakan salah satu kota berdinding paling tinggi di Eropa Barat. Carcassonne, di Prancis baratdaya dekat Pegunungan Pyrenee, masih terpelihara dengan baik.

Pemugaran kota abad pertengahan, dengan menara dan dindingnya yang berhiaskan lubang terobosan ini dimulai pada abad ke-19 di bawah pimpinan arsitek Prancis terkemuka Eugene Viollet-IeDuc.

Pemugaran itu adalah demikian persisnya sehingga suatu kunjungan ke Carcassonne terasa seperti kunjungan kembali ke abad ke-12, seolah-olah abad ke-12 muncul lagi berdampingan dengan abad ke-20.

Kira-kira 640 km ke timur, terdapat bukit bergelombang yang penuh dengan pohon anggur di daerah Champagne dekat lembah Sungai Marne. Daerah nyaman ini, yang merupakan pusat anggur Prancis yang terkenal, juga memiliki taman makam militer dari kedua Perang Dunia, saksi bisu dari pertempuran di masa lampau.

Rheims, kota terbesar di daerah Champagne, memiliki salah satu katedral yang paling indah di Prancis. Katedral itu merupakan tempat penobatan 24 Raja Prancis.

Di sebelah selatan, dekat tempat peristirahatan Riviera (Cote d’Azur, atau ”pantai azure”) terletak Provence yang berangin kencang dan kering. Di sini pohon zaitun yang berlekuk-lekuk, membayang hitam menentang langit yang biru cerah, dan rumah-rumah kecil dengan ciri khas atap kuning menggerombol di lereng bukit. Mudah dilihat mengapa daerah ini senantiasa digemari oleh baik seniman Prancis maupun seniman asing.

Di daerah Selat, di sebelah utara, terdapat bukit-bukit pasir di pantai Dunkirk dan pelabuhan besar Le Havre dan Cherbourg. Banyak dari kota yang lebih kecil di sepanjang bentangan pantai ini adalah kampung nelayan, karena Prancis selalu menggunakan laut sebagai sumber makanan dan jalan utama perdagangan.

Puncak Mont Saint Michel
Puncak Mont Saint Michel di atas pantai selat

Kapal penangkap ikan Prancis diperbaharui secara sempurna setelah Perang Dunia II. Kapal itu masih berlayar dari pelabuhan-pelabuhan Selat di Boulogne dan Dieppe, mengangkut banyak sekali hasil penangkapan ikan cod, herring, dan sarden dari Samudra Atlantik.

Air dingin di lepas pantai karang Britania menghasilkan udang, kepiting, dan kerang yang paling baik di dunia. Setiap tahun, desa Breton yang kecil di Locmariaquer merayakan permulaan musim kerang dengan mengadakan sebuah perayaan yang diikuti oleh masyarakat dan para pengunjung.

Di pantai Selat melewati Cherbourg berdiri Biara Mont-Saint-Michel. Karena dibangun di atas tanah yang menjorok dan merupakan pulau di waktu gelombang pasang, biara itu merupakan salah satu keindahan Prancis yang unik selama lebih dari 10 abad.

Jauh ke sebelah selatan sepanjang pantai Atlantik terdapat lagi bukti sejarah kekuasaan maritim Prancis. Brest merupakan pelabuhan Atlantik yang penting, sedangkan Saint-Nazaire adalah galangan kapal terbesar negeri itu, yang membuat banyak kapal trans-Atlantik.

Di ujung paling selatan, dekat perbatasan Spanyol, terdapat kota Biarritz. Pada pertengahan abad ke-19, tertarik oleh iklim yang sejuk dan suasana yang tenang, keluarga kerajaan mulai berlibur di sana. Biarritz dengan pantainya yang indah, hotel-hotel dan tokoh-tokohnya yang elok, serta kasinonya yang ramai merupakan salah satu tempat berlibur yang paling terkenal di dunia.

Kira-kira 130 km di sebelah timur ke daerah pedalaman terletak kota kecil Lourdes. Di sana, pada tahun 1858, seorang gadis kecil bernama Bernadette Soubirous berkata bahwa ia telah melihat bayangan perawan Maria.

Cerita ini dan air dari mata air Lourdes yang diyakini memiliki daya penyembuh penyakit telah membuat kota itu menjadi sasaran peziarah agama sejak dahulu kala. Beratus ribu peziarah datang ke Lourdes setiap tahun untuk berdoa di basilikanya dan disembuhkan dari airnya.

Di tengah-tengah ladang gandum dan tanah datar di Prancis utara tengah yaitu di Cekung Paris-terletak kota Chartres. Katedral Gotik Chartres yang besar dengan jendela kacanya yang berbintik-bintik merupakan salah satu prestasi besar abad pertengahan.

Bahkan lebih dekat ke Paris terdapat dua bangunan besar yang dibangun untuk menunjukkan kekuasaan, keagungan, dan kemegahan raja-raja Prancis. Istana Fontainebleau mulai dibangun selama pemerintahan Raja Francis I pada abad ke-16 dan setiap raja penerusnya menambahinya.

Hutan Fontainebleau kira-kira seluas 16.154 hektar dan masih perawan-berada di bawah perlindungan pemerintah. Istana itu masih terkenal dengan para senimannya, seperti pada abad ke-19, ketika para pelukis seperti Jean Baptiste Camille Corot dan lean Francois Millet tinggal dan bekerja di sana.

Di sebelah baratlaut Fountainebleau terletak Versailles, istana Raja Louis XIV. Dengan dinding kaca, tangga-tangga yang megah, dan tamantaman yang indah, Istana Versailles merupakan peninggalan zaman ketika Prancis merupakan pusat politik Eropa.

Galirie des Glaces (Balai Cermin)
Galirie des Glaces (Balai Cermin) salah satu kemegahan Versailles

Setiap musim semi dan musim panas son et lumiere atau “pertunjukan cahaya dan suara” diadakan di Versailles, dengan menampilkan suara para aktor besar Prancis sehingga menimbulkan kenangan masa lalu istana itu.

Beratus-ratus mil ke arah selatan, melewati beberapa daerah pertanian dan industri penting Prancis, hal-hal yang mencolok masih berlimpah. Di dekat Perigueux terdapat Gua Lascaux, yang dinding dan langit-langitnya diliputi oleh lukisan binatang dari zaman prasejarah. Gua itu telah tertutup bagi pengunjung sejak tahun 1963 karena para ilmuwan sedang mencari cara mencegah jamur yang merusak lukisan itu.

Di Avignon, di tepi Sungai Rhone di tenggara Prancis, terdapat istana benteng abad ke-14. Istana-dan tembok yang mengelilingi kota itu mulai berdiri sejak zaman lampau ketika sejumlah paus Prancis memerintah di Avignon dan bukannya di Roma.

Pulau Korsika, di lepas pantai Italia di Laut Tengah di sebelah baratdaya Livorno, telah menjadi bagian Prancis sejak abad ke18. Pulau bergunung yang dahulu pernah terkenal sebagai tempat persembunyian bandit, itu juga terkenal sebagai tempat kelahiran Napoleon.

Rumah keluarga Bonaparte mungkin masih terlihat di Ajaccio, yang merupakan ibu kota dan pelabuhan penting Korsika. Kota itu juga memiliki museum lain yang dipersembahkan untuk Napoleon; juga terdapat taman-taman dan jalan-jalan yang dinamakan menurut namanya. Pengunjung juga dapat menikmati pantai yang amat indah di dekat Ajaccio dan tempat-tempat lain di pulau itu.

Di bawah terik matahari Laut Tengah di sebelah tenggara terletak kota Grasse. Di dekatnya, ladang bunga mawar, violet, dan putri malu membentuk petak-petak berwarna-warni yang menyedapkan pandangan mata. Aroma wangi bunga itu terserap dalam minyak wangi yang diproduksi di Crasse “pusat perusahaan minyak wangi dunia”.

Ke arah barat, beberapa mil melewati Marseilles, terdapat pelabuhan minyak laut-dalam Fos. Di tempat itu terutama pada tahun 1970, Prancis mendirikan secara besar-besaran dan penuh ambisi kompleks fasilitas pelabuhan modern dan banyak pabrik-yang menghasilkan baja, plastik, dan barang-barang lain-yang tersebar di daerah rawa-rawa yang telah ditimbun.

Tempat ini terletak di dekat daerah delta Rhone yang terkenal sebagai Camargue, yang rawa dan lagunanya telah lama menjadi cagar alam bagi burung dan satwa liar. Sekawanan kuda kecil masih berkeliaran di daerah itu, sementara di dekatnya penggembala ternak memelihara sekumpulan besar ternak hitam.

Setiap musim semi dan rontok, kota kecil Camargue Saintes-Maries de-la-Mer, di muara Sungai Rhone, memperingati hari raya keagamaan yang diadakan selama berabad-abad. Upacara itu termasuk pemberian rahmat kepada ternak yang digiring ke laut menerima semacam pembaptisan. Namun, di samping tradisi kuno, industri dan proyek reklamasi tanah yang luas telah mulai membawa Camargue mendekati abad ke-20.

Perencanaan Lingkungan

Orang Prancis akan merasa sangat sedih bila industrialisasi dan kemajuan merusak tanah mereka. Oleh karena itu, pemerintah dan industri telah bekerja sama dalam usaha memelihara keindahan asli negara dan warisan masa lampau sekaligus mempromosikan penggunaan sumber daya Prancis secara besar-besaran.

Kapel Ronchamp

Apabila situasi memungkinkan, suatu kebijakan perencanaan lingkungan (amenagement du territoire) dipakai untuk tetap mempertahankan keaslian daerah pedesaan sekaligus memenuhi tuntutan produksi.

Pengaruh kebijakan ini dapat dilihat di seluruh Prancis-dalam membangun sistem jalan raya modern yang sangat besar, pemugaran amfiteater Roma atau sebuah gereja kuno; pembangunan industri baru, proyek penghijauan yang luas; pembinaan lahan terbengkalai yang menjadi sarang nyamuk, seperti daerah sepanjang pantai paling barat Laut tengah menjadi tempat hiburan modern.

Rakyat Prancis

Kesibukan mencari uang, dan mencari lebih banyak uang, supaya dapat membeli segala perlengkapan dan barang mewah bagi kehidupan modern, telah membawa banyak perubahan cara hidup orang Prancis. Lebih banyak jumlah orang yang bekerja daripada sebelumnya.

Di kota-kota besar, tradisi makan siang yang santai telah hilang. Kantor, toko, dan pabrik telah mendapat keuntungan besar dengan dijadwalkannya waktu makan siang yang singkat di ruang makan perusahaan. Hampir di semua lapangan pekerjaan, peningkatan hasil makin diutamakan.

Jadi, orang Prancis ”khas” menghasilkan uang lebih banyak dan membeli barang konsumen lebih banyak daripada orang Prancis satu generasi yang lalu. Ia mencapai peningkatan dalam kenikmatan dan kesenangan hidup. Kerugian yang dialami hanyalah dalam masalah rasa keunikan pribadinya, atau individualitas.

Sebagian orang mengatakan bahwa Prancis telah diamerikakan. Hal ini karena Amerika Serikat merupakan lambang dunia bagi masyarakat teknologi dan produksi konsumtifnya. Apa yang dinamakan Amerikanisasi Prancis menimbulkan kritik. Terdapat pula kritik terhadap industrialisasi dan modernisasi.

Berbagai kritik itu mengkhawatirkan bahwa “kehidupan pabrik besar” akan menghapus kenikmatan gaya hidup Prancis yang santai (tapi kurang produktif) dan yang lebih lemah lembut. Mereka mempertanyakan apa yang akan terjadi terhadap cita rasa, keelokan, dan penanaman hal-hal yang indah dalam kehidupan-seperti menikmati aroma segar buah apel yang baru dipetik, berjalan-jalan di tepi sungai, atau hanya menghabiskan waktu mengobrol di sebuah kafetaria setempat?

Sejak akhir tahun 1950-an kehidupan Prancis telah memiliki sifat cepat, tegang, dan memburu perolehan materi. Beberapa kritik pedas terhadap cara hidup baru datang dari anak muda, terutama dari mahasiswa perguruan tinggi. Mereka berkepentingan dengan masa depan dan khawatir bahwa Prancis sedang terancam oleh kemegahan budaya persaingan yang berorientasi kepada materi.

Kadang-kadang mereka bereaksi menentang perubahan ini dengan tindakan yang sangat keras. Pada tahun 1968, rasa tidak puas mahasiswa meluas dari Paris ke seluruh negeri. Kegelisahan mencekam negara ketika buruh-buruh pabrik mengadakan serentetan pemogokan yang melumpuhkan.

Meskipun memperoleh banyak kritik, banyak orang Prancis merasa berkewajiban mempertahankan Prancis sebagai negara terkemuka dalam dunia ekonomi modern. Mereka menyadari bahwa kehidupan sekarang membawa lebih banyak hasil, kesenangan, dan kenikmatan dibanding dengan kehidupan di masa lampau. Mereka percaya bahwa Prancis yang modern dan terindustrialisasi lebih disukai daripada yang kuno.

Jumlah Penduduk yang Berubah

Sejak tahun 1940-an dan saat pendudukan Jerman dalam perang dunia, rata-rata kelahiran Prancis telah naik dan penduduk Prancis telah bertambah. Jumlah seluruh penduduk telah melebihi 54.500.000 jiwa. Sepertiganya adalah anak di bawah usia 20 tahun-suatu perbandingan yang lebih besar daripada yang telah dimiliki Prancis sejak awal abad ke-19.

Hal ini berarti suatu tuntutan yang mendesak akan sekolah yang lebih besar dan lebih baik untuk mendidik anak-anak muda dalam ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia sekarang. Hal ini memerlukan penciptaan pekerjaan baru untuk membawa jumlah besar pemuda dan pemudi ke dalam kehidupan negara yang produktif.

Keadaan ini mengakibatkan menumpuknya sejumlah besar daya beli di tangan anak belasan tahun dan orang muda. Mereka ini adalah pembeli-pembeli yang ingin menikmati apa yang dapat diperoleh sekarang, yang merasa pasti akan masa depannya, yang seleranya menunjukkan keinginan untuk bereksperimen, mencoba yang baru, menghabiskan, dan mengganti barang-barang. Sikap ini bertentangan dengan sikap tradisional Prancis, yaitu membuat barang-barang yang dimiliki seawet mungkin.

Rakyat Prancis, yang merupakan sumber daya terbesar negara, merupakan masyarakat campuran. Alasannya mudah saja-pertama, Prancis tidak memiliki daerah perbatasan alam yang hebat (bahkan pegunungan Pyrenee dan Alpen memiliki celah-celah yang mudah ditembus) sehingga mudah dicapai lewat jalan darat; kedua, pantai yang luas, yang menghadap ke Selat Inggris, Samudra Atlantik, dan Laut Tengah, dan ditandai oleh muara-muara sungai yang dapat dilayari sepeti Sungai Seine, Loire, Gironde, dan Rhone, menyebabkan daratan Prancis juga dapat dicapai melalui perairan.

Pertama, terdapat orang primitif dan kemudian penjelajah dan para pedagang-yakni orang Funisia dan Yunani dari Laut Tengah bagian timur-yang sebagian tinggal dan menetap. Dalam abad-abad selanjutnya datanglah bangsa Kelt, Romawi, Teuton (seperti bangsa Prancis yang berbahasa Jerman), Norse, Arab Afrika Utara, dan Yahudi. Semua bangsa ini menunjang kebesaran

Prancis dewasa ini

Akhir-akhir ini, banyak unsur bangsa Prancis modern berasal dari keturunan Senegal, Kongo, Indocina, bangsa Afrika dan Asia lainnya, demikian juga bangsa Jerman, Rusia, Polandia, Italia, Spanyol, dan bangsa-bangsa lainnya.

Orang Prancis bersifat toleran terhadap berbagai macam perbedaan. Ini tidak berarti bahwa orang Prancis sama sekali tidak berprasangka, tetapi pada umumnya mereka tidak mengucilkan seluruh golongan.

Senantiasa terjadi asimilasi yang terus-menerus dari pendatang baru. Dengan demikian, untuk menjadi orang Prancis, orang tidak memerlukan leluhur seperti halnya jika orang ingin “merasa” sebagai orang Prancis.

Pendidikan

Salah satu pengaruh yang paling kuat dalam pembentukan bangsa Prancis adalah pendidikan. Dewasa ini, sekolah Prancis sedang memainkan peranan penting dalam mengubah bangsa Prancis menjadi masyarakat modern. Di masa lampau warisan kebudayaan diteruskan hanya pada sekelompok kecil orang elite dari setiap generasi.

Sekarang semua anak Prancis memiliki kesempatan menemukan dan mengembangkan kemampuan dan bakat mereka. Sebagai hasil dari serangkaian pembaharuan, dua perubahan penting telah terjadi dalam pendidikan.

Pertama, terdapat variasi mata kuliah, yang memungkinkan semua mahasiswa memiliki pilihan karier profesional dan teknik yang luas, yang diperlukan dalam dunia dewasa ini. Kemudian orang tua dan sekolah bekerja sama demikian rupa sehingga dapat dipilih sebuah program yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan unik masing-masing anak.

Belajar merupakan hal yang wajib bagi anak anak berusia antara 6-16 tahun. Terdapat écoles maternelles atau taman kanak-kanak negeri ataupun swasta, bahkan sebagian di antaranya menerima anak-anak yang berusia 2 tahun.

Di kelas delapan, jika siswa ingin bersiap-siap memasuki sekolah menengah “klasik” yang tradisional, mereka mulai mempelajari bahasa Latin atau Yunani. juga terdapat program lain, termasuk program-program pendidikan dua bahasa asing modern, atau mereka boleh meneruskan ke pendidikan umum yang dipadukan dengan pelatihan kejuruan.

Siswa yang masuk ke akademi, selama 3 tahun, memperoleh berbagai mata kuliah pokok yang dapat dipilih misalnya kesusastraan, ilmu pengetahuan sosial, matematika, ilmu murni dan ilmu terapan, serta ilmu tambahan baru yang penting, misalnya teknologi industri, yang mencerminkan kebutuhan baru ekonomi. Pada akhir tahun ketiga, siswa menempuh ujian yang ketat untuk memperoleh titel sarjana muda.

Di perguruan tinggi juga telah terjadi perubahan penting. Di saat kebangkitan protes mahasiswa pada tahun 1968, kebanyakan universitas yang besar dipecah-pecah menjadi bagian yang lebih kecil untuk menjadikan mereka lebih peka terhadap kebutuhan mahasiswa.

Mahasiswa dan dosen diberi peranan dalam administrasi dan, sebagai ganti kontrol pusat atas anggaran dan kurikulum oleh departemen pendidikan, universitas yang multi disipliner itu ditata kembali dan diubah menjadi institusi yang mandiri. Sekali lagi, lebih banyak mata kuliah sains dan teknologi telah ditambahkan.

Meskipun kurikulum seperti itu masih agak baru dalam pendidikan Prancis, mahasiswa yang memilihnya bagaimanapun masih mengikuti tradisi Prancis yang kuno dan mulia. Banyak kemajuan di bidang sains dan obat-obatan dicapai oleh orang Prancis dan orang lain yang menganggap Prancis sebagai tanah airnya.

Rekreasi

Anak muda di Prancis dewasa ini menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh seperti orang tua mereka melaksanakan pekerjaan dan profesinya.

Namun, orang Prancis sadar bahwa ”bekerja, tanpa main-main akan membuat si anak menjadi dungu”. Kesenangan dan pengisi waktu luang tersedia melimpah dan tersedia untuk segala selera.

Televisi merupakan pengisi waktu santai bagi banyak keluarga. Terdapat dua jaringan televisi, yang keduanya dioperasikan oleh pemerintah. Program yang disajikan pun bervariasi. Jenis hiburan yang paling disenangi di Prancis adalah musik pop, baik itu disajikan lewat TV, rekaman-rekaman, atau pertunjukan langsung.

Sebagaimana di tempat lain, jenis musiknya bervariasi dari hard rock sampai folk. Namun, lagu-lagu populer yang dapat bertahan agak lama adalah lagu-lagu yang bersenandungkan cinta tentang suka dukanya bercinta, cinta pertama atau patah hati, atau sepinya hidup tanpa cinta.

Seorang penyanyi dapat dikatakan mempunyai reputasi jika dia dapat tampil di Olympia, panggung musik Paris yang sudah terkenal dari dahulu. Di sana, biduan dan biduanita, termasuk Charles Aznavour dan Mireille Mathieu, membuat rekor dari tahun ke tahun menyanyi untuk para penggemar mereka.

Penampilan penyanyi secara perorangan di propinsi-propinsi pun kini merupakan bagian dari wajah hiburan Prancis. Dengan adanya subsidi pemerintah untuk bidang seni, gedung pertunjukan menjadi berlipat ganda sehingga hampir semua kota di Prancis mempunyai gedung kesenian, bahkan sampai gedung pertunjukan kecil yang hanya dapat menampung 50 orang.

Akan tetapi, di mana pun gedungnya dan apa pun yang dipertunjukkan, harga karcis murah dan selalu penuh sesak. Ini semua dilakukan dalam upaya menjaga tradisi pemasyarakatan seni di Prancis-yang merupakan salah satu faktor yang membuat Prancis menjadi Prancis.

Makanan Prancis

Daya tarik Prancis lain yang universal adalah makanan, sebab makanan yang baik selalu menjadi salah satu pengisi waktu santai yang digemari rakyat Prancis. Di gua-gua dekat kota perbukitan Roquefort di bagian selatan Prancis tengah, dimasak keju berurat-biru yang lezat.

Roquefort, yang terbuat dari susu domba, merupakan sajian istimewa di seluruh dunia, seperti juga halnya brie, camembert, port-salut, dan coulommiers. Lebih dari 400 jenis cita rasa keju yang dihasilkan di Prancis dan keju hanya merupakan salah satu penanda bahwa orang Prancis menyukai makanan yang lezat.

Le bon goat (selera tinggi) merupakan hal yang penting jika orang membicarakan makanan, juga dalam setiap aspek kehidupan Prancis. Bukan suatu yang asing jika pengunjung melihat penjual daging atau penjaja makanan merawat barang dagangannya dengan apik dan penuh perhatian ibarat seorang seniman, sedangkan para ibu rumah tangga Prancis merasa sangat bangga-ketika mempersiapkan makanan, bahkan makanan yang paling sederhana sekalipun.

Dari depot yang paling kecil sampai restoran yang paling bergengsi, makan malam merupakan kesenangan di Prancis. Setiap makanan menawarkan cita rasa yang khas. Untuk sarapan, ada croissants yang berlapis-lapis, brioches, petits pains yang garing, dan jenis roti lain yang dapat dinikmati dengan selai dan menghirup secangkir café au Iait panas.

Makanan istimewa lain yang disajikan panas-panas dengan keju di atasnya adalah soupe & I’oignon (sup bawang merah); escargots bourguinonne (siput yang disajikan dengan bawang dan bumbu); atau pot-au-feu, makanan rebus yang sedap; yang semuanya disertai dengan beberapa potong roti untuk dinikmati dengan kuah dan saus yang disediakan.

Berbagai variasi telur dadar halus dikonsumsi setiap hari di Prancis, sedangkan biftek et pommes frites (daging dan kentang goreng) merupakan hidangan yang selalu terkenal. Untuk makanan pencuci mulut, tersedia beratus-ratus jenis kue yang siap dipilih. Atau, pengunjung yang beruntung dapat memilih sepotong mousse au chocolat, creme caramel, atau mengakhiri makanannya dengan segelas glace (es krem).

Di banyak restoran Prancis yang mewah, khususnya yang berada di Paris, kaca kristal yang gemerlap, taplak putih yang memesona, piranti makan yang berkilauan merupakan pelengkap gastronomie (makanan yang sangat mewah). Di tempat ini juga disajikan chateaubriand atau sonflef yang dapat dinikmati dengan perlengkapan makan yang elok atau bahkan dengan urutan yang mendebarkan.

Satu jenis makanan yang tampak sederhana saja pembuatannya dapat melibatkan enam kepala juru masak. Makanan Prancis adalah kesenangan yang dapat dinikmati para wisatawan bersama orang Prancis dan makanan Prancis merupakan bentuk seni yang dikagumi dan ditiru di mana-mana.

Olahraga

Dengan tumbuhnya penduduk berusia muda, olahraga yang bersifat aktif menjadi semakin populer. Pendidikan olahraga sekarang merupakan bidang studi wajib baik di sekolah-sekolah maupun di Universitas. Program pemerintah yang luas adalah menyediakan fasilitas olahraga kolam renang, stadion, pusat olahraga bagi semua orang.

Penekanan baru ini telah membuat orang Prancis menjadi lebih ”menyadari pentingnya kesehatan fisik” dan telah menciptakan suasana gembira dalam kehidupan mereka. Olahraga beregu yang paling digemari adalah sepak bola dan bola basket. Di antara olahraga yang bersifat perorangan, ski merupakan yang paling digemari.

Kondisi geografis dan iklim telah membuat Prancis memiliki banyak permukaan daratan yang miring dan bersalju, khususnya di daerah Pegunungan Alpen dan di dekat Pegunungan Jura. Banyak dijumpai tempat peristirahatan musim dingin yang mengelompok di lembah atau lereng di kaki bukit yang bersalju seperti di kaki puncak Mont Blanc, termasuk Me’geve, Chamonix, dan Grenoble-karena tempat itu juga merupakan tempat diselenggarakannya Olimpiade musim dingin tahun 1968.

Banyak kota ski kecil-seperti Courchevel, Font-Romeu dekat Prades, dan Barcelonnette-menjadi cepat terkenal. Kini hampir setiap orang Prancis dapat belajar ski karena seringkali diadakan darmawisata ke tempat-tempat peristirahatan di kaki pegunungan bersalju dengan biaya yang ringan.

Dalam musim dingin, sekolah-sekolah pindah ke arena ski, sedangkan ski merupakan bidang studi yang ditambahkan ke bidang studi yang biasa selama classes de neige (”kelas salju”) ini.

Olahraga lain yang juga populer adalah yudo, berlayar, dan ski air. La chasse (”berburu”) merupakan kegemaran banyak pria Prancis, yang mencerminkan perasaan cinta mereka pada gibier (”perburuan”)-dari ayam hutan sampai babi hutan-di atas meja. Sungai dan danau Prancis merupakan tempat yang cocok untuk memancing-jenis rekreasi lain yang digemari.

Dalam setiap musim selalu tersedia sesuatu untuk setiap orang di Prancis, tetapi bulan Agustus merupakan bulan vacances (”liburan”) bagi kebanyakan orang Prancis. Rata-rata orang Prancis kecil sekali minatnya untuk pergi melanglang buana ke berbagai penjuru dunia yang masih asing bagi mereka.

Bahkan dalam abad yang penuh keleluasaan bergerak ini, mereka akan lebih puas jika dapat pergi ke luar kota untuk menetap di pelosok-pelosok Prancis yang mereka anggap tempat mereka berakar. Banyak orang Prancis masih menunjukkan rasa cinta tanah air mereka dengan mengadakan perjalanan berkemah atau rekreasi keluarga tahunan untuk ”menghirup udara pedesaan”.

Namun, dewasa ini semakin banyak pemuda yang mengadakan perjalanan. Banyak kelompok perjalanan murah yang dibentuk-sebagian dengan objek wisata mereka sendiri-tidak saja di Prancis melainkan juga ke seluruh Eropa dan Afrika Utara.

Kesukaan lain orang Prancis adalah mobil. Daya pesona mobil ini dapat dibuktikan dengan meriahnya balap mobil tahunan Vingt-Quatres Heures yang meletihkan di Le Mans yang dilaksanakan selama 24 jam di Prancis bagian barat.

Setiap musim semi beratus-ratus ribu orang Prancis memadati rute balap mobil tradisional di Prancis bagian barat dan mereka berteriak mengelu-elukan pembalap pujaan mereka. Balap sepeda internasional, sejauh 4.800 km, yaitu Tour de France, juga sama populernya di kalangan orang Prancis dan para pembalap yang menang menjadi pahlawan di seluruh Eropa.

Lepas dari meningkatnya minat di bidang olahraga dan hiburan populer, kebudayaan Prancis yang serius masih tetap memainkan peranan yang penting dalam kehidupan rakyatnya. Bagi kebanyakan orang, baik orang Prancis sendiri maupun orang asing, yang paling penting tentang Prancis adalah kekayaannya akan seni masa lampau dan masa kini.

Karya Seni

Pernyataan penulis drama Jean Ciraudoux Sans style rien ne vit et rien ne survit: tout est dans Ie style (“Tidak ada sesuatu yang dapat hidup atau lestari tanpa gaya: gaya adalah segalanya”) memang tepat dalam hal karya seni di Prancis sebuah negeri yang selalu semarak dan menghasilkan karya seni yang besar.

Salah satu contoh karya seni yang lestari dari nenek moyang bangsa Prancis yang hidup terpencil dan primitif ditemukan pada dinding-dinding dan atap-atap Gua Lascaux, di Prancis baratdaya. Lukisan-lukisan binatang anggun ini ditemukan dalam masa Perang Dunia II dan para ilmuwan memperkirakan bahwa lukisan tersebut berusia lebih dari 20.000 tahun.

Karya seni abad pertengahan Prancis, mulai dari permadani, manuskrip bergambar, kaca-kaca yang berwarna-warni sampai pada meja altar dan patung, kebanyakan dikerjakan untuk gereja. Namun, karya seni yang paling penting sebenarnya adalah gereja-gereja itu sendiri.

Pada abad ke-12, para perancang Prancis mulai mengembangkan gaya Gotik. Dengan lengkungan-lengkungan yang anggun dan menara-menara yang ramping menatap langit, arsitektur Gotik menyebar ke seluruh Eropa dalam masa empat abad sesudah itu.

Pada abad ke-16 dan ke-17, para arsitek masa Renaisans Prancis dipengaruhi oleh gaya dari Italia. Salah seorang arsitek itu, Frangois Mansart (atap mansard diambilkan dari namanya), memakai ide-ide Italia untuk membentuk gayanya sendiri. Dia membangun banyak istana, Chateaux, dan gedung-gedung rakyat selama masa pemerintahan Raja Louis XIII dan Louis XIV.

Chateau (istana) Chenonceaux
Chateau (istana) Chenonceaux adalah salah satu tempat paling indah di Lembah Loire

Para pelukis Renaisans Prancis juga sangat dipengaruhi oleh karya Italia. Seniman abad ke-17 seringkali diilhami karya klasik dan karya dari mitologi Yunani dan Romawi atau dari Injil.

Menjelang tahun 1700 Prancis telah menjadi negeri yang paling kuat di Eropa, dan istana Raja Louis XIV, yang meninggal pada tahun 1715, telah menjadi pusat seni dan pusat politik dunia.

Selama abad ke-18, gaya Prancis dalam seni lukis dan arsitektur menjadi lebih bercorak hiasan dan dekoratif. Karya-karya itu ditiru di seluruh Eropa. Corak seni utama periode tersebut menggambarkan tentang pesta kebun, aktor, penari, dan tukang sulap atau corak yang menggambarkan kehidupan yang lebih sederhana pada masa itu.

Pada akhir abad ke-18, bersamaan dengan revolusi politik, terjadilah suatu revolusi dalam seni Prancis. Para pelukis menjadi lebih condong ke gaya eksperimental dan petualangan. Para pelukis Romantik pertengahan abad ke-19 lebih tertarik pada warna-warna hidup dan gerak dinamis dari negara-negara yang menggairahkan seperti di Afrika Utara.

Pada pertengahan tahun 1800-an, Jean Baptiste Camille Corot merupakan pelukis aliran natural yang terkenal. Hamparan tanah yang disinari cahaya matahari dan danau-danau yang dikelilingi pepohonan menunjukkan rasa cintanya pada daerah pedesaan Prancis. Edouard Manet merupakan seniman lain masa itu yang mempercayai lukisan dari kehidupan.

Para seniman andal Prancis akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dikenal sebagai kaum impresionis. Mereka melukis dari kehidupan, tetapi bukan dengan realisme fotografi; sebaliknya mereka mencoba menangkap dalam kanvas mereka efek perubahan cahaya yang lembut.

Seorang Prancis yang mempunyai pengaruh besar pada seni abad keZO adalah Paul Cézanne, pelukis pasca-impresionis yang terkenal. Minat Cézanne dalam bentuk dan struktur merupakan awal perubahan yang besar dalam seni dunia.

Menjelang dekade 1920-an, Georges Braque dan Pablo Picasso, orang Spanyol (yang tinggal di Prancis) membantu mengembangkan kubisme, yang secara sekaligus menunjukkan berbagai bidang datar suatu objek atau orang. Benda-benda yang semula mempunyai bentuk dikurangi atau dibuat abstrak sampai ke bentuk benda yang paling esensi.

Manuskrip bergambar dari abad pertengahan
Manuskrip bergambar dari abad pertengahan yang diambil dari “Le Livre de la Chasse” (Buku Berburu), oleh Gaston Phoebus. Koleksi The Cloister, Metropolitan Museum of Art, Kota New York
Gadis Bermata Hijau (1909)
Gadis Bermata Hijau (1909), lukisan cat minyak oleh Henri Matisse, di Museum Seni San fransisco, koleksi Sarah dan Michael Stein
Minggu Sore di Grande Jatte (1855)
Minggu Sore di Grande Jatte (1855), lukisan minyak oleh Georges Seurat, Metropolitan Museum Art, Kota New York
Mont Sainte Victoire (1885)
Mont Sainte Victoire (1885). lukisan cat minyak oleh Paul Cezanne, Metropolitan Museum of Art, kota New York. Koleksi H.O. Havemeyer.
Penari Berlatih di Palang (1877)
Penari Berlatih di Palang (1877), lukisan cat minyak oleh Edgar Degas. Metropolitan Museum oof Art, kota New York. koleksi H.O. Havemeyer

Abad-Abad Kesusastraan Besar

Sejak saat adanya banyak penyanyi abad pertengahan yang mengadakan perjalanan dari kota ke kota atau dari istana ke istana, Prancis telah memberikan sumbangan yang besar pada kesusastraan dunia. Banyak kecenderungan puisi dan prosa Barat lahir atau berkembang di Prancis. Selama Abad Pertengahan puisi mengungkapkan tema yang menjadi idola saat itu kepahlawanan, kemuliaan, dan cinta.

Kesusastraan Prancis abad ke-16 mencakup pengungkapan Renaisans (Renaissance, yang berarti ”kelahiran kembali”, adalah kosakata bahasa Prancis). Semangat menemukan dan kegembiraan dalam kemampuan manusia yang merupakan sifat periode itu dicerminkan dalam karya-karya penulis Prancis seperti Francois Rabelais dan Michel de Montaigne.

Namun, kurang dari 100 tahun kemudian, sebagai reaksi terhadap gaya Renaisans yang subur, kesusastraan Prancis berubah kembali. Para penulis drama abad ke-17, khususnya Pierre Corneille dan Jean Racine, menekankan adanya langkah ke belakang ke tradisi-tradisi yang lebih dahulu.

Dengan mengungkapkan berbagai kisah mitologi klasik dan sejarah lama, mereka mengadakan batas-batas yang tegas terhadap pelaku, waktu, dan tempat pada karya mereka. Mereka menggambarkan pergulatan perasaan manusia terhadap akal dan aturan. Drama kontemporer Moliere (Jean Baptiste PoqueIin) mereka memperolokkan kehidupan sehari-hari. Banyak di antara drama mereka masih dipentaskan oleh Comédie-Frangaise, teater nasional,Prancis yang terkenal di seluruh dunia.

Dalam karyanya A Discourse on Method (1637), René Descartes, seorang ahli matematika, ilmuwan, dan filsuf, mengungkapkan perasaan pada zaman itu bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu berpikir dan bertanya.

Kepercayaan bahwa manusia adalah makhluk berbudi daya merupakan inti dari aliran klasik masa itu, yang mencari tatanan, bentuk, dan gaya dalam setiap ungkapan manusia. Oleh karena itu, wajarlah kalau bahasa Prancis menjadi sorotan.

Dengan didasarkan pada bahasa Latin dan diperkaya dengan peminjaman dan penambahan dari bahasa-bahasa dan dialek-dialek lain selama berabad-abad, bahasa Prancis menjadi tidak dapat dikendalikan. Pada tahun 1635 Academie Frangaise didirikan.

Di bawah pengawasan Kardinal Richeliu (menteri utama Raja Louis XIII), akademi itu mempunyai tugas mengarahkan perkembangan bahasa dan menjaga kemurniannya. Sampai kini Akademi itu masih mempunyai fungsi yang sama.

Menjelang awal abad ke-18, para penulis Prancis berbalik menyoroti kualitas hidup manusia-khususnya dalam bidang politik dan kritik sosial. Mereka mulai mempertanyakan citra pemerintahan dan hubungan yang semestinya antara raja dan rakyat yang diperintah. Tulisan-tulisan mereka mulai mencerminkan ketidakpuasan yang berkembang di Prancis.

Sebagai kelompok, mereka dikenal dengan les philosophes, atau ”sang filsuf”, dan mereka mengemukakan prinsip-prinsip liberte’, egalite’, fraternité (”kebebasan, persamaan, persaudaraan”) yang memuncak dalam Revolusi Prancis 1789.

Baca selengkapnya: Tahap terjadinya Revolusi Prancis

Di samping itu, terdapat juga revolusi melalui kesusastraan Prancis dan, menjelang dekade 1830-an, perasaan dan imaginasi menjadi tema utama dalam tulisan Prancis. Novel dan puisi Prancis abad ke-19 merupakan contoh yang jelas adanya semangat romantik baru ini.

Pada pertengahan abad ke-19 Charles Baudelaire, dalam puisinya The Flowers of Evil, menggunakan bahasa Prancis untuk menciptakan lukisan kata atau musik kenangan. Penyair simbolis yang mengikuti jejak Baudelaire juga menggunakan kata-kata untuk melukiskan perasaan atau buah pikiran yang intens, dan bukannya dengan pernyataan-pernyataan sederhana.

Karangan Marcel Proust, Remembrance of Things Past, yaitu buku serial tentang potret suatu zaman, mulai muncul pada tahun 1913. Buku ini membawa pengaruh yang besar terhadap penulis-penulis abad ke-20 di Prancis dan di seluruh dunia.

Drama, novel, puisi, dan esai filosofis terus dihasilkan oleh para penulis Prancis pada pertengahan kedua abad ke-20 ini. Dewasa ini penerbitan buku masih merupakan industri yang utama di Prancis dan masyarakat Prancis adalah masyarakat yang gila membaca.

Pengumuman tahunan tentang pemenang sayembara sastra yang penting (seperti Prix Goncourt dan Prix Femina) selalu ditunggu oleh sebagian masyarakat ibarat pecandu sepak bola yang menunggu hasil pertandingan utama.

Musik

Sumbangan Prancis dalam dunia musik sudah sejak lama dikenal, yaitu mulai dari lagu-lagu troubadour abad pertengahan sampai pada lagu-lagu anggun dan khas ciptaan Jean Baptiste Lully seterusnya sampai pada karya para komposer dewasa ini yang kadang-kadang kedengarannya aneh.

Kebanyakan musik Prancis abad pertengahan adalah musik gerejani, yang seringkali didasarkan pada nyanyian Gregorian. Juga, kisah-kisah Injil diangkat ke dalam musik dan dinyanyikan. Komposer musik keagamaan yang penting dalam periode tersebut adalah Josquin des Prez, yang melodinya menjadi terkenal di seluruh Eropa pada akhir Abad Pertengahan.

Seperti halnya perkembangan musik gerejani, para komposer Prancis abad ke-15 dan ke-16 menulis lagu-lagu perang dan musik yang didasarkan atas suara-suara alam. Pada abad ke-16 dan ke-17, dengan mekarnya kekuasaan kerajaan, istana-istana di Prancis dan Versailles menjadi pusat musik. Komposer masa itu menulis baik musik untuk teater dan balet kerajaan maupun musik pribadi. Musik didukung-dan bahkan dihasilkan-oleh raja-raja; Raja Louis XIII sendiri adalah seorang komposer.

Kenyataannya, yang paling banyak dimainkan adalah karya-karya musik abad ke-19 yang mengalun syahdu, khususnya simponi Hector Berlioz dan cesar Franck, orang Belgia, serta komposisi piano Frederic Chopin, orang Polandia. Yang sama populernya dengan simponi tersebut adalah opera Prancis yang romantis dan berwarna-warni; mungkin yang paling terkenal adalah Faust dan Romeo et Juliette, karya Charles Counod, dan Carmen, karya Georges Bizet.

Pada akhir abad ke-19, pada saat yang bersamaan dengan para pelukis mengembangkan impresionisme, musik juga selangkah lebih maju. Setelah Claude Debussy dan Maurice Ravel, yang merupakan tokoh musik ”impresionis” pertama, muncullah musik ”kubis” dari Erik Satie dan Francis Poulenc. Musik mereka sering memesona pendengarnya seperti halnya lukisan Picasso atau Braque memikat orang yang memandangnya.

Dewasa ini Prancis masih tetap menjadi pusat musik seperti halnya dahulu kala dan pengaruhnya terus dirasakan di seluruh dunia.

Film Prancis

Dalam perkembangan dunia dewasa ini, media baru turut mengembangkan cakupan seni. Rasanya kurang lengkaplah memandang kehidupan dan kebudayaan Prancis tanpa memperhatikan prestasi Prancis di bidang layar perak. Sejak awal mula seni ini, sumbangan Prancis termasuk di antara yang paling berarti.

Sebagaimana film menjadi semakin canggih, para sutradara Prancis selalu termasuk pelopor bentuk seni baru ini. Pada tahun 1950-an para sutradara muda generasi new wave (”gelombang baru”) membuat film menjadi seni tersendiri. Nama-nama mereka terkenal bagi para pecinta film di seluruh dunia, begitu pula aktor dan aktris film Prancis.

Sejarah Prancis

Menjelang tahun 51 sebelum Masehi, pasukan Romawi di bawah pimpinan Julius Caesar telah menaklukkan banyak wilayah yang disebut Gaul-suatu wilayah yang meliputi seluruh daratan Prancis sekarang ini ditambah Belgia dan Swiss. Meskipun para pedagang Yunani dan Funisia telah menetap di pantai Laut Tengah berabad-abad sebelumnya, kemenangan Caesar menandai awal dari lima abad lebih pemerintahan asing.

Di bawah kekuasaan Romawi, kota-kota (termasuk Lyons, Nimes, dan Arles) dibangun, dan jaringan komunikasi jalan-jalan, jembatan, dan saluran air tinggi dibangun untuk melengkapi kota-kota itu. Sebagian jembatan, seperti Pont du Gard di Languedoc, masih digunakan sampai saat ini.

Pont du Gard, dekat Nimes
Pont du Gard, dekat Nimes digunakan untuk menyalurkan air selama lebih dari 1000 tahun

Di beberapa bagian Prancis jalan raya modern dibangun di atas jalanjalan Romawi kuno. Peradaban Romawi datang lewat penaklukan, tetapi lewat budaya dan bahasalah Gaul sedikit demi sedikit menjadi negeri Latin.

Pada abad ke-3 Masehi, Gaul mengalami invasi yang pertama pada bagian timur perbatasannya oleh suku Jerman pengembara. Selama dua abad berikutnya semakin banyak suku yang melakukan invasi-yakni Frank, Burgundia, dan Visigoth dan menyapu Gaul.

Romawi tidak lagi mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan dan mengusir mereka kembali, sehingga dalam beberapa kasus, para penyerang berhasil menetap dan menetapkan wilayah kekuasaan mereka sendiri berdampingan dengan wilayah yang masih dikuasai oleh Romawi.

Menjelang akhir abad ke-5, Frank berhasil mengalahkan sisa-sisa kekuatan Romawi yang berada di Gaul dan berhasil merebut sebagian besar Gaul. Sekitar tahun 500 kerajaan Frank di bawah pemerintahan Raja Clovis menerima agama Kristen. Raja-raja penerus Clovis harus berperang dengan penyerbu-penyerbu baru.

Pada tahun 732 bangsa Frank berhasil mengalahkan tentara Islam yang telah menyeberangi Pegunungan Pyrenee dari Spanyol. Sekitar tahun 800, ketika Charlemagne dinobatkan menjadi Kaisar Romawi Suci oleh Paus, bangsa Frank telah memperluas wilayah kerajaannya sampai ke daerah yang sekarang ini Austria, Jerman, Italia, dan Yugoslavia.

Di bawah pemerintahan Charlemagne (Charles yang Agung), Kekaisaran Romawi suci menjadi semakin besar. Charlemagne mendirikan sekolah, membuat undang-undang Prancis, dan memperkuat kekuasaan kerajaan.

Setelah Charlemagne wafat, kekuasaan sentral menurun, dan kerajaannya terbagi-bagi untuk para cucu yang mewarisinya. Bagian barat menjadi Francia, yang menjadi inti Prancis yang sekarang ini. Kekuasaan raja semakin melemah pada paruh kedua abad ke-9 dan serbuan ganas bangsa Viking semakin memperlemah kekuasaan itu.

Abad Pertengahan

Pada tahun 987 Hugh Capet dipilih menjadi raja Prancis oleh kaum bangsawan. Secara perlahan, dengan dukungan kaum pedagang dan kelaskelas menengah yang tumbuh .di kota-kota, kelompok Capet semakin memperkuat keberadaan monarki.

Menjelang abad ke-13 raja Prancis telah menjadi penguasa tertinggi di Eropa. Pertanian Prancis tumbuh subur. Usaha-usaha yang sejenis di kota-kota menghasilkan produk yang bermutu. Perdagangan luar negeri berkembang pesat. Universitas-universitas Prancis menyerap mahasiswa dari seluruh Eropa. Pendeknya, dalam segala bidang Prancis menjadi pusat gaya dan sumber ide Eropa.

Pada akhir Abad Pertengahan terjadilah pertentangan antara Raja Prancis, Philip IV, dan Gereja. Pada tahun 1305, salah seorang Prancis terpilih menjadi Paus Clement V. Dia memindahkan pusat kekuasaan Paus ke Avignon di bagian selatan Prancis dan, selama 70 tahun, para paus seperti menjadi boneka Raja Prancis.

Pada tahun 1378, pusat kewenangan paus kembali lagi ke Roma. (Bahkan dewasa ini, anggur yang tumbuh di daerah Avignon disebut Chéteauneuf-du-Pape, atau ”istana baru Paus”.)

Perang Seratus Tahun

Pada tahun 1066 William, seorang bangsawan Normandia suatu wilayah yang luas di bagian utara Prancis-menjadi Raja Inggris. Sejak saat itu, raja-raja Inggris menguasai lahan-lahan yang luas di Prancis. Hampir 300 tahun setelah William menaklukkan Inggris, Edward III malah menuntut tahta Prancis. Pada tahun 1337 Edward memimpin invasi ke Prancis.

Meskipun pertikaian antara Inggris-Prancis berlangsung selama satu abad lebih, perselisihan itu dikenal sebagai Perang Seratus Tahun. Inggris berhasil menaklukkan berbagai daerah yakni Crécy, Poitiers, dan Agincourt tetapi tidak pernah berhasil merebut dan menguasai tahta Prancis.

Pada tahun 1420-an Jeanne d’Arc, seorang gadis desa, muncul dalam pasukan Prancis. Dia mengatakan bahwa Tuhan telah memerintah dirinya memimpin tentara Prancis dan mengusahakan agar Dauphin ahli waris singgasana raja yang sah-dapat dinobatkan di Rheims.

Kota Orleans Prancis
Orleans, pada tahun 1492 Jeanne d’Arc memimpin pembebasan kota ini dari kepungan Inggris

Kepemimpinan Jeanne membantu mengubah arah kemenangan. Meskipun dia dikhianati dan dibakar di tiang pembakaran, semangat perjuangannya memberikan dorongan yang kuat kepada orang Prancis sehingga pada akhirnya mereka mampu mengusir para penyerang.

Pada tahun 1429 Dauphin dinobatkan menjadi Charles VII, dan menjelang tahun 1450, Prancis berhasil merebut kembali wilayahnya. Ketika perang berakhir, Kerajaan Prancis lebih kuat dan wilayah Prancis lebih terpadu daripada sebelumnya.

Pertentangan Agama

Pada abad ke-16, Reformasi-yang didasarkan pada ide Martin Luther-melanda Prancis. Banyak bangsawan dan bahkan keluarga kerajaan menjadi Huguenot, yaitu sebutan untuk orang Protestan Prancis. Timbullah perselisihan karena Raja dan Gereja mencoba menyingkirkan kaum Huguenot.

Prancis terbagi menjadi golongan-golongan dan pecahlah perang saudara. Pada tahun 1572, atas perintah raja, beribu-ribu Huguenot dibunuh di Paris dan kota-kota Prancis yang lain.

Henry IV

Stabilitas baru dicapai pada tahun 1598, ketika Raja Henry IV, yang telah berubah agama dari Protestan ke Katolik, mengumandangkan Dekrit Nantes, yang memberikan kebebasan bagi kaum Huguenot.

Di bawah kekuasaan Henry, pertanian dikembangkan dan kondisi ekonomi Prancis diperbaiki. Seiring dengan kondisi negeri Prancis yang semakin membaik, perdagangan pun meningkat. Kapal-kapal Prancis berlayar jauh dalam upaya mencari sumber kekayaan baru. Dengan demikian, Prancis mulai memperoleh koloni-koloni di Dunia Baru.

Dua belas tahun setelah Dekrit Nantes, Henry IV terbunuh. Permaisurinya, Marie de Médicis, menjadi wali untuk putra mereka, Louis XIII. Namun, kemudian timbul perselisihan antara kaum bangsawan dan, sekali lagi, antara Huguenot dan Katolik sehingga kekuasaan kerajaan semakin melemah.

Richelieu dan Raja Surya

Kardinal Richelieu mulai meningkatkan kekuasaannya di bawah Marie de Médicis pada tahun 1614. Dia akhirnya menjadi menteri utama Louis XIII, dengan kekuasaan yang absolut atas berbagai bidang pemerintahan Prancis.

Selama hampir 20 tahun dia bekerja bukan saja untuk memulihkan kekuasaan kerajaan tetapi juga untuk menjadikan Prancis sebagai negara yang paling kuat di Eropa.

Richelieu memusnahkan semua oposisi dalam negeri, termasuk kaum Huguenot dan para bangsawan. Dia memungut pajak yang tinggi khususnya kepada para petani dan pedagang kota. Dia mengembangkan perdagangan luar negeri dan memperluas Kerajaan Prancis ke Amerika Utara, Karibia, dan tempat-tempat lain.

Kebijakan luar negeri Richelieu menentang kekuasaan monarki Habsburg di Austria dan Spanyol. Sang Kardinal menyekutukan Prancis dengan musuh-musuh Habsburg dalam Perang Tiga Puluh Tahun. Hasil kerjanya merupakan dasar pemerintahan monarki absolut Louis XIV.

Louis dinobatkan menjadi raja ketika masih kanak-kanak pada tahun 1643. Untuk 18 tahun pertama dalam pemerintahannya yang berlangsung 72 tahun, menteri utamanya, Kardinal Mazarin, melanjutkan kebijakan Richelieu.

Oposisi dalam negeri Prancis, yang telah berkembang menjadi terbuka dalam masa pemerintahan si raja kecil, kembali dipersempit geraknya dan kedudukan Prancis di luar negeri dikukuhkan. Ketika Louis XIV mulai dapat menjalankan pemerintahannya sendiri, dia menjadi raja yang paling kuat di Eropa.

Pada tahun 1685 dia menghapuskan Dekrit Nantes dan kaum Huguenot melarikan diri atau disiksa bahkan dibunuh jika mereka tidak mau berpindah agama. Louis membawa Prancis ke kancah peperangan yang menelan biaya mahal dengan Spanyol, Belanda, dan Inggris, tetapi sedikit sekali yang diperoleh Prancis.

Dia menjelaskan teorinya bahwa dia adalah wakil Tuhan di bumi (dan tidak bertanggung jawab kepada siapa pun) dengan kata-katanya, ”I’etat c’est moi (negara adalah aku)”. Segala sesuatu yang dilakukannya merupakan cermin kekuasaan tunggal le roi soleil-“raja surya”.

Pada awal abad ke-18, Louis XV menggantikan kakeknya sebagai raja. Kekuatan kerajaan tampak kuat seperti yang pernah dicapai sebelumnya, tetapi di bawah permukaan kesulitan yang dihadapinya makin berkembang. Prancis dikalahkan oleh Inggris dalam Perang Tujuh Tahun dan kehilangan banyak wilayah kekuasaannya di Amerika Utara.

Menjelang tahun 1774-ketika Louis XVI menjadi raja ketidakpuasan sosial, politik, kondisi ekonomi, dibarengi dengan tumbuhnya kelas menengah yang terdidik membuat situasi menjadi semakin panas. Protes, huru-hara, dan perselisihan berkembang menjadi sebuah revolusi yang menghapuskan rezim yang terdahulu. Raja, Gereja, dan hak istimewa dihapuskan.

Revolusi Prancis

Bantuan Prancis terhadap koloni-koloni Amerika dalam revolusi menghadapi Inggris menguras keuangannya. Untuk meningkatkan kondisi keuangan kerajaan, pada tahun 1789 raja mengadakan pertemuan Dewan Negara (yang merupakan perwakilan pendeta, bangsawan, dan masyarakat kelas menengah) untuk yang pertama kalinya selama 175 tahun.

Setelah pertemuan tidak resmi di Jeu de Paume (lapangan tenis tertutup kerajaan) sebagian perwakilan, kebanyakan dari golongan menengah, menyatu membentuk dewan nasional dan memutuskan untuk menulis konstitusi Prancis.

Tidak lama setelah itu, pada tanggal 14 Juli 1789, rakyat Prancis menyerbu Bastille, penjara kuno yang melambangkan kelaliman rezim lama. Pada bulan Agustus, dewan mengeluarkan Deklarasi Hak-Hak Azasi Manusia. Revolusi telah dimulai.

Revolusi semakin menghebat. Prancis memproklamasikan diri sebagai republik pada bulan September 1792; Louis XVI dan permaisurinya, Marie Antoinette, dipancung beberapa bulan kemudian. Pemimpin yang radikal, seperti Maximilien Robespierre, mengambil-alih kekuasaan. Teror melanda seluruh negeri karena para penguasa berusaha menghabisi semua musuh Revolusi.

Sementara itu Prancis juga terlibat peperangan dengan negara lain. Kecemasan terhadap peristiwa revolusi di Prancis menyebar ke seluruh Eropa. Setiap monarki yang bertakhta merasa terancam oleh nasib yang menimpa Louis XVI. Dari tahun 1793 dan seterusnya, Prancis terlibat perang dengan lima negara utama, termasuk Inggris.

Perang terus berlangsung walaupun setelah tahun 1795 teror berakhir dan Revolusi menjadi agak mereda. Selama 4 tahun berikutnya Prancis diperintah oleh Direktorium, suatu dewan dengan lima pemimpin rakyat. Namun, perselisihan di dalam badan itu tetap berkecamuk dan pemerintah menjadi semakin bergantung kepada bantuan tentara.

Baca juga: Latar Belakang Revolusi Prancis

Napoleon Bonaparte

Pada tahun 1799 Napoleon Bonaparte, seorang jenderal Korsika yang masih muda yang telah memimpin Prancis dalam pertempuran dan mem. peroleh kemenangan yang cemerlang, mengambil-alih pemerintahan. Dia menghapuskan oposisi dan membentuk Konsulat, suatu komisi yang terdiri atas tiga orang. Sebagai Konsul yang pertama, Napoleon membuat semua keputusan. Prancis mulai stabil walaupun kebebasan telah hilang.

Napoleon percaya bahwa dia adalah pengemban amanat rakyat. Dia membuat kitab hukum’untuk Prancis. (Code Napoleon, demikianlah nama terkenalnya, masih menjadi dasar hukum Prancis dan hukum-hukum di beberapa daerah lain yang dahulu berada di bawah pengaruh Prancis).

Pada tahun 1801 dia menandatangani Concordat, menjalin hubungan damai dengan Paus, dan memperoleh dukungan Gereja. Dia mengubah sistem pendidikan dan mendirikan suatu pelayanan rakyat profesional yang anggotanya terdiri atas orang-orang yang mempunyai keahlian. Tentara Napoleon terus mencapai kemenangan di Eropa dengan menyebarkan ide-ide Prancis keluar wilayahnya.

Pada tahun 1804, Napoleon menobatkan dirinya sendiri menjadi kaisar Prancis. Secara bertahap wilayah kekuasaannya meluas, dengan mengalahkan musuh-musuh Prancis-Austria, Prusia, Rusia, dan Italia. Hanya Inggrislah yang lolos dari penguasaan Prancis karena kekuatan armada lautnya. Tentara Kekaisaran Prancis telah mengubah peta Eropa.

Pada tahun 1812 Napoleon memutuskan untuk menyerbu sisa-sisa kekuatan Rusia. Dalam invasi itu dia memimpin Grande Armée yang beranggotakan lebih dari 600.000 tentara. Dengan pertempuran yang dimenangkan, Prancis berhasil menduduki Moskow, yang takluk dan terbakar.

Tentara Rusia mundur teratur, dengan membumihanguskan segala sesuatu yang mereka tinggalkan. Karena kondisi yang demikian, Napoleon memerintahkan tentaranya kembali ke Prancis.

Akan tetapi, karena musim dingin, salju dan cuaca dingin membuat tentara Napoleon mengalami kesulitan dan pada saat itu tentara Rusia membalas dengan menyerang tentara Prancis yang sedang mundur. Akibatnya, hanya seperenam dari tentara Prancis yang berhasil kembali ke negerinya. Kejayaan kosong itu telah hancur.

Kemudian musuh-musuh Napoleon dan bahkan sebagian dari sekutunya-bergabung untuk mengalahkannya. Pada tahun 1814 dia dipaksa turun takhta dan dibuang keluar Prancis. Di bawah pimpinan Louis XVIII (kakak Louis XVI), Prancis menjadi monarki konstitusional.

Namun, pada bulan Maret 1815 Napoleon memutuskan bahwa ia telah cukup mendapat dukungan untuk merebut kekuasaan lagi. Napoleon meninggalkan Pulau Elba di Laut Tengah dan kembali ke Prancis; sedangkan Louis XVIII melarikan diri. Napoleon menjadi kaisar Prancis untuk kedua kalinya, tetapi hanya berlangsung 100 hari.

Apa yang telah dimulai di Rusia pada tahun 1812 berakhir dalam pertempuran di Waterloo, sebuah wilayah yang tidak jauh dari Brussel, Belgia, pada tahun 1815. Pada bulan Juni tahun itu tentara gabungan beberapa bangsa, yang dipimpin oleh Raja Muda Wellington dari Inggris dan Panglima Tertinggi Gebhard von Bliicher dari Prusia, berhasil mengalahkan Napoleon untuk terakhir kalinya. Kemudian Napoleon dibuang lagi, ke St. Helena, sebuah pulau kecil yang terletak di Atlantik Selatan.

Revolusi 1830 dan Revolusi 1848

Louis XVIII kembali memegang mahkota kerajaan Prancis. Selama 15 tahun dia dan penerusnya, Charles X, memerintah Prancis. Keduanya bertindak secara leluasa seolah-olah revolusi tidak pernah terjadi. Suara rakyat dibatasi, kekuatan parlemen dikurangi, dan surat kabar mendapat pengawasan yang ketat. Gereja memainkan peranan yang semakin penting dalam mengatur jalannya pendidikan.

Awal abad ke-19 merupakan saat terjadinya Revolusi Industri di Prancis dan juga di negara-negara lain di Eropa. Banyak orang Prancis yang pindah ke kota untuk mencari pekerjaan dan mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Pada saat yang sama, masyarakat kelas menengah menjadi lebih banyak jumlahnya dan mereka lebih kaya. Golongan ini membenci kebijakan pemerintah.

Pada bulan Juli 1830 Raja membubarkan parlemen, semakin mengurangi suara rakyat, dan menghapuskan sama sekali kebebasan pers. Pemogokan dan huru-hara meletus di Paris, dan Charles dipaksa turun takhta. Revolusi ini menghantarkan Prancis ke suatu konstitusi baru dan diangkatlah Louis Philippe, seorang Duke dari Orleans, menjadi raja yang baru.

Semula, Louis Philippe tampak puas memerintah sebagai raja konstitusional. Industrialisasi terus berlangsung. Kota-kota tumbuh semakin luas, khususnya pusat tekstil di utara dan daerah pertambangan di timur.

Namun, pemerintah sama sekali tidak berupaya memperbaiki kondisi para buruh atau tidak memberikan bantuan kepada mereka yang masih menganggur. Di samping itu juga terdapat ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan luar negeri pemerintah.

Menjelang tahun 1848 kaum liberal bergabung dengan para buruh dan melakukan unjuk rasa agar tuntutan mereka diperhatikan oleh pemerintah. Pemogokan meluas. Pada bulan Februari, demonstrasi dan kericuhan di Paris pecah menjadi pertikaian antara tentara kerajaan dan pengunjuk rasa.

Sebuah revolusi baru tampaknya sedang terjadi. Louise Philippe turun takhta dan diasingkan. Prancis kembali menjadi republik. Pemerintah Sementara Republik Kedua menuntut adanya pertemuan konstitusi dan berusaha membantu para buruh. Akan tetapi, yang terpilih banyak dari golongan konservatif. Pada bulan Juni para buruh Paris memberontak, tetapi mereka dikalahkan oleh Tentara.

Napoleon III dan Kekaisaran Kedua

Di bawah Konstitusi 1848 yang baru itu pemilihan dilaksanakan, dan Louis Napoleon (kemenakan Napoleon) terpilih menjadi presiden Republik Kedua. Menjelang tahun 1851 dia memutuskan untuk mengikuti jejak pamannya.

Oleh karena Konstitusi itu hanya memberikan kesempatan kepadanya satu kali, dia menangkap para penentangnya, membubarkan Dewan Nasional, dan mengadakan pemilihan umum untuk membuat Prancis menjadi sebuah kekaisaran kembali. Dia dinobatkan menjadi Napoleon III pada bulan Desember 1852.

Tujuan yang hendak dicapai Napoleon III adalah menjadikan Prancis sebagai negara yang paling kuat di Eropa. Dia meminta Baron Georges Haussmann, seorang perencana dan administrator kota kenamaan, merancang Paris sebagai sebuah ibu kota yang modern.

Napoleon III menggalakkan pengembangan industri dan komunikasi, khususnya kereta api. Setelah mengadakan persetujuan dengan pemerintah Mesir, para ahli teknik Prancis, dipimpin oleh Ferdinand de Lesseps, menggali Terusan Suez sehingga Prancis memperoleh pengaruh di Timur Tengah.

Ambisi Napoleon III juga termasuk ambisi akan adanya kejayaan militer. Pada tahun 1854 dia memimpin Prancis dalam perang Krim melawan Rusia, yang telah berusaha menguasai suatu jalan keluar menembus ke Laut Tengah.

Lima tahun kemudian dia membantu Italia dalam pertempuran untuk melepaskan diri dari cengkeraman Austria dan Prancis memperoleh wilayah Nice dan Savoy dari Italia. Dia juga berusaha memperluas pengaruh Prancis ke Dunia Baru dengan mengangkat Raja Muda Austria Maximilian untuk memerintah “kerajaan” Meksiko. (Namun, usaha itu gagal dan Maximilian dijatuhi hukuman mati oleh pasukan tembak Meksiko).

Perang Prancis-Prusia

Namun, Prancis berada dalam periode krisis ekonomi, dan peperangan Napoleon III menelan biaya yang besar. Kemudian timbul banyak oposisi terhadap kebijakannya. Juga terdapat ancaman dari luar negeri.

Kerajaan Prusia di Jerman utara di bawa kepemimpinan Kanselir Otto von Bismarck telah tumbuh menjadi kuat. Pada bulan Juli 1870, Bismarck menciptakan situasi panas yang memaksa Prancis menyatakan perang.

Dalam waktu tiga bulan tentara Napoleon berhasil dikalahkan, dia ditangkap, dan Paris dijaga ketat. Syarat damai Prusia kejam, Prancis kehilangan wilayah Alsace dan Lorraine dan harus membayar pampasan perang sebesar 5.000.000.000 frank kepada Jerman dan Kekaisaran Kedua pun berakhirlah.

Republik Ketiga

Mengetahui kekalahan Napoleon III dan penangkapannya, rakyat Paris menyatakan Prancis sebagai sebuah negara Republik kembali. Setelah pernyataan damai pada tahun 1871, keresahan di dalam timbul lagi.

Ketika Dewan Nasional yang terpilih memutuskan mengadakan pertemuan di Versailles, tempat istana kerajaan, para buruh dan kaum liberal Paris, karena takut terhadap kembalinya monarki, membentuk pemerintah revolusioner mereka sendiri-disebut pemerintahan Komune.

Selama lebih dari 2 bulan mereka mencoba memperoleh dukungan secara nasional, tetapi pada akhirnya pemerintah Komune dapat dihancurkan oleh pasukan Versailles di bawah pimpinan Marsekal Patrice de MacMahon.

Republik Ketiga ini, segera melunasi hutang pampasan perang kepada Jerman dan berhasil meletakkan Prancis pada jalan menuju pemulihan kondisi ekonomi. Hasil industri dan hasil pertanian meningkat.

Perdagangan dan perkapalan meluas. Prancis memperoleh koloni di Afrika (termasuk Maroko dan Tunisia) dan Indocina (sekarang Laos, Kampuchea, dan Vietnam). Menjelang akhir tahun 1880-an Republik Ketiga telah berhasil mengatasi kesulitannya.

Ada rasa tidak setuju dari kaum royalis yang kecewa, dan dari kelompok sosialis yang baru tumbuh serta serikat buruh, yang beberapa di antaranya memperoleh inspirasi dari sejarah pemerintahan Komune Paris.

Kasus Dreyfus

Pada tahun 1894 seorang kapten AD Yahudi, Alfred Dreyfus, dituduh menjual dokumen rahasia militer ke Jerman. Dia diadili, dihukum, dan dibuang ke Pulau Devils-penjara Prancis di koloni lepas pantai Amerika Selatan.

Keluarganya berusaha membuktikan bahwa dia tidak bersalah dan keluarganya memperoleh dukungan beberapa orang seperti penulis novel Emile Zola, dan wartawan serta pemimpin politik Georges Clemenceau. Pada tahun 1906 Dreyfus benar-benar dibebaskan.

Kasus Dreyfus bergeser menjadi lebih dari sekadar ketidakadilan terhadap pribadi seseorang. Kasus itu merupakan masalah nasional dan telah menjadi sorotan terhadap banyak masalah politik dan sosial pada masa itu.

Pengkotakan antara kekuatan konservatif gereja, tentara, pendukung monarki, dan kaum liberal semakin mencolok. Sebagai akibat dari kasus Dreyfus ini, menjelang abad ke-20, pengaruh tentara pada pemerintah telah pupus sama sekali, sedangkan pihak monarki pun secara politik tidak lagi efektif.

Pada tahun 1905 Concordat dengan Gereja Katolik dihapuskan sehingga Gereja dan Negara secara penuh terpisah. Namun sayang, usaha ini tidak dilengkapi dengan cukup perbaikan bagi kondisi kerja di Prancis. Timbullah secara tetap pemogokan dan protes.

Kaum liberal, dipimpin oleh Clemenceau, berusaha mengadakan reformasi tetapi gagal. Reformasi itu termasuk pensiun hari tua, tunjangan buruh, dan tagihan pajak pendapatan.

Perang Dunia I

Pada tahun 1907 Prancis menandatangani Triple Entente dengan Inggris dan Rusia, yang masing-masing berjanji akan memberikan bantuan jika salah satu negara itu diserang.

Italia dan kerajaan kembar Austria-Hongaria bergabung dengan Jerman, yang telah menjadi lebih kuat sejak tahun 1870, dalam Triple Alliance. Menjelang tahun 1914 hampir semua negara di Eropa telah bersekutu dengan negara yang lain dan, ketika perang meletus pada bulan Juli, terlibatlah seluruh Eropa.

Prancis bertempur melawan Jerman dengan gagah berani, menggunakan berbagai taktik komandonya. Namun, Prancis terdesak dan pasukan Jerman semakin merembet mendekati Paris. Pada saat yang kritis bahkan supir taksi Paris menyusun kekuatan dan membantu pasukan yang sedang bertahan.

Ibu kota Prancis dapat diselamatkan. Di front barat, situasi buntu berkembang. Menjelang tahun 1915 Prancis kehilangan hampir 800.000 pria, meskipun kedua belah pihak tidak memperoleh kemajuan.

Dalam perang yang terus berlangsung itu, Prancis memperoleh keberhasilan di bidang militer. Akan tetapi, biaya yang dikeluarkan sangat besar. Pada tahun 1916, dalam upaya mempertahankan wilayah Verdun saja, Prancis harus kehilangan 500.000 orang tentaranya.

Amerika Serikat masuk dalam kancah perang pada tahun 1917. Menjelang akhir tahun 1918 sebuah armada gabungan Prancis, Inggris, dan Amerika mampu mengusir Jerman keluar dari Prancis.

Masa antara Perang

Pada tahun 1919, dengan adanya perjanjian Versailles, Prancis memperoleh kembali wilayah Alsace dan Lorraine, yang kaya dengan tambang mineralnya. Tambang batubara Jerman di Lembah Saar diserahkan kepada Prancis selama 15 tahun.

Pasukan Jerman dilucuti dan harus membayar pampasan perang yang besar jumlahnya. Namun, Prancis telah kehilangan lebih dari 1.300.000 orang tentaranya dan mengalami kerusakan yang parah. Pertanian Prancis hancur dan pabrik-pabriknya rusak. Perkapalan dan perdagangan mengalami kemacetan.

Upaya pembangunan kembali ekonomi dimulai. Industri dan pertanian dimodernisasi sehingga kemakmuran ekonomi mulai dapat diraih. Pada awal dekade1930-an ekonomi Prancis mencapai kegemilangan dan frank Prancis pun stabil.

Namun, selama tahun 1931, resesi ekonomi dunia memukul Prancis. Beribu-ribu orang kehilangan pekerjaan dan timbullah lagi pemogokan dan demonstrasi. Dalam situasi yang demikian ini tidak ada satu pun partai yang berhasil menguasai keadaan untuk waktu yang lama sehingga di dalam tempo 5 tahun terjadi 14 kali pergantian kabinet. Terlepas dari upaya intensif menstabilkan kondisi negara, perpecahan dalam negeri Prancis pun semakin menajam.

Mungkin yang paling penting adalah bahwa tentara Jerman yang dipersenjatai lagi di bawah kepemimpinan Adolf Hitler kembali merupakan ancaman terhadap perdamaian Eropa. Pada bulan September 1939, ketika pasukan Hitler menyerbu Polandia, Prancis dan Inggris bertempur membantu sekutu mereka. Dengan demikian, Eropa segera kembali dilanda peperangan.

Perang Dunia II

Tembok Maginot, yang dibangun Prancis di sepanjang perbatasan wilayahnya dengan Jerman, terbukti tidak ada artinya ketika Jerman memilih untuk memukul Prancis lewat negara lain. Prancis kalah pada bulan Juni 1940. Marsekal Petain, seorang pahlawan Perang Dunia I, menandatangani penghentian perang bersama Jerman.

Wilayah utara dan tengah Prancis, termasuk Paris, berada di bawah pendudukan Jerman. Pada bagian selatan, di bagian Prancis yang tidak diduduki pemerintahan baru Prancis terbentuk, yang dipusatkan di kota peristirahatan Vichy. Dipimpin oleh Pétain dan Pierre Laval, pemerintahan Vichy bekerja sama dengan Nazi Jerman.

Kebanyakan orang Prancis tidak mau berkolaborasi sehingga timbullah gerakan perlawanan dari dalam. Upaya mereka dimulai dari memperlambat kerja dan melakukan sabotase sampai berperang gerilya oleh pasukan yang dikenal dengan nama Maquis.

Di samping itu, juga terdapat perlawanan dari luar negeri. Pada tahun 1940, Jenderal Prancis Charles de Gaulle mengungsi ke Inggris dan mengomandokan untuk terus bertempur. Dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin gerakan Prancis Merdeka, dengan bekerja sama dengan sekutunya melawan Jerman.

Pada masa berikutnya de Gaulle diangkat menjadi pemimpin Pemerintah Sementara Prancis yang dipusatkan di Afrika Utara yang telah dibebaskan. (Angkatan Perang Vichy di Tunisia, Maroko, dan Aljazair langsung takluk dan bergabung). Sebagai pembalasan, pasukan Jerman menduduki semua wilayah Prancis dan negeri itu menjadi bagian dari Festung Europa (” benteng Eropa”) Hitler.

Pada Hari H, tanggal 6 Juni 1944 Sekutu mulai melakukan penyerbuan. Pasukan Amerika Serikat dan Inggris mendarat di pantai Normandia dan melakukan serangan untuk masuk ke pedalaman.

Di samping itu, pesawat-pesawat tempur Sekutu juga melakukan serangan udara dan Jerman berhasil dikalahkan. Pada akhir Agustus, Paris dibebaskan. Jenderal de Gaulle memimpin pawai kemenangan ke Champs-Elysées, dan dalam beberapa bulan, semua wilayah Prancis benar-benar terbebaskan.

De Gaulle telah menjadi simbol perlawanan Prancis di seluruh dunia dan lebih dari setahun setelah dia kembali ke Prancis secara aklamasi dia diakui sebagai seorang diktator.

Pada musim gugur tahun 1945 konvensi konstitusional mengangkatnya menjadi presiden-perdana menteri sementara di Republik Keempat ini. Namun, pada bulan Januari 1946, dia mengundurkan diri sebab dia merasa konstitusi tidak memberi cukup kekuasaan kepada presiden.

Sembilan bulan berikutnya, lepas dari oposisi de Gaulle, sebuah konstitusi baru disepakati. Prancis kembali memiliki kehidupan politik yang normal yang pertama kalinya sejak tahun 1940. Namun, lagi-lagi terdapat perpecahan dan begitu banyak saingan partai sehingga pemerintah koalisi tidak dapat bertahan lama.

Prancis Pascaperang

Karena adanya situasi politik yang tanpa harapan, penyembuhan Prancis dari akibat perang tidak dapat dilaksanakan dengan cepat pada mulanya. Harga membumbung tinggi, mata uang frank goyah, dan terjadi inflasi yang serius. Pemogokan sering terjadi, dan Partai Komunis terbentuk karena adanya ketidakpuasan yang berlarut.

Menjelang tahun 1949 situasi semakin membaik. Dengan rencana yang dirancang oleh ahli ekonomi Jean Monnet, dan adanya bantuan Marshall Plan dari Amerika Serikat, industri Prancis berhasil dibangun dan dimodernisasi.

Produksi batubara dan baja di Lorraine meningkat dan, secara bertahap, semua produksi industri Prancis melebihi yang pernah dicapainya sebelum perang. Hasil pertanian Prancis juga meningkat karena metode pertanian juga telah dipermodern. Armada dagang laut Prancis dengan segera dapat melakukan ekspor ke seluruh dunia. Seiring dengan semakin makmurnya Prancis, pariwisata semakin menjadi penting.

Seusai perang, banyak pemimpin Eropa merasakan bahwa perbaikan dan kekuatan ekonomi yang lebih besar dapat diperoleh melalui kerja sama dan perserikatan. Pada tahun 1948, misalnya, dihasilkan sebuah perjanjian kerja sama antara Belgia, Negeri Belanda, dan Luxembourg (Benelux).

Pada tahun 1950-an negarawan Prancis Robert Schuman mengambil prakarsa perlunya negara-negara Eropa Barat memusatkan sumber-sumber daya dasarnya. Usul itu mengawali terbentuknya Masyarakat Batubara dan Baja yang terdiri atas enam negara.

Tidak lama setelah itu juga terbentuk Masyarakat Ekonomi Eropa (European Union), dan Pasaran Bersama. Dalam hal ini, Prancis memberikan sumbangannya dan juga memperoleh kekuatan ekonomi dari kemajuan bangsa-bangsa Eropa ini. Banyak pemimpin Prancis yakin bahwa persatuan Eropa yang murni -baik dalam bidang politik maupun ekonomi-akhirnya akan terwujudkan.

Meskipun ekonomi Prancis menjadi lebih kuat, politik tetap goyah. Juga terdapat kesulitan dalam koloni-koloni Prancis. Indocina melakukan perlawanan pada akhir Perang Dunia II dan, dalam tempo 9 tahun berikutnya, Tentara Prancis masih tetap belum dapat menguasai keadaan.

Di Afrika Utara Prancis juga mengalami banyak kesulitan-khususnya di Aljazair. Gerakan kemerdekaan timbul pada tahun 1950-an meskipun orang colon (orang Prancis kelahiran Aljazair, yang kebanyakan belum pernah tinggal di Prancis) dan Tentara bersama-sama menghendaki bahwa Aljazair tetap Prancis. Tunisia dan Maroko juga menuntut kemerdekaan.

Pada tahun 1954 Pierre Mendes-France, seorang ahli ekonomi dan negarawan, menjadi perdana menteri, dengan suara mayoritasnya di Dewan Nasional. Di bawah kepemimpinannya Prancis menarik diri dari Indocina. Kemajuan ekonomi terus dicapai.

Perdana Menteri Mendks-France juga memberikan pemerintahan sendiri kepada Tunisia dan melakukan reformasi di Maroko. Di Eropa, pemerintahan Mendes-France juga menandatangani persetujuan ekonomi dengan Jerman Barat dan melanjutkan partisipasi Prancis dalam Dewan Eropa dan NATO.

Situasi Aljazair, yang telah pecah menjadi revolusi dan perang saudara, tidak dapat diselesaikan. Menjelang tahun 1958, masalah itu telah demikian memecah-belah Prancis sehingga pemerintahan efektif sudah berakhir.

De Gaulle dan Republik Kelima

Pada bulan Mei tahun 1958, karena dihadapkan kepada pemberontakan kaum colon dan tentara di Aljazair, Dewan Nasional menugaskan de Gaulle untuk memerintah.

Persyaratan yang diajukan olehnya untuk menjadi kepala negara adalah pemberlakuan konstitusi baru, dengan kekuatan yang diperkuat baik untuk bidang pemerintahan maupun untuk reformasi ekonomi dan sosial. Prancis telah bosan dengan kegoncangan politik dan krisis kabinet. Konstitusi itu diterima oleh sekitar 80% suara pemilih Prancis.

Republik Kelima de Gaulle dimulai pada bulan Juni 1958. Menjelang tahun 1962 konflik Aljazair selesai dan Aljazair menjadi negara yang merdeka. Konstitusi baru itu juga menciptakan adanya Masyarakat Prancis-yaitu persatuan antara Prancis dan bekas koloninya.

De Gaulle menjadi presiden Republik Kelima selama 11 tahun. Selama periode ini dia berusaha mengarahkan Prancis sehingga mampu berkembang ke arah tujuan yang hendak dicapainya. Dia percaya bahwa Prancis haruslah kuat ke dalam dan sekaligus harus dapat menjadi pemimpin Eropa.

Oleh karena itu, pada tahun 1966, dia menarik Prancis dari permasalahan militer NATO dan, selama menjabat sebagai presiden, dia mencegah masuknya Inggris ke dalam Masyarakat Ekonomi Eropa (Pasaran Bersama). Akhirnya, meskipun kondisi ekonomi dan pemerintahan stabil, toh timbul ketidakpuasan.

Pada tahun 1968 terjadi pemogokan nasional dan unjuk rasa mahasiswa. Pada tahun 1969 prakarsa de Gaulle untuk mengadakan perubahan konstitusi yang lebih banyak ditolak, maka dia pun mengundurkan diri. Dia meninggal dunia pada tahun berikutnya.

Sejak saat itu Prancis dipimpin oleh presiden dengan garis konservatif, sampai saat Francois Mitterrand, seorang sosialis, terpilih pada tahun 1981. Dia melembagakan nasionalisasi perbankan dan industri. Akan tetapi, kemunduran ekonomi menuntut modernisasi da|am kebijakannya. Pengaruh sosialis melemah dan dikalahkan oleh kemenangan partai konservatif dalam pemilihan umum tahun 1986.

Wilayah dan Daerah Seberang Lautan Prancis

Dahulu Prancis mempunyai wilayah kekuasaan yang sangat luas. Sekarang tinggal sebagian saja yang masih menjadi daerah kekuasaannya. Prancis mempunyai tiga daerah seberang lautan di Amerika Utara. Kepulauan Saint Pierre dan Miquelon di lepas pantai sebelah timur Kanada membentuk satu daerah.

Dua daerah yang lain adalah kepulauan Guadeloupe dan Martinique di Laut Karibia. Daerah Prancis yang lain adalah Guyana Prancis di timurlaut pantai Amerika Selatan dan pulau Reunion di Samudra Hindia.

Pada tahun 1958 Konstitusi Republik Kelima menetapkan berdirinya Masyarakat Prancis-sebuah organisasi antara Prancis dan bekas koloni-koloninya. Dua belas dari koloni di Afrika segera merdeka dan enam di antaranya Republik Afrika Tengah, Chad, Kongo, Gabon, Madagaskar, dan Senegal memilih untuk tetap berada dalam organisasi itu.

Selama beberapa tahun kepentingan ekonomi, budaya, dan pertahanan dijaga di antara negara-negara tersebut melalui organisasi itu. Namun, setelah itu bangsa-bangsa Afrika memutuskan hubungan secara langsung di antara mereka sendiri dan juga dengan Prancis dan berakhirlah Masyarakat Prancis.

Koloni Prancis di Afrika yang paling akhir, Wilayah Afar-Issa (sekarang Djibouti) menjadi negara merdeka pada tahun 1977.

Masa Depan Lepas dari masalah pemerintahan yang selalu berubah-ubah, kemajuan ekonomi, dan pandangan hidup baru yang berbeda-ciri hakiki Prancis tetap tidak berubah.

Belum lama ini seorang warga Prancis yang terkemuka mengatakan, ”Prancis bukanlah sekadar daratan, rakyat, dan negara, tetapi juga spirit.” Berulang kali esprit atau spirit ini telah membawa Prancis mencapai puncak kekuatan Eropa. Berulang kali pula semangat ini membangkitkan Prancis dari kekalahan total ke arah hidup baru.

Prancis adalah negara yang membawa ke masa depan Eropa dan dunia sebuah warisan kepemimpinan intelektual dan kultural yang telah berabad-abad usianya serta sebuah kepercayaan atas kekuatan kecerdasan manusia untuk mengawasi lingkungan hidup manusia.

Diulas oleh:
JEAN JOUGHIN, Universitas Amerika
Editor: Sejarah Negara Com


Terkait Prancis

Subscribe to our newsletter

Pos terkait