Sejarah pendidikan di Uni Soviet

Sejarah pendidikan di Uni Soviet – Sebelum Revolusi Bolshevik di tahun 1917, lebih dari tiga perempat penduduk Rusia tidak dapat membaca dan menulis. Sebagian besar niraksarawan ini berasal dari kaum tani dan beberapa kaum buruh karena memang tidak disediakan sekolah bagi golongan ini sebelum berlangsung revolusi rakyat itu. Keadaan ini berubah secara serta-merta dan sebagai akibatnya, sekolah menjadi hal yang mudah bagi siapa saja.

Para pemuda Soviet menunjukkan suatu minat yang tinggi untuk belajar. Seperti dikatakan oleh salah seorang dari mereka, ”Kami semua tahu bahwa tak ada sesuatu pun yang dapat kami kerjakan tanpa pengetahuan.”

Pengetahuan membuka jalan untuk dapat memperoleh bermacam-macam kerja di bidang seni, ilmu pengetahuan, dan profesi yang diidamkan kaum muda.

Sejarah pendidikan di Uni Soviet
Universitas Moskow sebuah kampus pencakar langit di Moskow

Kunjungi Rusia di google map

Selesai revolusi, Lenin memberi tahu para pemuda, ”Adalah tidak cukup sekadar mengerti apa listrik itu; yang lebih perlu adalah mengerti bagaimana menerapkan listrik itu ke dalam bidang industri dan pertanian.”

Sejak itu, para pemimpin Soviet selalu menekankan bahwa apa yang dipelajari haruslah mempunyai nilai praktis bagi masyarakat dan hal ini telah menjadi suatu garis petunjuk dalam mengembangkan sistem pendidikan yang baru sehingga semua sekolah di Uni Soviet dikelola oleh pemerintah.

Anak balita dan bahkan bayi-bayi, yang ibunya bekerja, sering dititipkan pada rumah penitipan bayi. Bagi anak yang lebih tua lagi terdapat sekolah taman kanak-kanak.

Wajib sekolah dimulai pada usia 7 tahun di kelas satu dan diharapkan terus bersekolah sampai usia 17 tahun. Akan tetapi, banyak pemuda, khususnya di desa-desa, yang putus sekolah sebelum usia 17 tahun.

Pelajaran di sekolah ditekankan pada matematika dan ilmu pengetahuan, bahasa Rusia, kesusastraan, serta sejarah. Di kelas lima, murid mulai belajar bahasa asing, biasanya Inggris atau Prancis. Anak-anak di republik non-Rusia juga belajar bahasa ibu serta kebudayaan asli mereka. Laki-laki dan perempuan sama-sama memperoleh latihan politeknik atau ”berdagang”.

Sekolah memberi banyak perhatian mengenai vospitanie (menumbuhkan), yang berarti mengembangkan semangat komunisme ke dalam sikap dan tingkah laku seseorang.

Dalam hal ini, guru dibantu oleh dua organisasi yang disponsori oleh Partai Komunis yang aktif di sekolah-Pionir, bagi anak-anak usia 9-14 tahun, dan Komsomol (Liga Pemuda Komunis) bagi anak-anak akhir usia belasan serta awal usia 20-an.

Seorang murid yang telah menyelesaikan tingkat kedelapannya dapat melanjutkan ke sekolah tingkat menengah umum selama 2 tahun; meneruskan ke sekolah kejuruan khusus, tempat dia dapat memperoleh ijazah sekolah menengah; atau mencari kerja dan bersekolah pada sore harinya.

Banyak pemuda ingin melanjutkan studinya ke universitas atau lembaga pendidikan tinggi lain, tetapi hanya tersedia satu bangku bagi setiap 5 orang tamatan SMTA baru. Dalam praktiknya, pelajar dari kota akan lebih mendapat kesempatan untuk dapat diterima daripada pelajar dari desa, yang kualitas pelajarannya jauh lebih rendah.

Orang Soviet bangga melihat kenyataan bahwa pendidikan tinggi di negara mereka bebas biaya dan bahkan para pelajar menerima tunjangan untuk buku dan kebutuhan sehari-hari.

Mungkin hal yang paling penting di dalam pendidikan di Uni Soviet adalah bahwa negara itu telah berupaya menaikkan secara cepat tingkat pendidikan seluruh penduduk dan hal ini memang telah terbukti.

Artikel Terkait