Penjelajahan Kutub Utara banyak menelan korban

Penjelajahan Kutub Utara banyak menelan korban – Kutub Utara masih tetap merupakan sasaran utama ketiga yang diincar oleh para penjelajah dalam upaya mereka menaklukkan Arktik. Berbagai kegiatan yang dilakukan di jalur-jalur laut ke Timur melalui daerah Arktik telah menghimpun informasi mengenai keadaan geografi, cuaca, dan kondisi kehidupan, yang tersedia bagi mereka yang ingin mendapat gelar kehormatan sebagai orang pertama yang mencapai Kutub Utara.

Pada tahun 1891 Akademi Ilmu Pengetahuan Alam Philadelphia menunjuk Robert Peary dari Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memimpin sebuah ekspedisi kutub guna menyelidiki Tanah Hijau. ”Kutu kutub” telah menyengatnya dan dia mengabdikan dirinya selama hampir seperempat abad untuk menjelajahi Arktik.

Idamannya yang terbesar adalah menjadi orang pertama yang mencapai Kutub Utara dan ternyata memang dialah yang ditakdirkan untuk melakukannya. Peary mengadakan beberapa ekspedisi ke daerah Arktik dan, oleh karenanya, dia telah melakukan berbagai observasi penting mengenai lahan, penduduk, serta iklim di daerah utara jauh itu.

Pengkajian cermat yang dilakukan Peary atas berbagai metode yang diterapkan oleh orang Eskimo dalam pembuatan igloo dan pemanfaatan anjing penarik kereta luncur ternyata amat berharga bagi para penjelajah.

Pada tahun 1908 Peary memulai perjalanannya dengan kapal Roosevelt menuju ke Tanjung Sheridan dan di sana dia membangun kemah musim dingin.

Musim semi berikutnya dia mendirikan sejumlah depo di sepanjang jalur yang telah direncanakannya dan pada tanggal 1 Maret dia dan rombongannya berangkat dari Tanjung Kolumbia di ujung utara Pulau Ellesmere, 769 km dari Kutub.

Mereka menempuh perjalanan dengan kereta luncur melintasi padang es Arktik menuju ke sasaran mereka. Di berbagai titik yang telah ditentukan sebelumnya, seksi-seksi rombongan pendukung kembali lagi ke pangkalan mereka masing-masing.

Laksamana Peary, bersama seorang awak kulit hitam, Matthew Henson, serta empat orang Eskimo meneruskan perjalanan dan menjadi rombongan pertama yang mencapai Kutub Utara pada tanggal 6 April 1909.

Mereka telah berhasil bertahan dalam cuaca bersuhu di bawah nol dan berbagai bahaya yang menghadang perjalanan mereka melintasi gumpalan-gumpalan es dan kambi-kambi es yang tingginya seringkali lebih dari 15 m.

Cita-cita Peary telah tercapai tetapi, setiba di tanah airnya, ternyata gelar sebagai orang pertama yang mencapai Kutub itu ditantang oleh seorang ahli antropologi, Dr. Frederick Cook, yang mengaku telah mencapai Kutub Utara setahun sebelum Peary. Persengketaan terus berkecamuk, tetapi saat ini Peary umumnya diakui sebagai orang yang pertama kali mencapai puncak dunia itu.

Wajar kiranya kalau manusia akan berupaya mencari cara yang lebih cepat dan lebih mudah untuk menjangkau daerah kutub daripada dengan cara berjalan sempoyongan di belakang kereta luncur yang ditarik oleh sekawanan anjing atau memaksakan kapal untuk berlayar menebus gumpalan es. Jadi, orang berpaling ke udara.

Di atas, di bawah, dan di permukaan Kutub Utara

Jelajahi arktik di google map

Pada tanggal 11 Juli 1897 Salomon August Andree, ilmuwan dan angkasawan Swedia, bersama dua orang rekannya berangkat dari Spitsbergen dengan menumpang balon udara, Eagle, menuju ke Kutub Utara.

Andree dan kedua rekannya itu mengudara bersama Eagle selama 66 jam, tetapi akhirnya terhempas ke atas es sebagai akibat cuaca buruk. Tiga puluh tiga tahun kemudian jasad dan buku harian mereka baru diketemukan di Pulau Putih di sebelah timurlaut Spitsbergen.

Seusai Perang Dunia I beberapa negara membiayai sejumlah penerbangan udara melintasi berbagai daerah di Arktik. Laksamana Muda Richard E. Byrd seorang perwira angkatan laut, pilot, dan sekaligus penjelajah berkebangsaan Amerika menjadi orang pertama yang pernah terbang di atas Kutub Utara ataupun Kutub Selatan.

Pada tanggal 9 Mei 1926, Byrd, dengan Floyd Bennett sebagai ko-pilotnya, lepas landas dari Spitsbergen dan berhasil sampai di Kutub Utara tanpa kesulitan yang berarti. Dia terbang mengitari Kutub dan kemudian kembali dengan membawa kemenangan ke pangkalannya di Spitsbergen.

Dua hari berselang Roald Amundsen dan Lincoln Ellsworth berangkat dari pangkalan yang sama dengan menumpang pesawat ringan yang diberi nama Norge ke Alaska melalui Kutub Utara.

Kolonel Umberto Nobile, orang Italia yang merancang bangun pesawat ringan itu, bertindak sebagai pilot. Di atas Kutub Utara mereka menjatuhkan bendera-bendera Amerika Serikat, Norwegia, dan Italia.

Mereka kembali dengan selamat di Alaska 72 jam sesudah lepas landas, setelah menempuh perjalanan sejauh 5.459 km melintasi Samudra Arktik dari Eropa ke Amerika Serikat. Padahal, bagi Peary dan anak buahnya, langkah maju yang hanya sejauh 40 km sehari sudah dianggap sebagai prestasi yang patut dibanggakan.

Sir George Hubert Wilkins, seorang penjelajah kutub Australia, juga tidak mau ketinggalan dalam kegiatan penerbangan melintas kedua kutub dan malah dia yakin pula bahwa dirinya akan mampu mengarungi Kutub Utara dengan menggunakan kapal selam di bawah lapisan es.

Pada tahun 1931 dia mengadakan sebuah ekspedisi untuk mewujudkan cita-citanya itu dengan menggunakan kapal selam Nautilus (salah satu di antara seri kapal selam dengan nama itu), tetapi ternyata bahwa kapal itu tidak sesuai untuk maksud itu dan pada bulan Nopember tahun yang sama kapal itu tenggelam di sebuah fiord di Norwegia.

Laksamana Cruzen dari Angkatan Laut Amerika Serikat menyertakan pula sebuah kapal selam dalam Satuan Tugas yang membangun sejumlah pangkalan cuaca di Arktik pada tahun 1946 dan ternyata kapal selam itu berhasil melakukan penjajakan sejauh beberapa mil di bawah lapisan es.

Pencapaian disusul oleh sejumlah operasi di bawah permukaan es dengan menggunakan kapal selam Angkatan Laut Amerika Carp pada tahun 1948 dan kapal selam Redfish pada tahun 1952.

Suatu sumber tenaga baru dan beberapa sarana baru meyakinkan Angkatan Laut Amerika Serikat bahwa pihak dapat mengoperasikan armada kapal selam di bawah permukaan es di Laut Arktik. Sumber tenaga baru itu adalah energi nuklir.

Di antara berbagai sarana baru itu adalah fathometer sebelah atas untuk mengukur jarak di bawah lapisan es. Suatu sistem pemanduan inersia juga telah dikembangkan sehingga memungkinkan dilakukannya navigasi yang setepat-tepatnya tanpa bantuan bintang, matahari, ataupun stasiun radio.

Angkatan Laut Amerika selanjutnya mempersiapkan berbagai rencana untuk mengirim kapal selam modern bertenaga nuklir Nautilus ke Kutub Utara pada musim panas tahun 1958.

Pada tanggal 22 Juli 1958 kapal selam Nautilus bertolak dari Pearl Harbor, Hawaii, lalu menyelam, dan secara diam-diam meneruskan perjalanannya yang heroik itu. Kapal terus berlayar ke utara mellintasi Selat Bering dan lalu melanjutkan perjalanannya pada berbagai kedalaman dan kecepatan ke Kutub Utara.

Pada hari Minggu, 3 Agustus 1958, kapal itu sudah berada di bawah lapisan es di Kutub Utara. Kapal kemudian meneruskan perjalanannya ke selatan di antara Tanah Hijau dan Spitsbergen, lalu ke Portland, Inggris, dan berlabuh di sana pada hari ke-21 sejak keberangkatannya dari Hawaii, setelah menempuh jarak sejauh 13.107 km.

Hal itu merupakan prestasi yang luar biasa, tetapi perwira yang memimpinnya, Komodor William R. Anderson, melukiskannya dengan berucap, ”Sejak saat kami berangkat, perjalanan itu mirip dengan perjalanan melalui Jalan Tol New Jersey saja.”

Sebuah kelompok yang terdiri atas empat orang penjelajah Inggris merupakan rombongan pertama yang pernah berjalan kaki melintasi selubung es pada tahun 1968-1969.

Perjalanan mereka selama 477 hari melintasi lahan kosong beku sejauh 5.825 km itu sarat dengan bahaya, termasuk konfrontasi dengan beruang kutub yang tidak mengenal takut itu.

Pemimpin tim, Wally Herbert, menyatakan bahwa perjalanan itu ”seperti menaklukkan Everest horisontal”. Meskipun sudah ada teknologi modern, penjelajahan Arktik masih tetap mengasyikkan dan kadang kala berbahaya.

Artikel Terkait