Kehidupan masyarakat perundagian dan kebudayaannya

Kehidupan dan Kebudayaan masyarakat perundagian
Kehidupan dan Kebudayaan masyarakat perundagian

Kehidupan masyarakat perundagian dan kebudayaannya – Perundagian berasal dari kata undagi, yang artinya sama dengan tukang atau seseorang yang memiliki ketrampilan atau ahli dalam melakukan pekerjaan tertentu.

Masyarakat perundagian adalah masyarakat di mana masing-masing orang bekerja sesuai ketrampilannya masing-masing, spesialisasi kerja sudah sangat maju pada masa ini.

Bacaan Lainnya

Kehidupan masyarakat sudah semakin teratur dan sudah hidup menetap secara permanen dan tinggal dalam sebuah perkampungan. Mata pencaharian masyarakatnya bertumpu pada pertanian (berladang) dan peternakan.

Mereka juga sudah mengenal kegiatan perdagangan dalam bentuk sistem barter, mereka saling bertukar barang dengan nilai yang kurang lebih sama yang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama. Sistem irigasi juga sudah dikenal, dan sistem tadah hujan perlahan-lahan ditinggalkan.

Apa itu Masa Perundagian?

Perundagian adalah berasal dari sebuah kata Undagi, yang berarti sama dengan tukang atau seseorang yang mempunyai sebuah keterampilan atau ahli untuk melakukan dalam tugas-tugas tersebut.

Masyarakat perundagian adalah masyarakat di mana setiap orang bekerja sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Jadi dalam hal ini menunjukkan bahwa spesialisasi pekerjaan tersebut yakni sangat maju pada saat ini. Era ini dimulai kurang lebih 10.000 tahun lalu.

Kemudian pada saat itu juga orang tua mana yang akrab dengan bijih logam saat ini. Dan mereka tersebut yakni lebih berpengalaman hingga mereka bisa mengenali bijih logam yang meleleh di sebuah permukaan bumi.

Selama waktu ini ada juga asimilasi antara orang tua, ras Austromelanesian dan ras Mongoloid. Keahlian dalam pengerjaan logam berarti alat-alat batu tidak dapat diandalkan dan cepat rusak.

Corak Kehidupan Masyarakat Perundagian

Pada saat percampuran orang Australia dari Yunan Selatan dan Australomelanesid, sekitar 300 SM. Gelombang kedua emigran Melayu Austronesia datang dari Dong Son (sekarang Vietnam).

Sementara budaya Austronesia-Melayu yang berasal dari Wave II dianggap agak lebih maju daripada emigran Austronesia-Melayu yang datang ke Wave I, di mana ia sudah memiliki perintah teknologi, sebagai berikut:

  • Teknologi pertanian basah, yaitu mereka bagus di bagian sawah.
  • Teknologi pengecoran atau metalurgi logam, yakni sudah menguasai dengan sejumlah jenis alat logam.

Ciri – Ciri Masa Perundagian

Ada sejumlah karakteristik yakni dengan selama periode negosiasi, ialah:

  • Dapat membentuk dalam sebuah kelompok kerja pertukangan.
  • Menguasai teknik mengayuh yang baik (sistem manajemen air).
  • Dapat membuat berbagai alat logam.
  • Dapat berkomitmen terhadap animisme dan dinamisme.
  • Di mana mereka tinggal di daerah pegunungan atau dataran rendah.
  • Sudah memiliki iman dan menyembah roh nenek moyang, yang terbuat dari batu besar.

Kehidupan Sosial Budaya

Ada beberapa penjelasan dalam kehidupan terhadap sosial dan budaya, ialah:

  • Masyarakat saat ini telah menunjukkan tingkat budaya yang tinggi yang dapat dihasilkan dengan berbagai bentuk benda seni dan upacara yang menunjukkan dalam sebuah kemampuan masyarakat tingkat tinggi.
  • Di sebuah Zaman Besi, manusia tersebut dapat menemukan logam yang jauh lebih keras yang harus dilebur dalam sebuah titik leleh yang begitu cukup tinggi.
  • Kemudian di sebuah Zaman Perunggu, di mana dalam setiap orang bisa mendapatkan jenis logam yang lebih sulit daripada tembaga, karena dalam perunggu adalah paduan timah dan tembaga.
  • Selain itu, dengan selama periode legislatif, banyak barang periuk terhadap sebuah teknologi yang semakin canggih masih ditemukan. dalam hal ini harus ditunjukkan bahwa peran alat dari tembikar tidak dapat begitu saja digantikan oleh alat logam.
  • Pada titik ini, kemampuan untuk memproduksi alat dengan berdasarkan dalam perkembangan sebuah teknologi menjadi jelas. Mereka yakni dapat menemukan teknologi peleburan bijih logam. Karena itu, semakin banyak orang telah menggunakan logam sebagai memenuhi dalam sebuah kebutuhan hidup mereka.

Masyarakat perundingan adalah masyarakat di mana setiap orang bekerja dengan sesuai kemampuan mereka sendiri. Periode legislasi yakni berlangsung dengan selama periode prasejarah.

Teknik cetak tuang dan teknik dua setangkup

Hasil-hasil kebudayaan pada masa ini berkembang sangat pesat. Selain benda-benda hasil budaya dari besi dan perunggu juga dikenal cara pembuatan alat atau barang kebutuhan sehari-hari dari bahan logam.

Itulah mengapa zaman perundagian disebut juga zaman logam. Perhiasan dari manik-manik juga banyak ditemukan.

Ada dua teknik utama membuat barang-barang dari logam, yaitu a cire perdue (teknik cetak tuang) dan bivalve (teknik dua setangkup).

Teknik cetak tuang (a cire perdue)

Berikut ini langkah-langkah membuat benda logam dengan dengan teknik cetak tuang:

  1. Bentuk model benda logam yang diinginkan dengan menggunakan bahan dasar dari lilin terlebih dahulu.
  2. Model lilin dilapisi dengan tanah liat, setelah mengeras tanah liat tersebut dipanaskan dengan api, sehingga lilin mencair melalui lubang yang telah disiapkan dibagian bawah model.
  3. Dari lubang bagian tas model yang sudah disiapkan, masukkan logam cair dan biarkan sampai cairan logam mendingin.
  4. Setelah logam cair dingin, model dari tanah liat tadi dipecahkan, dan benda logam yang kita inginkan pun sudah jadi.

Keuntungan dari teknik a cire perdue adalah benda yang diinginkan dapat mempunyai detail yang sempurna, sedangkan kelemahannya adalah cetakan model hanya dapat digunakan sekali saja.

Teknik dua setangkup (bivalve)

Cara pengolahan logam dengan teknik Dua setangkup (bivalve) dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Buat cetakan model dari benda yang dikehendaki dengan bentuk yang dapat saling ditangkupkan.
  2. Kemudian tuangkan logam cair ke dalam cetakan tersebut.
  3. Kedua cetakan kemudian saling ditangkupkan.
  4. Biarkan sampai logam dingin dan cetakan dapat dibuka.
  5. Benda logam yang diinginkan sudah dapat digunakan.

Keuntungan dari teknik dua setangkup adalah cetakan dapat digunakan berulang kali, kelemahannya adalah terdapat rongga dalam benda logam yang sudah jadi sehingga kurang kuat.

Terkait sistem kepercayaan, pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang semakin berkembang. Kepercayaan ini tampak penting, terlihat dari banyaknya penemuan benda-benda dan tempat yang digunakan untuk upacara.

Demikian Kehidupan masyarakat perundagian, semoga bisa menjadi catatan sejarah Indonesia maupun sejarah dunia.

Referensi

Pos terkait